
Akhirnya Lion menerima ajakan ayah Melody untuk makan malam bersama mereka. Dia duduk di meja makan di samping kiri Niko duduk, sedangkan Melody duduk di hadapan Niko. Leo sedang menyiapkan makanan yang baru saja diantarkan setelah dirinya memesannya. Karena sudah tak ada waktu menyiapkan makan malam sehingga kali ini Leo memesannya.
"Sudah sangat lama aku tidak duduk di kursi ini." Ucap Lion. "Leo, cepatlah, lama sekali kau menyiapkannya! Lambat!!"
"Sialan kau, Lion!!" Seru ayah Melody kesal. "Dari pada diam saja, pergi ke kamar kakek dan panggil kakek untuk makan malam bersama."
"Astaga, kakek pasti sudah lapar." Gumam Lion sambil berjalan hendak memanggil kakek di kamarnya.
Perkataan Lion membuat Melody sedikit terkejut karena Lion memanggil ayahnya hanya dengan sebutan nama, sedangkan Niko merasa kalau posisi Lion di keluarga itu jauh lebih dekat dibanding dirinya.
"Tampaknya Lion sangat dekat dengan kalian semua." Ujar Niko menatap Melody.
"Bukannya dia memang mudah dekat dengan siapapun? Apalagi kami bertetangga sejak dia dan Melo belum lahir." Jawab Leo berjalan membawa makanan dan meletakannya ke meja makan. "Wajar kami sangat dekat dengannya."
"Ya, dia memang gampang memiliki teman." Niko tersenyum simpul.
"Hati-hati kek." Ujar Lion menuntun kakek saat menuruni tangga. "Harusnya kau pindah kamar di lantai bawah biar tidak bahaya naik turun tangga, kek."
"Aku masih kuat, kau terlalu berlebihan." Jawab kakek.
"Benarkah? Kalau begitu besok aku akan mengajak kakek ikut berlatih angkat beban denganku. Kita lihat siapa yang paling kuat."
Kakek hanya tertawa mendengar ocehan Lion sambil duduk di kursi antara Lion dan Leo.
"Kakek itu harus banyak olahraga, jangan hanya tiduran terus di kamar. Nanti kalau Ato sembuh kita akan bermain golf dengannya. Kau tahu kek, Ato langsung menguasai olahraga itu padahal aku hanya mengajarinya tidak lebih dari tiga jam." Ucap Lion. "Kita akan bertanding foursome nanti bersama Niko, kau mau kan Niko?" Lion menoleh pada Niko.
"Tidak, karena kau yang pasti menang." Jawab Niko.
"Kalau begitu kau setim denganku, payah." Sahut Lion memasang wajah kesal. "Kakek tenang saja, Ato tidak mengenal kata kalah, pasti dia akan berusaha menang dariku. Ya, walaupun itu mustahil."
Kakek tertawa mendengar ucapan Lion.
"Ayolah, kita makan sekarang." Ujar Leo yang duduk di hadapan Lion.
"Makanan ini tidak ada apa-apanya dibanding masakan Ato." Komen Lion saat memakan makanannya. "Aku sangat ingin makan masakan Ato, sudah sangat lama aku tidak memakannya."
"Diamlah, kau berisik sekali." Ketus Melody pada Lion.
"Ya ampun, kau galak sekali Melon." Lion menatap Melody kesal. "Leo, jangan pesan makanan di restoran ini lagi, makanannya tidak terlalu enak."
"Ya, aku juga merasa seperti itu." Jawab ayah Melody. "Niko, bagaimana menurutmu?"
"Ini tidak terlalu buruk." Ucap Niko.
"Ayah, bulan depan cucumu akan bertunangan." Ujar Leo pada ayahnya.
"Benarkah? Cucuku?" Kakek terkejut sambil menatap Melody. "Dengan siapa? Lion atau Niko?"
"Aiisshh, kakek ini. Niko, bukan denganku." Jawab Lion.
"Ya baguslah, kau terlalu cerewet untuk cucuku. Kau secerewet Leo, bisa-bisa nasib cucuku seperti menantuku karena harus mendengar ocehanmu setiap hari." Seru kakek.
"Ckckckck itu sangat menyakitkan kek, kata-katamu tajam sekali untuk anakmu sendiri. Leo, aku mengerti penderitaanmu." Lion menatap ayah Melody dengan tatapan mengejek. "Niko, saranku kau harus banyak bersabar dengan keluarga ini. Kata-kata mereka tajam dan menyakitkan." Lion memegang pundak kiri Niko.
"Semua itu bukan masalah buatku." Jawab Niko menoleh pada Lion dengan tatapan dingin. Siapapun tahu kalau Niko memperlihatkan rasa tidak sukanya pada keberadaan Lion. "Aku punya caraku sendiri menangani segala hal."
