
Anna duduk di sebuah restoran cepat saji di area teras. Dia sedang memakan salad yang dipesannya sambil berbalss pesan dengan Aramis.
Cepatlah pulang! Ayo kita edit bersama videonya. -Aramis-
Biar aku saja yang edit. Aku masih sibuk. -Anna-
Jam berapa kau akan selesai? Biar aku jemput. -Aramis-
Sepertinya masih lama, tidak perlu menjemputku. Nanti malam aku yang edit sendiri saja. Kau terima hasilnya saja. -Anna-
Judulnya apa? Kau sudah dapat? -Aramis-
Aku masih sibuk, belum aku pikirkan. -Anna-
"Kau tahu ada istilah bohong itu dosa?" Tiba-tiba Lion berdiri di belakang Anna membaca pesan-pesan tersebut.
"Kau tahu kalau membaca isi pesan orang lain itu tidak sopan?" Balas Anna pada Lion yang sudah duduk di kursi di serong kanannya. "Kau bilang bohong itu dosa tapi kau itu rajanya bohong."
Lion tertawa mendengar perkataan Anna. Dia tidak menyangkalnya karena dia merasa kalau yang dikatakan Anna ada benarnya.
"Anna, kalau aku bilang aku gay, apa kau percaya?" Tanya Lion.
"Sepertinya aku percaya." Jawab Anna. "Jadi ternyata kau gay?" Anna sedikit menghindar dengan mencondongkan badannya ke belakang.
"Kau itu wanita, kalau aku gay kenapa reaksimu menghindar begitu?" Tatap Lion heran. "Apa sebenarnya aku gay ya?" Lion terlihat berpikir.
"Sudahlah Lion, kau tidak perlu meyakinkan dirimu kalau kau gay. Kebohongan apa lagi yang mau kau katakan?"
"Aku tidak pernah berbohong."
"Kalau tidak mengatakan yang sebenarnya apa bukan berbohong? Aku akan membunuhmu kalau kau bilang aku hanya tidak jujur. Itu sama saja, bodoh!!"
"Kenapa semua orang memarahiku? Apa yang aku lakukan?" Lion terlihat heran. "Aku ini anak baik, kenapa kalian semua akhir-akhir ini berbicara dengan kesal padaku?"
Anna mencoba mengatur napasnya agar tidak terpancing emosi lagi. Dia sudah cukup merasakan sakit kepala dan tidak ingin menambahnya menjadi semakin sakit.
"Aku ingin tanya padamu, selama ini kau menganggap Melo itu apa?"
"Ayolah Anna, jangan mulai lagi. Setiap aku bertemu siapapun pembahasannya selalu sama. Bagaimana kalau yang kita bahas sekarang adalah kau dan Ars?" Ucap Lion mengalihkan topik pembicaraan. "Ars bilang kau tidak suka dengan lukisannya, tapi aku mengerti kenapa kau begitu."
Pembahasan Lion membuat Anna terdiam. Dia tidak ingin membahasnya dengan siapapun. Itu membuatnya menjadi merasa sedih lagi.
"Kenapa kau tidak memberitahu Ars yang sebenarnya? Kau tahu, selama ini dia mencarimu, saat kau muncul di hadapannya dia terlihat berbeda sekarang. Tapi kau tidak jujur padanya. Kau tega sekali padanya."
"Lion, bukankah kita sama saja?" Tatap Anna. "Kau tidak jujur pada Melo bahkan pada dirimu sendiri. Kalau dibilang tega, kau adalah raja tega, seharusnya kau mengerti itu."
...***...
Athos bersama Tasya menikmati makan malam mereka di sebuah restoran mewah. Pasangan tersebut terlihat sangat menikmatinya. Saling memandang dan tersenyum.
"Ato, kita harus lebih sering makan malam romantis seperti ini." Ucap Tasya setelah selesai makan. "Oh iya, bagaimana kalau sabtu depan kita berlibur bersama karena sebentar lagi kita akan ujian kelulusan."
Athos tak menjawab. Dia terlihat mengepal kedua tangannya di pangkuan kakinya. Ada sesuatu yang harus dia sampaikan pada kekasihnya itu saat ini. Sesuatu yang akan membuat gadis yang dicintainya itu bersedih.
"Kita ajak yang lainnya juga, bagaimana?"
"Tasya." Panggil Athos dengan tatapan serius.
"Aku akan berhenti menemuimu setelah ini." Ucap Athos menatap lekat Tasya.
"Apa yang kau katakan?" Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Tasya. Seketika rasa sedih menyelimuti gadis itu. "Kau bercanda kan?"
"Kau akan segera menikah, dan sebaiknya aku harus berhenti menemuimu." Tambah Athos.
