
Prothos menunggu di depan mobilnya ketika Mona menghentikan mobil di ujung jalan untuk ke rumahnya. Daerah rumah Mona berada di gang sempit yang sulit dimasuki mobil, dan Mona menyuruh Prothos untuk menunggu di mobil.
"Lama sekali. Seharusnya aku ikut saja tadi." Guman Prothos masuk ke dalam mobil lagi namun tak berapa lama keluar kembali karena tidak sabar. "Dia mengambil handphone-nya, bagaimana aku menghubunginya sekarang?"
Di ujung jalan akhirnya Prothos melihat Mona berjalan bersama seorang anak kecil laki-laki yang pasti adalah adiknya.
"Siapa dia kak? Apa dia artis yang kakak bilang?" Tanya adik Mona yang bernama Martin saat melihat Prothos.
"Bukan, dia hanya..." Jawab Mona menghentikan ucapannya setelah berpikir dan tak menemukan jawaban tentang siapa Prothos. "Ah, sudahlah, kakak harus pergi lagi. Sabtu besok kakak akan pulang lagi ya."
Prothos hanya diam saja berdiri di samping mobilnya dengan melirik ke arah dua bersaudara itu yang sedang mengucapkan salam perpisahan.
"Padahal aku berencana ingin menghabiskan hari ini dengan adikku." Gumam Mona sambil menyetir setelah berpisah dengan adiknya. Gadis itu membuang napas panjang.
Prothos hanya diam saja, dia hanya melihat gadis yang sedang menyetir itu dari kursi belakang.
...***...
Melody meletakan sebuket bunga di atas makam ibunya, Niko berada di belakang gadis itu. Tak ada yang diucapkan gadis itu dan hanya berdiri menatap makam ibunya. Setiap kali dirinya berziarah ke makam ibunya, dia hanya diam dengan air mata yang mengalir menunjukkan seberapa besar rasa sedihnya.
"Ayo kita ke mobil." Ujar Melody berbalik dan melihat Niko.
"Apa yang harus aku lakukan biar kau tidak bersedih lagi?" Tanya Niko.
Melody menjadi sedikit tertawa karena sikap Niko yang selalu bingung ketika melihatnya menangis. Tiba-tiba Niko memegang wajah Melody dengan kedua tangannya dan dengan kedua ibu jarinya menghapus air mata Melody.
"Aku akan memangsamu agar kau berhenti menangis."
Tanpa diduga Niko langsung mendekatkan wajahnya ke arah leher Melody, dan Melody merasakan sedikit rasa sakit di lehernya. Melody terkejut karena Niko benar-benar menggigitnya.
"Hentikan, Niko!!" Seru Melody agak mendorong Niko agar berhenti.
Gadis itu mematung setelah baru saja Niko menggigit lehernya dan sekarang pemuda itu menatapnya dengan sebuah senyum simpul dengan tangan kanan yang memegang bekas gigitannya di leher kiri Melody.
"Sekarang kau resmi menjadi mangsaku, semua yang melihat gigitanku akan tahu kau adalah milikku." Ucap Niko.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Melody setelah mundur menjauh dari Niko.
Niko berbalik dan berjalan menjauh dari Melody "Suasana tempat ini mendukungku melakukannya." Ujarnya dengan santai.
Melody mengambil cermin kecil di tasnya untuk melihat bekas gigitan Niko. Bekas gigitannya menjadi memerah sekarang. Walau posisinya berada di leher kirinya yang tertutup rambut tetapi bila diperhatikan dengan seksama siapapun akan bisa melihatnya.
"Bagaimana ini?" Gumam Melody bingung.
...***...
Aramis sampai di rumah sakit dimana Athos dirawat, namun sebelum menemui ayahnya, dia hendak melihat keadaan sahabatnya lebih dulu yang kemarin dihajar hingga tak sadarkan diri olehnya.
Teman-teman Lion memenuhi rumah sakit saat ini. Mereka semua melihat kedatangan Aramis dengan tatapan yang menurut pemuda itu tidak biasanya. Jika sebelumnya mereka semua melihat padanya dengan sebuah kebencian kali ini berbeda. Mereka semua menatap Aramis dengan tatapan bersahabat, bahkan beberapa dari mereka tersenyum padanya.
Aramis memasuki ruangan kelas dua dimana Lion berada ketika jam kunjung sedang berlangsung. Sekitar dua puluh orang teman Lion berada di ruangan tersebut sedangkan ada beberapa pasien lainnya di ranjang dalam ruangan yang juga dirawat. Aramis langsung melihat Lion karena posisi ranjangnya di dekat pintu masuk dan tirainya tidak tertutup.
