
Lion bersama Karen sedang berada di toko pakaian. Mereka berdua berbelanja banyak sekali pakaian. Pemuda itu mengambil pakaian yang tidak biasanya, yaitu pakaian dominan warna hitam, warna kesukaannya.
"Kau benar-benar mengubah gayamu, Lion." Seru Karen melihat Lion mengambil beberapa pakaian yang berwarna hitam.
"Hari ini aku akan membayar semua barang yang kau beli. Aku baru saja membongkar celengan ayamku." Tatap Lion dengan senyum lebar.
"Ya, kau memang harus membayar semuanya untukku." Seru Karen menyipitkan matanya pada Lion.
"Aku sangat mencintaimu." Ucap Lion menahan senyumnya dengan melirik Karen.
Tiba-tiba handphone Lion berdering. Pemuda itu sedikit aneh karena yang meneleponnya adalah Ronald.
"Ada apa, Ron?"
"Sialan kau memanggilku begitu." Seru Ronald membuat Lion tertawa. "Datanglah ke rumah sakit."
...***...
Hari menjelang malam, Melody yang sudah kembali sejak pukul empat sore terus duduk di kursi meja belajarnya, menoleh pada jendela kamar Lion yang tirainya tidak pernah terbuka lagi.
Saat ini sudah gelap karena sudah jam tujuh malam. Dia merasakan sebuah kesedihan setelah mendengar perkataan Niko yang mengatakan kalau Lion sudah berpacaran dengan Karen. Dirinya menjadi tidak rela akan hal itu. Gadis itu tidak ingin Lion lebih dekat bersama gadis lainnya melebihi kedekatan mereka dulu.
Perasaannya sangat sakit dan bersedih sekarang. Seharusnya dia tahu itu dan tidak bersedih, namun perasaan cintanya pada Lion tidak bisa membuatnya untuk tidak bersedih. Padahal sebentar lagi pun dia akan bertunangan dengan Niko, seharusnya dia tidak merasakan ketidakrelaan ini pada Lion.
"Melody, ini sudah waktunya makan malam." Di luar Mona mengetuk pintu kamar Melody.
"Aku tidak ingin makan." Jawab Melody menidurkan kepalanya ke atas meja belajarnya.
"Apa mau aku bawakan ke kamar makanannya?"
Melody tak menjawab sehingga Mona pergi meninggalkannya. Namun tidak berapa lama Mona membuka pintu kamar Melody membawakan makanan untuk gadis itu.
Melody menegakan duduknya dan menghapus air matanya ketika Mona masuk. Mona tahu kalau saat ini Melody sedang menangis.
"Makanlah dulu, kau pasti lapar setelah menangis." Ujar Mona meletakan makanan ke meja di hadapan Melody.
Perkataan Mona membuat Melody menoleh padanya.
"Jangan menangis saat perut lapar, itu akan membuatmu menjadi sakit." Tambah Mona dengan sedikit senyum. "Niko tidak membuatmu menangis kan? Tidak, pasti bukan dia. Pasti bocah itu kan yang membuatmu menangis?"
Melody agak terkejut mendengar perkataan Mona yang berdiri memandangnya tak jauh.
"Hanya orang yang kau suka yang bisa membuatmu menangis. Itu sebuah fakta ironi dari perasaan suka pada seseorang." Mona tersenyum dengan mata sendu. "Jangan menangis pada hal yang kau tahu akan terus membuatmu menangis, lebih baik katakan kalau kau menangis pada dirinya biar kau tak menangis lagi."
"Apa yang harus aku katakan?" Tanya Melody.
"Hal yang membuatmu menangis." Jawab Mona. "Kau dan bocah itu sama saja. Kalian berdua menikmati rasa sakit yang kalian ciptakan sendiri."
"Apa maksudnya?"
"Sudahlah, kau makan dulu saja." Senyum Mona setelah itu berjalan ke luar.
Di luar kamar Melody, Mona melihat Prothos berdiri di depan kamarnya yang ada di seberang kamar Melody. Prothos mendengar perkataan Mona pada Melody tadi.
"Kau pun juga sama saja dengan adikmu." Ucap Mona pada Prothos dan setelahnya langsung berjalan pergi menuju tangga.
...***...
Lion berada di bawah sebuah menara konstruksi yang belum jadi. Karena sudah gelap para pekerja bangunan menara tersebut sudah menghentikan pekerjaannya.
Hari sudah gelap, Lion yang memakai pakaian serba hitam memasang kamera di ikat kepala yang dipakainya, dia juga memakai hoodie dengan penutup kepala dan menutup wajah bagian bawahnya dengan buff masker hitam serta sarung tangan. Sudah lama dia sangat ingin melakukan hal yang akan dia lakukan saat ini, yaitu memanjat menara konstruksi tersebut tanpa pengamanan.
"Kau serius akan melakukannya? Kau benar-benar sudah gila, Lion." Ujar Ivan yang bersama Lion.
"Aku suka sesuatu yang memacu adrenalin, kau mau ikut tidak?" Tanya Lion sudah siap memanjat.
"Aku masih ingin hidup." Jawab Ivan. "Awas saja kalau terjadi apa-apa padamu."
"Tidak akan, aku akan berada di ujung menara, itu tempat yang sangat aman untukku." Tawa Lion. "Pastikan saja kau melihat aksiku dari layar laptop itu."
Tanpa basa basi lagi Lion mulai memanjat menara yang belum jadi dan masih dalam bentuk konstruksi tersebut. Tinggi menara itu sekitar 300 meter, dan Lion memanjat hanya bermodalkan sarung tangan dan tanpa pengaman ataupun penerangan.
