
Lion menemui Prothos di kantin rumah sakit. Saat ini ada yang ingin disampaikan olehnya, pesan dari Athos sebelum semua yang menimpanya terjadi.
"Ato bilang kalau dia ingin meringankan hukumannya, karena dia berpikir kalau yang terjadi pada dirinya semua juga disengaja. Dia hanya ingin Tasya tidak menikah, hanya itu." Ujar Lion yang duduk di hadapan Prothos.
"Benarkah? Apa-apaan dia? Aku tidak akan membiarkan pecundang itu bebas." Geram Prothos.
"Tapi bukan berarti dia bebas, dia akan tetap dihukum." lanjut Lion. "Ato juga meminta padaku untuk mengatakannya padamu, kau tidak perlu berbuat apapun, kalian semua tidak perlu melakukan apapun hingga dia tersadar. Dia yakin kalau dia akan bisa selamat karena itu dia tidak ingin kalian melakukan apapun. Dia ingin dirinya sendiri yang menentukan segalanya. Tapi jika sampai sebulan dia juga tidak bangun, dia ingin kau menuntut kembali pecundang itu dengan tuntutan berlapis, pembunuhan berencana. Dia ingin memastikan agar Tasya tidak menikah dengan pecundang itu."
"Kau sudah tahu kan dimana dia saat ini?" Tatap Prothos dengan kesal.
"Kau juga tidak perlu khawatir masalah itu. Aku juga ingin melakukan banyak hal padanya sebelum dia ditangkap." Jawab Lion. "Kau hanya perlu menjaga adikmu karena dia melihat saat penusukan itu terjadi. Dia pasti mengalami syok saat ini."
Prothos sangat mengerti pada ucapan Lion. Bahkan hanya Lion yang memikirkan hal tersebut mengenai Melody yang melihat penusukan itu.
"Lion, kau tidak usah ikut-ikutan dalam masalah ini, kau bisa terseret juga karena pasti kau pun akan diperiksa. Ato yang memintamu membawakan pisau itu padanya, bukan?"
"Kau tenang saja, Oto. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku anak baik." Ujar Lion dengan tatapan tajam. "Semua orang tahu itu."
...***...
"Ini sangat gawat." Gumam Ivan yang berada di rumahnya bersama beberapa temannya.
"Gawat kenapa?" Tanya salah seorang temannya yang juga adalah teman Lion. "Apa Lion mengatakan sesuatu?"
"Dia berniat menggunakan taringnya jika Dion tidak mendengarkan kata-katanya." Jawab Ivan yang langsung membuang napas duduk di sofa. "Baru kali ini dia semarah itu saat seseorang meremehkannya."
"Benarkah?"
"Apa maksud dari taringnya?" Tanya yang lain.
"Kau tidak tahu? Selama ini Lion tidak pernah menggunakan taringnya, dia hanya mengaum pada semua orang yang tidak dia suka. Selama ini dia melakukan segalanya sendirian dengan kemampuannya." Jawab yang lainnya.
"Lalu apa itu taringnya?"
"Ayahnya." Jawab Ivan. "Jangan sampai dia meminta bantuan ayahnya. Sebaiknya hubungi Dion agar dia mau menyerahkan diri sebelum batas waktu yang diberikan Lion. Pergilah bersama beberapa orang menemuinya. Aku pun malas melihat wajah pecundang itu." Ivan memberikan kertas berisi alamat tempat Dion bersembunyi. "Aku akan menemui Lion nanti, aku akan membujuknya agar tidak bertindak gegabah kalau Dion tetap tidak mau menyerahkan diri."
...***...
Di luar rumah sakit sudah dipenuhi media. Hari ini seorang Jaksa beserta detektif yang mengurusi kasus penusukan Athos juga sudah datang untuk melihat kondisi Athos yang masih dalam pemantauan tim dokter.
"Dia hanya ingin datang ke acara itu, tapi tampaknya si pelaku merasa terancam dengan kehadirannya." Ucap Prothos saat seorang detektif dan seorang Jaksa menemuinya. "Ayah kami tidak ingin menemui kalian, dia meminta aku yang mengurusi masalah ini."
"Ya, aku mengerti. Pasti sangat sulit untuknya dengan semua yang terjadi pada salah satu anaknya."
"Kami juga belum merencanakan apapun untuk kasus ini, karena kami semua yakin Athos akan selamat." Tambah Prothos.
"Baiklah, tapi kasus ini akan tetap kami proses karena melihat reaksi masyarakat yang sangat mendukung kembaranmu itu." Jawab seorang Jaksa yang datang. "Menurutmu apa yang terjadi pada kembaranmu apakah pantas dia terima?"
