MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
067. CINTA SANG VAMPIR



Lion yang tidak jadi pulang hanya menunggu di ruang tamu untuk mendengarkan percakapan Niko dan Melody. Dia juga bisa melihat ketika Niko memeluk Melody sedangkan Melody tampak ketakutan.


Dan dirasanya perilaku Niko sudah keterlaluan ketika mengangkat wajah Melody yang tertunduk dengan sedikit kasar. Lion segera menghampiri mereka dengan dalih handphone-nya tertinggal dan memang handphone-nya benar ada di sana. Namun bukan tertinggal melainkan ditinggalkannya dengan sengaja saat dia hendak beranjak dari kursi piano tadi.


Melody yang ketakutan berlari pada Lion dan terjatuh lemas ke pelukan Lion. Niko menatap Lion dimana Melody ada dipelukannya saat ini.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Lion pada Melody.


Melody tidak menjawab, Lion segera membawa Melody ke sebuah sofa yang tidak jauh dari piano dan didudukinya disana. Lalu berjalan ke arah Niko, langsung mencengkram Niko dengan kesal.


"Sepertinya kau lupa dengan kata-kataku, Niko!!" Seru kesal Lion menatap Niko. "Aku bosan mengulanginya terus. Dan sekarang semua kacau lagi karena sikapmu."


Niko mendorong Lion hingga terlepas dari cengkramannya. Namun Lion segera mendaratkan pukulannya ke wajah Niko. Niko tidak membalas karena mulai tersadar kembali kalau apa yang dilakukannya pada Melody memang salah.


Dengan khawatir Niko berjalan mendekati Melody yang melihat mereka berdua di sofa dengan terkulai tak berdaya. Lion menarik Niko agar tidak mendekati Melody dengan sangat kasar.


"Melody, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berbuat kasar padamu." Ujar Niko dari kejauhan. "Aku sangat menyesal."


"Lion, aku ingin pulang." Ucap Melody mencoba berdiri namun goyah, sehingga jatuh terduduk lagi di sofa.


"Kau tidak apa-apa?" Tatap Lion pada Melody. "Ayo kita pulang." Lion membantu Melody bangkit berdiri dan memapahnya berjalan untuk pulang.


Melody berjalan sambil memeluk Lion yang memapahnya. Dia sangat bersyukur Lion datang tadi untuk mengeluarkan dirinya dari situasi yang sangat membuatnya ketakutan pada Niko.


"Aku akan menghubungimu nanti, Niko." Ujar Lion.


...***...


"Kau baik-baik saja?" Tanya Lion saat dirinya dan Melody berada di dalam mobil. Hujan masih saja turun rintik-rintik.


Melody diam saja, dan memandang ke luar jendela pintu mobil seperti kebiasaannya. Dia sudah mulai merasa baikan sekarang.


"Kenapa tidak jawab? Kau baik-baik saja kan?" Lion mengulangi pertanyaannya sambil memegang lengan Melody agar Melody menoleh padanya.


"Ya, aku sudah tidak apa-apa." Jawab Melody.


"Baguslah." Ucap Lion setelah itu menjalankan mobilnya.


"Lion..." Panggil Melody menatap Lion yang fokus menyetir.


"Ada apa?"


"Tolong jangan ceritakan pada kakak-kakakku. Aku tidak ingin mereka tahu." Ujar Melody. "Ini semua salahku, Niko tidak salah apapun. Dia hanya ingin agar aku tidak takut lagi padanya, dan aku jadi merasa bersalah pada Niko."


Lion tidak menjawab, dia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.


"Seperti katamu, aku tidak ingin memberi harapan palsu pada Niko. Aku akan tetap mengikuti semua rencananya, meski aku harus terus takut padanya. Aku yang lebih dulu memulainya dengan mengikuti semua kata-katamu, maka aku juga harus bertahan karena sudah sejauh ini." Tambah Melody menghapus air mata yang tanpa sadar keluar dari matanya. "Lion, bagaimana cara agar aku bisa tidak takut lagi pada Niko?"


Lion tak menjawab karena pertanyaan itu sebenarnya sangatlah mudah. Jika Melody mencintai Niko maka dia akan berhenti takut padanya, setidaknya seperti itu. Namun Lion sudah enggan mengulangi kata yang sama dengan kemarin, bukan karena malas tapi karena dia tidak ingin Melody benar-benar mencintai Niko. Itu sama saja menyingkirkan dirinya dalam hati gadis itu.


"Mereka bertiga sudah setuju, dan aku pikir itu sudah bagus, karena itu aku akan melanjutkan semuanya. Tadinya Niko berencana untuk mengundurnya karena kondisiku yang takut padanya tapi tadi dia mendesakku agar kembali pada rencana awalnya. Aku akan setuju. Bagaimana menurutmu?" Melody berbicara sambil menatap keluar jendela pintu mobil lagi kali ini memperhatikan rintikan hujan di langit.


Lion tak menjawabnya.


"Kau tidak jawab apa itu berarti kau setuju?" Tanya Melody tanpa menoleh pada Lion.


