MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
044. SEBUAH PENGORBANAN



Wilda berdiam diri di dalam ruang UKS walau jam sekolah sudah berakhir. Saat ini dia merasa sangat marah dengan semua yang terjadi. Dia marah karena semua tidak berjalan dengan seperti keinginannya. Walau Widia sudah pergi, Prothos tidak bersamanya malah dia menghindari dirinya. Ditambah kabar mengenai dirinya yang bukanlah kekasih Prothos sudah menyebar luas di sekolah. Itu semua karena perbuatan Melody.


Kemarahan Wilda membuatnya berpikir dia harus melakukan sesuatu. Jika Prothos tidak mau bersama dengannya maka Prothos harus menanggung akibatnya. Dia akan memastikan Prothos akan menyesali perbuatannya karena menghindarinya.


Dengan langkah mantap, Wilda berjalan keluar dari ruang UKS dan hendak menuju ke ruang kepala sekolah. Namun perhatiannya tertuju pada Anna yang sedang berdiri di depan ruang kepala sekolah. Anna menoleh pada Wilda setelah sebelumnya fokus dengan handphone miliknya.


Anna berjalan mendekati Wilda yang berhenti karena keberadaan dirinya. Wilda tidak tahu maksud Anna mendekatinya, namun dia merasa itu hal bagus. Anna yang sebagai ketua OSIS harus tahu juga tujuan dia hendak menghadap kepala sekolah.


"Ketua OSIS, kebetulan sekali kau ada disini. Aku ingin melaporkan sesuatu pada kepala sekolah, kalau kau ikut bersama denganku menghadap kepala sekolah maka hal ini akan segera ditindak." Ujar Wilda. "Apalagi ini juga mengenai sesuatu tentang kembaran—"


"Wilda." Panggil Anna memotong perkataan Wilda. "Kau tidak perlu repot-repot menghadap kepala sekolah. Apa yang kau ingin katakan sudah aku katakan pada kepala sekolah, dan hal itu juga sudah tersebar luas sekarang."


Anna menunjukan handphone-nya pada Wilda. Sebuah foto Prothos bersama Widia yang dimiliki Wilda terunggah di forum sekolah. Saat ini, itu semua sudah menjadi bahan pembicaraan di forum sekolah dan di grup chat manapun.


Wilda terkejut melihatnya. Dia tidak mengira kalau foto itu akan bocor terlebih dulu sebelum dia membeberkannya. Foto itu hanya dimiliki oleh dirinya dan handphone yang pernah diberikannya pada Prothos. Apakah Prothos yang membocorkannya sendiri? Jika iya itu sama saja dia terjun bebas ke jurang karena dirinya pasti akan dikeluarkan dari sekolah.


"Siapa yang membocorkannya?" Tanya Wilda menatap Anna yang langsung mengembangkan senyumnya. "Apa itu kau?"


"Aku hanya menuruti perintah saja." Jawab Anna dengan senyum. "Dia tahu ini akan terjadi, dia sudah berpikir kalau pasti nanti kau berniat untuk mengeluarkan Oto dari sekolah."


"Siapa?" Tanya Wilda penasaran. "Bu guru?"


Anna tersenyum sarkastis menjawabnya.


"Dia tidak mengundurkan diri, tetapi aku membuatnya mengundurkan diri." Ujar Anna. "Kau gadis luar biasa Wilda, aku tidak mengira dengan penampilanmu seperti ini kau sangat menakutkan."


"Apa maksudmu ketua OSIS?" Tanya Wilda dengan nada bicara yang polos. "Bagaimana bisa kau membuatnya mengundurkan diri?"


"Lebih tepatnya aku membantunya seolah-olah aku membuatnya mengundurkan diri karena desakanku." Jawab Anna. "Yang pasti sekarang kau tidak akan bisa mengeluarkan Oto dari sekolah."


Wilda menjadi kesal mendengarnya. Dia sudah mengerti dengan semua yang dikatakan Anna barusan.


"Kau selama ini sudah tahu tentang hubungan mereka?" Tanya Wilda menatap Anna kesal. "Sebagai ketua OSIS kau membiarkannya?"


"Dengarlah Wilda. Saat di sekolah mereka memang guru dan murid, tetapi di luar sekolah mereka hanya seorang pria dan wanita yang saling mencintai. Apa itu salah?"


"Jelas itu salah." Jawab Wilda mulai memperlihatkan emosinya. "Mereka sama sekali tidak serasi. Siapapun yang tahu akan tidak setuju."


"Diamlah, kau tidak paham dengan hal itu." Ujar Anna. "Sebaiknya kau berhenti mengganggu Oto, semua sudah tahu kalau kau memanfaatkannya saja. Selama ini kau menyembunyikan sifat aslimu di balik kacamatamu itu."


