MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
139. HANYA MANUSIA BUATAN



Kehadiran Athos di sekolahnya membuat para murid berkerumun menyambut kehadirannya dengan senang. Mereka memanggil namanya namun Athos tak sekali pun menjawabnya. Hanya Prothos yang tersenyum pada mereka sambil berjalan mendorong kursi roda Athos. Tasya juga ada menemani pemuda itu yang hendak mengikuti ujian susulan.


"Dia bahkan belum bisa duduk terlalu lama, tapi dia sudah ingin mengikuti ujian susulan?" Ujar Niko yang berdiri di samping Melody. "Kakakmu itu memang sangat nekat. Dia pasti hanya ingin terlihat keren."


"Bukankah kau pun sama nekat? Dengan sengaja kau membiarkan tanganmu tertusuk." Jawab Melody.


Setelah berkata demikian gadis itu masuk ke kelasnya dan hanya ada Lion yang duduk di kursinya di dalam kelas sedangkan semua murid lain masih melihat kehadiran kakaknya, sang mantan ketua OSIS yang selalu jadi teladan.


Melody melihat Lion yang sesaat melihat padanya dengan tatapan dingin namun setelahnya pemuda itu menggeser pandangannya dari gadis itu. Melody yang berjalan ke kursinya merasa Lion sangat berbeda, biasanya dia akan menidurkan kepalanya ke meja tapi kali ini tidak. Dia duduk dengan tegak di kursinya tanpa melakukan apapun.


"Lion, apa kabar anjing itu?" Niko yang mengikuti Melody masuk menghampiri Lion di kursinya. "Apa kau sudah tahu siapa yang menghamilinya?"


"Ya, itu mudah sekali. Sekitar dua bulan lalu anjing itu dititipkan ke penitipan binatang. Pelakunya adalah salah satu anjing yang juga dititipkan disana. Kalau dilihat dari anak-anaknya pelakunya juga anjing dengan jenis yang sama. Jadi kemarin aku mencari tahu dan sudah menemukan pemilik anjingnya." Jawab Lion.


"Kau memang hebat." Seru Niko dengan tertawa sambil berjalan ke kursinya di samping Melody.


"Kau pikir aku berbohong kan?" Gumam Lion dengan skeptis.


Melody tidak mengerti apa yang kedua orang itu bicarakan. Dia menatap Lion yang sesaat lalu mengalihkan tatapannya pada Niko yang tersenyum padanya.


...***...


"Oto, belok kiri." Seru Athos pada Prothos yang menyetir.


Tanpa kata Prothos mengikuti permintaan kembarannya walau dia tahu itu tidak mengarah ke arah rumah mereka. Prothos tahu kemana Athos mengarahkan perjalanan mereka, dan dia mengikuti saja tak ingin ikut campur.


"Ato, kita mau kemana?" Tanya Tasya yang duduk di kursi belakang di samping kiri Athos.


Athos tidak menjawab, hal itu membuat Tasya tahu tujuan mereka.


"Ato, aku tidak ingin pulang." Ujar Tasya dengan air mata yang mengalir. "Papa akan mengirimku keluar negeri kalau aku kembali. Mama bilang begitu saat meneleponku semalam."


Prothos memperhatikan kembarannya dari spion. Athos diam saja tidak menjawab ucapan Tasya yang sudah menangis di sampingnya tanpa menatap wajah gadis itu.


Hingga mereka sampai di rumah Tasya. Athos tidak berkata apapun walau Tasya merengek untuk tidak masuk ke rumahnya.


"Ato, aku mohon." Pinta Tasya pada Athos yang di dorong Prothos memasuki rumahnya. "Oto, ayo kita kembali. Jangan dengarkan Ato."


Prothos hanya menghela napasnya dengan situasi yang terjadi saat ini. Dia terus mendorong kursi roda Athos masuk ke dalam rumah.


Benny menyambut kedatangannya dan membawa mereka ke ruangan kerja ayah Tasya. Tasya masih saja berusaha untuk menghentikan kekasihnya itu dan meminta kembali ke rumahnya. Namun Athos tetap saja bungkam.


Presdir tersenyum sarkastis saat melihat kehadiran mereka. Saat ini istrinya juga berada di sana.


"Bawa Tasya ke kamarnya." Seru Presdir pada ibu Tasya.


"Ato..." Ucap Tasya berharap Athos menjawabnya.


"Ayo, Tasya." Ibu Tasya menarik lengan anak gadisnya untuk mengikutinya.


Dengan berat hati Tasya mengikuti ibunya karena Athos sedikitpun tidak melihat padanya. Itu membuatnya merasa sangat bersedih.


"Kau memang anak yang pintar." Ucap Presdir yang duduk di sofa. "Kau sudah juga memegang janjimu dengan membawa anak itu kembali dengan tanganmu sendiri."


"Ya, kau juga harus memegang janjimu." Jawab Athos tersenyum skeptis. "Kapan dia akan pergi?"


"Sepuluh hari lagi." Jawab Presdir. "Aku akan memberimu waktu selama lima tahun."


"Tidak, itu terlalu lama untukku." Jawab Athos dengan sedikit tertawa. "Aku hanya butuh waktu tiga tahun."


