
Tasya masuk ke ruangan Athos dirawat dengan membawa makanan untuk ayah kekasihnya yang menjaga kekasihnya itu dari semalam.
"Ayah, sarapanlah dulu." Tasya meletakan makanan ke sebuah meja dan membukanya lalu memberikan ke Leo yang duduk di sofa. "Ini bubur asparagus, sangat bagus untuk kesehatan."
"Terimakasih." Jawab Leo menerimanya dan langsung memakannya.
Tasya berjalan mendekati Athos yang masih terbaring tak bergerak. Gadis itu menatap pemuda tersebut dengan sebuah senyuman lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Athos untuk membisikan sesuatu.
"Selamat pagi, Ato. Aku ingin menciummu tapi ada ayah di sini. Apa tidak masalah kalau aku menciummu walau ada dia?"
"Besok kau ujian kan, Tasya? Kau fokus ujian dulu saja, tidak perlu ke sini terlalu sering." Ujar ayah.
"Ayah, aku tidak masalah. Aku ingin selalu berada di sisi Ato." Jawab Tasya berbalik menghadap Leo yang sedang makan.
"Bagaimana dengan keluargamu? Pasti mereka keberatan kalau kau kesini terus."
"Mama tidak masalah, dia menyukai Ato. Aku rasa papa juga mulai menyukai Ato. Dia tidak berkata apapun mengenai aku yang sering ke sini." Senyum Tasya. "Kalau Ato bangun semuanya berjalan dengan baik. Bukan begitu, ayah?"
Leo menatap gadis itu dengan sebuah keraguan, namun dia tersenyum untuk membuat Tasya tidak bersedih.
...***...
Prothos duduk di kursi belakang yang menyilang dengan Mona saat di mobil, sedang sibuk dengan laptopnya, sedangkan Mona menyetir mobil. Gadis itu sedikit kesal karena Prothos terus saja memanfaatkan dirinya, walau dia bilang akan membayarnya namun semakin lama Prothos berbuat seenaknya tanpa meminta persetujuan dulu pada dirinya.
"Kau pernah kuliah kan? Jurusan pendidikan ekonomi? Aku tidak sengaja melihat beberapa fotomu di handphone-mu." Ujar Prothos dengan tatapan ke arah laptop. "Jujur saja aku sangat lemah dihitung-hitungan, apa kau bisa membantuku membuat laporan keuangan café?"
"Berapa bayarannya?" Tanya Mona tanpa basa-basi.
"Berapa gajimu sekarang?" Tatap Prothos. "Aku akan menaikannya dua puluh persen. Tapi aku minta laporannya setiap hari. Kami memiliki enam cabang café. Setiap hari setiap kasir akan aku suruh melaporkan pendapatan dan pengeluaran dalam sehari padamu, tolong rekap dan hitung profit yang di dapat, dan kirimkan laporannya melalui email ke email Ato dan cc ke emailku juga. Kau bisa mengerjakannya sepulang bekerja dan kirim semuanya sebelum jam sembilan malam. Jam tidurku jam sepuluh malam, jadi aku tidak ingin telat kau mengirimnya."
"Kalau begitu aku minta dinaikan tiga puluh persen." Tawar Mona.
"Kau sangat perhitungan sekali." Ujar Prothos. "Ya, baiklah. Kau bisa memakai laptopku, karena pasti kau tidak punya laptop kan? Untuk sementara sampai Ato sembuh aku akan membayarmu."
"Baiklah." Jawab Mona tersenyum senang karena mendapatkan tawaran yang bagus.
"Tapi dengan harga itu kau juga harus menghitung gaji para pekerja di akhir bulan. Saat ini kami mempunyai empat puluh pekerja termasuk aku dan kedua kembaranku. Selama ini hanya Ato yang mengerjakan semuanya sendirian."
"Dia memang sangat mengagumkan." Puji Mona. "Ngomong-ngomong handphone yang ada padamu itu handphone dia kan? Kau bilang, kau sudah membeli handphone baru."
Mona mengambil handphone-nya dan menelepon ke nomer yang kemarin dia gunakan sambil. Gadis itu menghentikan mobilnya dan menoleh melihat ke belakang. Handphone yang adalah milik Athos tidak berdering ataupun bergetar. Tetapi terdengar suara dering handphone miliknya karena suara ringtone yang dipakainya adalah sebuah lagu favoritnya.
"Kembalikan handphone-ku!!" Seru Mona mengetahui handphone miliknya ada di saku celana kiri Prothos.
"Ambil sendiri." Tantang Prothos dengan senyum menawannya.
Tanpa di duga Prothos, Mona membuka kunci pintu mobil dan berjalan keluar ke arah pintu mobil Prothos lalu membukanya segera. Prothos malah menjadi takut ketika Mona merogoh saku celana kirinya untuk mengambil handphone-nya tanpa basa basi. Setelah itu kembali masuk mobil dan menjalankan mobilnya.
