MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
162. MELODY TANPA SUARA



"Ah, kau lucu sekali Melo memakai topi itu..." Seru Liam yang berbicara agak mendekat ke Melody. Begitulah kebiasaan pemuda itu, yang selalu berbicara di depan wajah lawan bicaranya.


Secara reflek Lion yang masih berada di samping Melody mendorong Liam hingga kakak sepupunya itu terdorong mundur. Namun Liam hanya terkekeh dengan perlakuan kasar Lion karena dia tahu adik sepupunya itu selalu bersikap seperti itu pada Melody.


"Ini Niko." Melody menyodorkan botol minuman pada Niko yang masih saja terdiam memperhatikan mereka.


"Liam, ayo kita berkeliling lagi." Seru Lion.


"Tidak perlu, sebaiknya kita pulang saja." Jawab Liam. "Aku sudah menyelesaikan tugasku di sini. Aku sudah membangunkan singa itu!!" Liam menunjuk ke arah singa jantan yang sedang berjalan ke arah pasangannya.


Lion hanya menghela napasnya merespon Liam.


"Ya sudah, ayo kita pulang." Ujar Lion hendak berbalik.


"Niko kita juga pulang saja." Ucap Melody menghentikan langkah Lion. "Sepertinya kepalaku menjadi sakit karena terkena matahari."


"Kalau begitu, bolehkan kami menumpang, Niko?" Tanya Liam. "Kau pasti akan mengantar Melo kan?"


"Liam... Kita naik taksi saja." Seru Lion tidak sabar agar Liam berhenti berulah.


"Baiklah, kalian boleh ikut bersama kami." Jawab Niko menyunggingkan bibirnya dan langsung berjalan.


"Ayo Melo kita pulang." Liam memegang kedua pundak Melody dari belakang dan mengikuti Niko yang berjalan.


Melody hanya berjalan di belakang Niko bersama dengan Liam yang terus mengoceh banyak hal walau gadis itu tidak menggubrisnya sedikitpun. Sedangkan Lion berjalan di paling belakang memperhatikan Liam dan Melody yang berada di depannya. Dia sangat kesal pada Liam saat ini, dan dia juga bisa merasakan rasa kesal Niko pada kakak sepupunya itu dan dirinya.


Ketika tiba di tempat parkir, Liam dengan cepat mendahului Niko yang sudah membuka kunci mobil dan segera masuk ke kursi depan di samping kursi setir. Niko tidak berkata apapun dan hanya menatap Lion yang masih berjalan ke arah mobil.


"Liam, duduklah di belakang!!" Lion membuka pintu di mana Liam duduk. Dia tahu arti tatapan Niko padanya.


"What's wrong? Apa tidak boleh aku duduk di depan? Aku tidak suka duduk di belakang, aku bisa mual dan muntah, bro." Liam memasang raut wajah bingung.


"Saat menaiki taksi tadi, kau tidak ingin duduk di depan, dan sekarang kau mengatakan hal sebaliknya." Ujar Lion dengan sangat malas karena menahan rasa kesalnya.


Mau tidak mau Liam segera keluar dan masuk ke kursi belakang. Sedangkan Niko langsung mempersilahkan Melody masuk ke dalam mobil di kursi yang tadi Liam duduki.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Lion menyiram kepalanya dengan sisa air mineral yang dibawanya untuk mendinginkan kepalanya yang terasa memanas terkena sinar matahari. Dari dalam mobil Melody memperhatikannya sambil melepas topi yang dipakainya.


"Melo, siapa yang lebih keren? Niko, El, atau aku?" Tanya Liam sambil mencondongkan badannya ke arah depan dan melihat ke Melody.


Gadis itu tidak menjawab apapun. Dia hanya diam saja walau Liam terus menerus menatapnya dari samping dengan kedipan mata berkali-kali menunggu responnya.


"Lion, malam ini temui aku. Ada yang ingin aku katakan." Ujar Niko setelah itu berjalan ke arah pintu mobil di kursi menyetir dan membukanya.


Liam langsung kembali duduk saat Niko membuka pintu dan melihat dirinya menatap Melody yang hanya diam saja.


Dengan langkah berat dan helaan napas, Lion masuk ke dalam mobil dengan kondisi rambut yang basah. Dia langsung memasang earphone bluetooth ke telinganya dan menutup mata, malas mendengarkan perkataan apapun yang akan ada di dalam mobil. Perkataan dari Liam—pawangnya.


Namun belum sempat Lion menyandarkan tubuhnya dengan posisi yang nyaman, Liam mengambil earphone tersebut dari kedua telinganya. Lion yang membuka matanya hanya menatap Liam yang memberikan senyumnya di wajah yang sangat dekat dihadapannya.


"Ketika orang yang lebih tua bicara kau harus mendengarkannya." Ucap Liam sambil kembali ke posisi duduknya yang bersandar.


