
Niko menuruni tangga ketika Melody meneleponnya untuk mengatakan kalau dirinya sudah sampai di rumahnya. Niko sudah tidak sabar menunggu kehadiran gadis yang dicintainya itu dengan mengiriminya banyak pesan sejak menelepon Melody tadi.
"Halo Niko, wah rumahmu besar sekali ya." Seru Karen yang ikut datang bersama Melody. "Kau memang sangat kaya raya, ckckckckk... hanya demi Melody kau sampai pindah sekolah ke sekolah yang tidak ada apa-apanya dengan sekolahmu dulu."
Niko yang masih berdiri di tengah tangga sedikit kecewa melihat Melody yang datang bersama Karen.
"Kenapa kau diam saja disana? Jangan bilang kau tidak suka melihat aku datang ke rumahmu ya?" Tanya Karen. "Maaf ya, tadi aku meminta Melody untuk mengajakku ke rumahmu karena katanya kau memelihara hewan buas, apa itu benar? Dimana dia? Biarkan aku melihatnya."
Niko sedikit tertawa sambil berjalan turun menghampiri Melody dan Karen. Sedangkan Melody memperhatikan wajah pucat Niko yang sangat pucat.
"Kau sudah minum vitaminmu?" Tanya Melody. "Kau sangat pucat."
"Aku hanya ingin menggigitmu." Tatap Niko kesal pada Melody karena membawa Karen.
"Kau semakin seperti vampir, Niko. Wajahmu pucat sekali." Ujar Karen. "Apa jangan-jangan kau memang vampir? Aku jadi merinding."
"Karena itu pergilah sebelum aku menghisap darahmu." Seru Niko.
Karen menggeleng dengan tersenyum.
"Aku ingin melihat peliharaanmu dulu." Jawab Karen.
...***...
Niko masuk ke kamarnya dengan sangat kesal setelah Melody dan Karen pulang sehabis berada di rumahnya kurang lebih dua jam. Rencananya yang ingin berduaan bersama Melody gagal karena Karen ikut datang bersama Melody.
"Kenapa gadis itu bersikeras ingin disini walau aku mengusirnya secara terang-terangan?" gumam Niko kesal duduk di sisi tempat tidurnya. "Dia sangat mirip dengan Lion!!"
Niko menundukan kepalanya menahan rasa kesalnya, tiba-tiba dia berpikir sesuatu dan mengangkat kepalanya dengan tatapan menajam.
"Lion?"
...***...
Lion yang berada di kamarnya sehabis bermain games menelepon Karen yang baru saja pulang dari rumah Niko.
"Aku sudah pulang, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Semuanya baik-baik saja." Ujar Karen di ujung telepon.
"Terimakasih ya, Key. Aku sangat mencintaimu, aku tidak salah memilihmu." Ucap Lion.
...***...
Sepulang sekolah Prothos dan Aramis langsung ke rumah sakit untuk melihat keadaan Athos lagi. Sejak kemarin dokter sedang memantau untuk memeriksa keadaan Athos yang masih belum tersadar dari koma.
"Kami masih belum begitu yakin dengan keadaannya apakah dia mengalami mati otak atau tidak, seperti yang dokter Ronald bilang kemarin pupil matanya masih bereaksi pada cahaya tapi ketika disentuh dengan benda tidak ada pergerakan. Karena itu kami masih belum mendiagnosanya." Ujar dokter yang bertanggungjawab pada Athos.
"Dia akan sadar, dia baik-baik saja." Seru Aramis.
"Hari jumat kami akan mencoba melepas semua alat medis yang menunjang hidupnya saat ini, semoga saja seperti apa katamu dia baik-baik saja tanpa semua alat medis." Jawab dokter.
Setelah itu si dokter keluar ruangan meninggalkan ketiga Musketeers di sana.
Prothos berjalan mendekati Athos dan menatapnya. Sedangkan Aramis berdiri di belakang tidak jauh dari Prothos.
"Dia selalu tenang, bahkan saat ini dia masih tenang saja." Ujar Prothos. "Ato, mereka membebaskan si pecundang itu dengan uang tebusan dan menjaminnya dengan menjadi tahanan rumah, mereka tetap akan menikahkan pacarmu dengannya. Apa yang kau lakukan ini sia-sia. Bahkan mereka sudah menyebar undangannya lagi."
"Benar Ato, sebelumnya kau meminta kami jika terjadi apa-apa padamu kau ingin kami melakukan sesuatu pada pernikahan Tasya. Tapi kami tidak tahu harus berbuat apa agar kami berdua tidak terseret masalah serius seperti ini." Tambah Aramis. "Kalau sampai waktunya kau tidak sadar maka kami hanya punya satu pilihan, yaitu membunuh si pecundang itu."
