Cross The World With System

Cross The World With System
Cawan perwujudan



...----------------...


"Hahaha... ekspresi terkejutmu menggambarkan jati dirimu." Terdengar suara wanita di balik pepohonan.


Pedang bermata ganda yang tadi sempat ditangkis Duncan tiba-tiba saja terbang ke arah suara wanita tersebut yang keluar dari balik pepohonan.


Sringg!


Pedang tersebut ditangkap oleh seorang wanita elf berkulit coklat eksotis, dengan pakaian seksi yang seperti hanya memakai dalaman saja. Rambutnya yang berwarna Silver, dan telinganya yang runcing sudah dapat menggambarkan kalau wanita tersebut merupakan ras Dark elf.


Dia berjalan keluar sambil memutar-mutar dua buah pedang di kedua tangannya bak pemimpin. Tidak lama setelah ia keluar, terdapat beberapa dark elf lain yang ikut muncul di belakangnya. Dari sisi dark elf terlihat semuanya didominasi oleh perempuan dan hanya ada seorang saja yang merupakan pria.


Pria tersebut merupakan tangan kanannya Katarina, pemimpin para Dark elf. Tentu saja pria yang berada di belakang katarina bukan orang bawahannya yang asli. Dia adalah Lucifer yang menyamar menjadi Lorax bawahan Katarina, sedangkan orangnya yang Asli saat ini entah kemana.


"Katarina...kamu tidak berubah sama sekali." Ucap Duncan.


"Ya kamu juga tidak berubah Duncan, masih seperti pengecut." Balas Katarina sambil tersenyum miring.


Perkataan Katarina lantas saja membuat Duncan kesal. Tapi dia tetap berusaha tenang, belum mau memulai pertikaian.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini Katarina?" Tanya Duncan.


"Lorax!" Panggil Katarina mengacuhkan pertanyaan Duncan.


"Ya Ratuku." Jawab Lorax menghampirinya dan tiba-tiba saja mencium punggung tangan Katarina.


Katarina langsung terkejut, sebab Lorax dulu tidak pernah bersikap seperti itu. 'Sejak kapan dia bisa begini?' Batin Katarina dengan wajah sedikit memerah, karena baru kali ini dia diperlakukan seperti itu. Rasanya seperti darah di seluruh tubuh tiba-tiba mendidih.


"Apa anda demam Ratuku?" Tanya Lorax atau Lucifer memegang kening Katarina yang membuatnya membelalakkan mata ditambah wajahnya yang semakin memerah


'Apa yang sedang dilakukannya?' Batin Carret atau Mammon melihat tingkah Lucifer.


Sementara Duncan yang diacuhkan sudah mulai naik darah, dan langsung saja dia melemparkan tombaknya yang sudah diisi energi es dengan kuat-kuat.


Swooshh!


Tombak tersebut melesat ke arah punggung Lorak karena kebetulan saat itu dia sedang membelakangi Duncan. Katarina yang berada di hadapannya tentu dapat melihat ada sebuah tombak yang sedang melesat ke arahnya.


"LORAX AWAS!" Teriak katarina mendorong Lorax ke samping sambil memejamkan mata sebab Tombak yang melesat dengan cepat tadi sudah hampir sampai padanya. Tapi tiba-tiba….


Tombak yang hanya tinggal beberapa inci lagi hampir menyentuh katarina, tiba-tiba terhenti dengan Lorax yang sudah berdiri di sana sambil mencekal tombak tersebut dengan tangan kosong dan berhasil memberhentikannya.


Semua orang tercengang melihat hal tersebut, terutama Duncan yang tidak menyangka Serangannya dapat dihentikan dengan tangan kosong dan seperti enteng melihat dari Ekspresi Lorax yang tidak bergeming.


Hanya Carret atau Mammon saja yang menggeleng-gelengkan kepala melihat rekannya banyak tingkah.


Lorax melemparkan kembali tombak tersebut ke arah Duncan untuk menangkapnya, tapi Duncan malah tidak berhasil menangkap tombak miliknya dan malah terus melesat ke belakang melewatinya dan menancap ke pohon. Tentu saja Duncan merasa dipermalukan karena tidak dapat menangkap senjatanya sendiri, ia ingin menyerang Lorax kembali dengan sihirnya, Tapi tiba-tiba datang seorang Elf wanita berambut pirang yang berjalan ke arah mereka, dia adalah Meryl.


