MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
081. AKHIR DARI SEGALANYA



Dion sedang bersantai di sebuah ruangan, dia sudah siap dengan memakai jas pernikahannya yang berwarna hitam. Duduk di sebuah sofa dimana seorang gadis juga duduk memeluknya dengan intim.


"Pernikahan ini hanya formalitas. Semua hanya karena bisnis. Aku masih akan tetap menemuimu dan bersenang-senang denganmu." Ujar Dion setelah itu mencium wanita tersebut dengan penuh gairah.


"Ayo kita melakukannya sebelum pernikahanmu dimulai, Dion." Ucap wanita.


"Ide yang bagus." Senyum Dion setelahnya menidurkan wanita itu ke sofa.


Cklek


"Astaga, aku masuk di waktu yang tidak tepat." Gumam Lion yang membuka pintu ruangan, dia membawakan sebuah sekeranjang apel beserta pisau buah.


Dion langsung bangun melihat kehadiran Lion, dan menyuruh wanita yang bersamanya keluar.


"Sepuluh menit lagi kau akan menikah tapi sempat-sempatnya kau seperti itu." Ujar Lion berjalan masuk dan meletakan keranjang berisi apel yang dibawanya ke meja.


"Aku tegang, untuk menghilangkan rasa tegangku aku harus melakukan hal itu." Dion bangkit berdiri mendekati Lion. "Lion, bagaimana? Kau tahu dia ada dimana?"


"Kau mau apel?" Tanya Lion sambil memotong apel dan memakannnya.


"Tidak, ini bukan waktunya menikmati apel." Ujar Dion.


"Aku tidak tahu dimana dia sekarang, tapi dia akan datang." Jawab Lion dengan mulut dipenuhi apel. "Kau harus hati-hati padanya."


"Kau serius? Bukankah hari ini pembukaan cabang café miliknya?"


"Dia tidak disana. Kau meminta padaku untuk memastikan dia tidak datang ke sini kan? Aku sudah menolaknya untuk memberikan undangan acara ini dan mencari tahu keberadaannya. Tapi dia tidak terlihat di gedung ini, dia juga tidak memberitahuku dimana dia berada. Bahkan aku menawarkan agar aku membawa Tasya padanya, tapi dia menolak."


"Kalau begitu apa dia menyerah? Apa dia tidak akan datang?"


"Sudah aku bilang dia akan datang. Dia memintaku melakukan beberapa hal untuknya, karena itu aku yakin dia akan datang." Jawab Lion santai. "Kau harus hati-hati."


"Tapi sebentar lagi acaranya akan dimulai, tidak mungkin dia bisa berbuat apapun setelah kami menikah."


"Kau memang bodoh, Dion." Tawa Lion mengejek. "Semua belum berakhir sampai kau dan Tasya menikah kan? Karena itu berhati-hatilah, kau terlalu lemah untuk menghadapinya."


Lion meletakan pisau buah yang baru digunakannya untuk memotong apel, setelah itu berjalan ke arah pintu dengan kedua tangan berada di dalam saku celana putihnya.


"Apa maksudmu?" Dion tampak kebingungan.


"Dia bilang padaku, semua hal boleh dilakukan demi cinta, dan itu sepadan." Jawab Lion sembari berjalan dan berhenti sebelum keluar. "Kau harus menghentikannya sebelum dia berbuat hal gila padamu saat dia datang. Tapi sebaiknya kau makan dulu apel-apel itu agar saat dia datang kau punya persiapan."


Perkataan Lion membuat Dion menjadi ketakutan. Dia berpikir apa yang akan dilakukan Athos padanya nanti? Dia harus bersiap-siap dan dia tidak ingin dipermalukan di acara pernikahannya.


Tatapannya teralih pada sebuah pisau di atas keranjang apel yang dibawa Lion ke ruangan itu.


...***...


Lion berjalan hendak memasuki ruang acara pernikahan akan dilangsungkan, namun fokusnya teralih ketika melihat Niko dan Melody berada di sana dan hendak berjalan masuk ke aula gedung juga.


"Kalian ada disini juga?" Tanya Lion tersenyum.


"Pamanku meminta aku mewakilinya." Jawab Niko. "Tapi kenapa kau disini? Jangan bilang kalau pengantin pria adalah temanmu?"


Lion hanya tersenyum menjawab Niko.


"Ya ampun, siapapun adalah temanmu." Gumam Niko.


"Kau kelihatan keren sekali Niko, arrghh... aku jadi iri padamu. Kau sangat cocok pakai pakaian seperti ini." Lion memukul perut Niko dengan punggung tangan kanannya.


"Dan kau datang hanya pakai kemeja putih di acara seperti ini?" Melody tampak heran karena penampilan Lion tidak berbeda dari biasanya.


"Heh, apa maksudmu Melon? Aku sudah sangat merasa tampan dengan pakaianku seperti ini." Kesal Lion pada Melody.


"Kata-katamu sangat menyakitkan, Melon." Gumam Lion.


Niko memperhatikan interaksi mereka berdua. Mereka terlihat sudah seperti biasanya dan tidak terlihat saling menjauh. Namun entah kenapa Niko merasa kalau itu bukan hal yang membuatnya tenang.


"Kau datang dengan gadis dari kelas sebelah?" Tanya Niko, dan Melody menyimaknya ingin tahu.


