
"What's going on, El? Kenapa kau turun? Kau mau kemana?" Tanya Liam bingung sambil mengikuti Lion yang berjalan di trotoar untuk menunggu taksi. "El, kau mau kemana?" Liam memegang pundak Lion agar berhenti berjalan dan berbalik melihatnya.
"Diamlah, Liam!! Pergilah, aku ingin menemui temanku!!" Seru Lion dengan wajah yang sangat kesal setelah itu menghentikan taksi. "Malam ini aku tidak akan pulang dan jangan menghubungi aku!" Setelah berkata demikian Lion langsung masuk ke dalam taksi dan pergi meninggalkan Liam.
Liam yang melihat kemarahan adik sepupunya malah tertawa, sambil mengambil handphone-nya untuk menghubungi seseorang.
...***...
Sekitar jam tujuh malam ketika Melody turun ke bawah hendak makan malam bersama keluarganya, hanya ada ayah dan kakeknya di meja makan.
"Bukannya ayah pergi dengan kak Ato? Kak Ars juga tidak ada, kemana dia? Bukannya dia akan selalu berada di meja makan lima belas menit sebelum jam makan?" Tanya Melody yang tidak melihat keberadaan kedua kakaknya.
"Ato meminta turun di tengah jalan saat akan pulang tadi. Kalau Ars, entahlah dimana dia. Di rumah Anna juga tidak ada." Jawab Leo sambil duduk di kursi.
"Apa kak Ato sudah baik-baik saja? Kenapa ayah membiarkannya turun di tengah jalan?" Ujar Melody merasa khawatir dengan kakaknya yang baru saja tersadar dari komanya.
"Tenang saja, dia sudah menyebalkan seperti sebelumnya. Dia pasti sudah baik-baik saja." Jawab Leo.
Saat yang bersamaan Mona masuk setelah kembali dari pemotretan Prothos, namun pemuda itu tidak ada bersamanya. Hal itu membuat Melody menjadi bingung.
"Maaf ya, aku datang terlambat sampai tidak sempat membuat makan malam." Ucap Mona sambil berjalan mendekati meja makan. "Ini aku bawakan oleh-oleh dari tempat yang kami kunjungi." Mona meletakkan seplastik bawaannya ke atas meja makan.
"Mona, di mana kak Oto?" Melody masih mencari kakaknya dengan melihatnya ke arah pintu masuk, namun tidak ada siapapun yang muncul lagi.
"Dia memintaku menurunkannya di tengah jalan. Entahlah dia mau kemana." Jawab Mona.
"Kau membawa banyak ikan." Ujar Leo yang membuka oleh-oleh dari Mona. "Sedangkan hasil memancing tadi dapat 20 ekor ikan. Sepertinya kita akan makan ikan selama seminggu."
"Benarkah?" Tanya Mona terkejut. "Mau bagaimana lagi, tempat yang kami kunjungi sebagian wilayahnya adalah laut. Pasti sesuatu yang berhubungan dengan laut kan ciri khasnya."
"Ya, tapi kami memancing di sungai, kau jadi aman memakannya, Mona." Seru Leo. "Duduklah, kita makan bersama."
"Baiklah." Jawab Mona sambil duduk di kursi samping Melody.
...***...
"Mau bagaimana lagi, induknya mati. Kelima anaknya menjadi tidak ada yang menyusui. Sedangkan mereka masih sangat kecil karena baru berusia hampir dua minggu." Ujar seseorang pria.
Saat ini Lion berada di sebuah apartemen yang sekitar dua minggu lalu dirinya datang ke tempat itu untuk memberikan makanan pada seekor anjing yang sedang hamil. Keesokan harinya, anjing itu melahirkan lima ekor anak anjing namun kemarin induk anjing tersebut mati.
"Lion, aku hanya bisa mengurus satu ekor sedangkan tiga ekor lainnya sudah aku berikan pada teman-temanku. Apa kau bisa mengurus yang seekor ini?" Tanya teman Lion sambil mengelus seekor anak anjing sedangkan di tangan satunya ada anak anjing lainnya.
"Tidak masalah, bahkan sebelum lahir aku sudah bilang pada induk mereka kalau aku akan mengambil sesuatu yang berharga darinya. Aku akan mengambil satu ekor anaknya." Senyum Lion sambil mengambil seekor anak anjing berjenis Teacups yang dominan berwarna hitam.
"Terimakasih, Lion." Ucap pria itu.
