MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
182. UNDANGAN AUDISI



Melody duduk bersama Mona di kursi meja makan ketika menjelang sore hari. Gadis itu sedang kesal pada Lion karena pemuda itu pergi sejak pagi. Dia tidak ingin menghubunginya dengan berharap Lion yang menghubunginya lebih dulu namun tampaknya Lion yang bertemu dengan temannya akan selalu lupa mengenai hal lainnya.


"Ada apa? Kau terlihat kesal." Tanya Mona yang duduk di hadapan Melody. "Bocah itu pasti sedang bersama teman-temannya, dia akan baru pulang saat tengah malam atau besok pagi. Lebih baik kau hubungi dia lebih dulu."


Namun bukan Melody namanya kalau tidak bisa menahan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Lion. Dia tidak akan menghubungi Lion lebih dulu dan ingin agar Lion yang menghubunginya dengan kesadarannya sendiri.


"Kenapa Prothos dan Aramis lama sekali? Mereka bilang akan pulang jam empat? Ini sudah jam lima belum pulang. Saat ke café mereka akan lupa waktu." Gumam Mona. "Mereka menawarkan diri untuk berbelanja tapi jam segini belum pulang, tahu begitu aku pergi belanja sendiri tadi. Harusnya aku sudah mulai memasak untuk makan malam." Mona terlihat sangat kesal sambil mengirim pesan pada Prothos.


"Pesan makanan di luar saja, Mona. Kau tidak perlu kesal begitu." Ucap Melody dengan senyum kecil melihat kekesalan Mona.


"Kalau sudah berada di luar para pria pasti akan lupa waktu dan tidak memedulikan yang lainnya. Bahkan mereka lupa dengan semua perkataannya." Gumam Mona masih kesal dengan tatapan ke arah layar handphone. "Kedua kakakmu juga tidak membaca pesanku. Para pria memang tidak bisa diandalkan untuk segalanya."


"Biar aku pesankan makanan untuk makan malam." Ujar Melody.


"Tidak perlu. Aku akan meminta mereka berdua membelinya di jalan saat pulang nanti."


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Mona segera pergi untuk membuka pintu rumah.


"Selamat sore, maaf mengganggu, saya adalah Danny Arya produser Pentatonix Management, bisa saya bicara sebentar dengan Melody?" Ujar seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan yang berpakaian rapi berdiri di depan pintu.


Mona langsung mempersilakan pria tersebut masuk dan duduk di sofa ruang tamu, lalu melihat pada Melody yang duduk di kursi meja makan mengarah ke ruang tamu.


Melody terkejut saat menyadari kalau pria yang datang ke rumahnya adalah seorang produser musik yang terkenal.


Mona segera memanggil Athos yang berada di kamarnya untuk menemani Melody berbicara dengan Danny Arya. Setelah itu dia membuatkan minuman di dapur sambil menyimak perbincangan mereka yang ada di ruang tamu


"Saya menerima demo record sekitar beberapa hari yang lalu." Ujar Danny Arya. "Setelah mendengar demo-nya saya tertarik dengan Melody karena itu saya mencari tahu mengenaimu dan melihat beberapa video penampilanmu di beberapa perlombaan yang pernah diikuti. Melody benar-benar gadis berbakat dalam musik, saya sangat terpukau." Ungkapnya menatap Melody.


"Silakan diminum." Mona meletakkan minuman untuk si tamu.


"Terimakasih." Ucap Danny Arya.


“Demo Record?" Tanya Melody berpikir. Dia sadar kalau yang mengirim Demo Record tersebut adalah Lion. Jadi karena itu Lion merekam penampilannya waktu di pesta kelulusan kemarin.


"Lalu apa maksud kedatangan anda?" Tanya Athos.


"Pentatonix Management sedang mencari penyanyi wanita yang juga bisa menggunakan alat musik, jadi maksud kedatangan saya untuk memberikan undangan audisi pada Melody." Jawab Danny Arya sambil menyodorkan secarik kertas di atas meja. "Ada lima penyanyi wanita lainnya sebagai kandidat, jika Melody bersedia mengikuti audisi maka ada enam kandidat. Penyanyi yang lulus audisi akan di kontrak oleh Pentatonix Management. Semua keterangan dan jadwal audisi tertera di undangan tersebut."


