
Sebuah senyuman menghiasi wajah Lion dengan sebuah lambaian tangan ke arah luar jendela pintu taksi yang dia naiki. Karen yang baru saja turun membalasnya juga dengan hal yang sama.
Saat taksi melaju lagi, Lion mengambil handphone-nya dan membuka menu daftar nomer telepon. Es Melon langsung ada di nama teratas karena Lion menandainya dengan favorit. Dengan sebuah pertimbangan Lion menekan opsi memanggil.
"Halo..." Terdengar suara Melody menjawab teleponnya.
"Melody, aku ingin meminta maaf padamu karena satu hal." Ucap Lion.
Awal kalimat Lion membuat Melody menjadi sedikit takut. Kata-kata Lion terdengar seperti waktu dirinya berencana pergi keluar negeri setelah kematian Mario.
Sempat mereka berdua terdiam karena Melody tidak menjawab perkataan Lion sedangkan Lion masih menimbang-nimbang perkataannya.
"Maaf karena waktu itu aku membatalkan janjiku." Ujar Lion. "Waktu aku bilang akan menjemputmu di tempat kursus untuk menemaniku makan ramen, aku membatalkannya tanpa mengatakan apapun padamu. Aku juga minta maaf karena tidak menjawab teleponmu waktu itu dan mengabaikannya."
Melody sangat ingat tentang hal tersebut karena waktu itu dirinya sangat senang dan tidak sabar menunggu sesi kursusnya berakhir. Dia sangat ingin pergi bersama Lion karena itu kali pertamanya pemuda itu mengajaknya terang-terangan. Tapi bukannya Lion yang hadir melainkan Niko.
"Kau dengar aku, kan?"
"Aku sudah lupa, kau tidak perlu minta maaf untuk hal yang sudah lama berlalu." Jawab Melody. "Kenapa tiba-tiba kau meminta maaf untuk hal itu? Kenapa rasanya kau seperti ini—"
"Aku hanya merasa harus minta maaf padamu." Jawab Lion. "Baiklah, hanya itu yang ingin aku katakan."
"Lion, tunggu..."
Namun Lion sudah lebih dulu mematikan teleponnya sebelum sempat Melody mengatakan sesuatu hal yang ingin disampaikannya. Gadis itu ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Lion walau hari ulang tahunnya sudah lama berlalu. Tapi Lion pun tidak memberinya kesempatan untuk mengucapkan hal tersebut.
Melody kembali masuk ke dalam garasi di mana Niko sedang berada. Niko sedang memanasi semua mobilnya yang berjumlah tujuh mobil dan empat motor, agar mesin-mesin kendaraan tersebut yang jarang digunakan tidak rusak.
"Siapa?" Tanya Niko saat Melody masuk kembali.
"Ayahku." Jawab Melody berbohong. "Kenapa kau melakukannya sendiri, Niko?" Tanya Melody mendekati Niko yang baru keluar dari salah satu mobil sport berwarna merah.
"Biasanya bukan aku yang melakukannya. Karena ada kau disini dan aku bingung harus melakukan apa, jadi aku melakukan ini sendirian." Jawab Niko dengan jujur. "Aku sedang memesan dua mobil baru, kau bisa memilih salah satunya nanti."
"Apa maksudmu?"
"Kau bisa memakainya, aku akan memberikan sebagai hadiah untukmu."
"Tidak perlu, aku belum punya SIM, aku tidak akan menyetir sendiri lagi." Jawab Melody mengingat perkataan Lion padanya tempo hari. "Kenapa kau harus membelinya lagi padahal kau sudah punya banyak dan lagi bukankah kita akan pindah ke Rusia?"
"Hanya untuk memenuhi keinginan aku saja. Kita akan sering datang ke sini untuk berlibur sekaligus mengunjungi ayahmu, jadi tidak masalah aku membelinya." Kata Niko sambil berjalan mendekat ke arah motor-motornya yang terparkir.
"Niko, selain renang apa hal lain yang sangat kau suka?"
"Melody." Tatap Niko dengan sangat cepat, dia berdiri di jarak tiga meter dari Melody. "Hal lain yang aku suka adalah kau, setelah itu tidak ada lagi yang aku suka."
Melody hanya terdiam mendengar jawaban Niko yang tidak diduganya. Gadis itu bertanya hal tersebut awalnya dengan tujuan agar Niko bisa mengisi waktu luangnya dengan hal yang disukainya itu agar pemuda itu merasa sedikit bahagia.
"Aku pikir kau sangat suka semua tentang kendaraan ini, makanya kau membelinya."
"Tidak, aku hanya ingin membelinya untuk mengisi tempat ini saja." Jawab Niko tersenyum sambil melangkah mendekati Melody. "Aku hanya menyukai renang dan dirimu sayang." Niko membelai rambut poni Melody dengan tangan kanannya.
"Kau harus ingat kata-katamu." Melody langsung mundur untuk menghindar dari Niko.
