MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
146. SEMUANYA TERLALU KEBETULAN



Prothos membuka pintu kamar Athos dengan kasar. Saat ini dirinya menjadi kesal pada kembarannya tersebut karena Athos tidak mengatakan apapun mengenai Mona yang akan menjadi asisten sekaligus manager-nya.


"Kau keterlaluan, Ato. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku terlebih dulu?" Tanya Prothos menatap kesal Athos. "Jadi itu yang dimaksud kau memecatnya?"


Athos tertawa melihat rasa kesal kembarannya itu. Dia memang sengaja tidak ingin mengatakan apapun dulu untuk melihat reaksi Prothos pada keputusannya yang membuat Mona menjadi asisten dan manager-nya.


"Apa ada masalah?" Ucap Athos. "Mona akan membantumu mengurus segalanya. Dia akan membuatmu terkenal dengan sangat cepat."


"Aku bisa melakukannya sendiri." Jawab Prothos. Tapi tiba-tiba Prothos tersenyum. "Ya baiklah, dia pasti akan bekerja dengan sangat baik."


"Kau tidak bisa memecatnya karena aku yang mempekerjakannya."


"Aku tidak akan pernah memecatnya." Seru Prothos berjalan keluar kamar.


...***...


Aramis berada di sebuah studio tato milik Hansen yang juga merupakan montir pemilik bengkel, teman Lion. Saat ini pemuda itu sedang berbaring di sebuah ranjang khusus yang berada di dalam studio tersebut.


Hansen duduk di sebuah kursi di sisi kiri Aramis. Hansen sedang mengukir sebuah tulisan atau gambar di lengan kiri bagian dalam tangan Aramis. Saat ini untuk pertama kalinya pemuda itu membuat sebuah tato.


"Jadi benar kau dan Anna berpacaran?" Tanya Hansen saat melihat hasil karyanya di lengan Aramis yang bertuliskan A&A.


"Tidak, kami sudah menikah." Jawab Aramis dengan sedikit tersenyum.


"Ya, ini bentuk yang bagus A&A, inisial nama kalian dan bisa juga dibaca Anna. Kau beruntung, dia gadis yang sangat keren." Ujar Hansen. "Semoga dia cepat kembali."


"Minggu depan buatkan juga di rusuk kanan dan punggungku." Ucap Aramis. "Aku akan memenuhi tubuhku dengan tato. Aku tidak akan kalah dari ayahku. Dia membuat tato lukisan istrinya yang dibuatnya full di punggungnya."


"Ya, kau bisa melakukannya. Kau juga seorang seniman seperti ayahmu." Jawab Hansen. "Tapi kau tidak perlu membuat gambar Anna, karena belum tentu dia kembali kan?"


"Tidak masalah. Mau dia kembali atau tidak, aku akan tetap membuatnya. Ibuku juga meninggalkan ayahku sangat cepat tapi dia mengukir gambarnya di tubuhnya."


"Kau memang bodoh, Ars." Seru Hansen dengan menggelengkan kepalanya. "Itu berbeda, ayahmu sudah menikah dengan ibumu tapi kau dan Anna bahkan tidak berpacaran."


"Kami sudah menikah!!" Seru Aramis dengan kesal. "Aku tidak akan pernah mencari penggantinya seperti ayahku yang tidak mencari wanita lain walau ibuku sudah lama meninggal."


"Ibumu meninggal tapi Anna masih hidup. Kalau dia tidak kembali padamu itu kata lain kau dicampakkan olehnya. Kau benar-benar bodoh." Hansen tampak kesal pada Aramis.


"Itu sama saja, mereka sama-sama pergi dan aku maupun ayahku masih tetap mencintai mereka, tidak ada yang berubah." Jawab Aramis dengan ekspresi yang menjadi sayu.


...***...


Prothos bersama Mona masuk ke salon dimana salon tersebut adalah langganan Prothos. Salon yang dulu pernah dirinya membawa Widia saat pemuda itu membantu gurunya yang akan menghadiri pernikahan mantan kekasihnya.


"Ricky..." Seru Prothos saat masuk ke salon tersebut dan melihat penanggungjawab salon itu.


"Si tampan Prothos." Ujar Ricky yang tersenyum menghampiri Prothos dan Mona. "Sudah lama sekali kau tidak ke sini. Rambutmu sudah sangat panjang hingga membuatmu seperti wanita."


"Sialan kau." Gumam Prothos.


"Ricky, buatlah dia lebih terlihat fresh dan kalau perlu warnai rambutnya." Seru Mona.


Prothos terkejut ketika Mona berbicara dengan Ricky, dari cara bicaranya gadis itu seperti sudah mengenal Ricky sebelumnya.


"Mona, sudah lama tidak melihatmu." Ricky tersenyum pada Mona. "Sepertinya kau semakin di kenal para artis sekarang."


