MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
043. ADIK YANG BAIK



Bel istirahat berbunyi.


"Melody, ayo ke kantin, temani aku membeli minuman." Ucap Niko pada Melody yang sibuk dengan handphone-nya.


"Biasanya kau pergi sendiri." Jawab Melody menoleh.


"Kita belum pernah pergi bersama ke kantin, dan aku tidak terlalu suka saat berjalan sendirian. Hampir semua wanita mengambil gambarku diam-diam dan diunggah ke forum sekolah."


"Lalu kenapa aku harus ikut?"


"Temani aku karena kita akan menikah." Ucap Niko.


Melody langsung beranjak dan berdiri menunggu Niko yang melihatnya bingung.


"Ayo, tunggu apa lagi?" Tanya Melody.


Mereka berdua langsung berjalan keluar kelas. Lion yang berdiri di depan kelas tersenyum pada Niko. Melody mengalihkan pandangannya dari Lion, dia tidak ingin melihat Lion saat ini karena takut dia akan kembali bersedih lagi. Ditambah reaksi Lion yang malah tersenyum pada Niko membuat kumpulan rasa sedihnya bertambah.


Ketika Melody mengalihkan pandangannya dari Lion, dia melihat kakaknya, Prothos yang berjalan keluar kelas dikejar oleh Wilda. Dengan secepatnya dan tanpa memedulikan Niko, Melody berjalan cepat dan menarik Wilda yang menghentikan Prothos.


Plakk!


"Menjauhlah dari kakakku!!" Ucap Melody dingin. Gadis itu menampar Wilda sangat keras.


Lion dan Niko terkejut hingga saling tatap saat melihat Melody yang langsung menampar teman sekelas mereka. Semua murid melihat apa yang terjadi bahkan beberapa dari mereka merekamnya dengan handphone.


"Jangan dekati kakakku lagi!!" Tambah Melody dengan tatapan tajam dan dingin.


"Kau tidak tahu apapun." Jawab Wilda.


"Aku tahu kalau kau bukan pacar kakakku, kau hanya memanfaatkannya." Ucap Melody.


"Kau tidak perlu ikut campur, Melody." Ujar Wilda.


Melody mengepal tangannya karena semakin kesal lalu memukul wajah Wilda dengan kepalannya hingga Wilda terjatuh, namun gadis itu sudah sangat marah hingga dia berniat menarik Wilda bangun untuk kembali memukulnya, untungnya Prothos memeganginya.


"Hentikan, Melo!!" Seru Prothos memegangi adiknya yang sudah terlihat sangat kehilangan kendali.


Athos, Aramis dan Anna datang melihat kegaduhan yang dibuat Melody. Mereka mencoba menghentikan agar Melody tidak memukul Wilda lagi.


"MENJAUH DARI KAKAKKU, KAU MENGERTI?!" Teriak Melody sangat kesal.


"Sudahlah, Melo." Prothos merengkuh adiknya agar menghentikan amarahnya, dengan mengusap kepalanya.


"Dia benar-benar mirip Aramis." Ucap Niko pada Lion.


"Dia selalu seperti itu saat seorang gadis mengganggu Oto. Dia selalu pasang badan untuk kakaknya yang satu itu." Jawab Lion tertawa.


...***...


Anna bersama Melody berada di ruangan OSIS. Melody harus menerima konsekuensi karena memukul Wilda di depan semua orang. Melody sama sekali tidak menyesalinya. Dia hanya tidak ingin kakaknya, Prothos diganggu lagi oleh Wilda karena dia tidak ingin kakaknya itu bersedih.


Anna menatap Melody sejenak dan setelah itu tertawa melihat apa yang dilakukan Melody tadi. Baginya itu adalah hal yang luar biasa karena biasanya Melody selalu tenang dan baru kali ini dia kehilangan kendali sampai memukul orang.


"Kau benar-benar adiknya Ars, Melo." Ujar Anna menahan tawanya. "Baru kali ini aku melihatmu semarah itu."


"Sebagai ketua OSIS seharusnya kau tidak tertawa dengan apa yang aku lakukan, kak." Ucap Melody.


Anna menahan tawanya dan mencoba berhenti. Namun kali ini Melody malah tersenyum sambil menatap Anna.


"Apa aku tadi semarah itu kak?" Tanya Melody. Dia sendiri pun tidak mengira kalau dia akan semarah tadi, karena saat melihat Wilda mendekati kakaknya kesadarannya langsung hilang. Dia kembali sadar ketika Prothos merengkuhnya.


"Kau bisa melihatnya dari video yang sudah beredar." Jawab Anna tersenyum. "Baiklah, tandatangani saja surat pernyataan ini." Anna menyodorkan secarik kertas. "Kau memang adik yang baik. Oto sangat beruntung memiliki adik yang sangat menyayanginya dan selalu membelanya saat para gadis mengganggunya."


Melody keluar dari ruang OSIS bersama Anna. Ketiga kakaknya menunggunya di luar dan beberapa murid memperhatikan mereka dari kejauhan karena saat ini masih waktu istirahat.


Prothos langsung merangkul adiknya itu dan mengusap-usap kepalanya. Dia sangat tidak mengira kalau Melody akan bertindak sejauh itu demi dirinya.


