MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
094. BERSATU UNTUK BERPISAH



Anna tertawa mendengar perkataan Aramis yang dengan entengnya ingin menikah hari ini.


"Kau memang bodoh, Ars, dan juga konyol." Seru Anna dengan tawa.


"Tidak, aku tidak konyol, kita bisa menikah hari ini dan saat ini juga." Jawab Aramis. "Aku serius mengatakannya."


Anna masih tertawa di depan wajah Aramis, namun gadis itu menghentikan tawanya ketika Aramis menyipitkan matanya melihat padanya.


"Apa makna dari pernikahan?" Tanya Aramis serius menatap Anna.


"Komitmen? Janji setia sehidup semati? Selalu bersama saat suka dan duka? Sepertinya perjanjian cinta antara pasangan." Anna berpikir karena dia pun tidak mengerti makna sesungguhnya.


"Selama ini aku menganggap pacaran hanya fiksi belaka, berbeda dengan pernikahan yang memiliki dasar hukum yang kuat dan menyangkut dengan perasaan yang terdalam." Ujar Aramis. "Jawabanmu semuanya menurutku benar. Jadi kita bisa menikah hari ini atas dasar kepercayaan dan komitmen antara aku dan kau, Anna."


Anna masih mencerna perkataan Aramis yang tidak biasa. Dia merasa si bodoh itu memiliki pandangan yang berbeda mengenai sebuah hubungan pernikahan, sama halnya dengan dirinya yang menganggap berpacaran hanyalah karangan fiksi belaka.


Aramis beranjak bangun dan mencari sesuatu di laci meja belajar Anna dan mengambil sebuah spidol berwarna merah. Lalu menarik Anna agar duduk. Setelah itu menggoreskan sebuah garis melingkar di jari manis tangan kanan Anna, berbentuk sebuah cincin.


Anna tertawa melihat tingkah konyol Aramis.


"Aku, Aramis Tre Sanzio, mengakui bahwa Anna Andromeda adalah istriku. Aku berjanji akan senantiasa mengasihi dan mencintaimu, dan setia baik dalam suka maupun duka. Sehidup semati dan tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun." Ucap Aramis dengan tatapan serius.


Anna yang awalnya menganggap yang dilakukan Aramis sebuah lelucon hingga tertawa, menjadi tertegun melihat kesungguhan Aramis yang mengatakan hal tersebut sambil menatapnya penuh cinta.


Dengan segera Anna mengambil spidol dari tangan Aramis dan melakukan hal yang serupa ke jari manis tangan kanan Aramis, membuat sebuah cincin. Aramis terus menatap Anna dengan wajah berseri-seri.


"Aku, Anna Andromeda, mengakui bahwa Aramis Tre Sanzio adalah suamiku. Aku berjanji akan senantiasa mengasihi dan mencintaimu, dan setia baik dalam suka maupun duka. Sehidup semati dan tidak akan meninggalkanmu meski kau bodoh dan dalam kondisi apapun." Tatap Anna tersenyum senang.


Aramis tertawa mendengarnya, namun Anna langsung menarik tengkuk Aramis untuk menciumnya.


"Sekarang kita sudah resmi menikah." Senyum Anna.


"Saat kau kembali aku akan memberikan cincin yang sesungguhnya padamu." Ujar Aramis setelah itu mencium Anna lagi.


"Selamat ya atas pernikahan kalian." Seru Lion yang berada di luar kamar. "Aku adalah saksi pernikahan kalian. Kalian sudah sah sebagai suami istri sekarang."


Tanpa mereka duga Lion berada di luar kamar. Aramis dan Anna terkejut. Secepatnya Aramis beranjak turun dan membuka pintu kamar. Dia melihat Lion berdiri tepat di depan pintu dengan gelak tawa.


"Seharusnya kalian bilang padaku kalau ingin menikah, aku bisa menikahkan kalian berdua. Iisshh, kalian seperti anak kecil yang bermain nikah-nikahan." Ejek Lion.


"Sejak kapan kau datang? Bagaimana bisa kau masuk?" Tanya Aramis.


"Aku menekan bel tapi tak ada jawaban, ya sudah aku masuk dengan kode yang pernah kau beri tahu. Lalu aku mendengar kalian sedang bermain nikah-nikahan." Tawa Lion.


"Mau apa kau kesini?" Aramis kesal pada Lion yang mengolok-oloknya. "Ini masih jam lima pagi."


Lion berjalan masuk untuk berbicara pada Anna yang masih berada di atas tempat tidur.


"Anna, aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita. Kau tahu, kau gadis terkeren yang pernah aku temui. Cepatlah sembuh, dan datang kembali. Aku ingin pamer padamu apa saja yang aku bisa lakukan. Aku yakin aku lebih unggul dalam menguasai banyak hal darimu."


Anna hanya bisa tertawa mendengarnya.


"Aku akan melakukan permintaanmu tempo hari. Aku akan menjadi mata-matamu." Bisik Lion.


"Apa yang kau bisikan?" Tanya Aramis mendorong Lion dengan kakinya. "Cepat keluar!! Mengganggu saja!!"


"Hah, kau ini..." Gumam Lion berjalan ke arah pintu. "Walau kalian sudah menikah ingat kau belum boleh melakukannya karena dia akan operasi." Goda Lion dengan datar.


"Berisik!!"


"Lion..." Panggil Anna dan Lion menoleh saat berada di ambang pintu. "Dari pada tidur sepanjang hari dan hidup di dalam mimpi, lebih baik kau atur kembali jadwal tidurmu."


Lion tertegun sesaat. "Akan aku coba." Senyumnya.


