
Di sekolah kabar mengenai Prothos sudah beredar. Namun Prothos tidak masuk sekolah karena saat ini dirinya merasa semakin tidak bersemangat menjalani hidupnya. Kenyataan kalau Widia berkorban untuk dirinya agar bisa lulus sangat membuatnya terpukul dan sangat bersedih. Prothos hanya berbaring di tempat tidurnya dan selalu mencoba untuk tidur walau sangat sulit.
Wilda yang berada di sekolah mendapatkan tatapan sinis dari semua orang, karena ternyata dia bukanlah kekasih Prothos dan hanya memanfaatkan Prothos yang selalu bersikap baik pada wanita manapun. Hal itu membuatnya kembali mendapatkan rundungan dari para kakak kelas, sehingga gadis itu memilih untuk pindah sekolah.
"Semuanya menjadi semakin buruk." Gumam Melody menatap keluar jendela kelasnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Niko yang melihat Melody tampak tidak bersemangat. Biasanya Melody selalu serius setiap guru sedang menjelaskan namun tidak kali ini. "Apa pulang nanti kau ingin jalan-jalan? Biar moodmu membaik."
"Tidak." Jawab Melody.
Niko diam saja sambil memperhatikan Melody yang terus memandang keluar jendela. Namun tak berapa lama Melody menoleh padanya.
"Baiklah, ayo kita pergi menonton film ke bioskop." Ujar Melody. "Sudah lama aku tidak menonton di bioskop, dan ada film baru dari sekuel film yang aku suka."
"Menonton film? Aku tidak terlalu suka." Ucap Niko. "Tapi baiklah kalau kau yang mau."
"Filmnya mengenai vampir."
"Apa?" Tanya Niko sedikit bingung. "Kita menonton yang lain saja."
Melody menggeleng.
...***...
Keberadaan Niko yang datang bersama Melody ke bioskop menjadi pusat perhatian. Penampilan Niko beserta kulit pucat Niko membuat semua orang disana melihat kehadirannya, ditambah tinggi badannya yang membuatnya mudah terlihat. Apalagi film yang akan mereka berdua tonton mengenai vampir. Sosoknya yang seperti vampir membuat semua yang melihatnya berbisik-bisik menatapnya.
"Mereka semua benar-benar menatapku terus." Gumam Niko pada Melody saat mereka sedang mengantri membeli tiket. "Seharusnya tadi kita membeli tiket online saja."
Melody menahan senyumnya mendengar Niko.
"Eto tak smushchayet. Pochemu oni vse smotryat na menya? Menya ochen' razdrazhayut ikh vzglyady. Luchshe posmotret' drugoy fil'm ili ne nado smotret' fil'm." Ucap Niko yang membuat Melody menatapnya padahal saat ini mereka sudah berada di depan loket tiket.
Dan penjaga loket ikut menatapnya bingung.
"Astaga, aku sampai lupa kau tidak mengerti bahasa itu." Ujar Niko pada Melody yang menatapnya.
"Aku kira kau tidak bisa berbahasa sini." Seru penjaga loket pada Niko. "Kau seperti seorang vampir. Apa boleh berfoto denganmu?"
Niko tidak menjawab dan hanya menatap bingung sambil berpikir harus bagaimana untuk menolaknya.
"Sorry, I can't understand what you said." Jawab Niko untuk menghindar. Niko melihat pada Melody untuk meminta bantuannya agar menghindar dari permintaan itu.
"Kau bisa berfoto dengannya." Ucap Melody pada wanita penjaga loket dan disambut dengan senang.
Niko menatap heran Melody sebelum dia diserbu oleh para wanita yang meminta foto dengannya. Bukan hanya penjaga loket tadi saja yang berfoto dengan Niko, teman-temannya dan pengunjung lain juga berfoto dengan Niko (Dikira lagi cosplay 😂). Niko hanya bisa menatap dingin Melody yang berdiri agak ke pinggir dengan menahan tawanya.
Niko cukup lama tertahan oleh para wanita yang meminta foto dengannya di dekat poster film vampir yang sedang diputar. Dia memperhatikan Melody yang menunggunya dan jadi sibuk dengan handphone karena terlalu lama menunggu.
Tanpa memedulikan wanita-wanita yang memintanya berfoto, Niko langsung berjalan menghampiri Melody yang fokus pada handphone-nya, dan langsung mengambil handphone Melody dari tangan gadis itu.
"My tozhe dolzhny fotografirovat'! (Kita juga harus berfoto!)" Seru Niko yang langsung melingkarkan lengan kirinya ke leher Melody, merangkulnya dan agak menundukkan kepalanya mendekat ke leher kanan Melody, lalu mengambil foto menggunakan handphone Melody.
Melody terkejut tetapi tidak bisa menghindar. karena apa yang dilakukan Niko sangat cepat.