"Aku rasa sebaiknya kau yang diam, ketua OSIS!!" Seru Wilda terpancing emosi. "Semua orang memiliki rahasia bahkan seorang ketua OSIS juga menyembunyikan sesuatu kan? Aku tahu kalau kau merahasiakan hubunganmu dengan Aramis karena posisimu yang harus menjadi teladan di sekolah ini."


...***...


Kemunculan foto Prothos dan Widia sudah dilihat oleh ketiga Musketeers. Itu membuat sekolah menjadi heboh dengan kabar yang juga beredar kalau Widia sebenarnya dipaksa mengundurkan diri setelah Prothos melaporkannya pada ketua OSIS. Kabar itu mengatakan kalau Widia menggoda Prothos selama ini.


Prothos membaca semua kabar itu di forum sekolah. Dia berada di kamarnya dengan penuh kesedihan karena kabar yang beredar tidaklah benar.


"Oto, aku ingin bicara denganmu mengenai bu guru." Terdengar suara Anna dari luar.


Prothos membuka pintu kamarnya dan dilihatnya Anna berdiri bersama kedua kembarannya dan bahkan Melody juga berada di sana.


Anna masuk ke dalam kamar Prothos dan menutup pintunya. Athos dan Aramis hanya berdiri di luar bersama Melody.


"Apa dia menemuimu?" Tanya Prothos duduk di kursi menghadap Anna yang berdiri di depan pintu. "Apa dia yang memintamu menyebarkan kabar itu?"


"Itu semua dilakukannya agar kau tidak dikeluarkan dari sekolah." Jawab Anna. "Dia mendatangiku dan mengatakan apa yang terjadi. Gadis itu mengancamnya, dia bilang jika bu guru tidak pergi maka dia akan membeberkan semuanya agar kalian berdua dikeluarkan dari sekolah. Bu guru tidak mau sampai kau dikeluarkan dari sekolah karena itu dia mengundurkan diri namun dia memintaku seolah-olah aku memaksanya mengundurkan diri setelah menerima laporan darimu dengan bukti foto itu. Dia ingin aku melaporkan dirinya ke kepala sekolah dengan alasan dirinya menggoda dan memaksamu berpacaran dengannya. Dia melakukannya dengan sebuah ancaman padamu. Bu guru ingin agar semuanya menjadi kesalahannya."


Prothos sangat tidak mengira Widia akan berbuat seperti itu agar dirinya tidak dikeluarkan dari sekolah.


"Dia sudah mengira kalau Wilda berencana mengeluarkanmu dari sekolah, dan itu benar. Setelah kau mengabaikannya dan kabar kalau dia dan kau sebenarnya tidak berpacaran beredar, dia hendak ke ruang kepala sekolah untuk memberitahu tentang hubunganmu dengan bu guru ke kelapa sekolah tadi. Namun sebelumnya aku lebih dulu menceritakan pada kepala sekolah kalau kau hanya korban, seperti permintaan bu guru. Jadi kau tidak akan dikeluarkan."


"Kenapa kau tidak memberitahu aku?!" Seru Prothos tampak kesal, dia langsung beranjak berdiri. "Kabar ini akan membuatnya tidak akan bisa menjadi seorang guru lagi. Kehormatannya sebagai guru sudah tercoreng, bahkan sebagai wanita citranya menjadi buruk. Seharusnya dia tidak melakukannya. Seharusnya aku saja yang dikeluarkan dari sekolah. Kenapa kau menyetujui permintaannya tanpa memberitahuku dulu?!"


"Dia ingin kau lulus walau harus mengorbankan karirnya sebagai guru." Ujar Anna dengan air mata yang mengalir melihat Prothos yang tampak putus asa. "Itu yang dikatakannya padaku."


"TIDAK! AKU AKAN MENGATAKAN YANG SEBENARNYA PADA SEKOLAH!! INI SEMUA KESALAHAN AKU!! AKU YANG HARUS MENANGGUNG AKIBATNYA!! AKU TIDAK BISA MEMBIARKAN WIDIA BERKORBAN UNTUKKU!!"


Melody membuka pintu dan langsung memeluk Prothos. Dia tidak tega mendengar teriakan kesedihan kakaknya itu.


"Sudahlah kak, jangan lakukan itu. Bu guru ingin kau lulus. Jangan membuat dirimu dikeluarkan juga dari sekolah." Pinta Melody memeluk kakaknya dengan air mata terurai. "Kalau itu kau lakukan, apa yang dilakukan bu guru akan sia-sia."


Prothos menangis dipelukan Melody. Dia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Yang dikatakan Melody benar, jika dia mengaku salah juga maka pengorbanan Widia untuknya akan sia-sia. Tapi kenyataan kalau dirinya tidak bisa berbuat apapun hingga membuat Widia mengorbankan diri untuknya membuat Prothos sangat terpukul. Dia sangat bersedih karena tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya dan harus membiarkannya pergi dengan sebuah pengorbanan demi dirinya.


...–NATZSIMO–...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masalah ini pernah dibahas Anna pada Prothos di Season pertama di Bab. Pertandingan Golf.