"Apa maksud ucapanmu barusan?" Tanya Aramis menutup pintu kamar setelah Lion pergi.


"Bukan apa-apa." Jawab Anna.


"Ini masih terlalu pagi, aku masih ingin tidur." Aramis langsung berbaring di samping Anna yang masih duduk lalu menarik Anna agar berbaring di sampingnya dan mendekapnya erat.


"Lepaskan, Ars!!" Seru Anna dengan tatapan kesal. "Aku akan membunuhmu kalau kau macam-macam."


"Kita sudah menikah." Senyum Aramis dengan menggoda. "Aku tidak akan macam-macam, aku hanya masih ingin berada disisimu." Aramis menahan Anna dalam dekapannya.


"Hah, kau ini..."


"Aku tidak sabar sampai kau sembuh." Bisik Aramis wajahnya tepat di depan wajah Anna. "Sembuhlah untuk suamimu ini, Anna."


"Kak Anna..." Tiba-tiba terdengar suara Melody.


"Melo?" Aramis berhenti menggelitik Anna. "Kenapa dia disini?"


"Aku akan turun. Kau jangan keluar kamar ya!!" Ujar Anna setelah itu keluar kamar.


Anna melihat Melody sudah berada di depan pintu rumahnya dengan seragam sekolahnya. Dia bingung kenapa Melody bisa masuk. Dengan segera Anna menghampirinya turun ke lantai satu.


"Pintunya tidak terkunci." Ucap Melody menunjuk ke arah pintu. "Dimana kak Ars? Aku kira dia ada di sini."


"Ars? Dia tidak di sini." Jawab Anna berbohong karena tidak ingin Melody tahu kalau mereka berdua semalaman bersama. "Mungkin dia di tempat Lion."


"Benarkah? Tapi itu sepatu kak Ars." Melody menunjuk sepatu milik kakaknya di samping pintu.


Melody melihat Anna yang bingung menjawabnya.


"Kak Anna, aku kesini mau melihatmu sebelum pergi. Aku tahu kak Anna pasti akan sembuh." Ucap Melody. "Cepatlah kembali kak, aku ingin seseorang menemaniku di rumah. Aku bosan menjadi satu-satunya perempuan di rumah. Saat kau pulang dan menikah dengan kak Ars, kita akan menghabiskan waktu bersama."


"Bukannya kau akan tinggal di Rusia dengan Niko setelah menikah, Melo?" Tanya Anna.


"Ah iya aku lupa." Jawab Melody jadi tak bersemangat. "Tapi aku tetap ingin kak Anna sembuh dan menikah dengan kak Ars. Aku ingin mendengar pertengkaran dan melihat perkelahian kalian berdua."


Anna tertawa mendengar perkataan Melody.


"Maaf ya, aku tidak akan ada saat nanti kau bertunangan." Ucap Anna. "Aku akan sering menghubungimu nanti, Melo. Kau harus selalu menjaga kesehatanmu, dan jangan terlalu bersikap dingin pada semua orang, terutama pada orang yang mengerti dirimu."


"Baik kak." Jawab Melody dengan memeluk Anna.


...***...


Akhirnya pemberitahuan keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Anna sudah terdengar. Aramis yang duduk di kursi tunggu di bandara bersama Anna saling tatap. Ronald yang akan menemani Anna pergi ke Jerman sudah berdiri hendak masuk.


"Baiklah, Ars, ini sudah waktunya aku pergi." Anna beranjak berdiri dan menoleh pada Aramis yang masih duduk menundukan kepalanya. "Ars..."


Aramis bangkit berdiri dengan mata yang memerah karena menahan kesedihannya harus berpisah dengan gadis yang sangat dicintainya.


Anna tak mampu menahan air mata perpisahannya dan menangis menatap Aramis namun dia segera menghapus air mata tersebut.


Aramis memegang tangan kanan Anna dengan tangan kanannya yang di mana terdapat gambar cincin pernikahan mereka berdua yang digoreskan dengan spidol merah. Pemuda itu tersenyum melihat jemari manis mereka berdua.


Dengan kesedihan yang tertahan Aramis mengangkat kepalanya dan menatap Anna yang sejak tadi hanya diam menatapnya.


Anna melihat bagaimana Aramis menahan air matanya hingga matanya benar-benar memerah saat ini. Tak ada yang diucapkan Anna, hanya menatap Aramis dengan rasa cintanya bercampur ketakutannya kalau ini adalah terakhir kalinya dia melihat pemuda yang sangat dicintainya itu.


Terdengar pemberitahuan sekali lagi mengenai pesawat yang akan Anna tumpangi.


"Ayo, Anna." Ujar Ronald yang berdiri di jarak lima meter.


Anna menarik tangannya dari genggaman Aramis, sedangkan Aramis masih saja tersenyum padanya sebelum gadis itu berbalik menghampiri Ronald.


Pemuda itu terus memandangi punggung gadis yang berjalan menjauh darinya dengan tatapan kesedihan. Sejak awal, dia terus menahan air matanya agar tidak menangis di depan Anna. Pada akhirnya Air mata itu tak terbendung lagi ketika Anna menghilang dari pandangannya.


Dengan langkah gontai Aramis berbalik hendak pergi, namun tiba-tiba dia melihat Anna berlari kembali padanya.


Anna langsung memeluk Aramis yang menangis melihat ke arahnya.


"Air matamu adalah milikku semua, jangan menangis lagi Ars. Aku akan kembali untukmu." Ucap Anna langsung memeluk Aramis.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


Terimakasih, Anna 🤗🤗