MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
010. KESEDIHAN SANG RAJA HUTAN



Lion melajukan motornya dengan sangat cepat, lebih cepat dari biasanya, tidak memedulikan pengguna jalan lainnya, bahkan dia tak peduli jika diberhentikan polisi sekalipun. Pikirannya kosong dan hanya ingin melaju dengan cepat setelah keluar dari rumah Niko.


Tak ada tempat yang dia tuju, hanya mengelilingi setiap jalan yang ada di hadapannya. Tatapannya begitu kosong dengan air muka yang datar.


Hingga akhirnya dia berhenti di pinggir jalan, dan masuk ke sebuah minimarket. Pemuda itu mengambil banyak sekali sosis yang dimasukkannya ke keranjang belanjaannya. Lalu berjalan menuju kasir dan membayar belanjaannya.


Setelah mengantri cukup lama akhirnya Lion keluar dari minimarket tersebut dengan seplastik sosis ditentengnya. Namun langkahnya terhenti ketika matanya tidak melihat motor kesayangannya terparkir disana. Lion sempat berpikir sejenak mengenai motornya. Dia yakin sekali tadi dia memarkirkannya di tempat itu. Dia merogoh saku celana dan jaketnya namun dia tidak menemukan kunci motornya tersebut.


Lion menyadari kalau dia tidak mengunci motornya dan membiarkannya masih tergantung di motornya itu. Dengan perasaan sedih dia harus menerima kalau motornya sudah dicuri.


...***...


Athos bersama Tasya masih berada di meja makan hendak makan siang, namun tiba-tiba ayahnya menelepon.


"DIMANA KAU? ADA APA DENGAN MELO? BARU SAJA DIA MENELEPONKU DENGAN MENANGIS SANGAT KERAS!! APA YANG TERJADI?? AKU BARU SAJA SAMPAI TAPI SUDAH MENDENGAR TANGISAN PUTRIKU!!"


Leo terdengar sangat marah saat di telepon. Hingga suaranya terdengar oleh Tasya yang duduk di hadapan Athos sedangkan Athos menjauhkan handphone-nya dari telinganya.


"Tenanglah, semua baik-baik saja. Aku akan menangani semuanya dengan baik seperti biasa. Kau fokus saja disana." Jawab Athos setelah itu menutup teleponnya.


"Ada apa, Ato?" Tanya Tasya.


"OTO!! OTO!!" Panggil Athos sangat keras hingga Tasya sedikit takut karena saat ini raut wajah Athos juga terlihat marah.


"Ada apa?" Tanya Prothos diambang tangga.


"Cari Melo!! Ayah baru saja menelepon kalau dia menangis saat berbicara ditelepon dengan ayah." Jawab Athos menengadahkan kepalanya melihat pada Prothos.


"Bernarkah?" Tanya Prothos sembari turun tangga. "Aku akan mencarinya."


Prothos mengambil kunci mobil dan berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba Melody masuk ke dalam rumah.


"Kau baik-baik saja, Melo?" Tanya Prothos memegang pundak Melody dengan khawatir karena wajah Melody sangat kacau saat ini.


Melody menepis tangan kakaknya dan tidak menjawab, dia hanya berjalan menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya dengan mengunci pintu.


...***...


Athos dan Prothos bersama Tasya duduk di meja makan setelah makan siang selesai. Mereka tidak membahas apapun. Prothos hanya membaca buku pelajarannya dengan kacamata bertengger di hidungnya, sedangkan Athos sibuk dengan laptopnya membuat pembukuan laporan keuangan café, dan Tasya hanya duduk memperhatikannya.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ujar Athos pada Tasya. "Kau pasti bosan."


"Tidak, aku tidak bosan. Aku masih mau disini." Jawab Tasya tersenyum pada kekasihnya yang duduk di sebelah kanannya.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Tasya langsung bergegas membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Oto, ada yang mencarimu." Seru Tasya yang membuka pintu.


"Aku tidak terima tamu saat hari sabtu." Ujar Prothos tidak menoleh.


"Kak, ini aku Wilda." Ucap seseorang yang sudah berjalan masuk dan berdiri di belakang Prothos.


Prothos langsung menoleh padanya dengan terkejut. Dia sama sekali tidak mengira kalau yang diucapkan kemarin oleh gadis berkacamata itu adalah serius.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Prothos beranjak berdiri dari duduknya.


Athos memperhatikan kembarannya itu terlihat tidak menyukai kehadiran gadis tersebut, dan di waktu yang bersamaan Melody turun dari tangga.


"Tadi dia bilang kalau dia pacarmu, Oto. Pantas saja sekarang kau merubah gayamu dengan sering memakai kacamata juga." Ucap Tasya dengan senyum.


"Tasya, duduklah." Ujar Athos agar kekasihnya itu tidak ikut campur.


Aramis dan Anna yang baru saja masuk mendengar ucapan Wilda. Namun Anna yang tahu kalau sebenarnya yang diucapkan Wilda tidak benar memasang wajah heran, Athos memperhatikannya.


