MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
144. SI PINTAR VS SI TAMPAN



"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanya Leo saat masuk membuka pintu kamar Athos setelah putranya itu meneleponnya agar menemuinya.


"Mengenai sesuatu hal yang sangat penting." Jawab Athos mencoba duduk dan bersandar di tempat tidurnya.


Leo segera duduk di kursi menghadap Athos, siap untuk mendengarkan anak tertuanya tersebut.


"Sebenarnya ada sesuatu hal yang kami sembunyikan darimu, ayah." Ucap Athos mengawali topik pembicaraan. "Saat kau tidak ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada Oto."


Mendengarnya Leo mendengus sambil mengusap wajahnya. Dalam benaknya dia bisa menebak apa yang terjadi pada anaknya yang satu itu. Setiap kali Prothos mengalami masalah percintaan Leo pun tahu kalau anaknya itu akan berada dalam kedukaan yang membuat Prothos mengacaukan hidupnya.


"Kali ini lebih dari sebelumnya, Oto sampai tidak fokus belajar lagi, dia tidak masuk sekolah hingga dua minggu dan sejak itu dia sudah tidak berniat melanjutkan rencana masa depannya lagi." Ujar Athos.


"Aku akan membunuh anak itu. Dia tidak pantas menjadi anakku. Dia tidak bisa memegang semua ucapannya, aku tidak pernah mengajarkannya seperti itu." Seru Leo dengan wajah yang marah.


"Dengarkan aku dulu, ayah." Ucap Athos.


"Tidak Ato, kau jangan melindunginya. Aku yakin kau akan melindunginya tapi aku tetap tidak akan mengampuni anak itu."


"Sebenarnya aku membutuhkan bantuannya untuk rencana masa depanku." Ujar Athos. "Mengenai bisnis yang sedang aku kembangkan. Aku membutuhkan dukungan Oto karena itu aku punya rencana yang lebih bagus dari pada kau memaksanya untuk melanjutkan pendidikannya sedangkan dirinya sudah tidak tertarik."


"Apa maksudmu?" Tatap Leo dengan penasaran.


"Aku ingin Oto terjun ke dunia hiburan. Dia bisa menjadi aktor, model, atau apapun yang bisa mengangkat namanya, karena aku ingin memakainya menjadi Brand Ambassador untuk produk perawatan kulit yang sedang aku produksi."


Leo terdiam sesaat. Dia memikirkan apa yang barusan dia dengar dari Athos. Selama ini dirinya tidak pernah melarang anak-anaknya dalam hal apapun namun mereka harus tetap melanjutkan pendidikannya. Apa lagi dengan Prothos yang selama ini dia anggap kalau anaknya itu tidak memiliki sesuatu hal yang bisa ditonjolkan dibanding kedua kembarannya, Athos dan Aramis. Athos adalah anak cerdas yang pintar, dia sudah mendapatkan banyak beasiswa sebelum mengikuti ujian kelulusan, sedangkan Aramis, walau sebelumnya anaknya yang itu tidak ada niatan untuk melanjutkan kuliah namun bakatnya sudah terlihat dengan seringnya memenangi beberapa lomba melukis. Tapi tidak dengan Prothos. Leo menganggap anaknya itu hanya memiliki wajah yang sangat tampan namun tidak memiliki bakat lainnya, bahkan nilai pelajarannya pun harus didapatkannya dengan susah payah jika ingin mendapatkan nilai yang bagus.


"Aku pernah bilang padamu kalau dibanding aku dan Ars, sejak dulu Oto yang paling terlihat jelas masa depannya tapi kau tidak pernah mengakuinya karena pemikiranmu mengenai pendidikan dan bakat adalah yang terpenting." Athos menatap tajam pada ayahnya berharap ayahnya itu mengerti. "Padahal dengan wajahnya dia lebih bisa bersinar dari pada aku dan Ars. Jika dia menjadi seorang selebritis, itu sama saja dia sudah membangun masa depannya. Aku harap kau mengerti."


Leo menbuang napas dengan tatapan tajam pada Athos. "Jadi kau mau agar aku membiarkan dia menjadi seorang artis?"


"Ya, aku yang menjamin semuanya, dalam sekejap aku sangat yakin kalau Oto akan langsung terkenal bahkan saat ini pun banyak orang sudah mengenalnya." Jawab Athos. "Ini bagus untuknya juga untukku. Kami berdua akan saling menguntungkan. Aku akan melebarkan sayapku dengan bantuan Oto. Kau harus menyetujui apa yang aku ucapkan, ayah."