"Tidak, Ato. Aku percaya padamu, kau akan menghentikan pernikahan itu. Jangan berhenti menemuiku. Aku tidak mau!" Tasya mulai mengeluarkan air matanya.
"Maafkan aku." Ucap Athos.
"Tidak, tidak!! Jangan berkata seperti itu. Kau membuatku sedih dengan perkataanmu. Aku tidak ingin berpisah darimu, Ato. Aku tidak ingin menikah dengannya."
Untuk sesaat Athos menatap Tasya yang menangis. Dia menahan dirinya untuk tidak menghampiri kekasihnya yang sangat bersedih sekarang ini. Dia sangat ingin memeluknya namun Athos menahan dirinya untuk tidak melakukannya. Dia sudah memutuskan untuk berhenti menemui Tasya karena dua minggu lagi kekasihnya itu akan menikah.
Athos bangkit berdiri sambil menatap Tasya yang bercucuran air mata. Setelah itu pemuda itu melangkah pergi meninggalkan Tasya yang tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikannya.
Sesampainya di mobil, Athos memukul setir berkali-kali dengan sangat kesal dan menggeram. Dia sangat tidak tega melihat Tasya menangis tadi tapi dia harus melakukan hal itu. Dia harus memutuskan untuk berhenti menemui kekasihnya itu karena gadis yang dicintainya itu akan segera menikah.
Dia mengambil handphone-nya lalu mengambil gambar asal dan mengunggahnya ke akun sosial media miliknya dengan caption,
It's time to say goodbye.
...***...
Athos menaiki tangga rumahnya menuju lantai dua, bersamaan ketika Aramis membuka pintu kamar hendak keluar. Aramis melihat raut wajah kesedihan pada Athos saat ini.
"Ada apa denganmu, Ato?" Tanya Aramis.
Athos tidak menjawab. Dia malah membuka pintu kamar Prothos yang tidak terkunci, dan melihat kembarannya yang sedang patah hati itu duduk di lantai dengan kondisi kamar yang gelap. Aramis berdiri di belakang Athos.
"Oto, aku sudah memutuskan hubunganku dengan Tasya, dia akan menikah dua minggu lagi."
Prothos dan Aramis terkejut mendengarnya karena mereka pikir kalau Athos akan menghentikan pernikahan Tasya, tetapi yang terjadi sekarang kembaran mereka itu malah memutuskan hubungannya dengan kekasihnya.
Athos berjalan mendekati Prothos dan duduk di sebelah kirinya. Aramis melihat mereka berdua yang sedang bersedih dari ambang pintu. Dengan segera dia menghidupkan lampu kamar Prothos, lalu segera masuk dan berdiri di hadapan mereka berdua.
"Kalian berdua benar-benar sangat menyedihkan." Seru Aramis terlihat kesal. "Ato, aku tahu kau tidak benar-benar berpisah kan dari Tasya? Kau sudah merencanakan sesuatu untuk menghentikan pernikahan itu, kan? Oto, bilang padanya untuk tidak menyerah. Dia paling mendengar kata-katamu."
"Aku tahu kau akan melukakan sesuatu, Ato. Bukan dirimu jika tidak berbuat apapun apalagi berhenti begitu saja." Ujar Prothos sambil menengadahkan kepalanya ke sisi tempat tidur menatap langit-langit kamar. "Nasibmu masih lebih baik dariku yang ditinggal pergi karena pengkhianatanku. Dia mengajakku berkencan dan setelahnya meninggalkan aku hanya dengan sepucuk surat. Ini sangat menyakitkan. Rasanya aku tidak bisa mengatasi rasa sakit ini."
"Kau berkhianat?" Tanya Aramis yang akhirnya duduk di kursi menghadap kedua kembarannya.
"Entah bagaimana gadis berkacamata itu membuatku berpikir kalau dirinya adalah pacarku. Waktu itu aku mabuk, dan kami melakukannya."
"Gadis polos itu?" Tatap Aramis heran. "Dia teman sekelas Melo kan?"
"Tampilan luarnya tidak sesuai dengan aslinya. Dia terus saja menggodaku dan membuatku lupa diri. Dia gadis yang menyeramkan." Jawab Prothos. "Tapi itu semua memang salahku. Seharusnya aku tidak mempedulikannya dan fokus saja pada hubungan kami dan seharusnya waktu itu aku tidak mabuk."
"Oto, berhentilah bersedih, semua sudah terjadi." Seru Athos. "Aku pun juga masih akan berjuang untuk Tasya. Aku akan menghentikan pernikahan itu. Aku membutuhkan dukungan kalian."
Tanpa mereka tahu, di luar Melody mencuri dengar karena pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Dia sangat terkejut dan langsung tahu kalau yang dimaksud gadis polos berkacamata itu adalah teman sekelasnya, Wilda.
...–NATZSIMO–...