"Kau mengenal gadis ini?" Tatap Prothos terkejut karena tidak mengiranya. "Astaga, kau kenal semua orang."


"Ya, orang yang menabrakku dan pergi begitu saja tanpa meminta maaf malah datang ke sini dan duduk manis di depanku. Rasanya waktu itu aku ingin membotaki rambutnya." Jawab Mona dengan kesal saat mengingat kejadian seorang murid laki-laki berseragam menabraknya saat berjalan di mall, dan ternyata murid itu adalah Prothos.


Prothos terdiam, dan dia masih ingat sekali pada kejadian itu karena waktu itu dirinya melihat kekasihnya sedang berada di suatu restoran bersama seorang pria setelah mengaku belajar kelompok bersama temannya. Karena rasa sedihnya waktu itu, Prothos berjalan dengan gontai hingga menabrak seorang gadis namun berjalan begitu saja tanpa meminta maaf padanya. Dia tidak mengira jika gadis itu adalah Mona. (Ini ada di bab Prolog di Novel pertama ya).


"Sebaiknya kau saja yang memotong rambutnya, Mona." Ujar Ricky pada Mona. "Aku akan mencarikan warna yang cocok untuknya walau aku yakin warna apapun akan cocok."


"Ya baiklah." Jawab Mona langsung berjalan menuju salah satu kursi. "Apa yang kau lihat? Cepat sini!!"


Prothos masih mematung karena dia sama sekali tidak mengira pada apa yang terjadi. Jadi sebelumnya dia sudah pernah bertemu dengan Mona. Karena rasa sedih waktu itu, dia sampai tidak melihat ke sekelilingnya saat rambutnya sedang dipotong. Bahkan dia tidak melihat gadis yang memotong rambutnya dulu.


Dengan tawa tidak percaya, Prothos berjalan mendekati Mona. Dia merasa semuanya terlalu kebetulan untuknya.


"Duduklah." Seru Mona berdiri di belakang sebuah kursi dengan sehelai kain putih dibawanya.


Dengan segera Prothos mengikuti instruksi Mona dengan duduk di kursi tersebut. Mona langsung memakaikan kain putih itu pada Prothos lalu menyisir rambutnya. Prothos masih tidak percaya dengan gadis yang ada di belakangnya, dan terus menatap padanya dengan senyum heran.


Sejenak Mona membuka handphone-nya untuk melihat-lihat model rambut populer di kalangan para model internasional.


"Model apa saja pasti akan cocok diwajahku." Seru Prothos menatap Mona dari pantulan cermin di hadapannya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membotaki rambutmu." Jawab Mona sambil meletakan handphone miliknya ke meja di hadapan Prothos.


"Apa katamu?" Prothos terlihat ketakutan kalau Mona benar akan membotaki rambutnya.


"Kau bilang model apapun cocok dengan wajahmu kan? Jadi tidak masalah jika aku botaki rambutmu. Aku juga ingin lihat apa akan cocok atau tidak." Ujar Mona saat kembali ke posisinya dan siap untuk mengeksekusi rambut Prothos. "Aku akan balas dendamku dulu."


Prothos langsung bangkit berdiri karena takut Mona bersungguh-sungguh membotaki rambutnya. Pemuda itu menatap Mona dengan tatapan tidak percaya.


"Ada apa?" Tanya Mona.


"Ricky, kau saja. Aku tidak percaya padanya." Seru Prothos menoleh pada Ricky.


Ricky dan beberapa pegawai salon tersebut tertawa mendengar dan melihat mereka berdua.


"Duduklah, aku tidak serius mengatakannya." Ucap Mona tertawa mengejek. "Tidak mungkin aku melakukannya, bodoh."


Prothos kembali duduk dengan perasaan yang masih sedikit takut kalau-kalau Mona berubah pikiran lagi karena kesal dan membotaki rambutnya.


"Aku akan membuatmu terkenal dalam waktu singkat, tidak mungkin aku melakukannya." Seru Mona sambil menggunting rambut Prothos.


"Aku akan memecatmu kalau kau sampai melakukannya." Ancam Prothos.


"Kau tidak bisa memecatku karena Athos yang mempekerjakan aku." Jawab Mona dengan menyunggingkan senyum mengejeknya pada Prothos. "Lagi pula kalau bukan karena perjanjian yang diajukannya padaku, aku juga tidak ingin menjadi asistenmu."


"Memang apa perjanjiannya?" Tanya Prothos penasaran.


"Jika dalam sebulan ini kau mendapatkan kontrak, aku akan mendapatkan semua dari pembayarannya, dan aku rasa aku sudah mendapatkannya." Jawab Mona dengan sebuah senyum senang.


"A—apa?" Prothos terkejut mendengarnya.


...–NATZSIMO–...