Setelah hampir dua jam dia memanjat akhirnya dia benar sampai di pucuk menara. Dia tertawa senang melihat pemandangan kota dari tempat itu. Walau angin berhembus sangat keras malam ini, hal tersebut tidak membuatnya takut jatuh. Malah sebaliknya, dirinya merasa aman saat ini karena baginya ketika berada di tempat yang tinggi tak ada lagi yang membuatnya takut.
Dia berdiri dan merentangkan tangannya untuk merasakan angin yang menerpa dirinya. Sejenak perasaannya menjadi baik-baik saja, dan perasaan yang selalu dirasanya sejak kedatangan Niko menjadi hilang.
"Lion, sudah turunlah!!" Seru Ivan.
"Bagaimana rasanya kalau terjatuh dari sini, Ivan?" Tanya Lion.
"Jangan bertingkah gila, Lion!! Cepat turun!!"
Lion tertawa mendengar kepanikan Ivan.
"Ivan, kau harus melakukan sesuatu untukku." Ujar Lion sambil duduk di pinggiran menara, kakinya menjuntai ke bawah.
"Aku selalu melakukan apapun yang kau minta." Jawab Ivan memperhatikan laptop yang dibawanya menunjukan gambar yang diambil dari kamera yang dibawa Lion. "Turunlah dulu, dan katakan apa yang harus aku lakukan."
Lion diam saja tak menjawab. Hal itu membuat Ivan semakin cemas pada temannya itu karena sebelumnya pemuda itu bertanya mengenai hal aneh tentang bagaimana rasanya jatuh dari tempat dirinya berada.
"Lion, jangan main-main!! Turunlah cepat!!" Perkataan Ivan tak digubris pemuda itu. "Kau ingin apa? Apa yang harus aku lakukan? Seharusnya aku tidak membiarkanmu melakukan hal bodoh ini tadi. Cepat katakan apa yang harus aku lakukan lagi untukmu?" Ivan terus melihat layar laptopnya untuk memantau Lion saat ini.
"Singkirkan sepupumu." Ucap Lion namun Ivan tak menjawabnya. "Kau diam karena kau tidak bisa kan? Aku juga hanya bergurau." Tawa Lion. "Aku sangat menyukai sepupumu itu, aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya."
"Kalau begitu cepat turunlah!! Ini sudah tengah malam."
"Aku berencana tidur di sini. Aku rasa aku akan bermimpi indah jika berada di tempat ini. Aku akan terus berada di dalam mimpiku mulai saat ini."
"Kau ini mengoceh apa Lion? Cepatlah turun!! Sebentar lagi juga akan hujan."
Tanpa Ivan kira, Lion menutup teleponnya.
Ivan terkejut ketika terdengar suara keras dari arah bawah menara. Ivan langsung berlari dengan panik keluar mobil untuk mengetahui apa yang terjadi karena saat yang bersamaan dengan terdengar suara keras tersebut, gambar di laptopnya menghilang seketika.
...***...
Melody terbangun dari tidurnya setelah bermimpi buruk. Dalam tidurnya dia bermimpi mengulang kejadian di masa kecilnya dulu. Ketika usianya delapan tahun, dirinya terjatuh dari sepeda yang dikendarai oleh seorang anak laki-laki, hingga kakinya penuh dengan luka dan bawah dagunya robek membuatnya harus menerima jahitan.
Melody masih mengingat dengan jelas kejadian waktu itu. Kejadian ketika dirinya diboncengi sepeda dengan kecepatan yang sangat cepat. Anak laki-laki yang mengendari sepeda itu adalah Lion.
Gadis itu menjadi bersedih kembali setelah memimpikan kejadian di masa lalu itu. Setelah membuatnya terluka, ketiga kakak Melody menghajar Lion yang waktu itu masih sangat kecil hingga Lion mengurung diri di kamarnya sampai sebulan penuh.
Saat itu dia sama sekali tidak marah pada Lion karena Lion hanya mendengar kata-katanya untuk mengayuh sepedanya secepat mungkin untuk dirinya merasakan angin yang menerpa tangannya yang direntangkan. Bisa dibilang kecelakaan itu pun terjadi karena Melody sendiri dan bukan salah Lion.
Gadis itu merasa bersedih kembali karena ketika akhirnya Lion menemuinya setelah sebulan mengurung diri, dia malah menyalahkan Lion atas kejadian itu, dan menjadi Lion yang meminta maaf padanya.
Akhirnya Melody menyadari kalau selama ini dirinya selalu menyalahkan Lion mengenai apapun yang terjadi, dan selalu Lion juga lah yang pada akhirnya meminta maaf padanya. Walaupun itu tidak ada sangkutpaut apapun pada diri Lion atau karena memang kesalahan Melody sendiri, dia selalu menyalahkan pemuda itu. Kenyataannya Lion selalu mengalah untuk apapun dan pada siapapun.
Handphone Melody yang berada di meja samping tempat tidur bergetar. Sebuah pesan masuk. Melody menghapus air matanya sebelum membuka pesan tersebut. Gadis itu terkejut karena ternyata Lion memberinya sebuah pesan.
Selamat malam, semoga mimpiku indah.
...–NATZSIMO–...
Terimakasih untuk babang Raskalov yang menginspirasi kekonyolan Lion di bab ini 🙏🙏
Mau nyantumin gambar, takut ditiru.
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......