MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
114. SI KUAT YANG BERSEDIH



Prothos turun dari mobil ketika sampai di depan rumahnya, sedangkan Aramis yang menyetir mobil langsung pergi untuk menjemput paman Ronald di bandara.


Sebelumnya Melody sudah memberitahu Prothos mengenai Mona yang sudah datang dan sedang bersih-bersih ruangan yang akan digunakannya sebagai kamar tidurnya. Kamar tersebut terletak di area taman belakang rumah.


Dengan segera Prothos masuk ke dalam rumahnya dan berjalan ke area belakang rumahnya hendak menemui Mona. Prothos membuka pintu ruangan yang sebelumnya dijadikan gudang itu tanpa mengetuk.


Dirinya dikejutkan ketika melihat Mona hanya memakai pakaian dalam dan hendak memakai bajunya. Mona mengganti pakaiannya karena kotor setelah membersihkan ruangan tersebut. Gadis itu sama terkejutnya saat Prothos muncul secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu hingga dirinya hanya mematung.


"Maafkan aku." Ucap Prothos menutup kembali pintunya dan segera pergi dari sana dengan merasa bersalah.


Sedangkan Mona tampak sangat kesal namun hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena salahnya juga berganti pakaian di ruangan yang tidak memiliki kunci dan bukannya di kamar mandi.


"Aku tidak bermaksud mengintip, aku minta maaf." Ujar Prothos dari arah dalam rumah saat Mona membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. "Seharusnya kau tidak memakai ruangan itu, kunci pintunya rusak, kan?"


Mona muncul ke dalam rumah dan melihat Prothos dengan tatapan kesal.


"Seharusnya kau mengetuk pintunya dulu!! Pintunya tertutup jadi harusnya kau berpikir kalau siapapun tidak boleh masuk saat pintunya tertutup." Seru Mona.


"Maafkan aku." Ucap Prothos sekali lagi. "Akan aku perbaiki kuncinya."


Mona menahan amarahnya dengan menahan napas sesaat. "Baiklah, aku akan membuat makan siang dulu." Ujar Mona melirik jam tangannya yang menunjukan pukul setengah satu siang.


Selang tiga puluh menit kemudian Prothos selesai memperbaiki kunci pintu ruangan yang akan digunakan Mona sebagai kamar tidurnya. Pemuda itu berjalan ke dapur karena sudah merasakan rasa lapar di perutnya.


"Kuncinya sudah aku perbaiki. Aku sangat lapar, ini sudah melebihi jam makan siangku, apa masih lama?" Tanya Prothos berdiri di dekat meja makan melihat pada Mona yang sedang memasak.


"Ini sudah selesai." Jawab Mona menuang makanan yang dimasaknya ke piring dan membawanya ke meja makan.


Prothos segera duduk di meja makan saat Mona menyiapkan piring beserta membawa nasi yang baru saja matang ke meja makan.


"Bahan makanan sudah banyak yang habis, hanya ada telur saja, jadi hanya itu yang aku buatkan. Di sana juga tidak ada sayuran." Ujar Mona berdiri menatap Prothos. "Aku akan pergi berbelanja."


"Kau belum makan juga kan? Makan saja dulu, nanti aku temani kau berbelanja." Jawab Prothos.


"Kalau begitu kau saja yang pergi, biar aku bisa membersihkan rumah. Sudah banyak debu di mana-mana."


Prothos tertawa mendengar ucapan Mona yang menyuruhnya pergi berbelanja sendiri. Dia tidak habis pikir gadis itu berani memerintahnya.


"Agar lebih efisien dalam penggunaan waktu, kalau kau mau membantu kau bisa berbelanja sendiri, kita tidak perlu pergi berdua." Terang Mona. "Kalau keberatan aku pergi sendiri saja. Berikan saja uangnya padaku."


"Ya baiklah, duduk dan makan dulu saja." Seru Prothos.


"Aku akan makan di kamarku."


"Aku tidak akan memperlakukanmu seperti asisten rumah tangga pada umumnya!! Kau bisa makan bersama kami semua, kau juga membantu kami untuk urusan café jadi kau bukan asisten rumah tangga di sini." Seru Prothos terpancing emosi.


"Ya, baiklah." Jawab Mona setelah itu duduk dan menyendok makanan untuknya makan. "Beritahu aku makanan apa saja yang disukai seluruh anggota keluargamu."


"Masak saja apapun, kami bukan pemilih dalam hal makanan." Jawab Prothos.


...***...


"Anna memberikan ini padaku, Ars." Ujar Ronald ketika berada di mobil dalam perjalanan setelah Aramis menjemputnya di bandara.


Sebuah kotak yang Aramis tahu apa isinya, karena itu adalah pemberiannya. Kalung yang dimana terdapat nama beserta nomer handphone Aramis yang diberikan Aramis pada Anna.


"Taruh saja." Seru Aramis sambil menyetir, dengan perasaan yang marah karena melihat Anna tidak mendengarkan perkataannya.


Aramis meminta Anna untuk selalu memakai kalung tersebut, tapi bahkan sekarang gadis itu mengembalikannya padanya. Aramis tak habis pikir apa yang di pikirkan oleh Anna. Pemuda itu menjadi berpikir kalau Anna ingin melupakan dan tidak ingin kembali padanya.


