
Mona berdiri menatap Prothos dengan kesal setelah mendengar perkataan pemuda itu. Dia tidak setuju dengan perkataannya yang mengatakan pengkhianat tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.
"Beberapa minggu lalu aku berpisah dengan pacarku, dia bilang padaku kalau dia muak dengan kesibukanku. Lalu beberapa hari kemudian aku melihat dia bersama seorang wanita, yang aku tahu dia itu mantan pacarnya. Tanpa aku ketahui ternyata selama ini dia menipuku, wanita itu bukan mantan pacarnya namun akulah selingkuhannya." Ucap Mona.
Prothos menatap Mona yang bercerita tentang masa lalunya.
"Aku tidak menyalahkan siapapun untuk semua yang terjadi. Aku juga berharap agar mereka bahagia agar aku pun bisa bahagia dengan hidupku. Tidak ada yang tidak pantas bahagia, semua orang mempunyai hak yang sama untuk bahagia." Ujar Mona mengusap air matanya dengan jari karena kembali bersedih ketika mengingat hubungannya bersama mantan kekasihnya. "Kau juga pantas bahagia, karena itu maafkan dirimu sendiri. Lupakanlah orang yang melupakanmu dan tinggalkanlah orang yang meninggalkanmu. Itu satu-satunya cara agar kau bisa memaafkan dirimu."
Prothos menarik tatapannya dari Mona, dan merasa semua yang dikatakan gadis itu tidaklah mudah baginya.
"Itu memang tidak mudah untukmu karena kau tidak mengucapkan salam perpisahan padanya." Tambah Mona bisa membaca apa yang dipikirkan Prothos. "Kenapa kau tidak menemuinya lagi untuk mengatakan semua yang ingin kau katakan padanya? Kenapa kau malah bersembunyi di sini menutupi dirimu dengan gadis-gadis itu?"
Prothos menjadi bungkam mendengar perkataan Mona yang terlihat kesal padanya.
"Kau bilang dia pergi membawa hatimu, kan? Kalau begitu kau memiliki dua pilihan untuk dilakukan." Ujar Mona. "Bawa dia kembali padamu atau... ambil kembali hatimu."
...***...
Aramis menunggu di luar ruang ICU dengan penuh kesedihan. Anna sedang mendapatkan tindakan medis saat ini. Pemuda itu hanya bisa duduk menunggu dengan air matanya.
Ronald keluar menghampiri Aramis. Dia duduk disamping pemuda yang sedang menahan dirinya agar tidak menangis itu dan mengusap-usap punggungnya.
"Bagaimana paman? Apa yang akan terjadi pada Anna?" Tanya Aramis dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Anna baik-baik saja, tapi dia belum sadar." Jawab Ronald menahan rasa sedihnya sendiri.
"Kau juga tahu kan paman seberapa menderitanya Anna selama ini dalam hidupnya? Tolong sembuhkan dia paman, dia harus sembuh agar aku bisa membuatnya bahagia. Selama ini dia selalu menanggung kesedihannya sendirian, hingga membuatnya sakit seperti itu."
Ronald menarik Aramis untuk memeluknya.
"Ini salahku karena meninggalkannya sendirian di rumah. Harusnya aku tidak pergi ke sekolah dan menjaganya. Sembuhkan Anna, paman. Aku mohon padamu."
...***...
Aramis masuk ke ruang ICU untuk melihat keadaan Anna yang belum sadarkan diri. Dia berusaha untuk tidak menangis lagi saat duduk di samping gadis yang sangat dicintainya itu.
"Anna, kau gadis yang sangat kuat, bahkan kau jauh lebih kuat dariku. Selama ini kau menjalani hidupmu dalam kesedihan dan menanggungnya sendirian. Aku sudah bilang padamu, sekarang kau tidak sendiri lagi, aku akan ada di sisimu, ya, aku sudah berjanji padamu kalau aku akan selalu menghadapi semuanya bersamamu mulai saat ini. Jadi aku mohon bertahanlah, Anna dan berjuanglah, aku disini bersamamu."
Aramis menggenggam tangan Anna dengan air matanya yang mengalir.
"Kau sedang ingin makan makanan yang manis kan? Bangunlah sekarang Anna, kita bisa pergi mencarinya. Aku akan membelikan semua makanan yang kau inginkan. Bahkan aku akan membiarkanmu makan pizza lagi. Aku pun akan memasak untukmu lagi. Yang terpenting sekarang kau bangun."
...***...
Aramis keluar ruangan ICU setelah melepaskan perlengkapan khusus ruangan ICU. Di luar yang lainnya sudah datang. Athos, Melody, Lion, Niko bahkan Karen berada disana. Namun hanya Prothos yang tak ada disana.
Melody langsung memeluk kakaknya itu dengan sebuah tangisan yang tak bisa ditahannya. Melody tahu betapa sedihnya Aramis saat ini. Kakaknya itu selalu terlihat kuat dan tak pernah menunjukan rasa sedihnya, tapi bahkan saat ini wajahnya terlihat sangat sembab.
