MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
169. KEMBALINYA MUSUH LAMA



Lion membuka pintu kamar Niko ketika waktu sudah malam. Pemuda itu melangkah masuk menghampiri Niko yang sedang duduk di atas tempat tidur bersandar dengan santai.


"Ini sudah malam, dan besok kita masih ujian seharusnya kau belajar, Lion." Seru Niko menyambut kedatangan Lion dengan sedikit mendengus dan tawa kecil.


"Ini masih jam delapan malam, bahkan Cinderella pun baru akan pulang setelah jam dua belas malam." Jawab Lion membalas ucapan Niko juga dengan sedikit mendengus. "Kau juga kenapa tidak belajar?"


Mendengarnya Niko tertawa sambil menegakan duduknya.


"Ada apa kau ke sini?" Tanya Niko. "Apa mengenai pesan itu? Aku rasa itu tidak ada hubungannya denganku."


"Kemarin aku bilang agar kau menjaga calon tunanganmu. Apa itu tidak berarti kalau semua yang akan terjadi ada hubungannya denganmu?" Ujar Lion masih tetap tidak bergeming diposisinya yang berdiri.


"Kau tidak perlu mengatakannya, aku pasti akan menjaganya, kan?" Tatapan Niko menjadi menajam pada Lion.


"Ya sepertinya aku tidak perlu khawatir."


"Kau ingat janjimu kan? Kalau kau tidak akan ikut campur ataupun melakukan apapun jika sesuatu terjadi? Akulah yang akan melakukannya. Kau tidak perlu khawatir. Kau juga masih harus membuatnya membencimu." Jawab Niko terdengar ringan di telinga Lion.


"Sudah seharusnya kau menjaganya. Aku juga ingat janjiku itu." Ucap Lion. "Tapi Niko, jika sesuatu terjadi aku tidak akan mengampunimu."


"Hei hei Lion... Kenapa sepertinya sekarang kau terdengar seperti menantangku?" Seru Niko.


"Tidak, aku hanya ingin memastikan kau akan menjaganya dengan sangat baik."


"Ada apa? Kenapa sepertinya kau gusar? Apa ini mengenai WizardLine?"


"Sebenarnya aku pun sudah tahu siapa dia, namun sayangnya tidak ada yang bisa aku lakukan padanya saat ini." Jawab Lion mengepalkan kedua tangannya tampak kesal jika mengingat siapa WizardLine yang sebenarnya. "Aku tidak akan melakukan apapun, kau dengar? Aku tidak akan melakukan apapun!!" Suara Lion terdengar semakin keras.


Niko tertawa mendengarnya.


"Sudah aku bilang kau tidak perlu khawatir. Pergilah bersenang-senang saat pertunangan kami. Tapi aku tetap akan menunggu hadiah darimu sekarang." Seru Niko.


Lion menghela napasnya, tampak menahan dirinya untuk tidak mengatakan atau melakukan sesuatu saat ini. Setelah itu dia berjalan keluar dari kamar.


Niko kembali bersandar ke sandaran tempat tidurnya dengan sebuah tawa.


"Kau bisa keluar sekarang. Dia sudah pergi. Kau dengar, WizardLine?!" Seru Niko.


Lemari pakaian di kamar tersebut terbuka dan keluar seorang pemuda berambut pirang yang bernapas dengan terengah-engah.


"Oh my goodness, I can't f* breathe!! Sh*it!!" Geram Liam mengibas-ngibaskan bajunya karena merasa sulit bernapas.


"Percuma saja kau bersembunyi, sepertinya dia pun tahu kau bersembunyi di sana." Ujar Niko dengan tatapan tajam pada Liam.


"Ya itu semua karena aktingmu yang buruk." Jawab Liam dengan membuang napas dari mulut. "Jadi bagaimana sekarang? Apa kau ingin bertaruh padaku?"


"Kau pun juga sudah dengar sendiri kan, kalau dia tidak akan melakukan apapun."


"Jika seperti itu, berarti kau tidak masalah bertaruh kan?" Liam menyunggingkan senyumnya.


"Ya baiklah, aku tidak pernah takut pada apapun walau aku harus kehilangan segalanya yang aku punya." Niko menyunggingkan senyumnya dengan penuh percaya diri.


"Kau lihat saja, aku ini pawangnya... Hanya dengan menjentikkan jari dia akan menggigitmu. Ya, karena aku adalah WizardLine." Ucap Liam tidak kalah percaya diri dari Niko sambil menjentikkan jarinya. "Semuanya jadi menarik ketika seorang wanita muncul."


...***...


Lion yang baru saja turun dari halte bus dan harus berjalan masuk ke dalam komplek rumahnya sejauh satu kilometer, mendapatkan telepon dari Kevin. Sambil berjalan pemuda itu menerimanya.


"Halo, bagaimana? Kau jadi ikut, kan?" Tanya Lion.


"Tidak masalah." Ucap Lion merasa senang mendapatkan teman yang akan ikut bepergian dengannya.


"Apa negara pertama yang akan kita kunjungi?" Tanya Kevin di ujung telepon.


"Jepang. Aku ingin memakan ramen terlezat di dunia di sana. Malam harinya kita akan langsung mendaki gunung Fuji. Apa tidak masalah jika kita langsung bepergian malamnya?" Tanya Lion.


