
Mona menekan bel berkali-kali pintu penthouse di mana Prothos berada. Namun Prothos tidak juga membukanya. Padahal sebelum Mona ke sana untuk membersihkan kamarnya, Prothos menelepon ke bagian resepsionis untuk meminta kamarnya dibersihkan.
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Mona karena Prothos tidak juga membuka pintu.
Mona langsung membuka pintu dengan kartu akses yang dibawanya. Lalu segera berjalan ke area kamar. Dia terkejut ternyata Prothos ada di dalam. Prothos hanya duduk bersandar di atas tempat tidur tanpa melakukan apapun bahkan tidak menoleh pada kehadirannya. Pemuda itu juga tidak berpakaian dan hanya ditutupi selimut. Mona melihat Prothos yang hanya melamun dengan tatapan kosong.
"Aku akan bersihkan bagian luar dulu." Ujar Mona segera keluar.
Mona melihat sarapan Prothos yang belum tersentuh padahal saat ini sudah hampir jam sepuluh siang. Namun gadis itu tidak mau memikirkannya dan segera melakukan tugasnya bersih-bersih.
Setelah hampir satu jam, Mona selesai membersihkan area living room, setelah itu melongok ke dalam kamar untuk melihat Prothos karena dirinya hendak membersihkan area kamar dan mengganti seprei tempat tidur. Namun Prothos belum mengubah posisinya. Dia masih melamun tanpa bergerak sedikitpun.
"Apa sepreinya tidak perlu diganti?" Tanya Mona.
Bukannya menjawab Prothos langsung beranjak turun. Mona langsung berlari menjauh ke sudut living room karena Prothos tidak memakai apapun saat turun dari tempat tidur. Gadis itu berjalan masuk ke kamar setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Itu berarti Prothos sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Sikapnya sangat aneh." Gumam Mona.
Mona segera membersihkan area kamar, mengganti seprei tempat tidur dan membuang sampah di ruangan tersebut.
"Ini sangat menjijikkan." Keluh Mona saat memikirkan apa yang dilakukan Prothos dengan para gadis di kamar itu saat membuang sampah. Dia membawa tempat sampah di ruangan tersebut ke luar. "Julukan itu sangat tepat buatnya."
Mona masuk kembali ke kamar setelah membuang sampah ke depan pintu untuk menaruh tempat sampah disana. Dia masih harus membersihkan kamar mandi saat ini. Tapi sudah hampir satu jam Prothos di kamar mandi dan belum keluar.
"Apa yang dia lakukan di dalam?"
...***...
Padahal hari sangat terik saat ini, namun Lion bersama Karen berada di atap gedung sekolah mereka menikmati es krim yang mereka beli. Lion duduk di tembok pembatas pinggiran atap sedangkan Karen hanya bersandar melihat pemandangan dari atas sana.
"Di sini sangat panas, kenapa kau suka sekali berada di sini?" Tanya Karen setelah menghabiskan es krim miliknya.
"Aku sangat suka berada di tempat tinggi, karena bisa melihat segalanya di bawah sana, dan itu membuatku jadi merasa aman." Jawab Lion setelah itu menggigit es krim lolipop miliknya. "Kalau kau tidak suka kau tidak harus mengikutiku ke sini." Lion menoleh pada Karen yang berada di sebelah kanannya.
"Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi, semua yang kau lakukan sangat seru. Sepertinya aku juga ingin bisa main skateboard sepertimu. Waktu itu kau sangat keren." Ucap Karen.
Lion tertawa saat mengingat kejadian sewaktu dia bermain skateboard di tembok pembatas pinggir atap. Saat itu dirinya sedang merasakan sebuah kehampaan yang sangat besar. Dia jadi merasa senang karena bisa melewati saat itu, dan sekarang sudah merasa lebih baik.
"Pulang nanti temani aku beli papan skateboard ya, skateboard-ku hancur saat itu." Seru Lion tersenyum pada Karen. "Aku akan mengajarimu juga."
Tiba-tiba pintu atap terbuka membuat mereka berdua menoleh. Niko berjalan masuk menghampiri mereka.
"Lion, aku ingin bicara." Ujar Niko.
"Aku akan kembali ke kelasku." Kata Karen setelah itu berjalan meninggalkan dua pemuda itu.
"Ada apa lagi, Niko?" Tanya Lion turun dari tembok pembatas dan mendekati Niko. "Aku sudah bilang aku tidak akan ikut campur lagi masalah kalian."
Tanpa di sangka Niko memukul wajah Lion sebanyak dua kali. Itu membuat Lion sangat bingung.
