
Melody yang berjalan kearah gerbang sekolah bersama dengan Niko melihat Lion yang masuk ke dalam mobil. Gadis itu memperhatikan pemuda berambut pirang yang berada di dalam mobil yang Lion masuki. Entah kenapa dirinya menjadi berpikiran yang tidak-tidak karena pengakuan Lion yang mengatakan kalau dirinya seorang penyuka sesama jenis."
"William?" Ujar Niko saat melihat Liam dan Lion di mobil yang sudah melaju.
Melody menghentikan langkahnya dan menoleh pada Niko. Dirinya merasa tidak asing ketika mendengar nama itu.
"Dia itu sepupunya Lion." Jawab Niko pada Melody yang menatapnya. "Apa kau percaya kalau Lion gay?"
Tak ada yang dikatakan Melody, gadis itu melanjutkan jalannya menuju pintu gerbang dimana Aramis sudah menunggunya di dalam mobil. Niko mengikutinya, bahkan pemuda itu membukakan pintu untuk Melody.
"Ars." Panggil Niko yang berjalan ke arah pintu dimana Aramis duduk di kursi setir.
Aramis membuka kaca jendela mobilnya tanpa menoleh pada Niko. Melody yang duduk di sampingnya memperhatikan apa yang hendak dikatakan Niko pada kakaknya.
"Apa kau tahu kalau William datang?" Tanya Niko.
"Sepertinya tidak ada hal apapun yang terjadi jika aku tahu atau tidak." Jawab Aramis dan langsung menjalankan mobilnya.
Dalam perjalanan Melody menjadi memikirkan mengenai orang yang bersama Lion tadi. Dia tidak asing dengan nama orang tersebut. William?
"Kak Ars, apa orang yang ditanyakan Niko sebelumnya pernah datang? Aku tidak asing dengan nama dan wajahnya." Ujar Melody berharap mendapatkan jawaban dari kakaknya itu.
"Memang ada apa? Kenapa kau ingin tahu?" Tanya Aramis dengan nada galak.
"Di sekolah tadi Lion mengaku kalau dirinya gay." Ucap Melody membuat Aramis menoleh padanya.
"Bocah itu benar-benar konyol." Gumam Aramis kesal.
"Sepertinya saat orang bernama William itu datang menjemputnya, semua orang jadi berpikir kalau mereka pasangan gay."
"Lalu kau percaya kalau bocah konyol itu gay?" Tanya Aramis.
"Entahlah, itu bisa saja benar." Jawab Melody. "Waktu itu kau juga pernah bilang kalau dia gay kan?"
"Dia bukan gay!! Kalau dia gay, sejak dulu aku sudah membunuhnya!!" Seru Aramis dengan kesal.
Kekesalan Aramis membuat Melody menjadi menatap kakaknya dengan tatapan aneh. Dia mengerti karena kakaknya itu hampir setiap hari menginap di rumah Lion, jika Lion gay itu berarti anggapan yang sama juga mengenai Aramis. Tanpa sadar Melody jadi tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" Kesal Aramis.
"Kalau Lion gay berarti kau juga gay, kak." Melody menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan tangan. "Semua orang di sekolah pasti berpikiran yang sama seperti yang aku pikirkan tentangmu."
"Jangan menertawakan aku!! Aku bukan gay!!" Geram Aramis.
"Tidak akan ada wanita yang menyukaimu karena kau gay, kak." Ujar Melody lagi meledek kakaknya.
Namun perkataan Melody membuat Aramis menghilangkan rasa kesalnya. Pemuda itu jadi berpikir jika itu bukan sesuatu yang buruk karena tidak akan berefek apapun untuknya yang tidak berniat menyukai wanita manapun lagi. Dia akan terus menunggu Anna walaupun gadis itu tidak akan kembali padanya.
Melihat perubahan ekspresi Aramis, Melody tahu apa yang dipikirkan kakaknya itu. Dia menjadi menyesal setelah meledek kakaknya tersebut.
"Kak, bagaimana lukisannya, apa sudah jadi?" Tanya Melody mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar lagi jadi." Jawab Aramis.
"Aku ada tugas kesenian melukis, kau saja yang membuatkannya untukku ya." Ucap Melody. "Aku akan memberikan apapun yang kau mau."
"Tidak, gurumu akan tahu jika itu bukan buatanmu." Aramis menoleh pada Melody.
"Kalau begitu aku akan meminta ayah yang membuatkannya untukku." Ujar Melody.
"Tidak masalah, aku rasa tidak akan ada yang aneh kalau aku juga bisa melukis sepertimu dan ayah." Melody menahan senyumnya pada Aramis.
...***...
Mona membuka matanya dengan sedikit bingung karena mobil saat ini sedang berhenti di pinggir jalan. Dia menoleh ke sampingnya namun dirinya tidak melihat Prothos berada di sana.
Sejenak dia melihat ke sekeliling dimana dirinya berada. Hanya hamparan lautan yang terlihat di sepanjang jalan di mana mobilnya terparkir. Mobilnya berhenti di bahu jalan tidak jauh dari pantai. Tidak ada siapapun disana. Daerah tersebut sangat sepi sehingga membuat gadis itu sedikit merasa takut berada sendirian di dalam mobil.
