MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
053. SANG CASANOVA



Pemuda tampan yang selalu menjadi pusat perhatian di manapun dia berada berjalan dengan santai tanpa tujuan. Tak ada yang tak melirik padanya, aura bintangnya selalu terpancar setiap kali dia melangkahkan kakinya. Semua tatapan wanita padanya terlihat sangat terpesona pada dirinya dan ditambah senyum menawan yang menjadi ciri khasnya mampu membuat siapapun terhipnotis olehnya.


Si tampan yang mendapat julukan sang Casanova berjalan dengan santainya memasuki sebuah café setelah menghentikan langkahnya melihat dari luar ke dalam tempat itu. Hari ini pun Prothos membolos dan memilih pergi menghabiskan waktunya untuk melupakan rasa sedihnya. Dia melampiaskan kesedihannya dengan mencari wanita-wanita di luar sana. Dia pergi ke kota sebelah agar dirinya tidak dikenali.


Tanpa basa basi atau permisi, Prothos langsung duduk di hadapan seorang gadis berseragam sekolah setelah tadi mengamatinya beberapa saat dari luar.


"Membolos di penghujung minggu memang paling menyenangkan." Ucap Prothos dengan senyum menawan pada gadis yang menatapnya sedikit bingung dengan kehadiran Prothos. "Apa aku boleh bergabung denganmu?"


Gadis itu benar-benar tersihir dengan keberadaan Prothos yang tiba-tiba menghampirinya. Wajah tampan Prothos memikatnya langsung tanpa butuh waktu yang lama. Dengan mantap gadis itu mengangguk dan senyum senang terpancar di wajahnya.


"Apa kau tahu siapa aku?" Tanya Prothos memastikan lebih dulu.


Gadis itu menggeleng.


"Siapa namamu? Namaku—"


"Tidak perlu." Potong Prothos dengan senyum. "Aku tidak ingin tahu namamu, dan sebaiknya kau juga tidak perlu menyebutkan namaku. Aku tidak ingin namaku terukir di hatimu."


"Apa maksudmu?"


"Mau menghabiskan hari ini bersama denganku?" Tatap lekat Prothos. "Aku akan menemani waktu membolosmu hari ini."


"Iya, aku mau."


Prothos segera berpindah duduk ke sebelah gadis itu. Gadis itu semakin terkejut namun merasa senang karena ketampanan Prothos sudah menghipnotisnya.


...***...


Di waktu pelajaran berlangsung Niko terus menatap Melody yang serius mendengarkan guru yang sedang menjelaskan materi di depan. Melody tahu saat ini Niko terus menatapnya namun gadis itu bersikap biasa saja seolah-olah tidak menyadarinya, karena tatapan Niko kali ini terlihat aneh dari biasanya.


"YA deystvitel'no khochu potselovat' tebya." Gumam Niko. "Posle svad'by my budem tselovat'sya i zanimat'sya seksom kazhdyy den'. YA ne mogu dozhdat'sya, chtoby sdelat' eto s toboy. YA obyazatel'no sdelayu tebya samoy schastlivoy zhenshchinoy v mire, udovletvoryaya tebya kazhdyy den'." (Maaf ga diartiin ya 😄 cus gugel translet kalo penasaran).


Melody berusaha diam saja tidak menggubris perkataan Niko yang baginya terdengar seperti sebuah mantera. Dia terus berusaha fokus pada pandangannya ke papan tulis dan tak berani menoleh.


Niko mengusap wajahnya agar tersadar dari pikirannya. Dia membuang napas panjang karena apa yang dipikirkannya barusan adalah hal yang tidak-tidak pada gadis itu.


"Maafkan aku, walaupun kau tidak mengerti apa yang aku katakan tadi, aku ingin tetap minta maaf padamu." Ucap Niko. "Seharusnya aku tidak memikirkannya sebelum kita menikah."


Mendengarnya Melody menjadi semakin takut untuk menoleh menatap Niko. Dia menjadi bisa mengira hal apa yang dikatakan Niko tadi. Ketakutannya mulai muncul. Dia teringat kembali saat Felix yang mencoba menyentuhnya waktu itu.


Itu semua membangkitkan rasa trauma di dalam dirinya. Nafas Melody menjadi terengah-engah dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia menjadi sangat ketakutan saat ini. Sosok Felix muncul dalam benaknya dan merasa dirinya terancam.


"Kau baik-baik saja?" Niko memegang pundak Melody.


Seketika Melody berteriak dengan menutup telinga dan matanya, membuat kesunyian di kelas menjadi pecah. Niko bingung dengan apa yang terjadi pada gadis itu hingga dirinya bangkit berdiri. Semua mata melihat kepada mereka saat ini.


"Ada apa, Mel?" Tanya Rinka menoleh pada Melody yang masih menutup mata dan telinganya, dia juga memojokkan diri ke tembok serta menundukan badannya ke arah meja.


Semua bingung dengan kondisi Melody saat ini. Pak guru di depan kelas hanya berjalan mendekat setelah itu berlari keluar untuk mencari bantuan bersama beberapa murid.


"Apa yang kau lakukan padanya, Niko?" Tanya Rinka dengan tatapan curiga.


Semua mata jadi menatap Niko dengan prasangka buruk.