"Ah, tidak. Aku mengajak temanku yang kemarin baru pulang dari Jerman." Jawab Lion dan mencari sosok temannya yang dimaksud.


Melody memperhatikan Lion yang melambaikan tangan ke arah dalam gedung pada beberapa orang yang berada disana. Gadis itu merasa lega saat teman yang dimaksud Lion adalah seorang pria bukan wanita.


"Kenalkan ini temanku Frans, dia seorang dokter di München, dan sedang berlibur ke sini." Lion mengenalkan temannya yang orang asli negara sini namun bekerja di Jerman.


"Kau seorang dokter?" Tanya Niko bersalaman dengan Frans. "Kenalkan Aku Niko Mordashov."


"Ya, aku baru lulus kedokteran dan bekerja di München. Senang berkenalan denganmu."


...***...


Athos berjalan kaki memasuki gedung pernikahan, dia membawa sebuket bunga krisan warna warni yang ukurannya sangat besar beserta sebuah kotak hadiah yang sudah dipersiapkan olehnya untuk kekasih tercintanya Tasya.


Acara sudah dimulai ketika dirinya dihadang oleh petugas yang memeriksa undangan para tamu yang datang. Dengan santai Athos menunjukan undangan yang terdapat barcode tersebut. Setelahnya dia dibolehkan masuk.


Pemuda itu sempat terdiam di depan pintu acara yang di mana sudah dimulai beberapa saat lalu. Dia mempersiapkan dirinya sejenak hingga suara satu-satunya orang yang berbicara di dalam acara terdengar samar-samar.


"Apakah ada keberatan bagi saudara sekalian mengenai pernikahan ini? Jika tidak ada keberatan yang kami terima, maka prosesi pernikahan akan kami lanjutkan."


Dengan sangat mantap Athos membuka pintu ruangan. Semua mata menatap kehadirannya. Tatapan pemuda itu hanya tertuju pada gadis yang sangat dicintainya, Tasya.


Kau memang sangat cantik Tasya. Kau terlihat seperti seorang putri di negeri dongeng.


Namun amarahnya muncul ketika melihat lebam di wajah Tasya. Walaupun dia berdiri di jarak yang cukup jauh dengan Tasya yang berada di altar, tetapi lebam tersebut terlihat jelas olehnya. Bahkan dia bisa melihat senyum Tasya ketika melihat kehadirannya disana.


"Aku yakin kau akan datang." Bisik Tasya mengeluarkan air mata kelegaan melihat Athos di sana.


Athos menatap tajam pada Dion yang terlihat gusar dengan kehadirannya, saat mulai melangkahkan kakinya mendekati altar. Terdengar bisikan-bisikan dari para tamu yang hadir mengenai dirinya. Athos tidak memedulikannya, bahkan ayah Tasya berusaha memanggil petugas keamanan saat Athos melangkah maju.


"Kau terlambat Ars, dia sudah datang dan aku tidak bisa menghentikannya." Ucap Lion pada Aramis yang meneleponnya.


Dion yang gusar sekaligus takut berjalan mendekati Athos yang hampir sampai ke arahnya. Semua yang melihat histeris ketika Dion menghantam dada kiri Athos dengan sebuah pisau. Ya, sebuah pisau buah yang disimpannya dari balik jas pengantinnya. Seketika darah keluar dari diri Athos namun tanpa siapapun tahu Athos sedikit memajukan tubuhnya sehingga pisau tersebut lebih dalam menusuknya, dan membuatnya langsung tumbang.


Keadaan menjadi kacau. Melody yang melihat kakaknya terbaring dengan bersimbah darah menangis mencoba menghampiri namun Niko menahannya agar tidak mendekat.


"Kak Oto, kak Ato... kak Ato..." Jawab Melody menangis saat Prothos meneleponnya dalam kekacauan tersebut.


Lion bersama temannya yang merupakan seorang dokter mendekati Athos yang masih membuka matanya walau darah juga keluar dari mulutnya.


"Jangan cabut pisaunya, cepat panggil ambulan. Aku butuh sesuatu untuk menekan darahnya agar tidak semakin banyak mengeluarkan darah."


Lion segera membuka kemeja putihnya hingga menyisakan kaos putih yang dipakainya, lalu diberikan kepada Frans untuk menekan dada Athos yang mengeluarkan banyak darah, setelah itu menghubungi ambulan.


"Tetaplah tersadar." Ucap Frans sambil menekan terus darah yang keluar.


Athos yang masih tersadar hanya menatap Tasya yang menangis melihat keadaannya dari atas altar. Gadis itu ditahan oleh ibunya agar tidak mendekat pada Athos sedangkan Dion langsung melarikan diri setelah menusuk Athos.


Seketika Athos mengingat kembali momen pertemuan dirinya dengan Tasya pertama kalinya. Ketika Athos menolong Tasya sebanyak tiga kali hingga gadis itu memeluknya sebagai ucapan terimakasih. Saat itu Athos sudah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama pada Tasya. Tapi hal tersebut belum pernah diceritakannya pada gadis itu.


Jangan menangis, Tasyaku sayang. Setidaknya kau tidak akan menikah dengan orang yang selalu menyakitimu. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Ini adalah akhir dari segalanya. Sekarang biarkan takdir yang berkehendak.


Athos menutup mata dengan setetes air mata mengalir dari matanya.


...–NATZSIMO–...