Dengan tatapan kesal Leo melirik Athos. Jika yang berkata seperti itu adalah anak tertuanya yang selalu berhasil melakukan segala hal dengan usahanya, membuatnya tidak memiliki alasan lain untuk menentang permintaannya itu walau bertentangan dengan keinginannya.


"Ayolah, ayah. Bantulah aku untuk sesuatu yang ingin aku dapatkan ini."


"Ya, baiklah. Lakukan saja semuanya sesukamu. Walau aku menentangnya sekalipun kau pasti tidak akan mendengarkan aku kan? Dasar anak sombong."


Athos tersenyum mendengar jawaban dari ayahnya.


...***...


"Kau bisa memulainya besok, Mona." Ujar Athos yang berada di atas tempat tidur sedangkan Mona duduk di kursi meja belajar dengan laptopnya.


Seperti biasanya setiap malam Mona akan memberikan laporan pendapatan café pada Athos. Gadis itu akan datang ke kamar Athos untuk memberitahu mengenai omzet café, itu karena Athos belum bisa pergi kemana-mana tanpa bantuan siapapun.


"Sebaiknya kau mencari orang lain dan jangan kau sendiri yang melakukan semua pekerjaan rumah. Kau juga akan mulai kuliah nanti, di tambah kau juga masih harus mengurusi bisnis baru yang kau bilang kemarin kan? Sedangkan kondisimu saat ini masih seperti ini." Ujar Mona pada Athos. "Tidak masalah jika aku juga masih mengurus café untuk saat ini hingga Prothos benar-benar memiliki jadwal yang padat."


"Ternyata kau baik juga ya." Ucap Athos.


"Tidak juga. Aku tetap ingin menerima gaji dari pekerjaanku mengurus café dan rumah." Jawab Mona dan membuat Athos tertawa. "Itu juga berarti aku meminta tambahan sebagai upah menjadi asisten Prothos nanti. Aku ingin memasukan adikku ke sekolah bagus yang memiliki asrama jadi aku membutuhkan uang lebih."


"Tidak masalah." Jawab Athos. "Aku akan menambahkan dua puluh persen dari yang kau Terima saat ini."


"Aku pikir Prothos masih lebih baik dalam memberiku gaji dibanding kau. Tapi baiklah, akan aku terima."


"Itu karena dia tidak bisa menghitung dengan benar." Tawa Athos karena jawaban Mona. "Buatlah dia terkenal dengan cepat."


"Aku bisa menjamin itu." Jawab Mona.


Tiba-tiba Prothos membuka pintu kamar Athos. Pemuda itu keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi namun langkahnya terhenti ketika mendengar Mona berada di kamar Athos.


"Apa tidak bisa kalian berbicara besok pagi saja? Ini sudah hampir jam sebelas malam." Ujar Prothos berdiri di ambang pintu. "Kau itu seorang wanita, Mona. Tidak baik berada di dalam kamar seorang pria selarut ini."


Mona bangkit dari duduknya dengan menghela napas mendengar perkataan Prothos.


"Bukankah tidak ada bedanya pagi atau malam jika seseorang ingin berbuat hal yang tidak-tidak? Begitupun sebaliknya, tidak masalah mau pagi atau malam yang penting tidak ada hal buruk yang kami lakukan." Ucap Mona sambil berjalan keluar dari kamar Athos.


Prothos tidak menanggapi perkataan gadis itu dan segera masuk ke kamar Athos. Dia duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Mona, menatap kembarannya karena merasa jika Athos dan Mona bukan hanya membicarakan mengenai café.


"Apa benar kau memecat Mona?" Tanya Prothos.


Athos menahan tawanya mendengar pertanyaan Prothos.


"Dia bilang padaku seperti itu kemarin—"


"Aku sudah bicara pada ayah mengenai yang tempo hari aku katakan padamu." Sambar Athos. "Seperti biasanya, dia tidak akan bisa membantah perkataanku."


"Ato, seharusnya yang menjadi ayah di rumah ini adalah kau dan bukan pria itu." Ucap Prothos.


Perkataan Prothos membuat Athos tertawa.


"Tapi dia akan langsung membunuhku jika semua yang aku rencanakan gagal."


Kali ini Prothos yang tertawa mendengar perkataan Athos.


...–NATZSIMO–...