Lion menghampiri Melody segera karena dia tahu apa yang terjadi padanya. Ketakutan Melody karena traumanya muncul kembali.


"Dengarkan aku!! Tidak apa-apa semua baik-baik saja." Ucap Lion pada Melody yang napasnya masih terengah-engah.


Lion memegang pundak Melody namun Melody meronta-ronta ketakutan. Gadis itu masih belum sadar dan masih merasa terancam.


"Melon... Melon... ini aku Lion." Ujar Lion sambil memegang kedua tangan Melody yang terus meronta. "Kau baik-baik saja, aku menjagamu."


Melody mulai membuka matanya meskipun napasnya masih sangat terengah-engah, dia menatap Lion dengan mata yang memerah dan air mata yang keluar saat Lion ada di pandangannya.


"Tidak apa-apa, kau baik-baik saja. Aku disini." Ucap Lion meyakinkan Melody.


Melody mulai mengatur napasnya dan menyadarkan dirinya. Niko sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Dia hanya terdiam melihat Lion yang menenangkannya.


Lion membantu Melody berdiri dan keluar dari mejanya, namun ketika Melody menoleh pada Niko, kakinya terasa lemas hingga gadis itu hampir terjatuh, untungnya Lion langsung mengangkatnya dan menggendongnya segera keluar dari kelas.


Athos, Aramis, Anna dan beberapa guru yang datang melihat Lion sudah berjalan di koridor untuk membawa Melody ke ruang UKS. Mereka semua menatap Lion dan Melody dengan cemas.


Aramis langsung masuk ke dalam kelas Melody menghampiri Niko, dengan diikuti Athos. Sedangkan Anna mengikuti Lion ke ruang UKS. Murid yang melapor padanya mengatakan kalau Niko melakukan sesuatu pada Melody hingga adiknya itu ketakutan.


"Apa yang kau lakukan?" Geram Aramis menarik Niko. Niko diam saja karena dia sendiri pun bingung dengan yang terjadi.


"Ars, hentikan!!" Seru Athos dan Aramis melepaskan Niko segera karena tidak ingin membuat keributan.


"Niko, kau harus tahu sesuatu." Ucap Athos.


...***...


Lion menidurkan Melody di ranjang UKS, namun Melody memegang lengannya ketika dia hendak pergi. Mata Melody masih memancarkan ketakutan saat ini. Sehingga Lion tidak bisa langsung meninggalkannya.


"Melo, ada aku disini." Ucap Anna yang datang bersama Rinka. "Aku akan menemanimu."


Namun Melody tetap memegang lengan Lion, dia tidak ingin Lion pergi meninggalkannya. Saat ini keberadaan Lion yang bisa membuatnya tenang.


"Melon, sudah tidak ada apa-apa, kau sudah baik-baik saja. Aku harus kembali ke kelas. Biar Anna dan Rinka yang menemanimu." Ujar Lion melepas tangan Melody yang memegangnya lalu pemuda itu menggenggamnya. "Setelah bel istirahat aku akan ke sini lagi."


Akhirnya Melody membiarkan Lion pergi. Anna langsung memberikan Melody minum untuk menenangkannya karena napasnya masih terengah-engah.


"Kau baik-baik saja?" Tatap Anna.


"Apa yang terjadi denganmu, Mel?" Tanya Rinka bingung.


...***...


Prothos masih bercengkrama dengan gadis yang dihampirinya di café. Dengan gestur yang sangat intim, Prothos merangkul, memegang tangan dan bahkan berbisik di dekat gadis itu. Gadis tersebut pun tak keberatan, ditambah gadis-gadis lain berbisik membicarakan betapa tampan pemuda yang duduk bersamanya, membuatnya merasa beruntung sekali.


"Aku sangat suka harum parfummu." Ucap Prothos berbisik sangat dekat sambil merangkul dan memegang tangan kanan gadis itu. "Sebaiknya kita pergi jalan-jalan keluar sekarang. Apa kau mau?"


"Iya, tentu." Senyum gadis itu.


Mereka berdua segera keluar dari café tersebut dan berjalan-jalan keliling sebentar sambil mengobrol ringan. Tanpa disadari gadis itu, Prothos membawanya ke depan sebuah hotel mewah.


"Kau sudah pernah menginap disini?" Tanya Prothos menghentikan langkahnya.


"Belum pernah."


"Mau mencobanya?" Ujar Prothos menatap lekat. "Kita akan melakukan hal-hal seru nanti. Apa kau mau?"


"Apa maksudmu?"


"Baiklah kalau kau tidak mau."


"Tidak, bukan begitu." Ujar gadis itu. "Aku belum pernah melakukannya."


"Apa kau keberatan kalau aku jadi yang pertama melakukannya denganmu?"


Gadis itu terdiam untuk berpikir sesaat. Prothos terus menatapnya lekat dengan sebuah senyum mautnya.


"Aku tidak akan memaksamu." Ucap Prothos dengan nada suara yang lembut. "Sepertinya kau tidak ma—"


"Baiklah, aku mau." Jawab gadis itu dan langsung disambut senyum menawan Prothos memperlihatkan kedua lesung pipinya.


...–NATZSIMO–...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang mau tahu apa yang dibilang Niko, ayo masuk grup 😅