MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
051. WAKTU YANG MENYEMBUHKAN



Anna terbangun di kamar yang berada di sebuah rumah sederhana yang dulu dia tempati. Dia melihat ke sekeliling ruangan kamarnya yang ukurannya tidak terlalu besar. Jika dibandingkan dengan rumahnya yang sekarang, rumah itu jauh lebih kecil dan kamar di mana dirinya berada sekarang pun jauh lebih sempit dari kamarnya sekarang. Akan tetapi rumah itu memiliki kenangan yang banyak dengan mendiang ibunya.


Dengan perlahan Anna berjalan mengelilingi setiap sudut rumah itu. Dia memikirkan sesuatu hal sejak kemarin. Dia berencana menjual rumahnya yang ditempatinya sekarang untuk biaya operasi, dan ini kali terakhir dia akan datang ke rumah ini sebelum operasi, sebelum dia kehilangan ingatannya mengenai kenangan ibunya yang sudah meninggal.


Semua perabotan di rumah itu masih sangat lengkap karena Anna tidak ingin menjual atau memindahkan kenangannya pada sang ibu yang terdapat di setiap sudut ruangan.


"Aku merindukanmu, bu." Air mata Anna mengalir keluar saat menatap foto dirinya yang sedang memeluk ibunya. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum ibunya meninggal dunia. "Kadang aku berpikir kalau penyakit ini bisa membuatku bertemu denganmu lebih cepat, dan itu hal yang bagus. Tapi setiap kali aku memikirkannya aku masih ingin tetap hidup, bu."


Anna menyeka air matanya dengan lirih. Di rasakannya sakit di kepala yang semakin hari rasanya semakin menyakitkan. Dengan rasa mual akhirnya dia berlari ke toilet dan muntah. Setiap hari dia harus tersiksa merasakan semua gejala penyakitnya. Namun semua itu tidak terlalu menyakitkan melebihi ketakutannya jika harus melupakan Aramis atau bahkan meninggalkannya karena kegagalan operasi.


...***...


Ketika bel istirahat berbunyi, Lion melihat Karen memasuki ruang kelasnya, tanpa pikir panjang Lion langsung bersembunyi ke kolong mejanya. Melody dan Niko yang masih ada di tempatnya memperhatikannya.


"Lion!!" Seru Karen melongok ke bawah meja dimana Lion bersembunyi. Semua mata memperhatikan keberadaannya. "Sedang apa kau di kolong meja?"


Lion hanya nyengir memperlihatkan giginya karena ternyata Karen tahu keberadaannya. Dengan enggan dia segera keluar dari kolong meja dan langsung berlari keluar kelasnya.


"Kenapa dia terus lari? Memangnya aku hantu?" Gumam Karen kesal.


Semua yang berada di kelas tertawa melihat tingkah Lion dan mendengarkan gumaman Karen namun tidak dengan Melody.


"Siapa dia? Kenapa Lion menghindarinya?" Tanya Niko masih tertawa heran melihat Lion.


Melody tak mau menjawab dan diam saja. Gadis itu merasa tidak ingin memikirkan mengenai Lion dan Karen karena itu bukanlah urusannya.


"Jadi ternyata benar kalau Karen mendekati Lion? Ada yang bilang mereka sudah pacaran." Sahut Rinka yang masih duduk di tempatnya di depan Melody. "Apa Lion tidak memberitahumu, Mel?"


"Untuk apa dia memberitahu aku? Itu urusannya bukan urusan aku." Jawab Melody ketus.


Niko tersenyum mendengar ucapan Melody. Dengan spontan Niko memegang tangan kanan gadis itu dengan tangan kirinya yang memakai sarung tangan. Melody yang memperhatikan keluar jendela terkejut dan menoleh pada Niko. Keinginannya untuk menarik tangannya terurungkan saat melihat Niko tersenyum padanya.


"Pulang sekolah nanti main ke rumahku, bagaimana?"


Melody langsung menarik tangannya saat Niko berkata begitu.


"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam padamu. Aku bersumpah. Sumpah seorang pria Rusia itu sangat kuat, kalau aku melanggar aku akan menghilangkan nyawaku sendiri."


Melody tertegun mendengarnya. Dia jadi teringat dengan sumpah Lion pada Niko. Apakah yang dikatakan Niko berlaku juga pada Lion? Tapi Melody tak ingin memikirkannya lagi karena itu sudah tidak penting baginya.


"Jangan bersumpah seperti itu!! Aku tidak suka mendengar ucapan mengerikan seperti itu." Seru Melody. "Baiklah, kita ke rumahmu nanti."


...***...


"Kau dimana, Anna? Kau bolos sekolah? Kau juga tidak pulang semalam." Tanya Aramis menelepon Anna saat jam istirahat di dalam kelasnya.


