
...----------------...
"Yah ada apa papah memanggil Lena?" Ucap Lena dengan polosnya membuat Xio menepuk jidatnya sendiri karena dengan pancingan ice cream saja langsung keluar.
"Leon dan Lena ikuti papah, kalian berlima juga ikut denganku." Ucap Xio berjalan keluar arena di ikuti oleh Leon dan Lena serta 5 remaja tadi.
Xio membawa mereka keruangan kepala sekolah dan kepala sekolahnya yaitu Sammuel karena Xio yang menyuruhnya untuk menjadi kepala sekolah.
Saat Xio membuka pintu ruangan tersebut nampaklah Sammuel yang sedang fokus menjahit pakaian tanpa menyadari kalau ada orang yang masuk ke ruangannya.
Sebenarnya Xio sudah tahu semua sifat para bawahannya dan Sammuel memiliki sifat yang sederhana jadi Xio audah memakluminya.
"Ekhemm!" Xio Berdehem. Sammuel langsung menoleh kearah suara dan ketika yang ia lihat adalah Xio, ia langsung memasukkan pakaian dan juga jarum yang sedang ia pegang kedalam rak dengan cepat.
"Maaf yang Mulia!" Ucap Sammuel kemudian mempersilahkan Xio duduk di kursinya. Sementara Leon, Lena dan 5 remaja tadi disuruh berdiri berjajar dihadapan Xio.
"Baiklah sekarang siapa yang bisa menjelaskan, kenapa kalian sampai bertarung?" Tanya Xio, 5 remaja tersebut malah menunduk tidak berani menjawab karena takut mendapat hukuman setelah tahu yang mereka ajak bertarung adalah Anak Raja. Begitupun dengan Leon dan Lena yang tidak berani menjawab karena sebelum mereka pergi ke Akademi mereka sudah berjanji tidak akan nakal.
Karena tidak ada yang menjawab Xio bertanya pada Sammuel.
"Apakah kamu tahu kenapa mereka bertarung?" Tanya Xio.
"Maafkan saya Yang mulia, dari tadi saya disini jadi saya tidak mengetahui apapun." Jawab Sammuel.
"Lena coba ceritakan pada papah Kenapa kakak kamu bertarung, Nanti papah Belikan makanan yang banyak." Ucap Xio dan tanpa menunggu lama lagi Lena langsung menceritakan semuanya.
Leon bisa sampai bertarung awalnya saat mereka berdua sedang melihat kelas berpedang Lena berkata "Kakak Mereka sangat lemah, Aku yakin kalau kakak melawan mereka sekaligus kakak akan menang dengan mudah." Tanpa Lena sadari perkataan nya barusan didengar oleh mereka yang sedang berlatih pedang.
Mereka yang melihat Seorang anak kecil merendahkan mereka merasa tidak Terima dan menantang Leon karena Sebelumnya Lena mengatakan kalau Leon Bisa menang dengan mudah, Leon yang ditantangpun menerimabtantangan tersebut karena ia berpikir untuk pengalaman sehingga terjadilah pertempuran tadi.
"Maafkan kami yang Mulia, Kami tidak tahu kalau yang kami tantang adalah pangeran." Ucap 5 remaja tersebut.
"Baiklah kalian boleh keluar, Lain kali jangan pernah melihat orang dari penampilannya saja ." Ujar Xio.
"Baik yang Mulia." Ucap 5 remaja tersebut membungkukan dadanya sedikit kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Lalu untuk kalian berdua, apa yang kalian pelajari?" Tanya Xio menatap Leon dan Lena.
"Tidak boleh Sombong." Jawab Leon dan Lena bersamaan.
"Bagus!, Sekarang kalian boleh kembali." Kata Xio.
"Tapi sekarang mereka sudah tahu identitas kita yang sebenarnya." Ucap Leon.
"Memangnya kenapa kalau mereka sudah tahu?" Tanya Xio.
"Nanti mereka akan memperlakukan kita dengan istimewa berbeda dengan orang biasa, kita tidak mau diperlakukan secara khusus dan kita hanya ingin diperlakukan sewajarnya saja." Jawab Leon.