"Anna bilang kau tidak perlu mengkhawatirkannya, kau fokus saja pada pendidikanmu." Ujar Ronald. "Dia berkata seperti itu untuk kemungkinan terburuk, Ars."


"Dia akan sembuh. Operasinya akan berjalan dengan lancar, itu hanya alasannya agar dia bisa mendekati para dokter itu!!" Seru Aramis. "Aku tidak masalah kalau dia ingin bersama salah satu dari mereka, asalkan dia baik-baik saja."


Ronald memegang pundak kemenakannya itu karena tahu yang dirasakan Aramis saat ini. Pemuda itu lebih ingin gadis yang dicintainya baik-baik saja walau tidak bersamanya lagi.


Aramis dan Ronald berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Athos. Sore nanti Athos akan diperiksa mengenai kemungkinan mati otak yang dialami Athos.


"Dia terlihat sangat tenang, tapi pupil matanya masih bekerja." Ujar Ronald ketika memeriksa Athos dengan menyinari matanya menggunakan penlight.


"Apa artinya, Ron?" Tanya Leo.


"Masih ada kemungkinan dia akan sadar." Jawab Ronald. "Tapi kemungkinannya lima puluh banding lima puluh. Apa benar dia sudah mendaftar menjadi pendonor organ?"


"Benar, mereka juga meminta persetujuanku setelah dokter mendiagnosanya dan mengeluarkan surat kematian." Jawab Leo.


"Ikutlah ke ruanganku, kak." Seru Ronald setelah itu keluar ruangan diikuti kakaknya.


Aramis yang ditinggal sendirian berjalan mendekati ranjang Athos dan menatap kembarannya. Saat ini dirinya merasakan kesedihan berkali-kali lipat. Keadaan Anna dan ditambah keadaan kembarannya itu.


"Bangunlah bodoh!! Kau tidak selemah itu sampai menyerah pada takdirmu!! Apanya yang bersungguh-sungguh kalau hal sekecil ini saja membuatmu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau dengar aku kan?"


Aramis terdiam sesaat memandangi kembarannya yang tetap tak merespon perkataannya.


"Anna memintaku untuk tidak menghubunginya lagi, aku menurutinya. Tapi dia mengembalikan hadiah yang aku berikan padanya, itu artinya dia meninggalkan aku. Aku tidak masalah jika dia meninggalkan aku karena dia ingin bersama dengan salah satu dokter muda disana, tapi paman bilang Anna melakukannya untuk kemungkinan terburuk pada operasinya. Sebelumnya dia pernah bilang padaku juga, jika operasinya tidak berjalan dengan lancar, dia memintaku untuk melanjutkan hidupku. Tapi rasanya aku tidak akan bisa melakukannya, nasibku akan sama seperti paman. Aku tidak akan pernah menemukan penggantinya karena semua yang terjadi adalah salahku. Harusnya sejak awal aku tidak pernah mendengarkan kata-katanya. Harusnya aku pergi bersama dengannya."


Aramis menahan air matanya hingga matanya memerah. Dia tidak ingin menangis karena dia tidak suka memperlihatkan rasa sedihnya pada kembarannya yang selalu mengejeknya itu.


"Aku berharap dia sembuh, tidak apa-apa jika dia tidak kembali. Tidak masalah jika dia bersama pria lain. Asalkan dia bahagia dan tidak merasakan kesedihan lagi. Aku bisa menahan rasa sedihku, tapi aku tidak akan bisa hidup jika dia pun tidak ada di dunia ini lagi." Ucap Aramis menatap Athos dengan wajah yang menahan rasa sedihnya. "Apa yang harus aku lakukan kalau kau pun juga pergi? Kau tidak bisa melakukan hal yang sama dengannya padaku, Ato!! Kita sudah bersama-sama selama kita hidup. Kau tidak boleh meninggalkan aku dan Oto, dan hidup dengan damai seorang diri di sana!! Seharusnya kau mengerti dengan yang kami berdua rasakan!!"


Aramis menatap tajam Athos dengan rasa kesalnya sekarang. Tatapannya memancarkan kemarahan.


"Jangan biarkan takdir melakukan sesukanya, bodoh!!"


Beberapa menit kemudian Leo dan Ronald kembali masuk ke ruangan Athos dirawat.


"Ars, pulanglah bersama ayahmu, aku akan menyusul nanti. Kita tidak perlu menemaninya lagi." Seru Ronald.


Aramis mengikuti perkataan pamannya dan langsung berjalan keluar bersama ayahnya. Aramis sedikit bersedih mendengar perkataan pamannya yang terdengar seperti apa yang dilakukan mereka dengan menjaga Athos adalah sesuatu yang sia-sia, karena kemungkinannya kecil kembarannya itu akan bangun.


Ronald menatap dari kejauhan kemenakannya yang masih berbaring tak bergerak.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Ato? Kenapa kau melakukan semua ini?" Ronald menatap Athos yang masih terbaring. "Aku tidak percaya kau melakukan semua hal gila hanya demi seorang gadis."


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......