MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
142. SEKEDAR BAHAN TARUHAN



Lion membuka pintu rumah Anna dimana Aramis sedang berada di dalam rumah tersebut. Aramis sedang membuat prototipe lukisannya di ruang tamu yang sudah diubahnya menjadi ruangan pribadi untuknya.


"Kenapa cepat sekali kau kembali?" Tanya Lion saat melihat sahabatnya.


"Seharusnya kau tidak memberitahunya mengenai lomba tersebut." Jawab Aramis berhenti melakukan aktivitasnya. "Dia mengusirku bahkan sebelum aku sampai."


"Dan kau pergi begitu saja?" Tatap Lion tidak percaya. Dia masih berdiri di depan pintu masuk. "Seharusnya kau tidak mengikuti semua keinginannya, bodoh!! Seharusnya kau tetap di sana bersama dengannya. Kau memang sangat bodoh, Ars."


"Dia tidak mengenaliku. Dia menatapku dengan tatapan kosong dan itu tidak ada satu detik." Jawab Aramis yang duduk di sofa. "Dia memintaku untuk kembali dan mengikuti lomba untuk mendapatkan beasiswa itu."


Lion terlihat kesal namun pemuda itu menahan rasa kesalnya pada sahabatnya, dia tahu Aramis selalu mendengarkan semua perkataan Anna sejak mereka bersama.


"Lalu kau akan menunggunya?"


"Hanya itu yang aku bisa." Jawab Aramis menatap Lion. "Tapi yang terpenting untukku dia sudah berhasil melewati operasinya dengan selamat. Itu saja sudah cukup untukku."


"Ya, kau benar." Ucap Lion. "Dia pasti akan kembali. Kau tenang saja."


Aramis menghela napasnya. Kedua tangannya mengusap kasar wajahnya dan berakhir di kepalanya. Pemuda itu menatap Lion yang masih berdiri di depan pintu.


"Ato bilang kau memberikan uangmu untuk membantunya berbisnis." Ujar Aramis.


"Aku meminjamkannya." Jawab Lion. "Aku berencana memakainya suatu saat nanti untuk hal yang tak berguna, tapi aku merubah rencanaku dan ingin menggunakannya untuk hidupku sendiri."


Aramis tertawa mendengar ucapan Lion. Dia tahu kalau Lion tidak benar-benar berkata seperti itu. Sahabatnya itu selalu membantu dirinya dan kedua kembarannya dengan cuma-cuma walau tak pernah mengatakannya dengan hal yang sebenarnya.


"Kau tidak harus melakukannya karena tidak ada yang bisa kami lakukan untukmu." Aramis menatap Lion dengan serius.


Lion malah tertawa melihat Aramis yang menunjukan tatapan serius padanya.


"Kalian bertiga memang payah, karena itu suatu hari aku akan menghancurkan kalian bertiga sekaligus. Kau tunggu saja, itu akan terjadi." Ancam Lion dengan menyunggingkan senyumnya.


Aramis membalasnya dengan tertawa. Dia mengerti dengan perkataan sahabatnya tersebut. Begitu juga dengan Lion yang melihat tatapan serius Aramis tadi.


...***...


"Tadinya aku pikir kau tidak akan menghubungi aku lagi." Ucap Prothos sambil mendekap seorang wanita yang tak berbusana apapun di atas tempat tidur. Dirinya pun tak memakai apapun saat ini. Peluh terlihat membasahi keduanya setelah mereka melakukan aktivitas di atas ranjang bersama. "Aku serius saat bilang kau yang terbaik."


"Pria sepertimu selalu mengatakan hal begitu ketika bercinta dengan wanita manapun." Jawab Alexa Kidman, aktris yang sebelumnya juga pernah bercinta dengan Prothos.


"Tidak, aku serius. Kaulah yang terbaik Lexa." Senyum Prothos dengan penuh goda sambil mendekap wanita itu.


"Dibanding gadis itu?" Tanya Alexa.


"Gadis siapa?" Prothos balik bertanya dengan bingung namun setelahnya dia mengerti siapa yang dimaksud Alexa. "Maksudmu Mona?"


"Ya, siapa lagi. Kau pasti juga sudah sering bercinta dengannya kan." Ujar Alexa.


Prothos menjadi tertawa mendengar perkataan Alexa. "Kau salah, kami tidak pernah bercinta sekalipun. Kami hanya berteman, dan tidak lebih dari itu."


"Benarkah?" Alexa terlihat sangat terkejut dengan jawaban Prothos. "Itu sangat aneh, aku pikir tidak akan ada wanita yang tidak tertarik padamu. Kalian juga terlihat sangat dekat. Bahkan kau sampai menolongnya waktu itu."


"Mungkin satu-satunya wanita yang tidak akan pernah aku sentuh adalah dia." Ucap Prothos. "Dia sama sekali bukan tipeku. Lexa, kau tahu kenapa kau yang terbaik buatku?"


