
...----------------...
3 hari terlewati setelah kabar duka dari Arthur. Selama 3 hari itu pula perlahan Ellisa mulai kembali menunjukkan senyumnya karena setiap hari Xio serta Leon dan Lena pasti menghiburnya, bahkan demi membuat Ellisa tersenyum mereka rela melakukan hal-hal konyol. Rose serta Jhonatan juga belum kembali kebumi karena mereka memutuskan untuk menemani Ellisa terlebih dahulu sampai ia sudah seperti biasannya.
Saat Ini terlihat Xio sedang duduk di balkon kamar dengan Ellisa duduk di pangkuannya, serta Leon dan Lena yang duduk di samping mereka. Mereka berempat duduk di balkon kamar untuk menikmati pemandangan kerajaan ketika matahari terbenam yang terlihat sangat indah.
"Xio aku ingin meminta sesuatu." Ucap Ellisa.
"Hm, Apa itu?" Tanya Xio tahu kalau Ellisa pasti sedang mengidam.
"Tapi mungkin kamu akan menolaknya, karena permintaanku ini agak memalukan." Jawab Ellisa.
"Tidak apa-apa katakan saja, Aku tidak akan menolaknya kalau demi istri Dan anak-anak ku." Ujar Xio.
"Ehmm....itu.... tiba-tiba saja aku ingin melihat kamu menggunakan dress ku." Kata Ellisa malu-malu. "Tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa kok." Lanjutnya karena barusan melihat reaksi Xio.
Xio langsung saja berdiri. "Aku akan melakukannya!" Tegas Xio karena ia sudah berjanji akan melakukan apa saja.
"Benarkah?" Tanya Ellisa memastikan.
"Ya!, karena aku sudah berjanji!" Tegas Xio lagi.
Xio melihat Leon yang sedang terkekeh seperti sedang menertawakannya, sehingga munculah sebuah ide di kepalanya. Xio pun langsung mengangkat Leon kepundaknya.
"Ehhh!!" Leon terkejut.
"Leon juga harus ikut agar adil!" Kata Xio berjalan masuk kedalam kamar dengan Leon yang berusaha memberontak karena ia tidak mau menggunakan pakaian wanita. Sementara Ellisa dan Lena saat ini sedang terkekeh melihat mereka berdua.
Beberapa menit kemudian Xio dan Leon pun Akhirnya selesai mengganti pakaiannya, mereka berdua berjalan kearah Ellisa sambil menutupi wajah mereka karena malu, Sedangkan Ellisa dan Lena sedang tertawa terbahak-bahak karena melihat penampilan Xio dan Leon.
Leon menggunakan dress milik Lena, sedangkan Xio menggunakan dress milik Ellisa yang terlihat sangat ketat ketika dipakai olehnya karena mengingat otot-otot tubuhnya yang kekar.
"Apakah kita sudah boleh kembali?" Tanya Xio ingin segera melepaskan pakaiannya karena terasa tidak nyaman.
"Tunggu dulu, biarkan aku mengambil gambar kalian" Ucap Ellisa langsung mengeluarkan handphonenya.
*Ckrekk!!
Ckrekk*!!
Ellisa beberapa kali mengambil foto Xio dan Leon, bahkan Ellisa juga menyuruh mereka berdua untuk bergaya. Walaupun Xio enggan untuk melakukannya, tapi ketika mengingat kalau hal ini karena Ellisa mengidam jadi ia pun hanya bisa pasrah saja melalukan semua yang di suruh Ellisa.
"Aku sudah menguploadnya, Hahaha caption-nya suami dan anak laki-laki ku yang cantik." kata Ellisa tertawa bahagia. Xio tidak mempermasalahkan kalau Ellisa menguploadnya justru ia ikut tersenyum karena bisa melihat Ellisa tertawa lagi.
Terakhir merekapun foto berempat, setelah selesai Xio dan Leon pun langsung mengganti pakaian mereka kembali.