Lion menarik tangannya dari pundak Niko. "Baiklah, karena sudah kenyang aku akan pulang." Lion bangkit berdiri. "Maaf ya ayah, aku tidak mau membantumu mencuci piringnya."
"Maaf aku lupa. Aku pulang ya." Lion langsung berjalan menuju pintu keluar. "Leo, jangan lupa, jangan meminta bantuanku lagi untuk apapun!!" Seru Lion sambil berjalan.
Lion berjalan menuju rumahnya yang berada di samping kiri rumah Melody. Langkahnya berat saat meninggalkan rumah itu.
"Ini masih terlalu awal untuk tidur." Gumam Lion dengan wajah muram.
...***...
Prothos duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan Athos dirawat. Handphone milik Mona bergetar, muncul nama teman Mona yang kemarin dipakai Mona untuk menghubungi Prothos.
"Kenapa kau membelikan aku handphone?" Tanya Mona jauh di sana. "Kau ingin pamer ya?"
"Tidak, jujur saja itu menggunakan sisa uang tabunganku." Jawab Prothos. "Handphone-mu sudah sangat jelek, dan lagi ini seri yang keluar tiga tahun yang lalu. Kadang juga sering hang dan mati sendiri."
"Bukan itu masalahnya, aku bertanya kenapa kau membelikan handphone padaku? Kembalikan saja handphone-ku." Seru Mona. "Merek ini harganya sangat mahal, bahkan empat kali gajiku."
"Aku tidak bisa datang kesana untuk mengembalikan handphone-mu dalam waktu dekat ini, dan kau pasti akan susah karena setiap hari banyak sekali telepon masuk di handphone-mu. Karena itu aku membelikannya untukmu. Untuk kenapa aku membelikan merek itu, mungkin karena aku kasihan padamu."
"Ya ampun, kau mengasihani aku? Kau kan bisa mengirim handphone-ku dengan kurir, kau tidak perlu jauh-jauh kesini untuk mengembalikannya. Aku akan mengirim handphone baru ini padamu dan kau juga kirim saja handphone-ku pakai kurir."
"Saat ini aku sedang bersedih, apa tidak bisa kau terima saja handphone itu? Beritahu semua temanmu kalau kau ganti nomer handphone. Aku akan pakai handphone-mu mulai sekarang." Ucap Prothos.
"Baiklah." Jawab Mona saat sadar kalau dari suara Prothos pemuda itu terdengar sedih. "Tapi tidak untuk selamanya ya, saat kembaranmu sembuh datanglah kesini, kita akan bertukar handphone."
"Kapan dia akan sembuh?"
"Hah? Apa? Jangan tanya padaku."Jjawab Mona. "Dengarlah Prothos, percaya saja kalau kembaranmu akan segera sembuh. Jangan berpikiran hal-hal yang buruk. Kau selalu berpikir buruk pada segala hal. Kau terus saja pesimis menyikapi semuanya. Jangan coba-coba berpikir untuk mengakhiri hidupmu lagi ya, dasar lemah. Kalau kau mati bagaimana nasib handphone-ku? Ah, sudahlah!!"
Mona langsung mematikan teleponnya. Prothos terdiam dengan wajah bersedih. Yang dikatakan Mona benar, dirinya selalu pesimis pada segala hal. Karena itu kadang membuat dirinya tidak bisa mengambil langkah apapun untuk mencoba mengakhiri rasa sedihnya dan lebih memilih menghindarinya.
"Oto..." Panggil Tasya yang datang dan langsung duduk di samping Prothos.
"Ini sudah malam kenapa kau kesini?" Tanya Prothos saat melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Aku ingin melihat Ato." Jawab Tasya dengan berkaca-kaca. "Aku sangat merindukannya."
"Akupun merindukannya." Ucap Prothos. "Bagaimana kalau dia tidak selamat?"
"Apa yang kau katakan?" Tanya Tasya dengan kesal, air mata mengalir dari matanya. "Dia akan selamat, kau tidak boleh berpikiran seperti itu!! Dia harus selamat."
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan ketika seorang dokter dan beberapa perawat berlari masuk ke ruangan Athos di rawat.
"Ada apa?" Tanya Prothos panik melihat mereka semua berlari masuk dengan tergesa-gesa.
"Jantungnya berhenti berdetak." Jawab seorang perawat sebelum masuk.
"Tidak!! Dia akan selamat." Tangis Tasya melihat tim medis melakukan tindakan pada kekasihnya. "Semua karena pikiranmu, Oto!! Jangan berpikiran yang tidak-tidak!!"
Prothos menarik Tasya memeluknya sambil terus melihat Athos di dalam ruangan. Alat pengukur detak jantung atau Elektrokardiograf di ruangan tersebut sudah berdengung panjang.
Suara itu membuat air mata Prothos mengalir.
...–NATZSIMO–...