"Apa karena aku tidak takut melakukannya tanpa pengaman?"


"Selain itu, aku juga sangat suka dengan desahanmu." Seru Prothos langsung ******* bibir Alexa dan berada di atas wanita itu. "Kita lakukan ronde selanjutnya."


"Kau tahu, selain wajahmu yang tampan, kau juga sangat pintar berbicara manis, bahkan kau membuatku ketagihan dengan dirimu." Ujar Alexa diiringi ******* karena Prothos mulai mencumbunya. "Kau tidak ada tandingannya dalam memuaskan wanita. Bahkan Juan tak ada apa-apanya dibandingkan dirimu."


"Dia sangat pintar memainkan perannya. Dia tidak sebaik itu." Ucap Alexa. "Dia selalu menjadikan wanita bahan taruhan bersama dengan teman-teman sesama artis. Siapapun wanita yang terkenal sulit ditaklukan akan jadi incarannya. Hanya sekedar menjadi bahan taruhan."


Prothos tersenyum mendengar perkataan Alexa. Semua yang dia duga mengenai artis tersebut memang benar. Dia tidak sebaik yang dibilang Mona.


"Oh iya, kemarin saat syuting iklan bersama dengannya, aku rasa target selanjutnya adalah gadis itu." Ujar Alexa membuat Prothos berhenti bergerak. "Gadis yang bukan tipemu itu. Hari ini juga ada syuting iklan lainnya, dan aku dengar Juan sengaja meminta gadis itu yang meriasnya."


Mendengarnya membuat Prothos teringat kalau semalam Mona memang mendapatkan telepon dari Juan. Dia tidak menyangka jika ada maksud lain dari pria itu menghubungi Mona langsung tanpa melalui managernya.


"Ada apa?" Tanya Alexa yang bingung saat melihat Prothos berhenti dan berpikir.


Prothos segera beranjak turun dari tempat tidur, menghentikan kegiatannya barusan, tidak memedulikan Alexa yang kebingungan. Pemuda itu memakai celananya dan langsung mengambil handphone-nya lalu menghubungi Mona. Namun tak ada jawaban dari gadis tersebut.


"Ayah, dimana Mona?" Tanya Prothos saat menghubungi ayahnya.


"Dia bilang akan kerja sampingan dan jam lima tadi pergi. Memangnya ada apa? Dimana kau? Kenapa kau pergi tanpa meminta ijinku?" Ujar Leo di ujung telepon.


Tanpa berkata apapun lagi pada ayahnya, Prothos langsung mematikan teleponnya. Dia melihat saat ini sudah hampir jam tujuh malam.


"Kenapa kau tiba-tiba berhenti? Kenapa kau menanyakan gadis itu pada ayahmu sendiri?" Tanya Alexa dengan bingung.


"Di mana syuting iklan itu berlangsung?" Prothos menoleh pada Alexa.


...***...


"Mona, kau sudah punya pacar?" Tanya Juan pada Mona yang sedang mengoleskan riasan di wajahnya.


"Aku tidak akan menjawabnya jika itu hanya pertanyaan basa-basi." Jawab Mona masih fokus pada pekerjaannya.


Juan tersenyum mendengar jawaban dari Mona yang memang terkenal dengan perkataannya yang terus terang dan tidak suka berbelit-belit.


"Setelah scene terakhir ini, bagaimana kalau kita makan malam?" Tanya Juan.


"Tidak, aku harus segera kembali." Jawab Mona tanpa berpikir.


Tiba-tiba Juan memegang tangan Mona yang sedang mengusap wajahnya dengan tisu, membuat Mona menatap mata pria itu.


"Ini bukan basa-basi." Ucap Juan dengan diakhiri sebuah senyum hangat ciri khasnya.


Tidak berapa lama scene terakhir selesai. Mona yang akhirnya menerima ajakan Juan, berjalan dengan aktris itu keluar dari gedung di mana syuting berlangsung.


"Kau ingin makan apa?" Tanya Juan saat baru memasuki mobilnya bersama dengan Mona.


"Apa saja, asal jangan seafood. Aku alergi makanan itu." Jawab Mona sambil mengeluarkan handphone-nya.


"Baiklah." Jawab Juan.


Mona melihat beberapa kali Prothos meneleponnya. Dia merasa aneh sehingga berniat menelepon balik pemuda itu. Saat yang bersamaan, Juan yang menjalankan mobilnya hendak keluar dari deretan parkir tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti mendadak tepat di depan mobilnya, untung saja dia sempat mengerem.


"Sialan, sepertinya dia sengaja menghadang mobilku." Seru Juan dengan sangat kesal.


Mona yang sedang menghubungi Prothos terkejut ketika melihat orang yang menghadang mobil Juan adalah Prothos.


"Kenapa dia di sini?" Gumam Mona heran.


...–NATZSIMO–...