"Ayo kita makan malam dulu!" Ajak Xio karena jam sudah menunjukkan waktunya makan malam. Xio pun langsung menggendong Leon dan Lena serta menggandeng Ellisa untuk menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan ternyata sudah ada Rose dan juga Jhonatan yang sedang menunggu. Xio melihat Jhonatan seperti sedang menahan tawa sambil menatap layar handphonenya.
"Haha aku sekarang punya dua anak perempuan." Kata Jhonatan tertawa.
"Apa maksud ayah?" Tanya Xio bingung darimana Jhonatan punya anak perempuan.
"Yah benar yang pertama Ellisa dan yang kedua ini!" Jhonatan menunjukkan layar handphonenya yang ternyata foto Xio ketika mengenakan pakaian Ellisa tadi.
"Dari mana ayah punya gambar foto itu?" Tanya Xio lagi.
"Kan Ellisa yang menguploadnya jadi ayah melihatnya, lagi pula sekarang fotomu sudah jadi trending nomor satu." Jawab Jhonatan.
"Hah?!, padahal belum sampai satu jam Elllisa menguploadnya tapi sudah jadi trending saja?" Bingung Xio.
"Sudah-sudah, simpan obrolan kalian setelah makan!" Tegas Rose.
"Baik nenek/ma'am." Jawab Xio dan Jhonatan langsung duduk di kursi mereka dengan patuh.
Merekapun memulai makan malam mereka dengan hening hingga selesai. Selesai makan mereka tidak langsung pergi tapi mengobrol ngobrol terlebih dahulu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kekamarnya masing-masing, begitupun dengan Xio dan Ellisa.
Sesampainya dikamar, mereka langsung mengganti pakaian mereka ke pakaian tidur kemudian langsung membaringkan tubuh diatas kasur.
"Selamat tidur sayang." Kata Xio mencium bibir Ellisa tipis kemudian memeluknya sampai Ellisa terdidur. Setelah dirasa Ellisa tertidur, Xio beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kebalkon kemudian menutup pintu balkonnya.
Xio memandangi bulan yang terang sambil menghirup udara malam yang segar. Ia kemudian terlihat mengeluarkan sebatang roko dan juga sebuah korek yang langsung ia nyalakan untuk rokoknya dan mulai menghisapnya.
Sudah tiga hari Xio tidak berhubungan badan dengan Ellisa karena tidak tega memintanya mengingat Ellisa yang masih dalam dalam keadaan berduka. Jadi ia pun yang biasanya setiap saat selalu melakukan hubungan badan harus mencari kebiasaan lain dan Jhonatan menyarankannya untuk merokok saja.
"Hahhh..." Xio mengehela nafas. "Bagaimana aku harus memintanya pada Ellisa?" Gumam Xio dan tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang dan juga menyelimutinya dengan mantel tebal.
Xio langsung mematikan rokoknya dan berbalik kebelakang.
"Sayang kenapa kamu keluar disini dingin." Ucap Xio sudah tahu kalau yang memeluknya adalah Ellisa.
"Kenapa kamu meninggalkan aku tidur sendirian?" Ucap Ellisa menempelkan wajahnya di dada bidang Xio. "Selama tiga hari ini juga kamu tidak pernah memintaku untuk melakukannya, Apakah kamu sudah bosan denganku?" Lanjutnya membuat Xio berasa seperti disambar petir disiang hari karena Perkataan Ellisa barusan sama saja mengatakan kalau Xio sudah tidak mencintainya lagi.
Xio langsung memeluk erat Ellisa, "Aku tidak bosan denganmu sayang, bahkan tidak akan pernah bosan." Kata Xio. "Aku tidak pernah meminta melakukan itu karena takutnya menyinggung perasaanmu saja." Tambahnya.
"Terimakasih sudah mengerti perasaanku dan tidak bosan denganku." Kata Ellisa tersenyum manis sehingga membuat Xio tersipu.
