MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
059. SEPASANG HARIMAU MELEWATI SEMUA BERSAMA



Anna keluar dari rumahnya untuk ke rumah yang ada di seberang rumahnya. Dia ingin menemui Aramis saat ini untuk memperlihatkan penampilan barunya. Waktu yang bersamaan Lion juga keluar dari rumahnya.


"Anna." Panggil Lion langsung menghampiri Anna. "Kau ingin menemui Ars sekarang?"


"Cepat atau lambat aku harus menemuinya. Dan lagi dia memintaku untuk menemaninya makan malam nanti di acara kompetisi melukisnya. Ini caraku untuk memberitahunya aku tidak bisa ikut."


Lion tak berkata apapun, dia hanya diam karena tak memiliki kata yang tepat untuk diucapkannya saat ini pada Anna.


"Setelah ini mungkin aku akan pindah agar kami tidak saling bertemu sebelum aku pergi nanti. Dua minggu lagi dia ujian aku hanya akan berusaha menghindari bertemu dengannya selama itu di sekolah." Anna mencoba tersenyum untuk membuat dirinya merasa lebih baik. "Lion, terimakasih kau sudah banyak membantuku dan merahasiakannya dari Ars."


...***...


Aramis membuka topi Anna dan melihat Anna mencukur habis rambutnya. Semua yang ada di sana terkejut, apalagi Aramis.


Aramis mencoba menahan amarahnya melihat gadis yang berencana dinikahinya jika sudah memanjangkan rambutnya malah mencukur habis rambutnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Jadi ini jawabanmu untuk rencanaku satu tahun lagi?" Tatap Aramis terlihat menahan emosinya. Aramis mendengus tertawa tidak percaya. "Pantas saja kau tidak pernah menjawabnya dan selalu mengalihkan pembicaraanku setiap kali aku membahasnya."


Anna diam saja, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Walau sebenarnya dia sangat ingin menangis.


"KAU BUKAN WANITA NORMAL, ANNA!! TIDAK ADA WANITA NORMAL SEPERTIMU!! SEHARUSNYA AKU MENYADARINYA SEJAK AWAL KALAU KAU TIDAK NORMAL!!"


"Ars!!" Seru Athos yang masih duduk di ruang tamu mencoba menghentikan ucapan buruk Aramis pada Anna, gadis yang dicintai kembarannya itu.


"Jawab aku, apa selama ini kau mengerjaiku?" Tatap Aramis, matanya memerah karena menahan amarah dan rasa sedihnya. "Apa semua hanya rencanamu untuk mengerjaiku habis-habisan seperti ini?"


Anna mulai tak bisa membendung lagi air matanya, namun dengan cepat dia menghapusnya. Kata-kata Aramis yang menuduhnya hanya mengerjainya terdengar sangat menyakitkan.


"Ya, pasti kau mengerjaiku selama ini. Sejak dulu, bahkan saat kecil kau sangat suka mengerjaiku. Kau selalu mengerjaiku tanpa pernah memikirkan perasaanku sejak kecil dulu. Dan sekarang kau pun tetap sama, kau mengerjaiku seperti ini tanpa memikirkan perasaanku."


"BAIKLAH ANNA, KAU MENANG! KAULAH PEMENANGNYA!! KAU BERHASIL MENGERJAIKU LAGI DAN LAGI!! KAU YANG MENANG!!" Tanpa sadar Aramis mendorong Anna hingga gadis itu mundur ke belakang.


"Hentikan, kak!!" Seru Melody menghampiri Aramis dan Anna yang berdiri di depan pintu. Melody menahan Aramis karena kakaknya tanpa sadar mendorong Anna dengan kasar.


"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu lagi." Ucap Aramis dingin. "Aku sudah cukup jadi bahan olok-olokmu yang mengerjaiku seperti ini. Akhirnya kaulah yang menang! Pergilah sebelum aku benar-benar memukulmu, gadis berengsek!!"


Setelah berkata begitu, Aramis langsung pergi menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya dengan marah.


Anna berbalik dengan air mata yang mengalir. Gadis itu membuka pintu dan keluar dari rumah itu. Lion berdiri di samping pintu mendengar semuanya. Namun Anna segera pergi meninggalkan rumah itu tanpa kata, dan tidak berkata apapun juga pada Lion yang menatapnya.


Lion menahan emosinya saat ini. Melihat Anna yang pergi dengan kesedihan di dirinya setelah mendengar perkataan Aramis, membuatnya sangat tidak tega melihatnya. Dia berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak melakukan apapun atau ikut campur masalah itu, namun siapapun tidak akan tega melihat seorang gadis mendengar kata-kata kasar dari pemuda yang dicintainya. Begitu pun dengan Lion, dia tidak bisa lagi menahan dirinya saat ini.


Dengan kasar Lion membuka pintu dan masuk ke rumah itu. Semua orang menatap kehadirannya dengan bingung, namun Lion langsung berjalan dengan langkah lebar menaiki tangga dan masuk ke kamar Aramis.


Aramis yang duduk di lantai menatap kehadiran Lion yang terlihat sangat marah dari wajahnya.


"Kau harus minta maaf padanya!!" Seru Lion.


"Dia seharusnya yang minta maaf padaku. Selama ini dia hanya mengerjaiku. Aku benar-benar memalukan."


"AKU BILANG KAU HARUS MINTA MAAF PADANYA!!" Geram Lion sangat kesal.


Lion langsung menarik Aramis bangun dan menyeretnya keluar kamar. Lalu melayangkan pukulannya pada Aramis berkali-kali. Aramis tidak membalas dan hanya mendorong Lion terus menerus yang tidak mau menghentikan memukul dirinya.


"Hentikan, sialan!!" Seru Aramis akhirnya memukul Lion untuk menghentikan sahabatnya itu memukuli dirinya.


"Kau yang sialan, Ars!!" Ucap Lion dingin.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau membelanya? Seharus kau membelaku!!" Ujar Aramis.


Lion tertawa kesal dengan menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Aramis.


"Kau berlagak seperti disini kaulah korbannya." Kata Lion, tatapannya dingin pada Aramis. "Kau masih tidak berubah, kau masih sebodoh dulu, Ars. Bahkan kau bersikap seperti itu pada gadis yang kau cintai. Kau juga tidak mendengarkan kata-kataku tadi. Aku tidak percaya ini. Anna, kau sangat kasihan."


"Apa maksud ucapanmu, bodoh?" Kesal Aramis pada Lion. "Apa dia mempengaruhimu? Apa dia menghasutmu?"


"Aku akan mematahkan lehermu kalau kau berkata seperti itu lagi, Ars!!" Seru Lion. "Kau akan menyesali semua perkataanmu padanya tadi!! Dia sudah sangat menderita dengan semua beban yang ditanggungnya seorang diri selama ini. Dan kau menambahnya dengan perkataan menyakitkan itu padanya."


"Katakan yang jelas, Lion!! Apa maksudmu?!" Aramis mencengkram Lion agar Lion memperjelas perkataannya. "Apa ada hal yang di sembunyikan Anna dariku?"


...***...


Anna duduk seorang diri di pinggir sungai yang dulu dia datangi bersama Aramis. Sungai yang menjadi latar belakang lukisan Aramis.


Kesedihannya sudah berakhir, setidaknya gadis itu berpikir seperti itu ketika tak ada lagi hal yang harus dia tangisi. Anna merasa tidak harus memikirkan perkataan menyakitkan Aramis tadi, toh, itu semua adalah harapannya. Dia ingin membuat Aramis membencinya, dan dia berhasil melakukannya.


Saat ini dia hanya ingin fokus pada pengobatannya. Dia akan sembuh, dan jika semua baik-baik saja, dia berencana kembali pada Aramis. Dia akan meminta maaf pada pemuda yang sangat dicintainya itu, apapun akan dilakukannya agar Aramis memaafkan dirinya. Tapi, itupun jika dia tidak kehilangan ingatannya pada Aramis, atau operasinya berjalan dengan lancar.


Matahari mulai terbenam. Anna berniat meninggalkan sungai itu dan berjalan kembali pulang ke rumahnya. Aramis pasti sudah berangkat ke makan malam itu sehingga dia tidak perlu takut jika bertemu dengannya saat sampai di rumah.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Anna mengambil handphone-nya ketika berjalan meninggalkan sungai dengan langkah perlahan. Lion meneleponnya.


"Kau harus tahu Anna, setiap malam ketika dia menginap di rumahku, dia selalu menyebut namamu dalam tidurnya, bahkan sebelum kau datang kembali. Sejak dulu dia mencarimu, dia pergi ke sekolah-sekolah untuk mencarimu tapi murid di sekolah itu menganggap kalau dia datang untuk menantang mereka. Dia selalu bertindak bodoh tanpa memikirkan apapun."


Anna mulai menitihkan air matanya lagi mendengar ucapan Lion di ujung telepon.


"Saat kau datang lagi, dia menjadi semakin bodoh karenamu. Dia terlihat sangat bahagia dan lebih bersemangat dalam segala hal. Tapi dia memang bodoh, bahkan dia tidak tahu apa yang terjadi padamu, padahal kalian selalu bersama." Lanjut Lion dengan perlahan. "Ditambah perkataannya tadi padamu memperlihatkan betapa bodohnya dia, kan?"


Anna sedikit tertawa mendengar ejekan Lion mengenai Aramis, walau air mata masih membasahi pipinya. Saat ini Anna berjalan menuju jembatan yang ada di atas sungai. Jembatan yang juga menjadi latar lukisan Aramis.


"Sebagai sahabatnya aku minta maaf padamu atas perkataan menyakitkannya tadi. Kau mau memaafkan si bodoh itu kan?" Tanya Lion. "Dan aku juga minta maaf, seperti sebelumnya, aku tidak mau berjanji padamu... karena aku tahu... aku tidak akan bisa memegang janji itu."


Anna mengangkat kepalanya dan memperhatikan di ujung jembatan.


"Maaf, aku memberitahu semuanya pada, Ars."


Di saat yang bersamaan Anna melihat Aramis muncul di ujung jembatan satunya. Pemuda itu menghentikan langkahnya ketika melihat Anna.


"Sebaiknya sepasang harimau melewati semuanya bersama-bersama." Ucap Lion.


...–NATZSIMO–...