"Kau pantas jadi adikku, Melo." Seru Aramis dengan gelak tawa sambil mengacungkan jempolnya pada Melody.


"Jangan sampai ayah tahu masalah ini, atau ini akan benar-benar menjadi masalah." Ujar Athos memegang pundak Melody.


"Tidak perlu khawatir, Melo hanya menandatangani surat pernyataan kalau dia tidak akan melakukannya lagi." Jawab Anna.


...***...


Melody memasuki toilet untuk mencuci tangan. Ketika dia masuk, beberapa murid perempuan berada di sana sedang membicarakan apa yang terjadi tadi. Mereka membahas kalau Wilda bukanlah kekasih Prothos.


"Melody, apa itu benar? Gadis itu bukan pacar kak Oto?" Tanya salah satu dari para murid perempuan yang berada di toilet.


Melody tidak menjawab dan hanya membuka keran air untuk cuci tangan.


"Sudahlah, ayo sebentar lagi masuk." Seru yang lainnya mengajak semuanya keluar.


Melody mencuci tangannya di wastafel. Saat ini tangannya mulai terasa sakit. Telapak tangannya memerah karena menampar Wilda sangat keras dan kepalan tangan kanannya juga terasa sangat sakit sekarang. Baru kali ini dia meninju seseorang hingga tangannya terasa sangat nyeri.


Bel masuk berbunyi, Melody yang berjalan keluar dari toilet dikejutkan dengan keberadaan Lion yang berdiri di depan pintu menatapnya.


Lion menyodorkan sebuah salep pada Melody.


"Olesi ke tanganmu yang sakit. Kau tidak pernah memukul orang pasti sekarang tanganmu terasa sakit." Ujar Lion.


Melody mengambil salep pemberian Lion tanpa kata. Walau sebenarnya saat ini dia senang melihat Lion memperhatikannya.


"Wilda sedang ada di ruang UKS, jadi aku tidak ingin kau kesana untuk mengambil obat itu karena takut kau akan menyerangnya lagi saat kau melihatnya." Setelah berkata demikian Lion berjalan pergi meninggalkan Melody.


Melody memikirkan apakah Lion memberikan salep ini benar karena dia tidak ingin Melody ke ruang UKS karena takut jika dirinya bertemu dengan Wilda dan kembali menyerangnya, atau itu hanya alasan yang dibuatnya. Tapi itu tidak penting, yang pasti dirinya sedikit senang karena Lion masih memperhatikannya.


Melody berjalan masuk ke dalam kelas. Semua teman-teman sekelasnya menatap kehadirannya dan berbisik-bisik, saat ini Wilda masih berada di UKS. Namun fokusnya terarah pada Lion yang sedang menidurkan kepalanya di atas meja seperti kebiasaannya.


"Melo, apa itu benar? Wilda bukan pacar kakakmu?" Tanya Rinka saat Melody berjalan masuk menuju kursinya.


Melody hanya mengangguk menjawabnya. Dan itu membuat semakin banyak bisikan-bisikan di kelas.


"Minumlah ini, kau pasti haus setelah berteriak tadi, kan?" Niko membukakan tutup botol air mineral dan menyodorkannya pada Melody.


Melody mengambilnya dan meminumnya hingga setengah botol. Kerongkongannya memang terasa kering setelah berteriak tadi.


"Terimakasih." Jawab Melody.


"Aku tidak mengira kalau kau bisa semarah itu." Ujar Niko. "Sepertinya aku harus hati-hati sekarang padamu."


Melody tidak menanggapi. Dia mengeluarkan salep pemberian Lion untuk diolesinya ke tangannya yang masih terasa sakit dan memanas saat ini.


"Tanganmu jadi sakit ya?" Tanya Niko melihat Melody hendak mengeluarkan salep dengan menekannya menggunakan tangan kirinya. "Biar aku bantu." Ujar Niko langsung mengambil salepnya dari tangan Melody.


Niko mengolesi salep tersebut ke tangan Melody yang sakit, bahkan ke telapak tangan gadis itu juga.


"Aku tidak akan bisa menulis kalau begini." Keluh Melody.


"Aku bisa menulis untukmu." Senyum Niko.


"Aku tidak bisa membaca tulisanmu." Gumam Melody dengan tawa kecil. "Semua tulisan anak cowok tidak bisa dibaca, kecuali tulisan kak Ato."


Dari kejauhan Lion melihat pasangan tersebut yang terlihat semakin akrab di matanya. Bahkan dia terkejut karena Melody bisa tertawa juga pada Niko. Sebelumnya dia mengira kalau gadis itu tidak akan bisa tertawa pada orang lain selain dirinya. Entah kenapa Lion merasakan sebuah perasaan iri di hatinya saat ini. Namun segera Lion mengalihkan pandangannya dan langsung menidurkan kepalanya kembali ke atas meja.


"Kenapa gurunya lama sekali datangnya?" Keluh Lion.


Melody menoleh pada Lion. Saat ini suasana hatinya sedang senang karena Lion memberikan salep itu sebagai bentuk perhatiannya, itu pula yang membuat Melody tertawa pada Niko.


...–NATZSIMO–...