Prothos tidak percaya gadis itu melakukannya tanpa sungkan ataupun takut karena memasukan tangannya ke saku celana depan seorang pria. Prothos masih tercengang tidak percaya.
"Demi sesuatu hal yang aku anggap berharga aku tidak akan takut melakukan apapun." Ujar Mona melihat kesal Prothos di kaca spion. "Aku sudah sering bertemu banyak pria sepertimu jadi jangan bersikap seperti itu lagi padaku."
Prothos hanya bisa tertawa heran pada gadis itu.
...***...
Melody membuka pintu rumah setelah mengintip dari jendela siapa yang menekan bel. Dia tidak percaya kalau orang itu adalah Niko. Padahal ini baru jam delapan pagi, tidak biasanya pemuda itu datang sepagi ini ke rumahnya.
"Ini masih terlalu pagi. Apa tidak salah kau sudah datang jam segini?" Tanya Melody saat membuka pintu.
"Aku tidak sabar menemuimu." Niko tersenyum dan mencondongkan badannya agar sejajar dengan tatapan gadis itu.
Melody mundur selangkah menjauh. "Masuklah dulu. Aku akan ganti baju dulu dan membangunkan kak Ars."
"Padahal aku berharap kau sendirian di rumah." Senyum Niko. "Tidak, aku hanya bergurau." Ralat Niko sebelum Melody menjadi takut padanya.
"Kak Ars, bangunlah, aku akan segera pergi." Seru Melody membuka pintu kamar Aramis. "Niko sudah datang, nanti tidak ada yang membangunkanmu lagi karena kak Oto sudah pergi."
"Kau enak-enakan tidur disaat sahabatmu menanggung rasa sakit dari pukulan-pukulanmu, Ars." Ucap Niko yang berada di belakang Melody.
Melody tidak menyadari kalau Niko mengikutinya tadi. Aramis langsung bangun mendengar Niko, dan langsung berjalan keluar mendekat ke Niko dimana Melody ada di antara mereka.
"Berani sekali kau masuk ke kandang harimau." Ujar Aramis.
Melody mendorong kakaknya agar menjauh untuk menghindari perkelahian lalu memegang lengan Niko, menariknya agar pergi dari sana.
"Melo, kenapa kau biarkan dia masuk rumah?" Seru Aramis kesal saat Melody menarik Niko ke ujung tangga.
"Niko, tunggulah di mobil. Jangan buat keributan aku mohon." Pinta Melody. "Kalian masih saja tidak akur."
Niko tertawa mengejek pada Aramis tetapi langsung menuruni tangga.
"Kak, tadi kak Anna menelepon, katanya kau harus belajar karena besok sudah ujian hari pertama." Ujar Melody.
"BERISIK!!" Teriak Aramis membanting pintu kamarnya.
Di dalam kamar Aramis menjadi sangat kesal bukan saja karena kehadiran Niko melainkan karena Anna yang sejak kemarin tidak meneleponnya. Padahal gadis itu menelepon adiknya tapi kenapa tidak menelepon dirinya? Itu sangat membuatnya kesal.
Aramis keluar kamar dan segera keluar menghampiri Niko yang berada di dalam mobilnya. Dengan senyum simpul Niko keluar untuk meladeni Aramis.
"Aku sudah dapat mengira akhirnya akan seperti itu." Niko tersenyum skeptis pada Aramis. "Sekarang mereka semua akan berhenti menantangmu, dan mereka semua yang ada di kota ini jadi menganggapku musuh karena memanfaatkan Lion. Aku tidak pernah masalah karena sebentar lagi pun aku akan kembali ke Rusia."
Aramis tertawa karena dia diperdaya oleh Lion mengenai pertarungan kemarin.
"Lion meminta bantuanku dan dengan senang hati aku menerimanya. Lion yakin kalau kau tidak akan sampai membunuhnya. Bahkan tampaknya bocah itu bisa mengira kalau Ivan mengatakan sesuatu padamu agar kau mau meladeni kekonyolannya. Aku dijadikan kambing hitam olehnya demi permintaan Bonnie-mu."
"Apa maksudnya?"
"Selama ini kau berkelahi karena ada yang menantangmu, dan pacarmu meminta pada Lion agar tak ada lagi yang menantangmu agar kau berhenti berkelahi." Jawab Niko langsung tertawa. "Kau benar-benar berlindung pada gadismu, Ars."
Aramis mulai mengerti. Pertarungan itu hanya buatan Lion untuk memenuhi permintaan Anna yang ingin dirinya tidak berkelahi lagi. Lion meminta bantuan Niko dengan menjadikan Niko kambing hitam dengan alasan Lion membalaskan dendam Niko pada Aramis agar semua menduga kalau Niko memanfaatkan Lion saja demi tujuannya menyingkirkan Lion ataupun membalas dendamnya pada Aramis.
"Apa yang dijual Lion hingga kau rela dijadikan kambing hitam olehnya?" Tatap Aramis sangat tajam.
Sang vampir hanya tersenyum menyeringai.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......