"Aku ijin karena ada keperluan, nanti sore baru pulang." Jawab Anna di ujung telepon.


"Kau tidak pergi dengan seorang pria kan? Aku akan membunuhmu kalau kau bermalam dengan seorang pria." Seru Aramis dan langsung dijawab Anna dengan mematikan teleponnya. "Sialan, kenapa dimatikan teleponnya." Gumam Aramis kesal.


Tiba-tiba dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Aramis hendak marah dengan orang itu.


"Ars, tolong bantu aku." Bisik Lion yang memeluk Aramis.


Aramis yang melihat Karen pergi, langsung menyikut Lion yang masih memeluknya hingga Lion meringis kesakitan. Beberapa orang yang ada di kelas tertawa melihatnya.


"Sialan kau, Lion!! Kenapa menjadikan aku objek kebohonganmu lagi?!" Seru Aramis kesal.


"Mau tidak mau, aku sangat risih pada gadis itu. Dia tidak berhenti menggangguku padahal aku sudah bilang kalau aku gay." Ujar Lion kesal.


Beberapa orang di kelas Aramis mulai berbisik-bisik dengan pernyataan Lion yang dikatakannya dengan suara yang biasa.


"Diamlah kalian semua!! Aku normal ya!! Aku bukan gay!!" Seru Aramis pada teman-teman sekelasnya.


"Iya dia normal setelah bertemu dengan Anna yang seperti pria itu." Timpal Lion.


"Sialan kau, Lion!!" Geram Aramis melingkarkan lengannya ke leher Lion, mencekiknya.


Semua teman-teman kelas Aramis tertawa melihat dua orang sahabat itu.


...***...


Anna duduk di hadapan seorang pria yang memakai seragam tahanan. Dia adalah ayah kandungnya yang berada di penjara. Untuk pertama kalinya Anna mengunjunginya setelah pria itu masuk penjara. Semua itu untuk keperluannya yang berniat menjual rumah ibunya. Selain itu dia juga ingin memberitahu mengenai penyakitnya pada ayahnya. Dia berharap ayahnya akan merasakan kesedihannya juga.


"Rumah ibu akan aku jual untuk biaya operasiku." Ucap Anna. "Aku sedang sakit dan sakitku cukup parah."


"Itu semua karena perbuatanmu atas aku. Kau kena karma." Jawab ayahnya yang sama sekali tidak menunjukan rasa empati padanya.


Anna menahan air matanya. Apa yang didengarnya sangat menyakiti hatinya. Ayah kandungnya sama sekali tidak bersedih mendengar kabar itu. Anna langsung beranjak pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


Gadis itu berjalan dengan langkah gontai saat keluar dari pintu penjara menuju motornya yang terparkir. Hatinya sangat sakit saat ini mendengar ucapan ayah kandungnya sendiri. Dengan cepat dia menaiki motor dan menjalankannya begitu kencang dengan uraian air mata membasahi wajah dibalik helm yang dikenakannya.


...***...


Athos duduk di meja makan setelah sampai sepulang sekolah. Dia memeriksa pengeluaran café untuk menghitung biaya operasionalnya karena minggu depan cabang café keenam akan segera dibuka.


Dirinya di kejutkan oleh Aramis yang datang menyeret Prothos dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.


"Ato, kau harus menasehati kembaranmu ini!! Dia bersama seorang wanita di dalam hotel dan itu sudah terjadi berkali-kali!!" Seru Aramis pada Athos. "Dia tidak masuk sekolah tapi selalu pergi dengan wanita yang berbeda setiap hari ke hotel. Untung saja Lion memberitahuku setelah dia dapat info dari temannya."


"Memangnya apa salahku, Ars? Aku tidak memaksa pada wanita-wanita itu, mereka sendiri yang ingin bercinta denganku." Ujar Prothos membela diri. "Sebaiknya jangan ikut campur urusanku!! Kalian mengerti?!"


Prothos langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu sangat keras.


"APA KAU INGIN MENJADI CASANOVA SUNGGUHAN DENGAN MENIDURI RIBUAN WANITA?!" Teriak Aramis penuh emosi.


Athos hanya bisa diam saja melihat kedua kembarannya. Sesungguhnya pun dia bingung harus melakukan apa pada kembarannya yang sudah patah hati itu.


"Kenapa kau diam saja? Lakukan sesuatu padanya?! Setiap hari dia bolos sekolah, mabuk-mabukan dan tidur dengan banyak gadis."


"Apa yang bisa aku lakukan? Kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya?" Tatap dingin Athos pada Aramis. "Tak ada yang bisa kita lakukan. Biarkan waktu yang menyembuhkan dirinya."


...–NATZSIMO–...