MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
132. TIDAK BISA DIBAGI DAN TIDAK AKAN BERHENTI



Semua orang terkejut ketika melihat seorang pemuda datang di atas kursi roda yang berjalan masuk. Semua itu karena beberapa jam yang lalu pemuda tersebut dinyatakan meninggal dunia. Ya, dia adalah Athos, yang terbangun tidak lama setelah mesin ventilator dilepas dari dirinya.


Athos yang datang dengan didorong pamannya di kursi roda. Berniat untuk meringankan hukuman Dion. Hingga akhirnya Dion hanya divonis dengan lima tahun penjara atas kasus penusukan itu.


Mereka semua kembali ke rumah sakit setelah persidangan usai. Prothos sangat tidak percaya ketika melihat kembarannya datang ke persidangan setelah dinyatakan meninggal dunia.


"Apa yang terjadi, Ato?" Tanya Prothos dengan kelegaan melihat Athos yang sudah sadar.


Saat ini di ruangan itu selain mereka berdua, Lion dan Ronald ada di sana. Sedangkan Melody bersama Ayah dan kakeknya, serta Niko sudah pergi saat mengetahui Athos sadar sebelum ke persidangan.


"Ars harus tahu kalau kau sudah sadar." Ujar Prothos. "Tapi saat ini dia pasti masih di dalam pesawat."


"Aku sudah memberitahunya sesaat sebelum dia menaiki pesawat." Jawab Lion.


"Apa?" Prothos menoleh pada Lion bingung.


Prothos menatap Athos bingung karena Lion bilang sudah memberitahu Aramis sebelum Aramis menaiki pesawat. Padahal pesawat kembarannya itu seharusnya jalan jam tujuh pagi.


Athos yang masih duduk di kursi roda tertawa melihat wajah Prothos yang kebingungan.


"Oto, saudara kembarmu ini memang manusia paling gila." Seru Ronald yang duduk di sofa. "Dia sudah sadar beberapa hari yang lalu tapi meminta merahasiakannya."


"Ya, aku juga sudah tahu dia sudah sadar, karena paman memintaku datang menemuinya." Ujar Lion yang duduk di samping Ronald.


"Jadi aku orang terakhir yang tahu kau sudah sadar?" Tanya Prothos dengan wajah kesal. "Aku akan membunuhmu, Ato!! Aku dan Ars akan membunuhmu!! Kau menipu kami berdua!!" Prothos menarik kerah baju Athos.


"Aku tidak akan membiarkanmu dan Ars sampai membunuh Dion karena pernikahan Tasya tidak akan berlangsung." Jawab Athos.


"Apa maksudmu?" Tanya Prothos.


"Ayah Tasya sudah membatalkan rencana pernikahan yang tadinya tetap akan dilaksanakan bulan depan. Kami membuat kesepakatan sebelum penusukan itu terjadi. Aku mengatakan semua rencanaku padanya dan aku menantangnya, jika aku berhasil hidup dia harus membatalkan pertunangan Tasya dengan Dion, dan tidak mencoba menikahkan mereka lagi. Dan aku berhasil hidup." Athos tersenyum angkuh seperti ciri khasnya.


"Kau memang gila, Ato!! Kau menantang maut dengan mencoba melawan takdir!! Tidak ada orang segila kau di muka bumi ini!!" Seru Prothos tidak percaya pada kembarannya tersebut.


"Semua hal boleh dilakukan demi cinta, dan itu sepadan." Jawab Athos. "Bukan begitu paman? Ah, aku lupa itu tidak berlaku untukmu."


"Seharusnya aku tidak membantumu merahasiakan kesadaranmu, bocah angkuh." Gumam Ronald menahan kekesalannya.


"Sayang sekali Ars tidak ada di sini. Aku ingin menertawakan dirinya yang menangis di depanku tempo hari." Ucap Athos dengan senyum. "Ya, aku akan menertawakan kalian semua dengan kebodohan kalian yang tidak pernah bersungguh-sungguh dalam masalah percintaan kalian."


"Sialan kau, Ato!!" Geram Prothos kesal kembali mencengkram baju Athos lagi.


"Maafkan aku sudah membuatmu dan Ars sangat bersedih, aku juga minta maaf karena menyembunyikannya dari kalian." Ucap Athos pada Prothos yang menarik bajunya.


Prothos melepaskan cengkramannya dari Athos dan mengusap wajahnya dengan kelegaan.


"Jangan melakukan hal seperti itu lagi. Aku dan Ars tidak ingin kau meninggalkan kami." Tatap Prothos dengan serius. "Kami sangat membutuhkanmu."


Athos tersenyum pada kembarannya tersebut.


"Baiklah, sebaiknya aku pulang." Ujar Lion beranjak dari duduknya.


"Lion, terima kasih karena selama ini kau selalu ada di belakang kami." Ucap Athos. "Aku berharap kau berada di samping kami bukan di belakang kami."


"Tidak, aku lebih suka di belakang kalian biar sewaktu-waktu saat aku bosan aku akan mendorong kalian bertiga." Gumam Lion sambil berjalan membuka pintu.


