
Pukul lima sore, Leo, ayah Melody sedang bersiap-siap untuk membuat makan malam. Dia melihat-lihat beberapa bahan makanan dan stok lainnya sudah banyak yang kosong.
"Semua kacau kalau tidak ada anak sombong itu." Gumam Leo membuka-buka lemari dapur. Yang dimaksud anak sombong olehnya adalah putra tertuanya, Athos.
"Ada apa ayah?" Tanya Melody yang baru turun.
"Stok minggu ini sudah banyak yang habis." Jawab ayahnya masih sibuk membuka-buka lemari untuk mencari apa saja yang tidak ada. "Kenapa Niko langsung pulang tadi?"
"Dia bilang ingin tidur karena mengantuk." Jawab Melody. "Ayah, biar aku yang pergi belanja."
"Apa? Tidak usah, biar ayah saja." Ujar Leo menoleh pada Melody.
"Aku sudah bisa menyetir dan supermarket-nya tidak jauh, kan?"
"Sejak kapan kau bisa menyetir?" Leo berjalan mendekati putrinya.
"Sudah lebih dari sebulan lalu. Beberapa kali aku juga pergi sendiri." Senyum Melody merasa senang. "Aku saja yang berbelanja, aku juga sedang bosan di rumah. Ayah melarangku ke rumah sakit, padahal aku ingin melihat kak Ato."
"Baiklah, tapi hati-hati ya." Seru Leo.
Leo mengantar putrinya keluar rumah, dia terus memperhatikannya hingga Melody melajukan mobilnya. Setelah itu Leo mengambil handphone-nya dan menghubungi Niko.
"Bisa kau datang sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan mengenai rencanamu, Niko." Ujar Leo.
"Baiklah, sekarang juga aku ke sana." Jawab Niko.
Setelah menutup telepon Niko, Leo kembali menghubungi seseorang. Kali ini dia menghubungi Lion.
"Lion, dimana kau?" Tanya Leo.
"Dalam perjalanan pulang. Ada apa?" Tanya Lion.
"Apa bisa kau membantuku? Mungkin ini terakhir kalinya aku meminta bantuanmu sebagai ayah Melo."
"Apa? Apa maksudmu, Leo?"
...***...
Melody langsung mengelilingi supermarket untuk mengambil barang-barang yang masuk ke daftar list yang diberikan ayahnya. Ini pertama kalinya dia berbelanja kebutuhan rumah sebanyak itu hanya seorang diri. Biasanya Athos yang melakukannya, dan pernah juga gadis itu berbelanja namun bersama dengan Lion.
Melody membeli beberapa susu kotak dan mengambil di rak kulkas paling bawah, sehingga gadis itu harus berjongkok untuk mengambilnya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Dengan cepat Melody menoleh dan menengadah ke belakang.
"Aku baru ingat sepertinya kau masih punya hutang mentraktirku satu kali. Karena sudah terlalu lama aku sampai lupa." Ujar Lion yang mendekatkan minuman kaleng yang dibawanya ke pipi kiri Melody, sama seperti waktu itu. "Aku ingin kau mentraktirku minuman ini."
Melody langsung bangkit berdiri dan menatap Lion. Dia bertanya kenapa Lion bisa ada di tempat ini, namun tak ada pertanyaan yang dilontarkan dari bibirnya, dan hanya sebuah tatapan saja.
"Leo meneleponku, maksudku ayahmu, dia memintaku menemanimu berbelanja." Jawab Lion yang langsung tahu maksud dari tatapan Melody. "Sebaiknya kau bilang pada ayahmu untuk tidak menyuruhku apapun lagi."
"Baiklah, akan aku bilang padanya nanti." Ucap Melody.
"Kalau begitu, ayo kita selesaikan dengan cepat." Seru Lion sambil mendorong troli yang sudah terisi beberapa barang.
Sejenak Melody memperhatikan Lion yang berjalan menjauh sambil mendorong troli. Dia berpikir ini adalah terakhir kalinya mereka akan bersama-sama.
"Melon, ayo cepat!!" Lion menoleh pada Melody. "Kenapa malah melamun?"
Melody segera berjalan ke arah Lion. Gadis itu menyodorkan kertas catatan pada Lion.
"Sisanya kau yang selesaikan." Ujar Melody.
"Kenapa aku?" Tatap Lion heran. "Baiklah." Lion memanyunkan bibirnya dan langsung mengambil kertas catatan tersebut.
Melody hanya menatap Lion dari belakang tanpa membantu melakukan apapun. Lion mendorong troli dan mengambil barang-barang yang ada di kertas catatan. Gadis itu terus menatap punggung pemuda yang sudah sejak kecil mengenalnya itu.
Aku pasti akan merindukanmu saat kita berpisah.
"Apa? Kau bilang apa?" Tanya Lion menoleh pada Melody.
"Aku tidak bilang apapun." Sanggah Melody bingung dan langsung berjalan begitu saja.
Selesai berbelanja, Melody dan Lion dalam perjalanan pulang ke rumah. Melody tak mengatakan apapun saat berbelanja tadi. Dia hanya diam saja, begitupun dengan Lion. Biasanya Lion selalu bicara banyak hal dulu, tapi tadi hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya, itu pun mengenai belanjaan mereka.
Melody hanya melihat keluar jendela pintu mobil saat di dalam perjalanan. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya masih saja meminta bantuan Lion.
"Ayahmu khawatir kau menyetir sendirian. Sebaiknya kau tidak menyetir sendiri lagi." Ujar Lion. "Kau juga belum punya SIM kan?"
"Kau juga belum punya." Jawab Melody menatap ke depan.
"Karena itu sekarang kemanapun aku naik transportasi umum." Ujar Lion. "Kau tahu Melon, di Rusia itu sangat dingin, kau harus memakai pakaian yang sangat tebal saat disana. Jangan sampai kau sakit. Bilang pada Niko juga kalo sepanjang hari kau harus menghidupkan penghangat ruangan. Kalau kau tidak kuat hidup disana katakan pada Niko, dia pasti akan mengerti."
Melody menoleh melihat Lion yang berkata seperti itu padanya. Lion tidak menatapnya dan terus memperhatikan jalanan depan.
"Bahasa Rusia juga bahasa yang paling sulit, kau harus mempelajarinya dari sekarang. Jangan sampai kau kebingungan saat berada disana. Bagaimana kalau kau tersesat dan kau bingung saat ingin minta tolong? Kau harus terus bersama Niko agar hal itu tidak terjadi."
"Ya, aku akan mendengarkan semua yang kau katakan." Jawab Melody merasa aneh dengan semua perkataan Lion yang menunjukan perhatian pada dirinya.
Lion menoleh pada Melody dan tersenyum pada gadis itu.
"Kau juga harus mengatakan apa yang ingin kau katakan pada Niko, jangan hanya menatapnya karena itu akan membingungkan Niko."
Melody baru menyadarinya kalau hal itu sering dia lakukan, dan hanya Lion yang mengerti tanpa harus dirinya mengatakan apapun.
"Baiklah." Jawab Melody singkat.
...***...
"Aku sudah memikirkan semuanya dan mendapatkan jawaban mengenai rencanamu, Niko." Ucap Leo yang duduk bersama Niko di sofa ruang tamu. "Sehabis ujian kalian bisa bertunangan tapi tunda lagi pernikahan kalian selama dua bulan, setidaknya sampai Melo berusia enam belas tahun. Tidak sampai dua bulan lagi usianya genap enam belas tahun."
"Baiklah, itu tidak masalah." jawab Niko dengan tersenyum senang. "Tapi setelah bertunangan aku akan tetap membawanya ke Rusia dan menunggu sampai dia ulang tahun baru kami akan melangsungkan pernikahan. Apa kau keberatan?"
"Niko, Melo selama ini tidak pernah pergi jauh sendirian dari rumah dan dalam waktu yang lama. Kalau kau membawanya langsung ke Rusia aku takut dia tidak bisa beradaptasi di sana. Dia juga sulit bergaul dengan orang-orang baru. Aku takut dia akan menyusahkanmu."
"Itu semua tidak masalah, ayah. Aku akan menjaganya, dia akan nyaman di sana. Dia tidak akan menyusahkan aku. Aku akan membuatnya cepat beradaptasi di Rusia."
"Kenapa kau sangat ingin menikah dengan Melo, Niko?" Tatap Leo.
"Aku sangat mencintainya. Putrimu membuatku langsung menyukainya saat pertama kali melihatnya, dan semakin hari aku semakin mencintainya."
"Jangan pernah menyakitinya, aku tidak akan mengampunimu kalau kau membuatnya menangis." Ancam Leo. "Kau juga harus sabar menghadapi sifatnya yang dingin itu."
"Itu daya tarik putrimu, ayah." Senyum Niko.
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku akan menyerahkan putriku padamu." Ujar Leo. "Buatlah dia bahagia dengan dirimu bukan dengan kekayaanmu. Kau paham?"
Niko mengangguk dengan sebuah senyum bahagia.
Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Melody dari luar. Gadis itu terkejut melihat Niko berada di rumahnya bersama ayahnya. Namun Melody yang datang bersama Lion yang berdiri di belakang gadis itu membuat Niko memandang dengan lebih terkejut lagi pada kehadiran mereka yang datang bersama-sama.
"Ternyata kau ada disini, Niko." Ujar Lion berjalan masuk membawa banyak kantong belanjaan dan meletakannya di dapur.
"Kenapa kau tidak bilang kalau akan ke rumahku, Niko?" Tanya Melody.
"Ayah yang memintanya datang." Jawab Leo.
Niko masih mencerna apa yang terjadi. Entah bagaimana dirinya menjadi merasa cemburu ketika Melody muncul bersama dengan Lion, dan mereka pergi berbelanja bersama.
"Aku pulang dulu ya." Pamit Lion berjalan menuju pintu.
"Lion!! Ikutlah makan malam bersama kami." Seru Leo menghentikan langkah Lion.
Niko menatap ayah Melody dengan heran.
...–NATZSIMO–...