"Kau belum menjawab pertanyaan aku tadi Melo." Liam mengambil posisi di tengah-tengah belakang antara Melody dan Niko yang menyetir. "Siapa yang lebih keren menurutmu, Niko, El atau aku?"


Niko mendengus mendengar pertanyaan Liam, namun dirinya masih fokus menyetir saat ini. Melody tetap tidak menjawab dan hanya menoleh ke arah Niko.


"Huh, kenapa kau selalu diam, Melo? Kau benar-benar melody tanpa suara. El, apa dia memang selalu seperti itu? Irit bicara? Apa ketika denganmu dia juga selalu diam saja?" Liam kembali duduk ke tempatnya dan menoleh pada Lion.


Lion juga tidak menanggapi perkataan Liam, namun pemuda itu menjadi melihat pada Melody yang duduk di arah diagonal darinya.


"Dari mana pun Niko memang lebih keren dari si idiot ini." Ujar Liam yang melihat Lion menatap arah Melody. "Tapi aku rasa, aku lebih keren dari Niko." Liam kembali ke posisi di tengah-tengah Melody dan Niko. "Oh iya, seminggu lagi kalian bertunangan kan? Kalau aku merebutnya, apa kau tidak keberatan, Niko?" Liam menoleh pada Niko.


Niko jadi mengubah ekspresinya walau pemuda itu masih menahan amarahnya agar tidak terpancing.


"Duduklah yang benar!!" Lion menarik Liam hingga pemuda itu terduduk di kursinya. "Jangan mengoceh apapun lagi, kepalaku sakit mendengar semua yang kau ucapkan."


Bukannya diam, Liam malah menjadi tertawa keras. "Ada apa, El? Apa kau juga ingin merebutnya? Ya, sebelum bertunangan Melody bukan milik siapapun, bahkan walau sudah bertunangan saja hal itu bisa dibatalkan. Menikah? Aku rasa jaman sekarang berpisah setelah menikah juga banyak dialami pasangan manapun."


Tidak ada yang menanggapi perkataan Liam. Niko hanya menahan emosinya dengan menggenggam erat genggaman tangannya ke setir, sedangkan Melody terus memperhatikannya.


"Oh iya, itu berbeda jika kalian berdua saling mencintai. Jadi apa kalian benar-benar saling mencintai?" Tanya Liam semakin membuat suasana memanas. "Ya, jika dilihat kau sangat mencintai Melody, lalu apa kau juga mencintai Niko, Melo?"


"Liam, diamlah!!" Seru Lion dingin.


"Aku hanya ingin tahu. Bagaimana pun aku seorang psikolog dan akan segera lulus. Alangkah baiknya sebelum menikah kalian berdua berkonsultasi padaku terlebih dahulu agar pernikahan kalian lancar nantinya. Kalian masih sangat muda, menikah itu sesuatu yang sangat sulit, apalagi jika tidak saling mencintai. Apa kalian tahu itu?"


"Lalu sebagai psikolog apa kau punya solusi untuk hal tersebut?" Niko membuka mulutnya, dia melirik ke kaca spion melihat pada Liam.


"Itu mudah sekali. Jika semua ingin berjalan dengan lancar kalian harus saling mencintai. Jika salah satu tidak mencintai lainnya sudah dipastikan semua akan kacau." Jawab Liam.


"Kau hanya mengulang perkataanmu." Ucap Niko sambil mendengus.


"Karena itu adalah poin terpentingnya." Senyum Liam. "Jadi jangan menikah jika tidak saling mencintai. Arrgghh... jaman sekarang kenapa masih ada yang ingin menikah cepat?"


"Bagaimana agar membuat seseorang yang tidak mencintai itu menjadi mencintai?" Niko bertanya sekali lagi.


"Jangan mengajukan pertanyaan semudah itu padaku. Aku bersusah payah kuliah hingga sering melupakan masa mudaku. Kenapa kau mengajukan pertanyaan sepele itu, Niko?" Gumam Liam. "Hhuft, kenapa seseorang sulit mencintai seseorang hanya ada satu jawabannya, itu karena ada seseorang di dalam hatinya jadi mana mungkin dia bisa mencintai orang lain. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu? Atau jangan-jangan—"


"Niko, tolong hentikan mobilnya." Sambar Lion.


Niko langsung menuruti permintaan Lion dan menghentikan mobilnya ke pinggir jalan segera.


"Kau mau kemana, Lion?" Tanya Liam tampak bingung.


"Ada temanku yang meminta bantuan. Aku akan menemuinya." Seru Lion setelah itu turun dari mobil dengan handphone digenggaman-nya.


Mau tidak mau Liam ikut turun dari mobil mengikuti Lion.


...–NATZSIMO–...