
Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Besok merupakan hari pertunangan Melody dan Niko yang juga menjadi hari berangkatnya Lion mendatangi berbagai negara di dunia seperti yang sudah lama dia inginkan.
Karena itu hari ini merupakan hari terakhir dirinya juga berada di negara ini sebelum besok pagi-pagi sekali dia akan pergi ke Jepang sebagai negara pertama yang akan ia kunjungi.
Lion yang dengan cepat menyelesaikan ujiannya langsung keluar kelas. Dirinya berencana untuk menemui Hansen ke bengkelnya untuk melihat Megan—motor kesayangannya untuk terakhir kalinya.
"Lion." Panggil Niko yang ternyata juga sudah keluar dari kelas setelah menyelesaikan ujiannya.
"Kau sudah menyelesaikan ujianmu? Kau tidak menghitung kancing kan untuk menebak jawabannya?" Senyum Lion pada Niko. "Kau terlihat senang sekali, Niko."
"Tentu saja, besok aku akan bertunangan." Jawab Niko. "Besok kau berangkat pagi-pagi sekali kan? Ya, pergilah secepatnya."
"Sialan kau, kau mengusirku sekarang." Kesal Lion. "Ya aku akan pergi dengan cepat seperti bayangan." Tambah Lion kali ini dengan tatapan serius. "Sepertinya tidak ada yang harus aku khawatirkan."
"Kau benar sekali, tidak ada yang harus kau khwatirkan. Aku akan menjaganya dengan baik melebihi kau yang selama ini menjaganya." Seru Niko.
"Baiklah, aku percaya padamu." Jawab Lion setelah itu berjalan pergi meninggalkan Niko.
"Semoga saja kau menepati janjimu selalu Lion, dengan tidak berbuat apapun pada apa yang akan terjadi." Gumam Niko tanpa didengar Lion.
...***...
"Melody." Panggil Karen ketika Melody melintas di depan kelas gadis itu. "Kau hanya mengundang beberapa orang di sekolah ke acara pertunanganmu dengan Niko besok?" Tanya Karen saat menghampiri Melody dan berjalan bersama dengan gadis itu ke gerbang sekolah.
"Aku rasa acara itu bukan untuk semua orang. Aku hanya mengundang Rinka dan kau di sekolah kita." Jawab Melody.
"Ya ampun kau kaku sekali." Gumam Karen. "Apa kau juga tidak mengundang Lion?"
"Dia akan pergi besok pagi, jadi tidak mungkin dia datang."
"Kau sudah bicara dengannya untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Karen.
"Mengenai apa? Tidak ada yang harus kami bicarakan." Jawab Melody.
"Kau memang keterlaluan Mel." Karen menghentikan langkahnya dan menatap Melody yang juga berhenti. "Apa kau percaya dia gay?"
"Itu yang dikatakannya kan?" Melody balik bertanya.
"Astaga, kenapa aku selalu kesal setiap kali berbicara dengan wanita tidak peka sepertimu, Mel." Ujar Karen menahan rasa kesalnya pada Melody. "Aku tidak heran kenapa dia sangat bersedih waktu itu."
"Apa maksudmu Karen?"
"Kau tahu? Lion memintaku berpura-pura menjadi pacarnya saat kita berlibur ke pulau itu karena dia mengkhawatirkanmu jika kau dan Niko pergi berdua saja. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk ikut campur pada hubunganmu dan Niko. Karena itu dia memintaku untuk menjagamu saat kita berada di sana. Dia tidak ingin Niko menyentuhmu." Seru Karen.
Mendengar semua itu, gadis dingin tersebut tidak berkata apapun dan tidak bereaksi sedikitpun. Melihatnya Karen semakin kesal padanya.
"Dia terus berusaha agar kau menyadarinya tapi tampaknya sedikitpun kau tidak pernah menyadari alasan dirinya melakukan semua itu padamu." Tambah Karen semakin kesal. "Kau memang gadis keterlaluan Mel, bahkan kau tidak pernah menganggapnya yang selalu bersama denganmu. Kau tidak tahu kan bagaimana dia bersedih saat mengakui itu semua padaku? Pantas saja kau tidak memiliki banyak teman, kau hanya memikirkan apa yang ada dipikiranmu dan tidak pernah memikirkan bagaimana orang lain disekitarmu. Aku tidak akan datang ke pertunanganmu besok. Aku juga tidak akan berbicara denganmu lagi setelah ini."
Sesudah berkata seperti itu dengan sangat kesal Karen berjalan pergi meninggalkan Melody yang jadi terdiam karena terkejut.
