
Mona duduk di meja makan seorang diri ketika pukul lima pagi. Dia sudah menyiapkan sarapan sejak tadi namun yang lainnya belum ada yang turun untuk sarapan. Biasanya sepagi ini Prothos yang ada di meja makan setelah pulang dari lari pagi, akan tetapi entah kenapa pemuda itu tidak lari pagi hari ini.
Tatapan Mona mengarah pada handphone milik Prothos yang sejak kemarin diberikan kepadanya. Saat ini dia sedang membuka akun media sosial Prothos. Gadis itu terkejut ketika melihat pengikut Prothos di akun sosial medianya sudah mencapai dua juta lima ratus ribu lebih.
"Astaga, ternyata pengikutnya sudah sebanyak ini? Padahal dia belum menjadi apapun." Ujar Mona terkejut. "Membuatnya semakin terkenal pasti akan sangat mudah. Bahkan dalam sekejap aku rasa dia akan cepat kaya."
Gadis itu langsung membuka fitur pesan di akun tersebut. Banyak sekali pesan yang masuk dan sebagian besar adalah dari para wanita. Mona sedikit penasaran dan ingin tahu apa yang dikatakan para wanita itu pada Prothos.
Sebagian besar adalah ajakan untuk berkenalan ataupun bertemu dengan pemuda itu. Bahkan tak sedikit dari para wanita itu mengiriminya foto-foto dari yang biasa hingga yang vulgar. Dan ada beberapa pesan dari para artis wanita yang tampaknya juga tertarik pada Prothos hingga memberikannya nomer handphone. Namun yang menjadi perhatian Mona adalah beberapa pesan dari wanita yang tampaknya adalah mantan-mantan kekasih Prothos dan jumlahnya lumayan banyak. Tak ada yang dibuka Prothos satupun, sehingga Mona membukanya segera. Sebagian besar mengajaknya untuk berhubungan kembali dengan dirinya, yang lainnya menanyakan alasan kenapa Prothos memutuskan hubungan mereka.
"Di mana Oto?" Tanya Aramis yang tiba-tiba masuk dan langsung duduk di kursi meja makan. "Dia tidak lari pagi? Apa ada yang mengganggu pikirannya?"
"Tampaknya seperti itu." Jawab Mona sambil mengeluarkan keranjang buah-buahan dari kulkas untuk Aramis. "Apa kau tahu kenapa Prothos dulu sering berganti-ganti pacar?"
"Aku tidak tahu pasti. Dia tidak pernah menceritakannya padaku. Yang aku tahu karena dia bosan." Jawab Aramis.
...***...
Mona membuka pintu kamar Prothos ketika jam tujuh pagi. Dia membawakan sarapan untuk pemuda itu, namun Prothos masih berbaring di tempat tidurnya. Dia hanya menatap kehadiran Mona dengan mengalihkan tatapannya tidak mau melihat pada gadis itu.
"Tumben sekali kau seperti ini, bukannya kau selalu sarapan tepat waktu?" Tanya Mona meletakkan makanan ke meja belajar Prothos. "Aku lupa, waktu di penthouse kau juga pernah seperti ini. Apa sekarang kau ingin bunuh diri lagi?"
Prothos tidak menjawab. Dirinya sedang malas mengeluarkan suara apalagi untuk berdebat. Dia hanya menutup matanya mencoba tidak memedulikan kehadiran Mona di kamarnya.
"Kau sangat lemah tapi selalu berlaga kuat. Ini handphone-mu." Ujar Mona meletakkan handphone Prothos di samping makanan yang dia bawa. "Bangunlah juga, aku harus mengganti sepreimu."
Prothos tetap diam tidak memedulikan Mona. Walau dirinya merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu di kamarnya namun rasa malas yang sedang dirasakannya membuatnya enggan mengatakan apapun untuk mengusir Mona dari kamarnya.
"Kau harus mengakhiri semuanya sebelum memulai hidupmu di dunia hiburan. Aku tidak mau kau seperti ini ketika sudah menandatangani banyak kontrak. Apa kau mengerti?"
Akhirnya Prothos berdecak kesal pada Mona hingga dia beranjak duduk dengan tatapan sinis.
"Biarkan aku sendiri!!" Seru Prothos sangat kesal. "Jangan menggangguku untuk hari ini!! Keluarlah cepat!!"
"Tapi kau harus makan!! Kau tidak boleh sampai sakit karena akhir minggu ini kau ada jadwal pemotretan, mengerti?!"
Prothos hanya mendengus sangat kesal saat Mona berjalan keluar dari kamarnya. Sekarang dirinya merasa sangat tidak bebas walau sudah berada di rumahnya, bahkan saat berada di kamarnya sendiri.
...***...
Athos menuruni tangga seorang diri ketika Mona sedang memasak untuk makan siang. Untuk pertama kalinya Athos meninggalkan kamarnya dan turun ke lantai satu tanpa siapapun membantunya.
"Kau sudah lebih baik?" Tanya Mona menoleh saat Athos menggeser kursi meja makan untuk duduk disana. "Apa sudah tidak masalah kalau kau berjalan sendiri tanpa ada yang membantu?"
"Ya, aku sudah jauh lebih baik. Ini sudah tidak terlalu sakit lagi." Jawab Athos.
"Kau tahu? Tasya selalu menelepon atau mengirimkan pesan padaku. Dia terus menerus menanyakan kabarmu. Kenapa kau tidak menghubunginya?" Ujar Mona masih sibuk memasak di dapur.
"Minggu depan kami akan bertemu dan untuk terakhir kalinya." Jawab Athos.
"Ya, kami akan berpisah setelah itu. Tapi itu tidak untuk selamanya." Athos menyunggingkan senyumnya. "Ada apa dengan Oto? Kenapa dia berdiam diri di kamarnya?"
"Kembaranmu yang itu memang paling payah. Itu masalah terbesar dalam dirinya saat nanti berkarir. Bahkan moodnya melebihi seorang wanita yang sedang datang bulan." Ucap Mona sambil mengangkat masakan dari atas kompor.
"Ya, aku rasa sakit di hatinya belum terobati karena kekasihnya dulu meninggalkan luka yang sangat dalam padanya. Sebelumnya dia tidak pernah selama ini menghukum dirinya." Ujar Athos.
"Dia bukan hanya menghukum dirinya, bahkan sampai ingin menghabisi dirinya sendiri." Gumam Mona.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Athos pada Mona yang bergumam sendiri.
"Kau harus menasehatinya. Harus ada seseorang yang menasehatinya agar dia tidak terus menerus seperti itu. Aku tidak ingin nantinya semua itu mengganggu karirnya." Jawab Mona.
"Kalau begitu kau saja yang menasehatinya. Aku tidak bisa menasehatinya dalam masalah ini." Jawab Athos. "Oh iya, berapa nilai kontrak untuk pemotretan minggu ini?"
"100 juta." Jawab Mona dengan sedikit tersenyum sambil membawa makanan yang sudah diletakannya ke mangkuk besar. "Untuk satu kali pemotretan, dan sepuluh pakaian yang akan dipakainya dalam pemotretan."
"Benarkah? Bagaimana bisa kau mendapatkan penawaran tersebut dalam waktu singkat? Itu nilai yang sangat banyak." Athos terlihat heran, dia sama sekali tidak mengira pada kemampuan Mona yang bisa mendapatkan kontrak itu dalam waktu dekat. "Bahkan sepertinya kau tidak melakukan apapun."
"Kau benar, aku memang tidak melakukan apapun. Tampaknya kembaranmu itu memang sudah diincar banyak produk. Bahkan ketika aku menaruh nomer handphoneku di profil sosial medianya tadi pagi dalam sekejap aku mendapatkan ratusan penawaran untuk mengiklankan produk-produk mereka." Jawab Mona sambil duduk di kursi di hadapan Athos. "Sepertinya akan sangat cepat Prothos berada di puncak popularitas."
"Tapi kau harus ingat, aku hanya mau dia mengambil sesuatu yang nilainya sangat besar. Jangan menerima tawaran murah." Ucap Athos.
"Aku juga tahu, karena itu banyak yang aku tolak." Jawab Mona. "Tapi seperti yang kau bilang waktu itu kan? Saat dia mendapatkan kontrak pertama maka semua itu untukku?"
Athos tertawa mendengar pertanyaan Mona. Dia tidak akan lupa mengenai perkataannya kemarin.
"Tidak mungkin aku menarik perkataanku. Kau bisa mengambil 100 juta itu." Jawab Athos. "Tapi kau jangan kabur ya, aku akan mencarimu ke ujung dunia sekalipun."
"Tidak akan, masih terlalu cepat untuk aku kabur. Aku akan mengumpulkan lebih banyak lagi dan membuat tempat usahaku sendiri dulu baru setelah itu aku akan berhenti."
"Sepertinya aku harus membuat surat perjanjian kerja denganmu. Aku ingin selama tiga tahun kau bekerja untuk Oto." Ucap Athos. "Jika kau berhenti sebelum masa kerja berakhir maka kau akan terkena denda penalti. Apa kau setuju?"
"Tidak masalah." Jawab Mona.
...–NATZSIMO–...
Yuk baca karya author di F**zo, yang berjudul Obsesi Cinta CEO Gay. Di sana akan menyinggung mengenai apa yang terjadi setelah jilid kedua ini, dan bisa jadi sedikit spoiler untuk jilid ketiga nanti (author masih bingung juga apa akan melanjutkan sampai jilid ketiga atau tidak).
Makanya kalau ingin tahu sedikit tentang jilid ketiga baca aja karya author yang itu. Jangan terjebak sama judul dan genre ya (karena genre yang buat dari pihak apk, author nggak bisa ubah lagi setelah kontrak).
Baca juga I AM BUTTERFLY karena di karya itu tiga tahun setelah jilid kedua ini tamat ya.
Rumus pertemanan Lion akan ada di semua karya author dimanapun yang bergenre non fantasy.