"Ternyata gosip itu benar." Ucap Aramis sambil duduk di kursi tunggal di meja makan antara Tasya dan Prothos tadi.


Prothos tidak bisa berbuat apapun, dia hanya melihat Wilda yang ada di hadapannya. Dia sama sekali tidak habis pikir jika Wilda akan datang menemuinya ke rumahnya langsung.


Melody merasa tak tertarik dengan apa yang terjadi. Dia hanya mengambil sekotak susu di kulkas dan berjalan kembali menaiki tangga. Dia hanya merasa aneh dengan yang dilihatnya. Wilda berada di rumahnya sedangkan Prothos bilang dia tidak berpacaran dengan gadis itu.


"Sebaiknya kau pulang, aku akan mengantarmu." Ujar Prothos langsung menyambar lengan Wilda dan menariknya mengikutinya.


Prothos dan Wilda keluar dari rumah. Melihatnya semua yang ada merasa aneh dengan sikap Prothos


"Kenapa Oto terlihat tidak senang dengan kehadiran pacarnya?" Tanya Tasya bingung. "Tadi kau bilang gosip apa, Ars?"


"Sudah sekitar seminggu ini di sekolah beredar kalau Wilda adalah pacar Oto." Jawab Aramis. "Jadi dia pacar yang disembunyikan Oto selama ini. Kali ini Oto sangat berani dengan berpacaran dengan gadis polos. Apalagi dia sekelas dengan Melo."


Athos masih memperhatikan ekspresi Anna yang duduk di depan Tasya. Athos tahu kalau Anna tahu sejak lama siapa kekasih Prothos. Dia merasa sangat ada yang aneh saat ini.


...***...


Lion memasuki coffee shop tempat Mona bekerja dengan langkah gontai. Tatapan dan pikirannya kosong tak memedulikan ocehan Mona yang melihat kehadirannya. Dia sedang sangat merasakan sebuah kehilangan yang sangat mendalam dihatinya.


"Aku kira kau tidak akan kesini di akhir pekan." Ujar Mona pada Lion yang sudah duduk di tempat biasanya.


Lion tak meresponnya, dia membuka sosis yang dibelinya lalu memakannya dengan tatapan kosong. Pandangannya tertuju ke satu arah.


"Ada apa denganmu?" Tanya Mona melihat keanehan pada diri Lion.


Lion yang biasanya terlihat sangat bersemangat dan tak pernah memperlihatkan ekspresi sedihnya, kali ini dia berekspresi sangat sedih. Hal itu yang membuat Mona heran.


Mona berjalan mendekati Lion, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Lion. Dia masih memperhatikan pemuda itu yang makan sosis dengan tatapan kosong.


"Lion, kau baik-baik saja?" Tanya Mona mulai khawatir.


Sebenarnya dia pernah melihat Lion seperti itu, ketika adiknya, Mario meninggal, Lion datang dengan air muka kesedihan, tetapi kali ini terlihat berbeda. Lion terlihat sangat menyedihkan kali ini.


"Kau bisa cerita padaku dengan apa yang terjadi."


Lion mulai menatap Mona dengan tatapan sendu.


"Apa ini rasa sakit yang di sebut patah hati, Mona?" Tanya Lion. "Ini terasa sangat sakit sekarang. Ya, aku benar-benar ditinggalkan olehnya."


Lion mengusap pangkal kedua matanya karena pelupuk matanya mulai basah. Mona mengerti, sebenarnya dia tahu kenapa Lion akhir-akhir ini terus datang ke tempatnya. Kabar yang beredar mengenai Niko yang mendekati Melody, sering dibicarakan oleh teman-teman Lion yang datang ke tempatnya bekerja, sehingga dia pun tahu mengenai hal itu.


"Ternyata benar kau memang mencintainya, Lion." Ucap Mona.


"Aku sangat mencintainya, Mona. Sejak dulu aku mencintainya, selalu melindunginya dan sekarang seseorang benar-benar mengambilnya dariku dan aku akan kehilangannya untuk selamanya." Ucap Lion. "Aku sangat mencintai Me—"


"Melody 'kan?"


Lion terdiam mendengar ucapan Mona. Dia kembali memperlihatkan wajah sedihnya, namun pemuda itu tak mengatakan apa pun.


"Seharusnya kau tidak membiarkan seseorang mengambilnya darimu kalau kau sangat mencintainya." Seru Mona. "Aku yakin Melody juga pasti sangat bersedih karena keputusanmu. Kau terlalu tega pada gadis itu."


Lion menatap Mona dengan serius kali ini. Matanya menajam dengan menyiratkan sesuatu hal.


"Aku tidak sedang membicarakannya." Jawab Lion. "Yang aku maksud adalah Megan, motor yang sudah aku anggap sebagai pacarku. Seseorang mencurinya tadi."


...–NATZSIMO–...