Melody merasa bersedih dengan semua perkataan Karen. Yang dikatakan gadis itu hampir sama dengan yang dikatakan Mona padanya. Mereka berdua seolah-olah mengetahui isi hati Lion yang sebenarnya pada diri gadis itu. Mereka mengatakan kalau Lion menyukai dirinya.
Untuk Melody semua itu tidak penting lagi karena sudah sangat terlambat saat ini. Besok acara pertunangan sudah akan dilaksanakan sehingga dirinya tidak mungkin menghentikan semuanya jika memang benar Lion menyukainya. Niko akan sangat bersedih kalau dirinya menghentikan pertunangan itu di waktu yang sudah sangat dekat ini.
Melody berjalan keluar gerbang untuk menunggu kakaknya yang biasanya menjemput dirinya saat pulang sekolah. Biasanya Aramis yang akan datang untuk menjemputnya.
Handphone gadis itu bergetar, ayahnya menelepon gadis itu. Dengan segera dia menjawabnya.
"Halo ayah, iya ujiannya sudah selesai." Ujar Melody. "Ayah masih di luar kota?"
"Ya, besok pagi--pagi sekali ayah akan pulang. Acara pertunangannya jam tujuh malam kan?"
...***...
Mona berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur, gadis itu melihat ketiga Musketeers duduk di meja makan saat ini. Dia merasa sangat aneh, karena biasanya jam segini Melody sudah pulang dan Aramis yang akan menjemputnya.
"Di mana Melo?" Tanya Mona merasa ada yang aneh melihat ketiga pemuda yang berada di meja makan. "Ars, kau tidak menjemput Melody?"
Handphone Aramis di atas meja bergetar namun pemuda itu diam saja, dan tidak mengangkat teleponnya.
"Itu pasti Melo, dia menunggumu. Kenapa kau tidak angkat?" Tanya Mona heran. "Ada apa sebenarnya?"
"Diamlah, Mona!" Seru Prothos.
"Aku akan menjemput Melo." Seru Mona sambil berjalan hendak mengambil kunci mobil.
Dirinya merasa sesuatu yang direncanakan ketiga kakak Melody adalah sesuatu yang buruk bagi adik mereka.
"Mona, kau tidak usah ikut campur!!" Prothos langsung mengambil kunci mobil dari tangan Mona.
"Kalian bertiga keterlaluan jika adik kalian kenapa-kenapa." Kesal Mona.
"Tidak, dia akan baik-baik saja karena sahabatku akan menjaganya." Jawab Aramis.
...***...
"Hans, bagaimana keadaan Meganku?" Tanya Lion masuk ke dalam bengkel Hansen dan langsung mencari keberadaan motor putih miliknya. "Meganku sayang, aku sangat merindukanmu." Tanpa memedulikan Hansen yang menganggapnya aneh, Lion memeluk motornya dengan memberikan kecupan.
"Kau jadi pergi besok?" Tanya Hansen.
"Ya, aku akan pergi selama satu tahun dan bisa juga tidak kembali lagi kesini." Jawab Lion menaiki motornya dan duduk di atasnya dengan santai. "Karena itu aku ingin kau menjaga Meganku, Hans."
"Kenapa kau tidak menjualnya saja?"
"Kau ini bilang apa? Mana bisa aku menjual pacarku?!"
Dirttt drrttt drrttt
Handphone Lion bergetar, secepatnya Lion mengangkat telepon dari Ivan.
"Kau tenang saja, untuk pelajaran hari ini aku rasa aku akan lulus." Ujar Lion langsung berkata seperti itu saat menjawab telepon Ivan.
"Lion, ada kabar yang kurang baik." Seru Ivan.
Lion langsung merasa sesuatu yang akan dikatakan Ivan padanya menyangkut apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kau benar, Felix ada di sini. Beberapa teman kita melihatnya dan ada yang mengatakan kalau dia bertemu dengan Bara."
"Apa kau serius?" Lion tampak terkejut.
Setelah menutup teleponnya Lion memikirkan semuanya. Felix dan Bara, apa yang akan mereka lakukan?
"Ada apa Lion?" Tanya Hansen.
Pertanyaan Hansen tidak didengar Lion karena Pemuda itu langsung membuka aplikasi maps untuk mencari tahu keberadaan Melody saat ini. Seharusnya jam segini gadis itu sudah sampai di rumahnya.
Namun sebelum sempat dia melihat dimana keberadaannya, sebuah pesan gambar dari nomer yang tidak dikenal masuk.
Lion sontak kaget ketika melihat foto Melody yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.
"Sialan!!" Geram Lion.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......