"Kak Anna pasti bangun, kak. Kau hanya harus menunggunya dengan sabar." Ucap Melody yang memeluk Aramis.
Athos memegang pundak Aramis untuk memberikan dukungan pada kembarannya itu.
Aramis berjalan mendekati Lion untuk mengatakan sesuatu pada sahabatnya itu.
"Lion, tolong cari Oto, dia harus ada disini sebelum sesuatu yang buruk lainnya akan terjadi. Aku punya perasaan yang tidak enak. Aku tidak bisa meninggalkan Anna saat ini karena itu aku butuh Oto untuk hal yang lainnya."
Lion mengerti apa maksud Aramis. Namun Dia sendiri tidak bisa berbuat apapun. Dia juga sudah bertanya pada semua temannya bahkan ke kota-kota sekitar namun karena Prothos hanya berdiam diri di dalam penthouse Niko jadi tak ada yang melihatnya. Hanya Niko yang tahu dimana Prothos berada.
"Baiklah, aku akan berusaha mencarinya lagi." Jawab Lion untuk menenangkan Aramis.
...***...
"Maaf ya, kita tidak jadi pergi beli skateboard-nya." Ucap Lion saat berjalan mengantar Karen ke luar rumah sakit.
Lion membukakan taksi untuk Karen. "Nanti aku akan menghubungimu lagi."
Karen hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Lion, yang juga melakukan hal yang sama padanya.
"Lion, kau sudah janji tidak akan mengatakan apapun pada Ars ataupun Oto." Ujar Athos saat Lion berjalan masuk ke lobby rumah sakit. "Kau juga tidak bisa menghentikan apa yang akan terjadi di pesta pernikahan Tasya."
"Ya, aku tahu." Jawab Lion. "Tapi aku ingin memberi sedikit saran padamu. Bagaimana jika kau tidak perlu menghentikannya dengan cara itu, maksudku lebih baik kau membuatnya batal sebelum acaranya berlangsung. Kau bisa membawa Tasya pergi sebelum acara."
"Kalau itu aku lakukan aku akan kehilangan dukungan yang aku dapat, dan yang pasti mereka akan merencanakan pernikahannya lagi. Dan akan terulang seperti itu." Jawab Athos. "Semua yang akan aku lakukan nanti dengan tujuan agar si pecundang itu menerima akibat atas tindakannya tapi tujuan utamaku adalah meng-skakmat rajanya."
"Entah kenapa aku jadi menyesal memberitahu langkah yang harus kau ambil itu." Ucap Lion.
"Kau ragu dengan apa yang akan aku lakukan?"
"Bukan ragu, aku hanya tidak percaya pada takdir. Takdir selalu mempermainkan manusia. Seyakin apapun kau dengan rencanamu, semuanya tergantung pada takdir."
"Ya, kau benar. Tapi aku tidak ingin menyerah. Menyerah itu bukan sifatku. Persetan dengan optimis atau pesimis, yang aku tahu aku akan berusaha sampai aku menerima hasil akhirnya."
Lion membuang napas dengan kesal.
"Sepertinya apa yang dikatakan Ars benar." Gumam Lion membuang napas.
"Kau ingin mencari Oto? Tanyakan pada temanmu, dia yang tahu dimana Oto saat ini." Ucap Athos.
"Niko? Maksudmu Niko yang tahu dimana Oto?" Tanya Lion.
...***...
Lion berbicara dengan Niko di koridor rumah sakit yang agak jauh dari tempat yang lainnya menunggu di depan ruang ICU.
"Aku tahu kau mau bertanya apa." Ucap Niko. "Percayalah, aku sudah memintanya untuk pulang tapi dia bilang tidak ada rencana pulang dalam minggu ini."
"Beritahu aku saja dimana dia berada, biar aku yang bicara dengannya." Ujar Lion.
"Maaf Lion, dia memintaku bersumpah demi nama Melody untuk tidak memberitahu siapapun dimana dia berada." Jawab Niko.
"Di salah satu hotelmu yang mana?"
"Percuma, kau tidak akan tahu, aku sudah meminta semuanya untuk merahasiakan keberadaannya. Kau tak akan bisa menggalinya."
"Baiklah." Lion menatap Niko tajam. "Aku akan mencarinya sendiri langsung."
Lion berjalan meninggalkan Niko sambil mengeluarkan handphone-nya. Dia berjalan hendak pergi dari rumah sakit.
"Ivan, kau bisa membantuku?" tanya Lion yang menelepon Ivan. "Kau tahu siapa saja yang bekerja di hotel milik Niko? Maksudku teman-teman kita. Aku minta nama-nama mereka, aku sendiri yang akan menghubungi mereka."
Niko melihat kepergian Lion dengan sebuah seringaian.
"Aku ingin lihat apa kau bisa mencarinya di gua-ku, Lion." Seringai Niko terlihat di wajahnya.
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.
Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.
Author :
Maaf ya kalau nanti akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Author selalu sedih kalau buat ceritanya Ars dan Anna 😭😭😭😭
Bahkan di awal bertemu aja author udah sedih.