Mona melihat jam tangannya, waktu menunjukan hampir jam enam sore. Matahari juga sudah hampir turun sehingga langit sedikit meredup. Di raihnya handphone miliknya yang masih berada di holder dan segera gadis itu mengecek maps.
Tempat tujuannya masih ada 100 meter di depan sana. Dengan segera Mona berpindah tempat ke kursi setir dan melajukan kembali mobilnya dengan jalan perlahan sambil mencari dimana Prothos.
Baru setengah perjalanan Mona menghentikan mobilnya karena jalanan selanjutnya terlalu sempit jika harus dilalui oleh mobil. Gadis itu segera turun dari mobil dan melanjutkannya dengan berjalan kaki.
Jalanan agak menanjak hingga dirinya menjadi sedikit sulit berjalan, namun langkahnya terhenti ketika melihat Prothos sedang berdiri di jarak sepuluh meter darinya.
Mona melihat Prothos sedang memperhatikan sebuah rumah yang agak menurun dari jalanan dimana mereka berdua berdiri. Rumah dengan halaman yang cukup luas dimana seorang gadis sedang duduk bersama seorang pemuda di kursi yang terbuat dari kayu, di tengah-tengah halaman tersebut.
Prothos melihat gadis yang masih dicintainya itu dengan tatapan yang tampak muram, terlebih Widia saat ini sedang duduk bersama seorang pemuda yang penampilannya terlihat biasa saja. Widia sesekali tersenyum pada pemuda itu ketika mereka berdua berbicara.
Dengan perasaan yang sangat sedih Prothos harus menerima kenyataan kalau gadis yang dicintainya sepertinya sudah melupakannya dengan sangat cepat. Hal itu membuatnya mengurungkan niat untuk menemui Widia. Dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan gadis itu dengan kehadirannya disana. Itu juga mungkin akan membuat hatinya lebih merasa bersedih jika Widia melihatnya lagi.
Kakinya terasa berat ketika Prothos mencoba untuk berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Dia melihat Mona berdiri memperhatikannya. Sejenak mereka berdua saling menatap.
Mona tahu bagaimana perasaan Prothos saat ini tapi sebelum ini pemuda itu bilang padanya akan mengikuti semua perkataannya. Mona ingin Prothos menghampiri Widia dan mengatakan semua isi hatinya pada gadis yang masih dicintainya itu.
Dengan cepat Mona melangkah mendekati Prothos dan hendak melewati pemuda itu untuk menghampiri Widia, namun Prothos menahan lengannya untuk tidak melakukannya.
"Aku mohon jangan berbuat apapun." Pinta Prothos setelah itu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Sejenak Mona berdiri masih memperhatikan Widia bersama pemuda itu. Gadis itu sedikit merasakan sebuah kekesalan karena lagi-lagi Prothos menghindar dari hal yang harus dirinya hadapi. Namun dia pun mengerti juga bagaimana rasanya ketika melihat seseorang yang dicintainya terlihat lebih bahagia bersama orang lain.
Tanpa sadar Mona mengeluarkan air mata karena mengingat tentang dirinya beberapa bulan lalu yang melihat kekasihnya bersama gadis lain yang merupakan kekasih dari pria yang dia cintai itu.
Mona segera berjalan pergi dari sana sambil menghapus air matanya sendiri. Prothos tidak ada di mobil saat ini, itu membuat Mona menjadi bingung. Matahari sudah mulai tenggelam dan mereka harus segera pulang.
Sambil memperhatikan sekitar, Mona melajukan mobilnya. Gadis itu berhenti ketika melihat Prothos berdiri di pinggir pantai. Sejenak Mona hanya diam memperhatikan pemuda yang hanya berdiri memunggunginya di jarak yang cukup jauh.
Prothos sedang mencoba menahan semua rasa sedihnya saat ini. Matanya berkaca-kaca tetapi dirinya tidak ingin menangis. Seharusnya dia bahagia karena melihat gadis yang dicintainya bahagia. Namun tetap saja rasa sedih yang ada didadanya tidak bisa ditahan.
"...bahkan ketika beberapa hubungan tidak berhasil, ingatan pada orang yang pernah dicintai masih tetap ada." Ucap Mona yang berdiri di belakang Prothos di jarak lima meter. "Tidak masalah walau kau tetap mengingatnya tapi jangan menghukum dirimu terus menerus. Semua orang berhak bahagia begitupun dengan dirimu."
"Dia bilang padaku kalau yang dibutuhkannya adalah cahaya lampu temaram yang memberikannya kehangatan, bukan cahaya matahari yang membuatnya terbakar hingga tak tersisa apapun dari dirinya. Itu sangat menyakitkan mengetahuinya. Itu sama saja mengatakan kalau selama ini dia tidak pernah merasa bahagia bersamaku." Ucap Prothos.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap menghukum dirimu?"
"Kau benar." Ujar Prothos setelah itu berbalik menghadap Mona. "Anggap saja aku sudah melalukan pilihan kedua dari perkataanmu." Jawab Prothos mengenai perkataan Mona saat di penthouse tempo hari. Prothos langsung berjalan melewati Mona menuju mobil.
Kau bilang dia pergi membawa hatimu, kan? Kalau begitu kau memiliki dua pilihan untuk dilakukan. Bawa dia kembali padamu atau... ambil kembali hatimu.
...–NATZSIMO–...
Visual Mona juga udah ada lama di IG ya
@natzsimo.author