"Jangan berterimakasih di antara teman." Jawab Lion. "Oh iya, apa kau sudah memberinya nama?"
"Belum. Kau saja yang memberinya nama."
Teman Lion menjadi tertawa mendengar nama yang diberikan Lion pada anjing yang dominan berwarna hitam tersebut.
"Bukankah seharusnya lebih cocok kalau namanya kopi? Bulunya berwarna hitam."
"Aku tidak suka kopi, aku lebih suka susu." Jawab Lion dengan ringan dan membuat temannya kembali terkekeh.
...***...
Salah satu cabang café The Three Musketeers malam ini dipenuhi oleh para pengunjung. Bukan tanpa sebab, karena saat ini ketiga icon dari café tersebut sedang berada di cabang café itu sehingga hal itu menarik para pengunjung untuk datang ke sana.
Sudah lumayan lama mereka bertiga tidak datang bersama. Di tambah kesehatan Athos yang semakin membaik membuat para wanita yang ingin melihat keadaannya datang beramai-ramai.
The Three Musketeers bukan lagi terkenal di kotanya saja namun sekarang mereka juga terkenal di beberapa kota di negara ini, semua itu karena kasus yang dialami oleh Athos. Penggemar mereka yang sebagian adalah wanita semakin bertambah dan semakin banyak.
Cabang café yang mereka datangi saat ini merupakan yang terbesar di mana terdapat meja privasi dengan beberapa ruangan yang memang dibuat untuk pertemuan khusus. Setelah menyapa sebentar para pengunjung, Ketiga Musketeers masuk ke dalam ruangan tersebut di mana seorang pemuda lainnya sudah menunggu mereka di dalam.
"Oh sh*it, kenapa kalian lama sekali?" Liam tampak kesal pada ketiga Musketeers yang baru masuk ke dalam ruangan. "Orang-orang negara ini memang memiliki jam karet."
Ketiga kakak Melody hanya menyunggingkan senyumnya pada Liam yang mengutarakan rasa kesalnya karena menunggu terlalu lama.
"Oh my goodness, you are really f* handsome, Oto." Seru Liam yang baru melihat Prothos dan langsung memeluknya. "Oh my lady prince."
"Ya, aku memang setampan itu." Jawab Prothos. Karena dirinya baru saja pulang dari sebuah pemotretan sehingga wajahnya masih memakai sedikit riasan yang membuatnya semakin terlihat tampan dan bercahaya.
"Pantas saja para wanita di luar berteriak menyebut namamu sangat keras hingga berkali-kali aku terkejut mendengarnya." Ujar Liam.
"Tidak usah berlebihan, dia menjadi terlihat semakin seperti wanita." Timpal Aramis dengan tawa kecil dan membuat yang lainnya ikut tertawa namun Prothos tampak kesal mendengarnya.
"Jadi bagaimana, Liam?" Tanya Athos memulai pembicaraan.
"Kalian tenang saja, aku adalah seorang cenayang, aku bisa melihat masa depan hanya dengan menutup mataku." Liam menutup matanya seolah-olah sedang melihat sesuatu dalam benaknya. "Semua yang kalian takutkan tidak akan terjadi." Setelah itu Liam membuka matanya dengan tersenyum lebar.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Prothos.
"Kalian pernah mendengar istilah Limerence? Dalam psikologi itu berarti seseorang yang memiliki perasaan berlebihan dalam mencintai orang lain. Kalian tenang saja, hampir semua anak muda mengalaminya. Aku yakin kalian pun juga mengalaminya. Tapi selama mereka masih bisa berpikir normal semua akan baik-baik saja." Terang Liam.
"Apa maksudmu?" Tanya Aramis.
"Ternyata Niko memang sudah tahu jika Melo dan si idiot itu saling mencintai. Itu adalah sesuatu yang membuat semua ini akan menjadi lebih mudah." Ucap Liam. "Aku sudah merencanakan beberapa hal, tapi aku ingin minta persetujuan kalian dulu. Apa aku boleh melakukannya atau tidak, karena bisa dibilang ini lumayan berbahaya."
Sejenak ketiga Musketeers saling menatap.
"Tidak masalah jika akhirnya Melo tidak akan menikah dengan Niko." Jawab Athos mewakili kedua kembarannya menyetujui rencana Liam.
"Baiklah, sebelum datang ke negara ini pun aku sudah memulai semuanya." Liam tersenyum lebar.
...–NATZSIMO–...