Teman-teman Lion yang berada di ruangan itu langsung keluar saat melihat kehadiran Aramis, kecuali Ivan. Dengan kesal Aramis langsung menarik kerah baju Lion yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Apa yang kau berikan pada Niko sampai dia mau dijadikan kambing hitam olehmu?" Tanya Aramis dengan marah.
Lion diam saja dengan menatap dingin Aramis dengan memar di mata kirinya.
"Ars, lepaskan dia!! Sejak sadar dia bersikap aneh." Seru Ivan.
Aramis melepaskan Lion dengan sangat kesal. "Apa pukulanku membuatnya menjadi orang gila sungguhan?" Tawa kesal Aramis. "Kekonyolan apa lagi yang akan kau lakukan Lion?"
"Dia mengalami gegar otak ringan karena pukulanmu, Ars. Dia bertingkah aneh dari tadi." Ujar Ivan. "Bahkan dia tidak mengenali beberapa dari temannya. Dokter bilang dia mengalami amnesia parsial yang terjadi hanya sementara karena traumatik di kepalanya."
"Dia hanya berakting, kalian ditipu olehnya." Tatap Aramis kesal pada Lion yang hanya melihatnya tajam. "Kau kenal aku kan bodoh?"
...***...
Mona mengikuti Prothos ketika memasuki ruang ganti dengan beberapa pekerja di café juga mengikutinya.
"Bagaimana dengan semua bahan-bahan yang habis, apa sudah dipesan lagi?" Tanya Prothos pada ketiga pekerja di café. "Siapa yang bertanggungjawab di café ini?"
"Wisnu. Saat ini dia sedang pergi ke supplier yang belum mengirimkan beberapa pesanan." Jawab salah satu dari pekerja.
"Sekarang sudah jam satu siang. Sejak kapan dia pergi?" Tanya Prothos.
Saat bersamaan Wisnu masuk ke dalam ruangan tersebut. Ini kali pertamanya Prothos bertemu lagi dengan adik dari gadis yang dicintainya setelah Wisnu melihatnya di apartemen kakaknya.
"Maaf, aku harus mendatangi beberapa supplier karena bahan-bahan di sini sudah banyak yang habis. Mereka meminta bayaran di muka karena sejak seminggu yang lalu semua pesanan yang sudah dikirim belum dibayarkan." Ujar Wisnu. "Ini juga terjadi di semua cabang café. Sandy pun tidak bisa berbuat apapun."
"Aku akan membayar mereka semua habis ini. Telepon mereka lagi agar segera mengirimkan semua bahannya." Jawab Prothos. "Yang lain kembalilah bekerja."
"Semua sangat kacau jika tak ada yang memantau." Seru Wisnu. "Ars tidak bisa menangani masalah seperti ini, sedangkan kau kami bingung menghubungimu bagaimana karena kau tidak punya handphone."
"Kalian bisa menghubungiku ke nomer Ato sementara. Saat ini aku yang akan menangani masalah pembayaran ke supplier. Beritahu aku juga jika kalian memesan bahan-bahan pada supplier." Ujar Prothos dengan sibuk pada handphone Athos. "Wisnu, kenalkan dia Mona, bilang pada semua kasir di semua cabang untuk melaporkan pendapatan café padanya setiap hari. Kirim laporannya sebelum jam tiga sore, dan setiap sabtu dia juga akan mengambil setoran uangnya."
"Ya, baiklah. Aku minta nomer handphone-mu." Jawab Wisnu langsung mendekati Mona dan bertukar nomer handphone.
"Aku serahkan tempat ini padamu ya, karena aku akan jarang datang ke sini." Ujar Prothos hendak berjalan keluar.
"Oto..." Panggil Wisnu.
Prothos tahu maksud Wisnu memanggilnya. "Mona, tunggu aku di mobil ya."
Prothos segera berbalik dan menghadap Wisnu setelah Mona keluar dari sana.
"Tampaknya kau baik-baik saja setelah berpisah dari kakakku." Seru Wisnu. "Sejak awal aku yakin memang kau hanya mempermainkannya. Kau membuat dia tidak bisa menjadi seorang guru yang dihormati lagi karena kebohonganmu. Kau mengkhianatinya dengan bercinta dengan murid di kelasnya, lalu menuduhnya untuk mengusirnya karena dia tidak ingin memaafkanmu. Kau memang bajingan, Oto."
"Ya, itu aku." jawab Prothos dengan perlahan, setelah itu berjalan keluar.
Dia terkejut ketika melihat Mona berada di balik pintu dan mendengar apa yang dikatakan Wisnu padanya. Mona menatap heran pada Prothos, namun pemuda itu melangkah pergi melewatinya.
Wajah muram itu lagi. Batin Mona.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......