"Bolehkah?" Tanya Xio meminta persetujuan dan dijawab anggukan oleh Ellisa. Xio pun melanjutkan menggeluti bibir Ellisa dengan tangan yang bekerja untuk melucuti pakaian Ellisa serta pakaiannya, Yang kemudian mulai meraba setiap bagian bagian tubuh Ellisa.
Karena benda miliknya sudah berdiri kokoh dari tadi, tanpa menunggu lama lagi dengan sekali percobaan miliknya tersebut langsung tepat sasaran dan masuk seutuhnya.
Matahari tepat di atas ubun ubun kepala . Sinarnya terik menembus jendela jendela rumah dan juga jendela kamar yang didalamnya terlihat sepasang pria dan wanita yaitu Xio dan Ellisa yang masih tertidur tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
Ellisa bangun terlebih dahulu dengan pemandangan wajah tampan Xio. Hidung mancung, alis tebal, serta bibirnya yang sangat menggoda, sungguh ketampanan yang sempurna. Dan bagian tubuh Xio yang paling Ellisa favoritkan adalah dada bidang serta perut sixpack Xio yang dapat membuat siapa saja dapat tergoda jika melihatnya.
Ellisa juga sangat Suka meraba-raba dan membenamkan wajahnya di bagian bagian tubuh favoritnya. Perlahan kelopak mata Xio mulai terbuka menunjukkan betapa jernihnya pupil mata tersebut layaknya lautan yang dapat menenggelamkan siapapun yang menatapnya.
Ellisa langsung saja memeluk dan mencium bibir Xio, membuat Xio yang baru terbangun langsung terkejut serta merasakan rangsangan dibawahnya. Xio tersenyum lebar dan membalas ciuman Ellisa dengan ganas.
Langsung saja Xio mengubah posisinya sehingga saat ini Ellisa lah yang berada dibawah dan menggigit halus telapak tangan Ellisa. "Kamu yang sudah membuatku seperti ini, jadi kamu harus bertanggung jawab. Dan Hari ini aku tidak ada pekerjaan jadi kita bisa bermain sepuasnya." Kata Xio tersenyum mesum.
Tanpa ada aba-aba Xio langsung meluncurkan benda kerasnya masuk ke tempat anak-anaknya di buat.
"Ahh..!" Xio dan Ellisa mendesah secara bersamaan.
Setelah pergulatan semalam yang memakan waktu sangat lama, ternyata mereka berdua belum puas sehingga melanjutkannya pada siang hari yang berakhir pada pukul 3 sore.
"Hahhh....hahhh....." deruan nafas dapat terdengar dari kedua orang yang sudah berbaring diatas kasur.
"Sepertinya aku sudah tidak membutuhkan rokok lagi." Ucap Xio karena berpikir ia sudah mulai bisa terus berhubungan setiap saat lagi.
"Kenapa berhenti merokok?" tanya Ellisa ia berpikir kalau Xio merokok akan mengurangi waktu bermain mereka.
"Apakah kamu tidak mau aku melakukannya lagi?" Tanya Xio balik menatap Ellisa dengan wajah sok polos seperti tidak ada dosa sama sekali.
Ellisa mendorong wajah Xio, "Hmm itu tidak akan mempan kali ini." Kata Ellisa tapi terlihat wajahnya tersipu karena ia melihat Xio sangat lucu dan juga sangat tampan.
"Oh aku benar-benar lupa memberikan ini." Xio mengeluarkan Sebuah gelang yang dulu ia dapat dari siren yang pernah ditemuinya.
"Ketika aku pergi ke............" Xio menjelaskan pertemuannya dengan Siren bernama Ruai yang memberikan gelang tersebut untuk Ellisa. Selesai menjelaskan, Xio pun membantu memakaikan gelang tersebut di pergelangan tangan Ellisa.