Lion tetap tidak bersuara untuk menjawabnya. Itu membuat Melody sangat bersedih. Dia berharap Lion akan melarangnya untuk menyetujuinya, tapi dia merasa seharusnya pun dia tahu kalau Lion tidak mungkin melarangnya. Yang Melody tahu Lion tidak memiliki perasaan apapun padanya, ditambah perkataannya tadi yang menyebut dirinya hanya anjing penjaga Melody.


Tak ada lagi pembahasan yang terjadi hingga mereka sampai di rumah Melody. Athos dan Aramis menghampiri kehadiran mereka. Melody segera berjalan turun dengan langkah yang masih lemah.


"Kau baik-baik saja, Melo?" Athos menghampiri adiknya dan segera merangkulnya. "Apa yang terjadi Lion?"


Melody masuk ke kamarnya setelah Athos membantunya. Dia langsung berbaring ke tempat tidur dengan kesedihannya. Air matanya mengalir dengan deras memikirkan Lion yang hanya diam saja dan tidak menanggapi pertanyaannya.


Aku berharap kau melarangku, tapi sepertinya memang kau tidak punya perasaan apapun padaku. Seharusnya aku sudah tahu, tapi ini masih tetap menyakitkan.


Melody membatin dengan buraian air mata.


...***...


Lion masuk ke dalam kamarnya setelah mandi. Aramis sudah menunggunya di dalam kamar. Dia duduk di kursi meja tempat biasa Lion bermain game PC dan belajar.


"Aku ingin istirahat, aku tidak ingin bermain game, Ars." Ucap Lion sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, duduk di sisi tempat tidur. "Kepalaku sakit karena terkena hujan."


"Apa yang terjadi? Apa Niko membuat Melo ketakutan lagi?" Tanya Aramis.


"Keluarlah, aku sedang tidak mau melihatmu." Ujar Lion tidak menatap Aramis.


"Kenapa? Kau marah padaku?" Aramis terus menatap Lion yang ada di hadapannya. "Apa kau jadi marah padaku karena aku menyetujuinya? Jawab Lion!!"


"Kepalaku sakit, pergilah."


"Kau sendiri yang bilang padaku kalau hanya itu jalan yang terbuka. Kenapa sekarang kau jadi bersikap sentimental padaku?" Tanya Aramis. "Kau membuatku menjadi serba salah."


"Semua yang kau lakukan memang salah, Ars." Tatap Lion. "Sudah, keluar saja!! Aku ingin tidur."


"Kau membuat aku bingung, Lion. Melo ingin agar aku setuju, kau juga begitu, aku sudah menyetujuinya tapi sekarang sikapmu seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melo itu adikku dan kau sahabatku, sejak awal aku berharap jika kalian bersama tapi yang terjadi selama ini kalian berdua seolah-olah tidak ingin itu. Padahal yang sebenarnya kalian saling menyukai. Kalian berdua sangat rumit, membuatku jadi orang yang paling salah di antara kalian." Seru Aramis setelah itu berjalan keluar kamar Lion dengan kesal.


"Niko ingin mengundur rencananya tapi setelah kau menyetujuinya dia jadi ingin kembali pada rencana awalnya. Sekali lagi kau mengacaukan segalanya, Ars." Ucap Lion saat sendirian setelah Aramis pergi. "Kau memang bodoh, Ars."


Lion berbaring di tempat tidurnya. Dia memikirkan perlakuan Niko pada Melody tadi dan itu membuatnya sangat ingin marah. Akan tetapi dia bukan siapa-siapa lagi untuk Melody, bahkan sebagai anjing penjaganya pun sudah bukan sedangkan Niko adalah calon suami gadis itu.


...***...


Niko berada di tempat favoritnya, di kolam renang indoor sambil menghisap rokok elektriknya.


Pada kenyataannya Melody yang sudah mengetahui tentang Aramis yang membuat tangan kirinya terbakar mengganggu pikirannya. Itu sama saja membuka fakta kalau Melody hanya mengasihani dirinya hingga rela mau menikah dengannya. Itu membuatnya menjadi yakin kalau gadis itu menyukai Lion. Namun rasa cintanya pada Melody tidak ingin melepaskan Melody begitu saja.


"Sejak awal seharusnya aku sudah tahu karena semua berjalan dengan lancar. Dan sejak awal pula aku sudah berniat menjadikanmu milikku, apapun cara yang harus aku lakukan aku akan melakukannya. Bahkan aku tidak peduli jika harus kehilangan Lion." Gumam Niko dengan pandangan satu arah.


Drrtt drrtt


Sebuah pesan dari Lion masuk.


Kau tenang saja, aku tidak akan ikut campur lagi masalah kalian.


...–NATZSIMO–...


Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.


Jangan lupa juga ikutan giveaway dengan masuk ke grup chat author.


Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.


Kemungkinan akan ada season/jilid ketiga karena cerita masih panjang banget, tapi bisa jadi di beda platform ya.


Follow author dan baca karya author lainnya karena mungkin saja bersinggungan satu dengan yang lainnya.


...❤❤❤❤❤...