Meryl diperintahkan untuk mengantar para dark elf dan elf salju menuju istana Sylvaine tempat Amir berada.


"Cukup! Kalian sudah memasuki wilayah kerajaan Sylvaine. Tidak boleh ada pertempuran disini." Kata Meryl melerai. Dan semua orang pun menoleh ke arahnya.


"Kalian sudah ditunggu oleh yang mulia." Kata Meryl berbalik badan, dan berjalan terlebih dahulu.


Katarina segera menghampiri Lorax dan melihat tangannya yang tadi dipakai untuk menghentikan tombak Duncan.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Katarina mengusap telapak tangan lorak yang dingin dan terdapat buliran esnya dari tombak Duncan.


"Apa anda mengkhawatirkan saya?" Tanya Lorax menatap mata Katarina yang kelihatan khawatir.


Sebenarnya tidak ada seorangpun yang bernama Lorax, karena ras dark elf semuanya merupakan perempuan tidak ada laki-laki seorangpun. Namun Lucifer telah menghipnotis Katarina dan meyakinkan dia kalau dirinya merupakan satu-satunya pria di ras dark elf dan juga merupakan tangan kanan kepercayaannya.


Lucifer melakukan itu karena saat pertama melihat Katarina, dia langsung jatuh hati padanya ketika wanita tersebut dengan tangguhnya melawan monster Berlevel tinggi seorang diri. Hanya dengan meyakinkan ketuanya, semua rakyatnya pun ikut percaya kalau Lorax atau Lucifer merupakan satu-satunya pria di antara mereka.


Wajah katarina kembali tersipu dengan pertanyaan Lorax dan tatapan matanya yang seketika saling bertemu. Langsung saja dia berbalik badan dan melepaskan tangannya Lorax.


"Siapa yang khawatir? Aku hanya memeriksa mu saja." Jawab Katarina membuang muka. "Cepat ikuti saja aku!" Serunya kesal segera berjalan menyusul Meryl.


Lucifer tersenyum dan ia juga segera menyusul Katarina agar dapat berjalan di sampingnya.


Mereka semua tidak tahu kalau tidak jauh dari tempat barusan ada seseorang yang sedang memperhatikan berdiri diatas dahan pohon tanpa jejak.


"Sepertinya bawahanku ada yang sedang jatuh cinta lagi." Gumam orang tersebut, matanya yang berwarna biru terlihat berkilau. Benar dia adalah Xio.


Tiba-tiba saja disampingnya ada seseorang yang berdiri sangat dekat dengan dirinya, bahkan bahu mereka saling bersentuhan. Siapa lagi kalau bukan Heldir. "Dimana?" Tanya Heldir, sebab dia baru saja tiba.


"Sudah kubilang jangan dekat-dekat denganku!"


Duakk!


Xio lagi-lagi menendang bokong Heldir hingga membuatnya terjatuh dari atas pohon dan mendarat di atas tumpukan daun. Heldir bangkit dengan mulut yang sudah termasuk dedaunan.


"Fuhh…" Dia meniup keluar daun-daun didalam mulutnyaa dan menoleh ke atas ke tempat Xio yang ternyata sudah tidak ada disana. "Lagi-lagi dia meninggalkanku." Kata Heldir.


***


Singkat cerita Rombongan Duncan dan Katarina pun akhirnya sudah tiba di istananya Amir. Mereka segera diarahkan oleh Meryl menuju ruang pertemuannya, tapi masing-masing hanya boleh ikut dua orang saja. Duncan bersama Carret atau Mammon, Katarina bersama Lorax atau Lucifer. Mereka dibawa oleh Meryl melewati lorong-lorong yang cukup panjang hingga sampailah di depan sebuah ruangan.


Di Depan pintu ruangan tersebut terlihat sudah ada dua orang penjaga yang menahan mereka terlebih dahulu.


"Tinggalkan senjata kalian disini." Ucap salah seorang penjaga.


"Apa! Apa ini semacam jebakan?!" Protes Duncan tak mau menuruti mereka, sebab ia berpikir bisa saja didalam sana terdapat bahaya.


"Sksk...sepertinya ada yang tidak mau berpisah dari mainannya." Sinis Lorax.


"Sial*n apa masalahmu hah?!" Sahut Duncan merasa diejek. "Hanya sebagai bawahan saja sudah sombong sekali." Lanjutnya.


Melihat katarina selesai menyerahkan senjatanya, dia segera menggandeng tangan katarina dan membawanya masuk kedalam ruangan tersebut.


'Lihatlah kamu tidak akan bisa sombong lagi setelah keluar dari sini.' Batin Duncan tersenyum licik.


Dia ikut menyerahkan tombaknya pada dua penjaga tersebut dan segera masuk kedalam diikuti Carret.


Di Dalam ruangan terdapat sebuah meja bundar dan 3 buah kursi yang mengelilinginya. Katarina dan Duncan duduk di kursi tersebut, sementara Carret dan Lorax berdiri di belakang mereka. Meryl tidak ikut ke dalam sebab dia hanya diperintahkan untuk mengantar mereka saja.


Bukan hanya mereka berempat saja yang berada di dalam ruangan tersebut, tapi terdapat dua sosok lain yang bersembunyi di dalam bayangan. Mereka berdua yaitu Xio dan Heldir.


Setelah beberapa lama keheningan berlalu, tiba-tiba saja pintu kembali terbuka dan masuklah Sosok Amir bersama dengan dua orang dibelakangnya. yang satu seorang pria yang tidak lain adalah mikhael yang menyamar jadi anaknya Amir yaitu Sudan, sedangkan sosok satunya lagi tidak diketahui sebab ia mengenakan jubah menutupi seluruh tubuhnya. Sehingga tidak ada yang bisa mengetahui siapa sosok dibalik jubah tersebut.


Hanya saja Heldir yang berada tepat di samping Xio melihat Ekspresinya yang tiba-tiba berubah, dan hawa di sekitarnya juga menjadi sangat dingin serta mencekam. Heldir tahu Xio sedang meredam emosinya sebab melihat dia sedang mengepalkan tangan kuat sekali, tapi Heldir sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya membuat Xio bisa sampai semarah itu, dan sepertinya ia sudah tahu siapa yang ada jubah tersebut.


Amir duduk di salah satu kursi tersebut dan orang yang memakai jubah berdiri di belakangnya bersama Sudan atau Mikhael. Mikhael juga sebenarnya tidak mengetahui siapa dibalik jubah tersebut, sebab dari pagi Amir baru keluar kamar barusan bersama sosok berjubah tersebut.


"Amir apa sebenarnya tujuanmu mengundang kami kemari?" Katarina membuka suara.


"Sabar saudara-saudara ku, aku mengundang kalian kemari karena ada kabar baik untuk ras kita." Jawab Amir.


"Apa maksudmu kabar baik?" Tanya Duncan.


Amir tersenyum dan sosok berjubah tadi pun maju selangkah lalu menaruh sebuah cawan emas diatas meja.


"Aku hanya butuh setetes saja darah dari kalian, dan ras kita akan berjaya lagi selamanya." Ucap Amir.


Heldir yang berada didalam bayangan terkejut melihat cawan emas tersebut. "Bagaimana cawan itu masih ada?" Heran Heldir. Xio yang mendengar dan melihat reaksi Heldir pun lantas bertanya. "Apa kamu tahu cawan apa itu?" Tanya Xio.


Heldir mengangguk. "Cawan perwujudan. Cawan Itu merupakan artefak milikku dulu, sepertinya orang berjubah itu ingin memiliki kekuatan gabungan para ras elf. Ketika darah mereka bersatu dalam cawan tersebut, dan orang yang yang meminum gabungan darah tersebut akan memiliki darah murni ras elf atau bisa dibilang darahku dan juga berkah elf." Jelas Heldir.


"Hmm kita lihat dulu saja." Kata Xio kembali memperhatikan gerak-gerik mereka yang ada dalam ruangan itu.


Amir yang pertama meneteskan darahnya ke dalam cawan tersebut.


"Katakan terlebih dahulu untuk apa aku harus menurutimu?" Ucap Duncan dengan tatapan menyelidik.


"Saudaraku...ras kita semakin lama semakin turun karena tidak ada yang mampu menguasai kekuatan kekuatan para leluhur kita. Jika hal tersebut terus dibiarkan, semakin lama maka ras kita akan dipandang rendah oleh ras lain. Selain itu, bisa saja ada yang akan menjajah bangsa kita karena mereka mengetahui bahwa kita lemah." Jawab Amir. "Cawan ini mampu menciptakan darah murni elf dari campuran ketiga ras elf. Kalian sendiri pasti tahu bagaimana luar biasanya seseorang yang memiliki darah murni ras elf." Lanjutnya.