"Tentu saja tidak. Dia hanya ingin melihat gadis yang dicintainya untuk terakhir kalinya, tapi dia harus menerima perlakuan naas ini hanya karena kehadirannya di pernikahan tersebut. Dia memiliki undangan, dia tidak menerobos masuk untuk menghentikan pernikahan itu. Adik perempuan kamipun ada di pesta itu bersama kekasihnya yang memiliki undangan, dia harus melihat bagaimana kakaknya ditusuk dengan sangat mengerikan. Itu membuat adik kami mengalami syok saat ini."
"Adik perempuan kalian? Dimana dia sekarang? Apa kami boleh menemuinya?"
Prothos membawa kedua orang tersebut ke kamar di mana Melody berada. Melody bersama Niko di dalam ruangan tersebut. Kehadiran kedua orang itu membuat Melody menjadi takut. Dia berpikir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Tidak apa-apa Melo, mereka hanya ingin datang melihatmu." Ujar Prothos yang langsung dipeluk Melody yang masih duduk di atas ranjangnya.
"Secara kebetulan mereka rekan bisnis keluarga ibuku. Pamanku yang menerima undangan tapi dia memintaku mewakilinya." Jawab Niko yang langsung bangkit berdiri.
"Kau bukan warganegara sini?" Tanya si Jaksa melihat Niko.
"Ya, aku berkewarganegaraan Rusia tapi tinggal disini karena ibuku berasal dari sini. Waliku adalah pamanku, namanya Edison Ciptajaya Hevitt, pemilik Grand Hevitt Hotel. Namaku Xander Nikolayevich Mordashov, anak dari Nikolai Alexandrovich Mordashov."
"Benarkah?" Si Jaksa terlihat sangat terkejut mendengar siapa Niko. "Ayahmu seorang miliarder di Rusia, keluargamu sangat kaya raya untuk apa kau tinggal disini?"
"Dia temanku, paman." Seru Lion yang baru masuk ke ruangan tersebut. "Apa aku juga akan ditanya? Aku juga ada disana waktu kejadian itu terjadi."
"Lion? Ya ampun, sudah lama kita tidak bertemu." Seru Jaksa tersebut memukul pundak Lion.
"Kau semakin tinggi ya, dua tahun yang lalu kau tidak setinggi ini." Tambah si detektif. "Jadi dia temanmu? Pantas saja."
"Keluarga kami berteman, kami sudah seperti saudara." Jawab Lion dengan tersenyum. "Niko, sudah aku bilang jangan suka pamer. Kau tidak perlu mengatakan siapa dirimu pada semua orang. Siapapun akan merasa aneh dengan keberadaanmu di negara ini."
"Jadi kalian berteman." Ujar si Jaksa. "Baiklah, sepertinya sudah cukup, kami akan pergi sekarang. Semoga kakakmu cepat pulih ya." katanya pada Melody yang masih merangkul pinggang Prothos.
"Ayo paman-pamanku, biar aku antar kalian." Seru Lion mempersilakan dengan gestur tangannya.
"Apa yang akan terjadi, kak?" Melody menatap Prothos saat kedua tamu sudah pergi.
"Tidak ada apa-apa, mereka hanya sedang bekerja." Jawab Prothos duduk di kursi menatap Melody. "Melo baik-baik saja kan?"
"Ya aku baik-baik saja." Jawab Melody. "Hari ini aku akan pulang, kak Oto disini menjaga kak Ato ya?"
Prothos menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sambil mengusap kepala adiknya.
Lion berjalan kembali dari mengantar Jaksa dan detektif tadi saat Niko berdiri bersandar pada tembok di luar ruangan menunggunya.
"Sepertinya kau mengurus semuanya dengan sangat baik, Lion." Ucap Niko dengan senyum melihat Lion. "Semuanya berada dalam genggamanmu."
"Kau bicara apa?" Tanya Lion dengan tatapan malas menanggapi perkataan Niko. "Aku hanya bersikap seperti biasanya. Kebetulan aku kenal mereka. Apa maksudnya semua berada dalam genggamanku?"
Niko tertawa mendengar ucapan Lion. "Mereka sangat beruntung memiliki teman sepertimu."
"Mereka juga beruntung akan memiliki ipar yang sangat kaya raya sepertimu, Niko." Lion langsung merangkul Niko. "Kau akan mengantar Melon pulang kan? Aku menumpang ya sampai rumah."
"Belilah motor atau mobil. Kau menyusahkan hidupmu sendiri." Ujar Niko menepis tangan Lion yang merangkulnya.
"Aku belum punya SIM, aku tidak ingin ditangkap." Jawab Lion menekuk wajahnya. "Bolehkan aku menumpang? Kalau tidak pinjami aku uang, kau kan sangat kaya."
"Jangan mengatakan hal bodoh padaku!"
Tiba-tiba handphone Lion bergetar. Lion langsung menjawabnya saat melihat kalau Ivan yang menelepon.
"Lion, dia sudah menyerahkan diri."
"Benarkah?" Lion tampak terkejut.
...–NATZSIMO–...