"Ya, kami akan terima konsekuensi setelah melakukannya. Kami akan merencanakan pembunuhannya untuk menghentikan pernikahan itu. Kau tenang saja, asalkan keinginanmu terpenuhi kami tidak masalah walau harus dijatuhi hukuman mati sekalipun." Ujar Prothos. "Kami tidak terpikirkan cara lain selain itu."
"Dengan begitu kita bertiga tetap bersama-sama. Kami tidak ingin kau hidup damai di sana sendirian, kami berdua akan segera menyusulmu setelah melakukan rencana pembunuhan itu." Tambah Aramis dengan senyum. "Tunggulah kami berdua di sana, brengsek!!"
...***...
Tasya duduk di depan meja riasnya. Dia melihat unggahan terakhir Prothos di akun sosial medianya yang menunjukan foto Prothos dan Aramis berdiri di sebelah Athos yang belum tersadar. Caption yang dituliskan Prothos adalah We're always be together till the end.
Air matanya tak bisa dibendung lagi. Gadis itu teramat sangat merindukan pemuda yang dicintainya itu. Dia merindukan ketika masih bersama-sama dengan Athos.
Tasya membuka foto-foto dirinya bersama Athos ketika menjadi model pakaian pengantin waktu itu. Sebuah senyuman tersungging di wajah cantiknya.
"Kau tahu, Ato? Kau sangat sempurna untuk gadis sepertiku. Sejak pertama kali melihatmu aku langsung tahu kalau kau adalah pria yang baik. Aku tidak pernah menyangka kalau kita akan menjalin hubungan ini." Ucap Tasya dengan derai air mata. "Aku sangat merindukanmu, Ato."
"Tasya, berhentilah bersedih. Ato akan sembuh. mama sangat yakin itu." Peluk ibu Tasya. "Kau harus bersaksi pada sidang gelar perkara besok dan ceritakan kalau kau dan Ato sudah tidak punya hubungan apapun sebelum kejadian itu. Kau juga mengundangnya dengan memberikan undangan padanya."
"Kenapa Mama? Siapa yang memberikan undangan itu pada Ato?"
"Mama yang berikan. Jika Ato datang tanpa undangan, dia akan disebut penyusup sehingga kehadirannya ke acara itu memang untuk menghentikan pernikahan itu. Katakan kalau dia datang hanya untuk melihatmu untuk yang terakhir kalinya dan tidak bermaksud untuk mengacaukan acaranya."
...***...
"Besok kalian naik apa?" Tanya Prothos pada Melody yang duduk di hadapannya.
Saat ini mereka berdua bersama Aramis dan Mona sedang makan malam bersama di rumah mereka.
"Niko bilang naik pesawat pribadi keluarganya." Jawab Melody setelah itu memakan makanannya.
"Kau harus menjauhi dia, kunci pintu kamarmu, jangan sampai lupa!!" Seru Aramis sambil melahap ayam goreng kesukaannya. "Jangan sampai dia menyentuhmu!!"
Melody mengangguk tipis menjawab kakaknya.
"Lion juga ikut pergi dengan Karen kan?" Tanya Prothos. "Tidurlah bersama Karen, dan pergilah kemanapun dengannya. Jangan pernah sendirian, kau mengerti kan Melo?"
Melody mengangguk lagi.
Mona yang memperhatikannya sedikit tertawa. Dia tidak heran jika Melody menjadi sulit bergaul dengan siapapun, karena kakak-kakaknya selalu mengatur dan mencemaskan gadis tersebut.
"Melo, kalau Niko menyentuhmu kau bisa mengancamnya dengan membatalkan pertunangan kalian." Seru Mona yang duduk di sebelah kiri Melody. "Dia pasti akan tidak berani melakukannya."
"Itu benar Melo, bahkan kau langsung saja batalkan rencana pertunangan kalian itu!!" Seru Aramis dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Tidak, aku tidak akan melakukanya." Jawab Melody.
Sehabis makan malam, Melody masih duduk di meja makan untuk menghabiskan segelas susu miliknya. Sedangkan kedua Marketeers sudah ke kamar mereka masing-masing. Dan Mona sedang merapikan dapur.
"Aku merasa kau sangat ingin bertunangan dengan Niko, padahal aku tahu kau tidak menyukainya." Ujar Mona setelah selesai mencuci piring. "Apa kau serius dengan semua itu?" Mona duduk di hadapan Melody.
Melody mengangguk.
"Apa alasannya?"
"Lion ingin aku melakukannya." Jawab Melody. "Awalnya dia menyuruhku untuk membiarkan Niko mendekatiku, setelahnya dia memintaku untuk menebus dosa kakakku pada Niko, lalu dia juga memintaku agar tidak memberikan harapan palsu pada Niko, dan dia ingin agar aku pindah ke Rusia dengan Niko. Aku hanya mendengar perkataannya itu."
"Sepertinya kau salah mengerti." Ucap Mona. "Dia tidak akan melakukan hal itu, apa kau tahu kalau Lion menyukaimu?"
"Tidak, dia tidak menyukaiku."
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......