"Ya baiklah tidak masalah. Kita akan bersenang-senang selama satu tahun. Aku akan mengikutimu kemanapun kau melangkah." Seru Kevin. "Aku akan langsung membeli tiket pesawat ke Jepang dan akan mengabarimu untuk jam penerbangannya."


Setelah perbincangan dengan Kevin berakhir, Lion memasukan handphone-nya ke saku celana dan terus berjalan.


Namun tiba-tiba melintas mobil Lamborghini Reventon berwarna kuning sangat cepat. Lion tampak tidak asing dengan mobil itu. Bahkan dia merasa mengenali seseorang yang mengendarainya walau hanya melihatnya sekelebat.


Secepatnya pemuda itu berusaha berlari mengejar mobil tersebut namun mobil itu melaju sangat cepat sehingga dirinya tidak mampu mengejarnya.


Dengan napas tersengal-sengal, Lion mengambil handphone-nya untuk menghubungi Ivan karena ada yang harus dirinya sampaikan mengenai seseorang pengendara mobil tadi.


"Ada apa Lion? Seharusnya kau belajar, jangan ganggu aku belanjar." Ujar Ivan.


"Ivan, bisa kau cari tahu tentang Felix? Apakah saat ini dia masih di Amerika atau di mana keberadaannya sekarang?" Tanya Lion masih mencoba mengatur napasnya.


"Felix? Si bajingan yang mencoba menyentuh adiknya Ars?" Ivan balik bertanya. "Memangnya ada apa, Lion?"


"Aku baru saja melihatnya." Jawab Lion. "Tapi karena mobilnya melaju sangat cepat aku hanya melihatnya sekelebat. Jika dia tidak ada di Amerika, segera tanya ke semuanya. Mungkin saja salah satu dari mereka tahu keberadaannya saat ini.


"Baiklah. Oh iya Lion, apa kau sudah tahu siapa itu WizardLine? Baru saja aku meretas IP yang menerobos masuk ke website, tapi belum sempat aku melakukan apapun. Orang yang membantu WizardLine menghentikannya. Dia bilang, dia adalah Light Falsehood."


"Light Falsehood?" Lion tampak berpikir. "Tidak, aku rasa aku tidak akan memedulikan apapun selain Felix saat ini."


Pikiran Lion menjadi bercampur aduk saat kembali berjalan ke rumahnya. Walau dia hanya melihat si pengemudi mobil sekelebat tapi dia sangat yakin kalau mobil itu adalah mobil Felix.


Melihat kehadiran Felix membuat Lion menjadi gusar. Semuanya menjadi bercampur aduk di kepalanya. Dirinya sangat yakin kalau WizardLine adalah tidak lain dan tidak bukan yaitu sepupunya sendiri William akan tetapi kenapa kehadiran Felix bisa ada di waktu yang bersamaan dengan munculnya WizardLine?


Lion yakin kalau Liam bersama dengan ketiga Musketeers merencanakan sesuatu tapi apakah Felix ada kaitannya dengan rencana mereka? Apakah itu mungkin?


Tiba-tiba sebuah mobil berjalan lambat di samping Lion yang sedang berjalan di trotoar. Bunyi klakson mobil itu menyadarkan Lion dari semua yang sedang dipikirkannya saat ini.


"Lion, sedang apa kau? Ayo naik!" Seru Mona si pengendara mobil.


Lion yang menoleh pada gadis itu langsung segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Mona yang sedang menyetir.


"Kenapa kau malah keluyuran? Besok kau masih ujian kan? Seharusnya kau belajar." Ujar Mona sambil menatap ke depan karena sedang menyetir.


"Kau habis berbelanja?" Tanya Lion memperhatikan kursi belakang yang terdapat banyak kantong belanjaan yang terisi penuh.


"Hhmm." Jawab Mona sedikit mengangguk. "Ada apa? Kau tampak sedang memikirkan sesuatu saat berjalan tadi, sampai-sampai aku harus mengklaksonmu beberapa kali karena kau terlalu serius berkutat dengan pikiranmu."


"Mona, apa yang direncanakan oleh mereka semua? Apa kau tahu sesuatu?" Tanya Lion menatap Mona.


"Tidak, mereka tidak memberitahuku apapun." Jawab Mona. "Tapi mereka menyebut sesuatu sebagai misi LMN. Itu jelas sekali singkatan dari nama kalian bertiga." Mona tertawa kecil saat mengatakannya.


Lion memang sudah mengira kalau ketiga Musketeers dan Liam berencana menghentikan pertunangan Melody dan Niko, bahkan mereka menyebutnya misi LMN, Lion-Melody-Niko. Tapi dirinya tidak tahu sama sekali apa rencana mereka berempat itu. Ditambah dengan kehadiran Felix, itu membuat semua menjadi runyam saat ini baginya.


...–NATZSIMO–...


Untuk siapa itu Light Falsehood akan terbongkar identitasnya di novel yang berjudul Obsesi Cinta CEO Gay. Kisah dalam novel itu adalah 5 tahun setelah jilid kedua ini selesai.


Jangan lupa baca juga ya ☺