Saat ini Melody benar-benar merasa senang setelah menerima undangan audisi dari Pentatonix Management. Semua itu berkat Lion. Lion yang sudah mengirimkan Demo Record itu ke Pentatonix Management.


Setelah kepergian Danny Arya, Melody berjalan masuk ke kamarnya tidak memedulikan Athos dan Mona yang sedang berdiskusi mengenai undangan audisi yang diterima Melody.


Dia membuang napas untuk mengeluarkan kegembiraannya. Dengan adanya undangan tersebut, itu berarti mimpinya yang ingin meneruskan jejak ibunya selangkah lebih dekat. Ini semua karena Lion.


...***...


Lion sedang berada di sebuah restoran bersama teman-temannya. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Dia terkejut ketika melihat nama penelepon yang tertera di layar handphone adalah Melody. Dengan cepat Lion langsung keluar restoran, untuk menerima telepon tersebut.


Melody tidak langsung menjawab sehingga membuat Lion semakin cemas.


"Melon, cepat katakan ada apa? Kau dimana?"


"Terimakasih." Ucap Melody.


"Ke—kenapa terima kasih?" Tanya Lion menjadi bingung.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, tapi tidak di telepon." Jawab Melody.


"Baiklah, kau di rumah kan?"


"Aku tidak ingin bicara di rumah." Ujar Melody agar Lion mengajaknya pergi keluar.


"Kalau begitu, aku akan meneleponmu jika sudah sampai di depan rumahmu." Kata Lion. "Saat ini aku berada di kota sebelah tapi aku akan meluncur sekarang bagai roket."


Mendengarnya Melody tersenyum. Gadis itu lupa kalau dia tidak ingin lebih dulu menelepon Lion namun kehadiran Danny Arya membuatnya ingin segera memberitahu pemuda itu dan menjadi alasannya untuk menelepon Lion.


Melody duduk bersandar di kursinya. Dia memetik gitar miliknya dengan lembut. Tiba-tiba senar nomer satu yang paling tipis menggores jari telunjuknya sebelum senar itu terputus. Dengan cepat Melody menghisap darah yang keluar dari jarinya.


"Kenapa tiba-tiba senarnya putus?" Tanyanya merasa ada yang aneh.


Sudah hampir dua jam Melody menunggu Lion di kamarnya. Dia terus memetik gitar, setelah mengganti senar yang putus. Melody menjadi cemas kenapa Lion belum juga meneleponnya. Apakah Lion tidak ingin bertemu dengannya saat ini? Menjadi pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Kemana dia?" Ucap Melody berhenti memetik gitarnya. Gadis itu membuang napas dan memeluk gitar kesayangannya tersebut. "Apa saat aku meneleponnya dia sedang sibuk? Apa dia tidak ingin menemuiku, Gita?" Tanyanya pada gitar miliknya.


"Melo." Panggil Prothos membuka pintu kamar Melody dengan tergesa-gesa.


"Ada apa kak?" Tanya Melody bingung melihat raut wajah Prothos.


"Ars sudah bersiap-siap di dalam mobil, sebaiknya kau ikut dengannya ke rumah sakit!" Seru Prothos.


Jantung Melody berdetak kencang setelah mendengar kata rumah sakit. Dia langsung bangkit dari duduknya.


"A—ada apa? Kenapa, kenapa ke rumah sakit? Siapa—"


"Lion mengalami kecelakaan. Sepertinya keadaannya sangat gawat." Jawab Prothos menyambar pertanyaan Melody dengan cepat.


Tanpa Melody sadari air mata langsung mengalir keluar dari pelupuk mata setelah mendengar perkataan Prothos.


Jadi karena itu hingga saat ini Lion belum meneleponnya. Bukan karena Lion tidak ingin menemuinya tapi karena pemuda itu mengalami kecelakaan. Lalu apakah senar yang putus adalah pertanda ketika Lion kecelakaan?


...–NATZSIMO–...