"Ya, aku mengerti." Niko membuang napas dan langsung berjalan. "Sekarang temani aku renang ya. Kalau perlu aku akan mengajarimu juga."
Waktu menunjukan pukul lima sore ketika Lion duduk di pinggir danau tempat pertarungannya dengan Aramis yang akan dimulai beberapa menit lagi. Di sekitarnya sudah banyak teman-temannya yang hadir untuk menyaksikan hal tersebut, namun Aramis masih belum datang.
Lion hanya diam saja duduk dengan memandangi burung-burung di atas danau yang hendak kembali ke sarangnya. Dia tidak memedulikan beberapa temannya yang mencoba menghampiri dirinya untuk membatalkan pertarungan hidup dan mati yang dibilang Lion.
"Ivan, sepertinya kita harus menyeret..." Perkataan Lion terhenti ketika beranjak berdiri dan berbalik.
Aramis sudah dulu muncul di sana, membuat teman-teman Lion yang berjumlah ratusan sangat terkejut dengan kehadirannya. Namun Lion tersenyum melihat kehadiran sahabatnya itu. Ivan yang berada tidak jauh dari tempat Lion menjadi mundur menjauh untuk memberikan ruang.
Lion dan Aramis sudah saling berhadapan. Lion memakai pakaian serba putih dengan kain putih menggulung di telapak tangan kanan dan kirinya. Sedangkan Aramis memakai kaos hitam berlengan panjang yang ditarik naik hingga sesiku lengannya, dan celana denim dongker.
"Aku senang kau datang, Ars." Ucap Lion tersenyum.
"Aku beri kesempatan padamu Lion untuk menghentikan hal konyol ini sekarang." Seru Aramis menatap tajam Lion. "Jangan bertingkah gila!!"
Lion tertawa menanggapi perkataan Aramis membuat sahabatnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Ars, apa yang kau inginkan kalau kau menang?" Tanya Lion.
"Tidak ada."
"Baiklah, kalau begitu akan aku katakan apa yang aku inginkan kalau aku menang. Apa kau ingin tahu?"
"Tidak perlu. Kalau kau menang, itu artinya aku mati, jadi tidak berefek apapun padaku dengan apa yang kau inginkan."
Lion tertawa sekali lagi.
"Kau benar sekali, tapi aku ingin sesuatu" Ujar Lion. "Tapi aku juga belum tahu apa itu—"
"Sudahlah, berhentilah mengoceh Lion!!" Seru Aramis. "Kalau tidak diselesaikan sebentar lagi matahari tenggelam dan disini akan sangat gelap. Itu akan menyeramkan jika salah satu dari kita mati dalam keadaan gelap."
"Oke, baiklah." Senyum Lion.
"Baiklah, majulah! Aku ingin lihat kemampuan capoeira yang sudah kau pelajari." Seru Aramis. melebarkan kakinya dengan mencondongkan badannya siap bertarung.
Tanpa kuda-kuda Lion langsung melayangkan tendangannya ke arah Aramis berkali-kali namun Aramis dengan mudah mampu menghindar. Lalu Aramis menyerang balik dengan menarik Lion dan menghantamkan perut Lion ke lutut kirinya dan terakhir kepala Lion dihantamnya juga ke lutut yang sama. Seketika darah ke luar dari mulut Lion.
"Hanya seperti itu hasil latihanmu?" Aramis tertawa skeptis melihat Lion yang sudah berdarah. "Aku bahkan belum memakai setengah dari tenagaku."
"Dia memang seorang monster." Gumam Ivan yang berada di pinggir menyaksikan pertarungan itu bersama teman-teman lainnya.
Lion kembali menyerang dengan membabi buta tapi lagi-lagi Aramis mampu menghindar. Lion sama sekali bukan tandingan Aramis, semua orang tahu itu dan itu memang benar. Namun Lion terus menyerang, melancarkan tendangan-tendangan ciri khas bela diri yang dia kuasai, capoeira, hingga akhirnya tendangan tersebut mengenai Aramis dengan sangat keras. Aramis terjatuh ke tanah yang membuat kepalanya terantuk batu dan berdarah. Terdengar suara teman-teman Lion bersorak.
"Aku yakin itu bukan karena keberuntunganku." Ucap Lion merasa latihannya selama ini tidak sia-sia.
Aramis bangun dengan sedikit tawa. Lion tak mau ambil jeda dan langsung memukul Aramis berkali-kali, hingga akhirnya Aramis berhasil menghentikan pukulan Lion dengan menjatuhkan Lion ke tanah lalu menariknya dan memukulnya balik.
Akhirnya Aramis mencekik Lion dengan cengkraman yang sama seperti waktu Lion menantang dirinya saat di belakang gedung sekolah.
Cekikan satu tangan kanan Aramis dengan ibu jari menekan bagian jakun Lion. Membuat reaksi teman-teman Lion menjadi takut kalau pertarungan akan segera berakhir dan Aramis akan mencekik Lion hingga mati.
"Aku akan menghancurkan kerongkonganmu. Selamat tinggal, sahabatku."
...–NATZSIMO–...