"Aku harus melakukannya agar aku merasa lega." Ujar Niko. "Akhir-akhir ini aku menjadi sangat iri padamu."
"Apa maksudnya?"
"Semua yang sudah kau lakukan untuk Melody, itu membuatku sangat iri." Jawab Niko. "Setidaknya biarkan aku memukulmu beberapa kali biar aku lega."
"Baiklah, kau bisa memukulku sesuka hatimu." Ucap Lion.
Tanpa menunggu, Niko memukul wajah dan perut Lion. Namun Lion hanya tertawa menikmatinya.
"Sepertinya aku tidak akan bisa lega sebelum menikah dengannya." Jawab Niko. "Terimakasih, kau membantuku mendapatkannya. Tidak, terimakasih kau sudah memberikannya padaku."
Lion tidak berkata apapun mendengar ucapan Niko.
"Kapan-kapan kita harus pergi berempat. Aku dengan Melody dan kau bersama pacar barumu." Ucap Niko.
"Sayangnya kami hanya berteman." Ujar Lion. "Tapi sepertinya itu ide yang bagus."
Setelah Niko meninggalkan Lion sendirian di atap. Lion membuang napasnya dari mulut dengan kasar sambil mengusap sudut bibirnya yang luka karena pukulan Niko.
"Ini sangat menyakitkan." Gumam Lion.
Entah mengenai luka yang didapatkannya itu atau tentang perasaannya setelah mendengar kalimat Niko yang berterimakasih karena sudah memberikan Melody padanya.
...***...
Prothos berdiam diri di dalam bath up. Dia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit kamar mandi yang sangat mewah itu. Bukan karena dia menikmati semua itu tapi saat ini kehampaan terasa di dalam hatinya bahkan di dalam hidupnya.
Seberusaha apapun dia mencoba untuk menikmati semuanya, namun rasa senang sedikitpun tidak dapat dia rasakan.
Setiap hari walau selalu bersama dengan gadis yang berbeda, hanya rasa sedih yang dia rasakan. Bayang mantan kekasih sekaligus gurunya, Widia selalu ada di dalam benaknya. Selalu membayang-bayangi dirinya karena rasa bersalahnya pada gadis itu.
"Apa ini hukuman darimu padaku, Widia?" Ucap Prothos.
Air matanya mengalir keluar bercampur dengan air hangat di dalam bath up di mana dirinya berendam saat ini. Pemuda itu tidak pernah merasakan rasa kehilangan sebesar ini sebelumnya. Pengkhianatan dirinya pada Widia dibalas dengan sebuah pengorbanan untuk dirinya. Itu terasa semakin menyakitkan untuk Prothos. Rasa bersalahnya berkali-kali lipat saat ini.
Seberusaha apa pun dirinya untuk tidak merasakannya namun setiap kali dia bersama seorang gadis hanya wajah mantan kekasihnya itu yang terlihat. Dan semua itu selalu berulang walau dia sadar kalau apa yang dilakukannya salah.
Semua kata-kata yang diucapkannya dulu pada Widia berbalik menyerangnya saat ini.
Aku tidak ingin para pengkhianat merasa bahagia!! Itu tidak pantas mereka dapatkan!!
Dia masih sangat ingat kalimat itu pernah terlontar dari mulutnya.
"Ya, sepertinya aku memang tidak pantas merasakan kebahagiaan."
Prothos membenamkan kepalanya ke dalam bath up yang sebelumnya keran airnya dia hidupkan. Pemuda itu membiarkan dirinya berada di dalam air dengan mengingat kembali semua yang sudah dilaluinya bersama Widia, gadis yang sangat dirindukannya.
Semua kenangannya bersama gadis itu kembali terlintas di benaknya. Semua kenangan indah yang terasa membuatnya menjadi semakin menyakitkan. Semua kata-kata gadis itu yang membuatnya menjadi semakin bersalah karena mengkhianatinya. Semua terus berputar di bayangannya membuat diri Prothos semakin yakin untuk mengakhiri semuanya saat ini.
Aku pantas mati.
Prothos menutup matanya bersamaan dengan napasnya yang di dalam air habis.
Kau tidak salah, hanya saja kau berhubungan dengan orang yang salah.
Prothos mendengar kembali kalimat yang pernah diucapkan Widia padanya. Di saat yang bersamaan seseorang menariknya dari dalam air. Prothos membuka matanya dan melihat seorang gadis yang menggapainya. Gadis itu terlihat samar-samar, namun yang ada di pandangannya, gadis itu adalah Widia.
"Widia..."
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.
Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.