MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
055. DUKA SEPASANG HARIMAU



Anna membuka pintu rumahnya ketika seseorang menekan bel. Dia sudah tahu siapa yang akan datang karena saat pulang sekolah tadi, dirinya menghubungi orang tersebut untuk memintanya membantunya melakukan sesuatu.


"Kau membawa yang aku minta?" Tanya Anna duduk di sofa ruang tamu menatap pemuda yang berdiri di hadapannya tidak jauh dari pintu masuk. "Ars sedang ke café, dia tidak akan mengganggu."


"Kau yakin ingin melakukannya?" Tatap Lion yang membawa sebuah kantong digenggaman tangan kirinya. "Kenapa kau memintaku yang melakukannya?"


...***...


Melody duduk di atas tempat tidur sambil membuka forum website sekolahnya yang selalu dijadikan tempat berinteraksi semua murid di sekolah. Dia melihat video dan foto tentang dirinya dan Lion ketika Lion menggendongnya ke ruang UKS tadi di sekolah. Saat ini hal itu menjadi pembahasan di forum tersebut.


Mereka sangat rumit, sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu? Kenapa dia merasa takut pada calon tunangannya dan membiarkan Lion yang menggendongnya?


Kalian lihat wajah Niko tadi? Kasihan sekali dia. Melody mempermainkan mereka berdua. Apa karena dia merasa diuntungkan menjadi adik Musketeers, dia jadi mempermainkan mereka berdua?


Aku juga berpikiran hal yang sama. Dia memang cantik seperti ketiga kakaknya yang tampan tapi dengan sifat seperti itu kenapa Niko bisa menyukainya? Niko bisa mendapatkan yang lebih baik dari Melody.


Bagaimana dengan Lion? Apa dia bersikap seperti itu padanya apa hanya karena mereka berteman? Aku rasa saat dia tahu gadis itu akan bertunangan dia harusnya tidak ikut campur lagi.


Padahal kemarin aku dengar Lion berpacaran dengan Karen, tapi yang terjadi hari ini sangat membingungkan.


Melody lah yang harus disalahkan. Dia pasti hanya berakting tadi. Niko tidak berbuat apapun padanya tadi. Dia hanya mencari perhatian mereka berdua.


Aku juga setuju dengan hal itu. Ketiga kakaknya yang memanjakannya membuatnya jadi gadis arogan.


Melody menjadi merasa bersalah dengan semuanya yang terjadi tadi. Semakin banyak murid perempuan yang membenci dirinya saat ini. Selain karena sifat Melody yang dingin, semua perbuatannya dianggap negatif hanya karena dirinya adalah adik ketiga Musketeers yang terkenal itu.


Tiba-tiba muncul sebuah gambar yang menurut Melody seharusnya gambar itu hanya dimiliki oleh dirinya dan Niko. Foto saat di bioskop, Niko melingkarkan tangannya ke leher Melody dari belakang dan membuat gestur seperti ingin menghisap darah di leher Melody dengan menundukan kepala ke leher kanan Melody.


Dia ketakutan karena aku ingin menghisap darahnya lagi. Jangan bicara hal-hal buruk pada calon tunanganku!! Aku tidak akan mengampuni kalian semuanya!!


Melody terkejut ketika username tersebut adalah nama Niko. Dia baru ingat kalau Niko memang sering membuka forum tersebut karena tidak jarang foto-foto dirinya yang diambil secara diam-diam beredar disana.


Namun Melody jadi merasa malu karena Niko menyebarkan foto tersebut dan mengatakan hal seperti itu untuk membelanya.


Dia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Dia harus sesegera mungkin menyukai Niko, itu yang saat ini ada di benaknya. Itu juga yang diinginkan Lion.


"Melo, boleh paman masuk?" Tiba-tiba terdengar suara Ronald dari luar.


Melody langsung membuka pintu kamarnya dan duduk di sisi tempat tidur. Ronald menatapnya sebelum mengatakan sesuatu pada kemenakannya itu.


"Melo, kau baik-baik saja?" Tanya Ronald duduk di kursi. "Apa sebaiknya kita menemui psikolog? Besok kau bisa ikut paman menemui teman paman."


"Tidak paman, aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut tadi."


...***...


"Karena hanya kau yang tau rahasiaku." Jawab Anna. "Aku harus melakukannya, karena sepertinya ini semakin buruk dan terlihat aneh."


Anna menjawab pertanyaannya Lion. Tak ada siapapun yang mengetahui rahasia penyakit Anna selain Ronald dan Lion.


"Anna, sebaiknya kau beritahu Ars tentang penyakitmu." Ujar Lion.


Anna menggeleng.


"Lalu apa yang akan kau lakukan saat Ars melihatmu nanti?"


"Aku berencana menjual rumah ini dan pergi."


"Kau ingin meninggalkan Ars?" Tanya Lion heran.


"Tanpa memberitahu yang sebenarnya pada Ars?"


"Aku tidak ingin dia mengkhawatirkan aku." Jawab Anna menatap Lion agar pemuda itu mengerti. "Aku ingin kembali saat sembuh nanti untuk menemuinya, tapi ada hal yang tidak bisa dipastikan."


Lion sudah bisa mengira mengenai hal apa itu. Dia tidak ingin bertanya karena itu pasti sangat menyakitkan untuk Anna.


"Aku tidak akan mengingatnya lagi, atau..." Anna berhenti bicara menahan air matanya. "Aku meninggalkan dunia ini dan tidak akan bisa menemuinya lagi." Air mata Anna mulai mengalir tanpa bisa ditahan dan dadanya terasa sesak saat mengatakannya.


"Karena itu kau harus mengatakannya sekarang padanya. Itu tidak adil untuk Ars."


"Lalu apa itu adil untukku?" Tanya Anna dengan lirih. "Setidaknya biarkan dia membenciku agar saat aku pergi dia tidak akan menderita."


Lion menahan amarahnya karena tidak setuju dengan perkataan Anna namun dia tidak bisa berbuat apapun.


"Ini sangat tidak mudah untukku Lion. Aku sangat ingin sembuh dan bisa mewujudkan apa yang diinginkannya. Aku sangat ingin memanjangkan rambutku dan menikah dengannya satu tahun lagi. Karena itu, ini juga tidak adil untukku."


Lion menghampiri Anna dan duduk di samping gadis yang sedang sangat bersedih itu. Dia tidak ingin mengatakan apapun lagi padanya, dirinya pun menjadi sangat bersedih mendengar semuanya. Lion hanya bisa membiarkan Anna menangis di pundaknya.


...***...


Anna duduk di dalam kamarnya, melihat-lihat foto dirinya bersama Aramis di galeri handphone. Dia menggunakan hoodie dengan penutup kepala melapisi topi yang dipakainya. Sesekali dia mengusap air matanya. Tersungging senyum simpul di bibir pucatnya saat melihat foto-foto tersebut.


Tiba-tiba suara pintu rumahnya terbuka. Saat ini sudah pukul sembilan malam. Dia tahu Aramis lah yang masuk. Terdengar langkahnya menaiki tangga lalu mengetuk pintu kamar Anna. Anna tak bergeming dari tempatnya.


"Kau sudah tidur?" Tanya Aramis.


"Aku akan tidur sebentar lagi. Pulanglah." Jawab Anna dari dalam kamar.


"Aku membawakan sesuatu untukmu. Besok ada acara makan malam untuk semua peserta kompetisi melukis yang lulus babak seleksi, dan aku lulus. Kau dengar kan?"


"Iya aku dengar." Sahut Anna.


"Aku ingin kau ikut denganku ke makan malam itu. Kau bisa makan sepuasnya disana. Tahun lalu makanannya sangat enak, kau harus mencobanya karena itu aku ingin mengajakmu."


"Kenapa kau baru bilang?" Tanya Anna menghapus air mata yang menetes ke pipinya.


"Baru ada kabar itu tadi siang." Ujar Aramis. "Kau juga pasti menolak ikut dengan banyak alasan kalau aku mengatakannya jauh-jauh hari."


Anna beranjak dari duduknya dan berdiri di balik pintu mendengar ucapan Aramis. Dia tidak berniat untuk membuka pintunya dan menemui pemuda itu, namun dia merasa saat ini dirinya ingin sekali mendekati Aramis. Akan tetapi gadis itu hanya bisa berdiri dibalik pintu dengan air mata kesedihan.


"Kau harus mengenakannya ke acara makan malam itu, kau tidak bisa menolak lagi." Seru Aramis. "Aku letakan disini. Aku akan pulang sekarang."


Setelah itu Aramis berjalan pergi dan keluar dari rumah Anna.


Anna segera membuka pintu kamarnya dan melihat sebuah totebag berada di gantungan gagang pintu kamar. Anna langsung mengambilnya.


Dengan perlahan dia membuka dan mengeluarkan sebuah gaun berwarna merah dan sepasang sepatu hitam dengan hak tinggi. Keduanya terlihat sangat indah di matanya.


Melihatnya membuat Anna menangis. Karena dia tidak bisa datang ke acara makan malam itu. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin datang menemani Aramis.


Dia melepaskan penutup kepala beserta topi yang dipakai. Anna mencukur semua rambutnya dengan meminta bantuan Lion tadi sore. Efek dari kemoterapi membuatnya harus melakukan hal itu karena rambutnya mengalami kerontokan yang sangat parah.


Anna menangis sesungukan pasrah dengan keadaan dirinya saat ini.


......–NATZSIMO–......