Katarina dan Amir termenung sejenak berpikir jika yang dikatakan oleh Amir semuanya benar. Ras mereka tidak memiliki orang yang benar-benar kuat, dan mungkin bisa saja ditindas oleh ras lain suatu saat jika terus seperti itu.


"Apa benar cawan ini mampu menciptakan darah murni leluhur?" Tanya Katarina.


Amir menatap katarina dan menganggukkan kepala percaya diri.


"Lalu darimana kamu mendapatkan cawan tersebut, dan sebenarnya siapa orang mencurigakan di balik jubah tersebut?" Tanya Katarina lagi.


"Beliau adalah orang yang memberikan cawan tersebut. Beliau juga berasal dari ras Mulia, sehingga aku bisa mempercayainya." Jawab Amir.


Orang yang mengenakan jubah tersebut lalu melepaskan jubahnya. Sehingga tampaklah seorang wanita cantik nan rupawan dengan tubuh seksi dan wajah yang cantik. Ia juga memiliki sepasang sayap yang lebar dan indah di punggungnya. Sudah jelas wanita tersebut berasal dari ras Malaikat.


Mikhael, Mammon, dan Lucifer terkejut melihat ras tersebut ada tepat didepan mata mereka, tapi segera mereka menutupi keterkejutan mereka sebab Xio mengirimkan telepati agar mereka jangan dulu bertindak.


Ketiga bawahan Xio itu tidak mengetahui kalau wanita itu dan ayahnya, adalah faktor terbesar Xio sangat membenci dan mengutuk semua ras Malaikat. Dalam mimpi, Xio saat itu masih mengingat kalau wanita tersebut yang menusuk perut Ellisa saat masih mengandung hingga tak bernyawa.


Mengingatnya kembali membuat lutut Xio bergetar, entah apa yang akan terjadi padanya jika insiden yang harusnya terjadi itu tidak berhasil digagalkan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Heldir memegang pundak Xio, karena melihat auranya yang mulai meluap-luap. Jika orang lain yang berdiri di tempat Heldir saat ini, mungkin dia akan pingsan dengan aura Xio yang kuat dan mendominasi. Tapi untung saja Heldir memiliki kekuatan yang hampir setara dengannya.


"Emm." Jawab Xio menurunkan tangan Heldir di pundaknya.


Duncan dan Katarina terkejut melihat sosok malaikat di depan mereka. Wanita tersebut atau Breda Vouch anaknya Klause Vouch tersenyum melihat keterkejutan mereka.


"Bagaimana? Kalian percayakan padaku?" Ucap Amir.


Dengan bodohnya Duncan pun mengangguk dan ikut meneteskan darahnya di cawan tersebut. Brenda tersenyum licik melihatnya, kemudian ia melirik kerah katarina.


Katarina tidak langsung mempercayainya, dia masih ragu-ragu untuk menurutinya.


"Apa yang kamu tunggu? Bukankah kamu ingin ingin ras dark elf semakin berkembang?" Amir meyakinkan Katarina sekali lagi.


Setelah beberapa lama, katarina pun ikut meneteskan darahnya ke dalam cawan tersebut.


Cawan tersebut langsung bersinar ketika darah mereka bertiga bersatu, dan setelah beberapa lama bersinar, sinar tersebut mulai meredup.


Brenda segera mengambil cawan tersebut ke genggamannya. "HAHAHA!!...Dengan ini aku bisa menguasai benua ini dan segera mendapatkan hati priaku!" Ia tertawa puas dan percaya diri.


"Apa? Apa maksudmu?!" Katarina berdiri.


Whoosh!


Brenda menghempaskan semua orang dengan kekuatannya dan membuat semua orang terpental kecuali 3 bawahan Xio yang langsung menangkap Amir, Duncan, dan Katrina agar tidak menabrak dinding. bahkan meja dan kursi pun ikut terhempas.


"Menyingkir makhluk-makhluk rendahan! Tidak akan ada yang bisa menghentikan ku mulai saat ini." Ucap Brenda sudah menempelkan bibir cawan di bibirnya akan segera meminum darah murni tersebut.


Namun tiba-tiba…


Prangg!!


Cawan tersebut hancur di tangannya dan darah didalamnya tumpah ke lantai. Dan tangannya juga ikut bercucuran darah dengan sebuah belati menancap di telapak tangannya yang tentu saja membuat ia terkejut.


Dia tambah terkejut dan membelalakkan matanya ketika melihat sosok pria yang selama ini diidamkannya muncul dihadapannya.


...****************...


...BERSAMBUNG...