Namun siapa sangka Aramis melihat apa yang dilakukan Niko pada adiknya. Aramis datang bersama Anna hendak menonton film juga di bioskop tersebut. Dengan geram Aramis langsung mendorong Niko menyingkir dari Melody.
"MENJAUH DARI ADIKKU!!" Teriakan Aramis membuat perhatian semua orang yang sebelumnya memang memperhatikan Niko dan Melody, menjadi terkejut. Aramis hendak mendekati Niko untungnya Anna menahannya.
"Hentikan, Ars!!" Tahan Anna dengan berdiri di hadapan Aramis.
Niko dan Melody terkejut dengan kehadiran Aramis. Namun Niko malah menyunggingkan senyum mengejeknya pada musuhnya tersebut, itu membuat Aramis kembali geram.
"Sialan!!"
"Tenanglah, Ars. Kita ditempat umum sekarang." Anna masih menahan Aramis.
Namun Melody tak bergeming, dia hanya bingung harus melakukan apa sekarang. Gadis itu hanya menatap Niko yang berdiri di jarak dua meter darinya setelah Aramis mendorongnya kasar.
"Kau dengar aku, Melo?!" Tatap kesal Aramis pada Melody yang tak bergeming.
"Apa-apaan kau, Ars? Bagaimanapun kami berencana menikah, kau tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini padaku." Ucap Niko dingin.
"Berengsek!! Tidak akan aku biarkan adikku menikah denganmu!!" Seru Aramis mencoba lepas dari Anna yang menahannya.
"Niko, pergilah, jangan seperti ini. Kita di tempat umum. Kita jadi bahan omongan semua yang disini." Ujar Anna menoleh pada Niko.
Niko menatap pada Melody setelah itu kembali menoleh pada Aramis. Sebelum berjalan pergi dia kembali tersenyum mengejek pada Aramis.
Melody hendak berjalan menghampiri Niko yang pergi namun Aramis lebih dulu memegang lengan adiknya itu. Dengan dingin Melody menatap Aramis.
"Mau kemana kau? Pulang bersamaku!!" Bentak Aramis pada Melody.
"Ars, lepaskan tangannya." Ujar Anna.
Melody menarik tangannya dengan keras serta menatap kakaknya dingin. Aramis pun melepaskan tangannya dan setelah itu Melody bergegas menyusul Niko.
"Kenapa kau menahanku?" Aramis tampak kesal pada Anna.
"Kau tidak malu? Kita jadi pusat perhatian saat ini." Jawab Anna.
Aramis langsung melihat ke sekitar dan benar semua orang memperhatikan mereka dan terdengar bisikan-bisikan, bahkan beberapa dari mereka ternyata mengetahui kalau dirinya adalah salah satu Musketeers.
"Sedang lihat apa kalian semua?" Geram Aramis pada semua yang memperhatikannya, dan mereka langsung membubarkan diri.
"Astaga, kau ini." Ucap Anna tak habis pikir pada tingkah Aramis.
"Ayo kita pulang! Aku harus memperingatkan Melo untuk menjauhi si tengik itu!! Kau juga lihat kan apa yang dilakukannya pada adikku tadi? Berani sekali dia merangkul adikku seperti itu."
"Tidak, kau yang memaksaku untuk ikut bersamamu menonton film, kita harus menonton sekarang."
"Anna!!"
"Baiklah, kita tunggu sepuluh menit, aku takut kau akan seperti tadi jika bertemu dengannya di parkiran." Jawab Anna.
...***...
"Niko!!" Panggil Melody ketika Niko hendak masuk ke mobil saat sampai di parkiran.
Niko menoleh dan tidak mengira kalau Melody menyusulnya. Melody segera berlari ke arah mobil Niko terparkir, menghampiri pemuda itu.
"Kau menyusulku?"
"Aku pergi bersamamu, dan aku akan pulang denganmu juga." Jawab Melody. "Aku minta maaf dengan yang terjadi tadi."
"Aku yang minta maaf karena kita tidak jadi menonton film kesukaanmu." Ucap Niko. "Masuklah." Niko membukakan pintu mobil untuk Melody.
Melody segera masuk ke dalam mobil dan menatap pada Niko yang mulai menjalankan mobilnya.
"Maafkan aku juga karena membuatmu jadi berfoto dengan banyak orang."
"Tidak masalah, yang penting kau harus mengirim foto tadi padaku." Jawab Niko. "Kapan ayahmu pulang?"
"Belum ada kabar pasti. Ada apa?"
"Aku tidak sabar mengatakan pada ayahmu tentang rencanaku, aku ingin kita cepat bertunangan."
Jawaban Niko membuat Melody terdiam. Dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa, karena dirinya menjadi merasa bersedih kembali.
...–NATZSIMO–...