Saat yang bersamaan Tasya muncul dari luar. Gadis itu berjalan masuk ketika Lion keluar dan menutup pintunya. Athos menyambutnya dengan sebuah senyum. Tanpa basa-basi Tasya langsung memeluk pemuda yang sangat dirindukannya itu.


"Ato, aku sangat merindukanmu. Aku yakin kau akan sadar. Kau tidak mungkin meninggalkan aku." Ucap Tasya yang menangis di pelukan Athos yang duduk di kursi roda. "Aku sangat mencintaimu, aku bahkan ingin menciummu."


Athos melepas pelukan Tasya dan menatap wajah gadis yang sangat dicintainya itu.


"365 kali kau bilang merindukan aku, 232 kali kau bilang mencintaiku, 276 kali kau bilang ingin menciummu, dan 157 kali kau menciumku." ujar Athos.


"Apa?" Tanya Tasya bingung.


"Aku menghitung semua itu ketika kau berada di sini menemaniku." Senyum Athos.


"Ayo keluar paman, ini sangat memuakan melihat mereka." Ajak Prothos yang berjalan keluar ruangan diikuti Ronald, pamannya.


"Kau tidak akan tahu seberapa besar aku menahan diriku untuk tidak membalas ucapan dan ciumanmu." Jawab Athos memegang wajah Tasya. "Aku merindukanmu seperti bilangan irasional, aku mencintaimu seperti angka ganjil, dan aku ingin menciummu seperti kalimat tanpa titik."


"Apa maksudnya, Ato?" Tanya Tasya bingung.


...***...


Lion berjalan keluar dari ruangan Athos, dia memikirkan perkataan sindiran Athos tadi. Itu membuatnya benar-benar merasa bodoh.


"Tidak semua orang seberuntung dirimu." Gumam Lion setelah itu membuang napas panjang dengan masih terus berjalan. "Semua hal boleh dilakukan demi cinta, dan itu sepadan. Kalimat itu hanya untuk orang sepertimu Ato."


"Lion." Panggil Mona yang berjalan ke arah Lion. "Kau masih saja suka bicara sendiri."


Lion hanya menyunggingkan senyum tipis ke Mona karena perasaannya saat ini sedang tidak baik sehingga dia tidak bisa bersikap seperti biasanya.


"Ada apa? Kau tampak berubah sekarang?" Tanya Mona lagi. "Biasanya kau selalu senyum bodoh dengan tampang konyol. Bahkan kau mengubah gaya berpakaianmu. Aku sempat tidak mengira kalau itu kau tadi."


"Tidak ada alasan lagi aku seperti itu." Jawab Lion dengan nada dingin. "Sisi diriku yang seperti itu sudah menghilang. Sekarang yang ada di hadapanmu adalah Lion yang berbeda."


Mona tertawa mendengarnya, namun gadis itu menghentikan tawanya karena Lion tetap tidak mengubah ekspresinya.


"Kalau seperti itu kau tampak tidak berbeda dengan mereka semua. Aku lebih suka dirimu yang dulu." Ucap Mona mencoba membuat Lion mengubah ekspresi wajahnya. "Jangan mengubah dirimu karena apapun. Semua orang sudah tahu dan menyukai dirimu yang seperti biasanya."


"Tidak, dia tidak menyukainya." Jawab Lion. "Sisi diriku yang seperti dulu juga menghilang setelah aku kehilangannya."


"Megan maksudmu?" Tanya Mona pura-pura tidak mengerti. "Belilah motor baru agar sisi dirimu yang kau bilang hilang itu kembali lagi padamu."


Lion hanya menyunggingkan bibirnya karena perkataan Mona membuatnya sedikit kesal.


"Jika saja waktu yang kami habiskan bersama bisa tergantikan dengan yang baru, aku tidak mungkin kehilangan sisi diriku yang dulu." Ujar Lion.


"Berhentilah mengeluh dan temukan kembali sisi lain dirimu yang hilang itu." Seru Mona ketus. "Kau selalu membantu semua teman-temanmu tapi menyelesaikan masalah dirimu sendiri kenapa sangat sulit? Kenapa semua orang di sekelilingku sekarang makhluk yang suka meratapi nasibnya tanpa berbuat sesuatu." Gumam Mona kesal. "Kalian semua menikmati rasa sakit yang kalian buat sendiri."


"Ya, aku sangat menikmatinya hingga rasanya tidak ingin mengakhirinya." Jawab Lion.


"Semuanya tidak akan berakhir sebelum kau mengakhirinya." Seru Mona.


...–NATZSIMO–...


Yuk baca kisah kakek buyut keluarga Sanzio alias keluarganya Melody dan Musketeers di "Penebus Dosa Sang Mafia".


Sifat turunan keluarga Sanzio yang melekat bawaan dari nenek buyutnya keluarga Mafia Italia, Vivian Zeta La Nostra dan sifat bucinnya Musketeers turun dari kakek buyutnya Vernon Sanzio.


...----------------...


Baca cerita author yang lain juga ya.


Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.


❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤


Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......