Mendengarnya Presdir sempat terkejut dengan jawaban Athos sedangkan Benny yang berdiri di samping Presdir terlihat menahan senyumnya. Dan Prothos hanya diam saja karena dia tidak mengerti apa yang mereka bincangkan.


"Kau terlalu percaya diri. Hal ini tidak semudah seperti membalikan telapak tanganmu. Bahkan aku memerlukan waktu hampir sepuluh tahun—"


"Mohon maaf, aku tidak suka dibandingkan dengan siapapun." Potong Athos.


"Ya, baiklah, tiga tahun katamu?" Tatap Presdir. "Itu terhitung dari hari ini."


Athos menganggukkan kepalanya dengan senyum skeptis.


"Tapi aku punya satu permintaan lagi." Ucap Athos.


Presdir memberikan gestur dengan tangannya agar Athos mengatakan apa permintaannya.


"Aku akan menemuinya sebelum dia pergi."


...***...


Athos dan Prothos kembali ke mobil untuk berjalan pulang. Athos yang duduk di samping Prothos yang menyetir terlihat menahan emosionalnya saat ini. Prothos tahu kalau Athos sedang bersedih.


"Menangis saja kalau ingin menangis." Ucap Prothos.


Athos malah tertawa mendengar perkataan kembarannya itu.


"Ini masih terlalu awal untuk aku menangis." Jawab Athos menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sedih karena aku tidak bisa memenuhi keinginan Tasya dulu yang tidak ingin keluar negeri. Waktu itu aku berjanji padanya untuk meminta ayahnya agar tidak menyuruhnya kuliah keluar negeri. Tapi aku tidak bisa memenuhi perkataanku."


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Prothos. "Apa maksudnya ini? Ada apa dengan tiga tahun lagi? Apa isi perjanjian dengan ayah Tasya?"


"Kapan Ars pulang?" Tanya Athos menoleh melihat Prothos.


...***...


"Aku pergi dulu. Makan malamnya sudah aku siapkan." Ujar Mona pada Leo dan Ronald.


"Kau tampak berbeda, Mona." Seru Ronald yang melihat Mona berpakaian dan merias dirinya seperti saat Prothos mengira dirinya adalah gadis panggilan. "Apa kerjaan sampinganmu?"


"Kau mau kemana?" Tanya Prothos.


Mona hanya melihat Prothos sebentar setelah itu berjalan keluar melewati pemuda itu.


"Dia bilang ingin melakukan kerja sampingannya setelah seseorang meneleponnya." Jawab Ronald saat Prothos menatapnya.


"Kenapa kau membolehkannya, ayah? Dia itu sudah bekerja pada kita. Dia tidak perlu bekerja sampingan lagi." Seru Prothos.


"Memang apa kerja sampingannya?" Tanya Ronald penasaran.


"Wanita panggilan." Jawab Prothos kesal.


Athos hanya tertawa mendengar perkataan kembarannya karena dia sudah tahu yang sebenarnya.


"Jangan sembarangan berbicara seperti itu mengenai seorang gadis." Ucap Leo menatap Prothos kesal.


Di luar Mona yang baru saja ingin memanggil taksi tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depannya. Aramis keluar dengan membawa koper.


"Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" Tatap Mona heran.


"Aku diusir." Jawab Aramis. "Kau mau kemana?"


"Kerja sampingan." Jawab Mona sambil masuk ke taksi yang tadi Aramis naiki.


Aramis berjalan memasuki rumahnya dan langsung melihat Athos berada di ruang tamu bersama dengan Prothos, ayah dan pamannya.


"Sialan kau, Ato!!" Seru Aramis mencengkram Athos tidak memedulikan kembarannya itu kesakitan. "Aku akan membunuhmu sekarang!!"


Athos tertawa melihat kehadiran Aramis. Dengan kesal Aramis melepaskan cengkramannya pada Athos.


"Siapa waktu itu yang menangis berbicara padaku?" Ejek Athos dengan tawa.


Aramis hanya menahan kekesalannya mendengar ejekan kembarannya yang tidak pernah akur dengannya itu.


"Aku akan membunuhmu, Ato."


Athos tersenyum pada Aramis.


"Ars, bantu aku ke kamarku." Ucap Athos. "Oto, ayo."


Sesampainya di kamar Athos. Athos duduk di atas tempat tidur, sedangkan Prothos duduk di kursi dan Aramis berdiri bersandar ke pintu.


"Aku minta maaf karena tidak memberitahu rencanaku yang berbahaya kemarin pada kalian karena aku tahu kalian tidak akan membiarkannya." Ucap Athos. "Sekarang aku akan mengatakan rencanaku selanjutnya semuanya pada kalian." Tatap Athos pada kedua kembarannya.


...***...


"Kau memiliki tiga anak yang tidak biasa, kak." Ujar Ronald pada kakaknya.


"Anakku hanya Melody, mereka hanya manusia buatanku." Jawab Leo menatap Ronald. "Dan kau turut campur membantuku."


Ronald tertawa mendengarnya.


...–NATZSIMO–...


❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤


Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih...