
Melody berada di pinggir kolam renang memperhatikan Niko yang sedang berenang. Sejak tadi gadis itu hanya duduk di kursi santai berbahan kayu yang berada di pinggir kolam renang indoor.
"Jam berapa saat ini?" Tanya Niko yang berjalan mendekati Melody setelah keluar dari kolam renang sambil membuka kacamata dan penutup kepalanya, juga menurunkan sedikit resleting baju renang panjangnya dari dadanya.
"Jam enam sore." Jawab Melody. "Ada apa? Kenapa sejak tadi kau bertanya jam terus? Apa ada hal yang kau tunggu?"
"Tidak ada." Jawab Niko mengambil handphone-nya dan memfokuskan dirinya ke layar handphone sejenak. Lalu meletakan kembali handphone-nya ke kursi habis itu membuka lengan baju renangnya. "Habis ini kita makan, aku akan mandi dan berganti pakaian dulu, tunggu aku di meja makan."
Setelah berkata demikian Niko langsung bergegas keluar. Melody melihat Niko lupa membawa handphone-nya, dengan segera Melody mengambilnya untuk membawanya ke meja makan. Namun handphone Niko belum terkunci membuat Melody sedikit penasaran dan ingin melihat sesuatu di handphone tersebut.
Melody memperhatikan perubahan ekspresi ketika Niko melihat handphone-nya tadi. Ditambah Niko selalu bertanya tentang waktu saat berenang. Dengan segera Melody membuka handphone Niko dan membuka pesan terakhir yang di dapatkan. Seorang teman Niko mengiriminya sebuah video.
Ada rasa ragu di diri Melody apakah dia harus memutar video tersebut atau tidak. Tanpa pikir lagi Melody memutar video tersebut dan melihat Lion berdiri berhadapan dengan kakaknya, Aramis. Tiba-tiba Niko merebut handphone tersebut dari Melody.
"Ada apa? Ada apa dengan video itu?" Tanya Melody bingung.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Niko hendak berjalan pergi lagi.
"Semuanya terasa aneh. Kau memintaku datang dan ingin agar aku menemanimu hingga malam nanti, sepertinya sesuatu sedang terjadi dan kau tidak ingin aku mengetahuinya. Kau selalu bertanya jam berapa sejak tadi dan ekspresimu berubah saat melihat pesan itu. Di video itu Lion bersama kak Ars. Apa yang mereka lakukan?"
Niko berjalan mendekat kembali ke Melody. "Tidak ada apa-apa."
"Cepat atau lambat aku juga akan tahu, Niko. Beritahu aku sekarang." Seru Melody. "Apa mereka berdua berkelahi? Lion menggulung tangannya dengan kain, paman Ron selalu seperti itu ketika akan memukuli kak Ars."
Niko diam saja tidak menjawab karena perkataan Melody benar. Melody mengambil handphone di tas nya untuk menghubungi Lion ataupun kakaknya namun Niko menahan handphone-nya.
"Ya, mereka berkelahi." Jawab Niko. "Dan sudah selesai. Mereka melakukan pertarungan hidup dan mati."
"Apa?" Melody terkejut mendengarnya. "Hidup dan mati? Apa maksudnya itu?"
"Pertarungan berhenti ketika salah satu mati." Jelas Niko. "Dan pertarungan mereka berdua sudah selesai."
...***...
Beberapa menit yang lalu
David berjalan menuju kerumunan teman-temannya yang menyaksikan pertarungan Lion dan Aramis. Keadaan hening saat ini. David melihat Aramis yang mencengkram leher Lion dengan sangat kuat menggunakan tangan kanannya, wajah Lion sudah tampak sangat memerah. Mereka semua yang menonton merasa kalau pertarungan akan segera berakhir.
Tapi tiba-tiba Lion memegang tangan kanan Aramis dengan kedua tangannya dan menariknya agar melepaskan cekikan dari lehernya, lalu membanting Aramis dengan memiting lehernya dengan kedua kakinya dan menariknya hingga berputar terbanting ke tanah lalu bangkit berdiri karena rasa sakit di lehernya membuatnya susah bernapas.
"Ars tidak sungguh-sungguh mencekiknya, kalau dia sungguh-sungguh, dia akan menggunakan tangan kirinya." Gumam David membuat yang lain menoleh padanya. "Apa kalian tidak tahu kalau dia kidal?"
Aramis bangun saat Lion batuk-batuk dan mengatur napasnya setelah cekikan Aramis padanya. Aramis tertawa melihatnya.
"Gerakkanmu barusan bagus juga Lion, seperti gerakan Rey Mysterio." Ujar Aramis. "Ternyata kemajuanmu lumayan pesat."
Lion masih sibuk mengatur napasnya dengan rasa nyeri di lehernya.
"Kau sudah mengerti kan bagaimana rasa sakitnya? Apa kau serius masih ingin melanjutkan hingga kau benar-benar mati?"
"Ya, ayo kita selesaikan ini, Ars!!" Seru Lion setelah mampu bernapas sedikit lebih baik.
"Baiklah, sekarang aku tidak akan main-main." Tatap Aramis sangat serius. "Aku akan langsung mengakhirinya dengan satu kali pukulan. Majulah, serang aku sebisamu."
Lion menerjang Aramis dengan tendangan yang mengenai dada Aramis. Lion maju menarik Aramis dan memukulnya berkali-kali di perutnya. Namun lagi-lagi Aramis mampu bertahan dengan menghantamkan kepala Lion ke lututnya lagi.
"Aku akan mengakhirinya, Lion." Ucap Aramis pada Lion yang tak berdaya setelah menerima hantaman keras ke lutut Aramis.
Aramis mencengkram kaos Lion dan mengepalkan tangan kanannya, lalu dengan tinjunya yang bertenaga didaratkannya ke pelipis kiri Lion. Seketika Lion tumbang tak berdaya.
Teman-teman Lion yang menyaksikan sangat terkejut ketika melihat Lion sudah terkapar tak bergerak setelah menerima tinjuan Aramis yang sangat keras. Mereka semua tampak sangat khawatir.
"Tenang saja, dia hanya pingsan." Seru Aramis pada semua teman-teman Lion. "Sama seperti kalian, aku juga tidak mau dia mati. Tapi aku harus melayaninya biar dia puas. Cepat bawa dia ke rumah sakit sebelum bocah konyol ini sadar. Dia tidak akan menerima hasil pertarungan ini. Anggap saja aku yang kalah, dan dia bukan lagi temanku, mulai saat ini aku akan melayani siapapun yang mencari gara-gara padaku."
Setelah berkata demikian Aramis berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Ivan bersama teman-teman Lion lainnya menghampiri Lion yang tak sadarkan diri di tanah untuk segera membawanya ke rumah sakit.
"Aku rasa ini yang terbaik." Ujar David pada Aramis. "Kau menyelesaikannya dengan sangat baik, Ars."
"Kau tidak memakai tangan kirimu sama sekali. Aku penasaran siapa yang bisa mengalahkanmu." Ujar David tertawa heran. "Niko tidak akan bisa mengalahkanmu lagi. Kau benar-benar monster tak terkalahkan."
"Aku berharap ini pertarungan terakhirku, Anna memintaku untuk tidak berkelahi lagi. Tapi sepertinya itu mustahil, baru saja aku menantang mereka semua."
"Tenang saja, setelah apa yang kau lakukan, mereka semua akan menghormatimu." Ujar David. "Jika ada yang menantangmu lagi, aku yang akan maju untukmu, kakak kelas yang baik hati."
Aramis berjalan pergi dengan tawa setelah mendengar ocehan David.
"Sampaikan salamku pada Anna." Seru David.
Aramis hanya mengacungkan jari tengahnya tanpa menoleh ataupun berhenti berjalan.
...***...
Melody keluar dari mobil bersama Niko ketika sampai di depan rumah sakit. Gadis itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah sakit dimana saat ini tempat itu sangat dipenuhi teman-teman Lion yang berada di setiap tempat dan sudut rumah sakit. Mereka semua melihat kedatangan Melody yang tampak cemas pada kondisi Lion, Niko berjalan di belakang gadis itu.
Niko dapat merasakan kalau saat ini mereka semua menatap kehadirannya dengan tatapan tidak menyenangkan namun dirinya tidak menghiraukan hal tersebut.
Melody masuk ke ruang IGD dimana Lion masih tak sadarkan diri. Ivan dengan beberapa teman Lion yang berada di sana langsung keluar saat melihat Melody datang.
Lion masih tak sadarkan diri dengan wajah yang penuh luka yang sudah di plester. Dan alat oksigen juga terpasang menutupi hidung dan mulutnya untuk membantunya bernapas karena cekikan Aramis membuat napas Lion belum sepenuhnya kembali normal.
Melody mendekati Lion dan memegang lengan Lion menggoyangkannya agar pemuda itu bangun.
"Lion, bangunlah..." Pinta Melody. "Seharusnya kau tidak melawan kak Ars, hanya paman yang bisa mengalahkannya. Kau tidak akan bisa, bodoh."
Melody melihat bagaimana leher Lion tampak sangat memerah. Lion pasti susah bernapas setelah kakaknya mencekiknya dengan sangat erat. Gadis itu memperhatikan bibir Lion di balik alat bantu oksigen.
Dengan sedikit ragu Melody menurunkan alat itu dan mendekatkan wajahnya untuk mencium pemuda yang disukainya itu. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, Melody menyentuh bibir Lion dengan bibirnya.
Gadis itu mencium pemuda yang sedang tak sadarkan diri tersebut.
Tanpa diketahuinya, pemuda yang akan bertunangan dengan dirinya melihat perbuatannya dibalik tirai yang tertutup itu.
...–NATZSIMO–...
Kamus author :
Rey Mysterio adalah seorang pegulat profesional asal Amerika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.
Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.
Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.
Baca juga karya author lainnya.
Terimakasih...