Seketika Gelang itu bercahaya lumayan terang dan di atas telapak tangan Ellisa mulai terwujud sebuah pedang yang sangat cantik dan juga indah.
"Wahhh cantik sekali!" Kagum Ellisa diangguki oleh Xio tanda setuju. Sebenarnya Xio juga batu tahu kalau gelang tersebut adalah sebuah pedang.
"Apakah aku bisa bertemu dengannya?" Tanya Ellisa.
"Aku tidak tahu dia tinggal dimana karena ia tidak mengatakannya dan lautan juga sangat luas sehingga akan agak susah untuk mencarinya." Jawab Xio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm baiklah kalau begitu, aku harap bisa bertemu dengan-nya nanti." Ucap Ellisa.
Xio mengelus kepala Ellisa, "Yah aku harap begitu, sekarang ayo kita makan dulu." Ujar Xio karena dari tadi pagi mereka tidak ikut sarapan sehingga makanannya diantarkan oleh seorang pelayan kekamar mereka.
"Suapain." Manja Ellisa membuatnya terlihat imut.
Xio tersenyum dan mencubit hidung Ellisa gemas kemudian mengambil makanannya dan mulai menyuapi Ellisa bergantian Dengan Ellisa yang menyuapi Xio.
Selesai makan, Ellisa langsung meminum segelas Air tapi tiba-tiba saja Xio mencium bibirnya dan merebut air yang sudah didalam mulut Ellisa kemudian menelannya. Ellisa mengambil segelas air lagi dan meminumnya tapi lagi-lagi Xio melakukan hal yang sama sehingga membuatnya kesal.
"Hssss kapan aku akan minum kalau kamu terus seperti itu?" Kesal Ellisa mencubit kedua pipi Xio.
"Hehe." Xio terkekeh, ia kemudian mengambil segelas air dan memasukkan air tersebut kedalam mulutnya, langsung saja Xio mencium bibir Ellisa untuk memindahkan air didalam mulutnya ke mulu Ellisa dan Ellisapun tidak menolaknya. merekapun akhirnya melanjutkannya dengan saling bercumbu.
Pada hari tersebut, Xio dan Ellisa tidak keluar dari kamar sampai malam hari hanya untuk ikut makan malam bersama saja dan setelahnya pun langsung kembali kekamar mereka.
Jhonatan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat Mereka berdua karena tahu setelah kembali kekamar pasti mereka akan lanjut melakukan hubungan suami-istri lagi. Jhonatan mewajarinya karena waktu dulu ia juga seperti itu dengan Nadia, tapi masalahnya dialah yang harus terus mengawasi Leon dan Lena dari pagi sampai malam. Bukannya tidak mau, tapi Leon dan Lena selalu membawa Jhonatan ke hutan yang di penuhi Monster sedangkan dirinya tidak punya kemampuan apapun dan hanya bisa menggunakan pistol dan tangan kosong saja.
......................
Didalam Gang yang lumayan gelap dan karena hanya disinari terangnya bulan saja, Terlihat ada beberapa orang mengenakan jubah berwarna hitam dan dilihat dari tinggi badan mereka dapat disimpulkan kalau mereka sekawanan orang dewasa.
Mereka sedang menghadap kearah, didalam cermin itu terdapat refleksi seorang Wanita bersayap dengan wajah cantik dan tubuh yang menggoda.
Dari cermin itu keluar sebuah kotak kecil berwarna emas di selimuti dengan aura mistis. Salah satu dari orang berjubah tersebut mengambil kotak itu dan memasukkannya kedalam sebuah kantong.
"Aku Ingin kalian tidak menghancurkan rencananya, karena kalau tidak maka dunia ini akan hancur." Ucap wanita dalam cermin dengan wajah tanpa Ekspresi.
"Baik permaisuri!" Jawab orang-orang berjubah, mereka langsung melompat keatas atap-atap bangunan meninggalkan sesosok wanita dalam cermin tadi yang mengeringai licik.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG