
...----------------...
Didalam sebuah ruangan terang dengan interior berwarna putih keemasan, Seorang pria dengan empat sayap di punggung yaitu Klause sedang duduk di singgasananya sambil memangku dua orang malaikat wanita cantik di kedua pahanya. Tangan Klause berada tepat di pinggul kedua wanita tersebut yang tangannya mengenakan pakaian di bawah dada. Ia terlihat sangat menikmati waktunya bermain dengan wanita-wanita tersebut sampai tak lama kemudian seorang pria datang seperti sangat tergesa-gesa dan dengan wajah ketakutan.
Pria tersebut berlutut di bawah singgasana dan menurunkan kepalanya hingga menyentuh lantai.
"Apa yang terjadi? Cepat katakan!"
"Ma-maaf Yang Mulia, Anda harus melihat anda harus melihatnya langsung ke ruang para leluhur!"
"Jangan membuatku kesal! Katakan sekarang!"
"A-"
"Brenda sudah meninggal." Seorang pria berkulit gelap dan berambut pirang menjawab sambil bersandar di lawang pintu. Dia Caesar salah satu malaikat terkuat.
Klause yang mendengar kata Caesar langsung bangkit menjatuhkan kedua wanita di pangkuannya. Wajahnya menjadi merah padam dengan urat-urat di keningnya yang menonjol.
"Siapa yang membunuhnya?" Klause terlihat sangat marah karena Brenda merupakan anak terakhir yang dimilikinya. "Sial ternyata kegelisahan ku selama ini benar." Dia mengurut keningnya.
"Sebaiknya anda lihat sendiri." Jawab Caesar.
Klause segera membentangkan sayapnya dan pergi ke ruang leluhur untuk melihat di kolam leluhur siapa yang membunuh ayahnya.
Sementara Caesar berjalan dengan santainya keluar ruang singgasana tersebut sambil tersenyum miring.
"Heh gelisah, dari kemarin bukannya hanya bermain wanita." Gumam Caesar dengan nada meledek.
Di ruang Leluhur malaikat, Klause sudah melihat pilar api Brenda padam dan kolam dibawahnya menunjukkan wajah seorang pria yang sama yang saat itu membunuh putranya juga yaitu Xio.
Wajah Klause kembali menjadi merah padam dan darah didalam tubuhnya seperti mendidih mengetahui yang membunuh anak-anaknya adalah orang yang sama.
Klause segera berjalan ke sisi ruangan yang terdapat sebuah kotak dipajang di sana dan mengambil kotak seukuran genggaman tangan tersebut.
"Aku tidak bisa membiarkannya terus berkembang!"
Klause membuka kotak tersebut yang didalamnya terdapat sebuah bola permata berwarna biru muda dan memancarkan cahaya. Bola tersebut adalah peninggalan leluhurnya dan fungsinya yaitu agar para malaikat bisa pergi ke alam bawah, karena malaikat tidak bisa sebebasnya pulang pergi ke alam bawah. Tapi bola permata tersebut hanya bisa sekali pakai.
Klause tidak peduli kalau benda tersebut peninggalan leluhurnya, ia sangat murka terhadap pria yang membunuh anak-anaknya dan akan pergi ke alam bawah bersama dengan semua ras nya untuk membalas dendam dan untuk menguasai alam bawah.
Klause ingat kalau Brenda pergi saat itu berkata untuk menguasai benua Elf. Ia menoleh kebelakang.
"Beritahu semuanya, kita akan ke benua elf." Titahnya pada bawahannya dibelakang.
***
Pukul 11 siang di istana kerajaan regalia.
Pulang dari mengunjungi makam Arthur, Xio langsung mengadakan rapat bersama dengan para bawahannya.
Seperti biasa Xio ditemani oleh Sebas dan Azco di belakangnya. Xio ingin membicarakan perihal keberangkatannya besok. Karena semua sebagian orang akan ikut dengannya, ia bingung siapa yang akan memerintah kerajaannya jika tidak ada pemimpin di istananya. Sebenarnya bisa saja Xio pergi ke bumi dan menghentikan sementara waktu di dunia Flix. Tapi dia ingin rakyatnya juga melihat secara langsung pernikahannya.
"Maaf Yang Mulia, berapa lama Yang Mulia akan tinggal disana?" Tanya Uriel.
"Kemungkinan aku akan cukup lama disana, tapi yang lainnya cukup sehari saja."
"Kalau untuk sehari saya yakin tidak akan terjadi apa-apa di sini."
"Ya aku juga berpikiran seperti itu, tapi itu tidak menutup kemungkinan kalau sesuatu bisa terjadi kapan saja."
Semuanya terdiam kembali berpikir. Mereka pikir benar juga apa yang Xio katakan. Meskipun seluruh benua sudah tertunduk dan sudah banyak orang-orang kuat di kerajaan regalia, bisa muncul kemungkinan ancaman dari siapa saja seperti sebelum-sebelumnya. Apalagi jika para malaikat yang turun.
Ketika keheningan yang cukup lama tersebut, tiba-tiba saja Aslan datang menggebrak pintu ruangan tersebut seperti sedang tergesa-gesa. Semua yang ada di ruangan tersebut pun langsung menunjukan matanya pada Aslan.
"Kenapa kamu seperti sedang dikejar hantu?" Tanya Xio.
"GAWAT! PARA ELF!"
Aslan pun menjelaskan kalau barusan ada rombongan elf wanita dan anak-anak yang muncul di depan portal dengan beberapa luka di tubuh mereka. Dan mereka mengatakan kalau di benua elf sedang terjadi kekacauan yang dibuat oleh para malaikat. Portal untuk berpindah benua tidak bisa membawa semua orang sekaligus, para wanita dan anak-anak di evakuasi terlebih dahulu, sedangkan yang lainnya masih menunggu disana.
Xio langsung berdiri.
"Azco perintahkan semua pasukan untuk berkumpul secepatnya!"
Azco mengangguk dan langsung melesat keluar seperti angin.
"Aslan katakan pada semua petualang rank tinggi untuk ikut berkumpul. Ini perintah langsung dariku!"
"Baik Yang Mulia!" Sahut Aslan dan langsung pergi juga.
'Sial aku lupa memberi alat komunikasi pada Heldir!'
Batin Xio kemudian menoleh ke arah bawahannya yang masih ada di tempat itu, "Jumlah mereka ribuan, jadi kalian sebaiknya tetap waspada."
"Kami mengerti Yang Mulia!" Sahut mereka semua.
Xio mengangguk.
"Ayo berangkat!" Ucapnya langsung menghilang di sana diikuti oleh para bawahannya begitu juga Sebas.
.
.
.
.
.
Leon dan Lena yang kebetulan sedang berada di salah satu ruangan istana di tempat tinggi, mereka bisa melihat dari jendela banyak sekali prajurit, petualang dan beberapa murid akademi dewasa yang berkumpul di depan istana dengan jirah dan persenjataan lengkap. Dan di depan sana terlihat papanya sedang berdiri bersama Sebas serta para bawahannya di belakangnya berbaris.
"Kakak, apa yang terjadi?"
"Tidak tahu, sepertinya ada sesuatu yang terjadi."
"Ayo kita ke bawah!"
Leon mengangguk sudah berniat untuk pergi ke bawah mencari tahu apa yang terjadi. Tapi Azril tiba-tiba datang menghentikan mereka.
"Jangan kesana." Azril menarik kerah baju belakang mereka.
"Yahhh opa!" "Memangnya kenapa?"
"Tidak boleh, kalian tetap disini dengan opa!" Azril memegang tangan Leon dan Lena.
"Papa mau kemana emangnya?" Tanya Leon.
"Papa kalian akan pergi ke tempat berbahaya dulu. Dan opa disuruh untuk mengawasi kalian. Opa tahu kalau tidak ada yang mengawasi kalian, kalian pasti akan sembunyi-sembunyi ikut kesana." Jawab Azril. "Ayo kita melihat saja diatas!" Ajaknya membawa mereka berdua keatas istana benar-benar dipaling atap. Angin yang berhembus pun terasa bertiup menyelusup ke sela-sela pakaiannya. Dan dari atas sana pula mereka bisa melihat dengan jelas bangunan-bangunan kota. Serta di bawah sana Xio nampak sedang memberikan komando.
"Papa kalian bukan sembarang akan bertempur, tapi dia akan berperang dengan para malaikat di benua elf."
Wajah mereka berdua seketika langsung terkejut. Karena mendengar papa nya akan berperang, apalagi lawannya adalah para malaikat. Azril yang melihat ekspresi mereka pun mengerti dan mengusap kepala mereka.
Leon dan Lena langsung menoleh ke arah Azril yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Tenang saja. Meskipun malaikat kuat, tapi papa kalian lebih kuat." Azril berusaha untuk meyakinkan mereka sambil tersenyum penuh keyakinan.
Leon dan Lena menoleh ke bawah dan mereka pun mengangguk percaya dengan kata Azril. Masih melihat ke bawah, tiba-tiba saja Xio menoleh ke arah mereka seperti sudah tahu kalau dari tadi mereka memperhatikan. Xio tersenyum lalu bayangan hitam dibawah kaki ya membawanya menghilang begitupun dengan semua orang disana ikut menghilang.
"Semoga papa tidak terluka." Gumam keduanya.
Azril tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah cermin yang lumayan besar dari ruang dimensinya.
"Cermin apa ini opa?" Tanya Lena.
"Cermin ini bisa menonton secara langsung apa yang terjadi disana." Azril duduk dan menepuk-nepuk kedua pahanya menyuruh Leon dan Lena duduk disitu.
"Ohh…" keduanya hanya ber oh ria.
***
Azril bisa saja menjadi bantuan terkuat Xio, tapi Xio tidak meminta bantuannya karena Azril waktu itu pernah bilang kalau dia sedang diawasi. Jika ketahuan ikut campur dengan urusan dunia lagi, Azril akan mendapat hukuman.
Meski tidak membantu secara langsung, Azril cukup membantu Xio dari belakang. Selain tahu Xio pasti tidak akan kalah, Azril juga ingin melihat baru sampai mana Xio berkembang dan bagaimana dia menangani musuh yang kuat.
***
Saat ini Xio dan semua pasukannya sudah berangkat ke benua elf menggunakan teleport bayangan miliknya dengan cakupan yang luas karena harus memindahkan beribu-ribu orang sekaligus.
Xio sudah membagi tugas pada semuanya. Para murid akademi dan petualang akan mengevakuasi warga, sedangkan sisanya memusnahkan para malaikat.
Sesampainya Xio di benua elf, ia langsung diperlihatkan dengan kekacauan yang sangat besar. Hutan dan pepohonan terbakar dan masih terdapat beberapa kobaran api. Rumah-rumah dan bangunan ambruk sebagian. Orang-orang berlarian sambil berteriak ketakutan. Dan pertempuran terjadi dimana-mana.
"SEMUANYA LAKSANAKAN TUGAS KALIAN!!" Xio berteriak dengan tegas dan semua pasukannya pun langsung berpencar ke berbagai arah hingga tersisa dirinya sendiri disana.
"Bayanganku keluarlah!"
Seketika ditanah keluar aura gelap yang areanya sangat luas, dan aura kegelapan tersebut langsung berubah ke berbagai macam bentuk dengan jumlah ribuan juga. Xio juga memerintahkan para prajurit bayangannya untuk membantu pasukannya tadi.
Xio melihat di atas langit yang lumayan jauh, terdapat dua orang yang sedang bertarung dengan kecepatan mereka yang tidak akan tertangkap jika dengan mata telanjang. Dia tahu yang sedang bertarung itu adalah Heldir dan yang dilawannya adalah Klause seorang bajing*n yang sangat dibencinya.
Ia tidak langsung pergi kesana, ketika melihat pohon berkobaran api dan berjatuhan, ia segera memegang cincin caelum di jarinya sambil menyalurkan mananya.
Tss!
Setetes air tiba-tiba saja turun dari langit.
Tss tsss
Semakin lama semakin banyak dan hujan yang sangat deras pun mengguyur benua yang sedang terbakar tersebut.
Whoosh!
Xio melesat secepat kilat ke arah Heldir.
Klause tidak menyadari kehadiran Xio yang sangat cepat tersebut. Sehingga salah satu sayapnya terkena sayatan dari pedang Xio.
Xio berdiri di samping Heldir yang sedikit terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Tinggalkan dia padaku!" Seru Xio.
Heldir mengangguk dan terjun kebawah dengan sayap perinya dulu yang berukuran besar.
Xio menoleh ke arah Klause, dan melihat sayap yang terkena pedangnya tadi seketika pulih kembali.
"Akhirnya kau datang juga." Klause menatap Xio sambil menyeringai. Sedangkan Xio hanya menatapnya dengan tatapan sinis.
Tidak sempat berkedip, Klause tiba-tiba saja sudah berada dibelakang Xio dengan pedang yang mau di tancapkan di punggung Xio. Tapi tak kalah cepatnya Xio langsung memutarkan tubuh dan melakukan teknik tendangan berputar. Kakinya mengenai tubuh Klause dan mementalkan nya dengan secepat kilat dan sangat kuat ke bawah hingga menabrak beberapa pohon besar yang runtuh karenanya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Xio segera menembakkan energi cahaya dan kegelapannya yang bersatu menciptakan laser gelap dan terang kearah Klause.
BOOM!!
Ledakan yang sangat besar terlihat di arah tempat jatuhnya Klause tadi. Tapi Xio menyadari kalau serangannya barusan tidak mengenai Klause karena seperti tertangkis.
Di Dalam kepulan asap tersebut, ada yang terbang ke langit yang ternyata Klause sambil memegang sebuah tameng di tangannya.
"Bukankah itu Shield of Achilles?" Xio nampak terkejut melihat tameng yang dipegang Klause.
[Tidak tuan, itu hanya duplikat nya saja] Systemnya tiba-tiba menjawab.
Ia menyeringai. Tadi ia pikir Itu adalah Shield of Achilles yang asli. Karena kalau yang asli, melawannya akan sedikit merepotkan. Shield tersebut bisa menahan segala macam serangan dan tidak akan hancur. Tapi karena yang dipegang Klause merupakan duplikat, jadi itu bisa hancur jika terus terkena serangan yang besar.
Diatas langit itu Xio dan Klause bertaruh saling beradu pukulan dan saling mengayunkan pedang. Pergerakan mereka tidak terlihat oleh mata telanjang, kecepatan gerakan yang mereka lakukan seperti kilatan cahaya dan menjadi percikan dilangit.
Klause terus menahan pedang dan sihir Xio menggunakan Shield of Achilles miliknya. Dan karena serangan Xio yang terus-menerus dengan kekuatan besar, Shield tersebut pun hancur.
Melihat celah, Xio segera berniat meksekusinya dengan teknik pedang pembunuh. Tapi Klause rela mengorbankan tangannya tertancap untuk menahan pedang Xio.
Klause tersenyum sambil menoleh ke arah mata Xio.
Dan tiba-tiba saja mereka berdua sudah berpindah tempat. Air hujan yang tadi mengguyur sudah tidak ada, pohon-pohon lebat dan besar tadi juga sudah tidak ada.
Srakk!
Xio memotong tangan Klause. Dia sudah mengenal tempat tersebut karena sebelumnya pernah di situ. Benar Klause membawanya ke ruang dimensi miliknya saat ia menyentuh pedang Xio tadi.
"Hahaha kamu sudah terperangkap." Klause tertawa jahat lalu menghilang.
"Cih! Aku tidak akan terperangkap di jebakan yang sama dua kali." Xio memejamkan matanya dengan salah satu tangan yang diangkat ke depan.
Di telapak tangannya perlahan tercipta energi hitam pekat bulat. Lalu saat ia membuka matanya….
Takk!
Bola energi hitam tersebut meledak dan ruang dimensi Klause yang sangat luas itu pun hancur seperti kaca. Dan digantikan dengan ruang dimensi Xio. Kini sejauh matanya memandang hanya terdapat bebatuan luar angkasa dan planet-planet besar di sekitarnya seperti sedang berada di galaxy.
Klause kembali muncul dihadapan Xio dengan wajah kebingungan karena ruang dimensi ciptaannya bisa dihancurkan begitu saja.
"Kita lihat siapa yang terperangkap sekarang." Kata Xio tersenyum menyeramkan dan aura ditubuhnya yang semakin mencekam.
...****************...
...BERSAMBUNG...