"Baiklah nanti biar papah umumkan untuk semua orang, Kalau bertemu dengan Leon dan Lena perlakukan sewajarnya saja." ujar Xio.
"Sekarang ayo kita beli makanan!!" Teriak Lena, membuat Xio men geleng-geleng kan kepalanya namun apa boleh buat dirinya sendiri yang sudah berjanji akan membelikan banyak makanan.
Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan berjalan-jalan di Kota yang terlihat sangat hidup dengan lingkungan yang bersih, tanaman-tanaman indah yang dipajang di setiap pinggir jalan. Serta juga banyak sekali orang dewasa maupun anak-anak yang rukun dan tentram walupun mereka berasal dari berbagai ras.
Sebelum berang jalan-jalan, Xio sudah berganti pakaian dan menyimpan mahkotanya terlebih dahulu karena akan sangat mengundang perhatian kalau Xio di ketahui sebagai raja, Berita tentang tentang siapa raja sebenarnya juga belum menyebar keluar sekolah, karena murid-murid dari akademi semuanya tinggal di asrama.
Karena kelelahan dan kekenyangan mereka pun memutuskan untuk beristirahat di tempat duduk yang berada didepan kolam air mancur. serta banyak anak-anak seumuran Leon dan Lena yang sedang bermain dipiinggiran kolam air mancur tersebut.
"Papah Lena ingin ikut bermain dengan mereka." Ucap Lena.
"Boleh, papah akan menunggu disini." Ucap Xio. Lena kemudian menarik Leon untuk ikut bermain bersama anak-anak lainnya sementara Xio memperhatikan mereka.
sembari diam Xio berpikir kembali tentang semua ketidak masuk akalan yang ia alami, dimulai dari mendapatkan System, berpindah dunia, menjadi ayah, Mendapatkan wanita yang spesial, serta menjadi dari Kerajaan yang menampung banyak orang sekaligus.
'Mungkin ini Semua kejadian yang ku alami sudah di tata sedemikian mungkin, asakan itu bagus untukku aku akan menerimanya.' Batin Xio.
"Hahhh udara disini lebih segar dari di bumi." Xio menghela nafas Lega.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu Chalawan, Ramus dan khazad masih menunggu Xio di tempat pertemuan sebelumnya ditemani oleh Belohegor.
"Emm permisi Kemana yang mulia pergi?" Tanya Ramus pada Belphegor.
"Hooaamm..." Belohegor menguap.
"Eh iya maaf, Yang mulia Sedang pergi ke akademi sebentar lagi juga akan kembali." Jawab Belohegor.
Sebenarnya mereka bertiga sudah menanyakan hal sama berkali-kali namun Belphegor bterus menjawab kalau sebentar lagi juga akan kembali, Sudah beberapa jam mereka duduk menunggu disana namun Xio tidak kembali juga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kembali Ke Xio, saat ia melihat sekeling ternyata banyak juga suami istri yang sedang memperhatikan anak mereka bermain.
Tiba-tiba saja rasa rindu terhadap Ellisa Mulai Xio rasakan dan teringat kalau seumur hidup ia tidak akan pernah bertemu Ellisa kembali, Mata biru yang semuanya tenang mulai berkaca-kaca.
'Kenapa aku jadi cengeng, ternyata benar kekuatan seorang raja berasal dari ratunya, Walaupun hatiku yang mulai melemah.' Batin Xio.
"Papah perkenalkan ini teman baru kami, Namanya Zekiel." Ucap Lena memperkenalkan seorang anak laki-laki yang memiliki rambut berwarna cokelat dengan mata yang berwarna cokelat serta di belakang mereka berdiri seorang pria yang memiliki badan besar dan kekar memiliki Ciri rambut dan mata yang sama dengan Zekiel yang dapat dipastikan kalau orang tersebut merupakan Ayah Zekiel.
"Halo Saya Aslan ayah Zekiel, Apakah anda orang tuanya Leon dan Lena?" Ucap Aslan menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Oh iya Saya Xio orang tua Leon dan Lena."
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG