
...~~~~...
...Terkadang orang mencoba untuk menghancurkanmu, justru karena mereka mengenali kelebihanmu - bukan karena mereka tidak melihatnya, tetapi karena mereka melihatnya dan mereka tidak ingin kelebihan itu ada....
...~~~~...
Kamis 3 Januari 2024, Jam 2 siang. Xio bersama dengan Ellisa, anak-anak, Jhonatan serta Rose sudah kembali ke Indonesia.
Waktu 3 hari di negara orang terasa sangat sebentar, tapi juga menyenangkan untuk Xio habiskan berwisata bersama dengan istri dan anak-anaknya tercinta mengunjungi tempat-tempat yang indah dan juga menyenangkan. Dan Selama tiga hari itu juga mereka jalan-jalan ditemani oleh Morron juga Fellis.
Ellisa selalu memperhatikan bagaimana gerak-gerik Fellis di depan Xio. Dan dia hanya bisa menangkap kalau Fellis sering mencuri-curi pandang pada Xio dengan wajahnya yang kadang-kadang memerah dan salah tingkah. Ellisa sudah 100% yakin kalau Fellis menyukai Xio.
Kabar mengejutkan pun kembali ia dapatkan ketika mendengar Rose yang menyuruh Fellis untuk membantu Xio menjadi sekretarisnya ketika di perusahaan maupun ketika di luar. Itu berarti Fellis akan lebih sering bertemu dengan Xio.
Tentu saja Ellisa khawatir sekaligus takut kalau lama-kelamaan Xio akan tertarik pada Fellis, secara Xio belum menyadari kalau Fellis menyukainya. Disisi lain dia juga mempercayai omongan Xio dimana ketika dia mengatakan kalau dirinya tidak akan melirik wanita lain.
Ellisa tidak bercerita pada siapapun kecemasan dalam hatinya terutama pada Xio, karena dia takut Xio akan mengira kalau Ellisa belum juga mempercayainya. Jadi Ellisa pun memutuskan untuk menunggu. Dan jika sudah melewati batas, maka mudah urusannya.
*****
Di kebun bunga yang berada di depan mansion, lebih tepatnya di atas kursi taman panjang di tengah bunga-bunga indah dan segar. Ellisa tiduran menyandarkan kepalanya di atas paha Xio.
"Cuacanya bagus yah…" kata Ellisa.
"Ehmm...sejuk juga tidak terlalu terik." Jawab Xio dengan jari-jarinya yang sambil membelai helaian rambut Ellisa.
Saat ini mereka sedang memperhatikan Leon dan Lena sedang membagikan oleh-oleh yang mereka beli pada para orang-orang yang ada di mansion. Nathan dan Tassa tidur di dalam rumah ditemani Rose, sedangkan Jhonatan pergi keluar untuk bertemu temannya.
"Sayang…" panggil Ellisa.
"Iya kenapa sayang?" Sahut Xio.
"Menurut pandangan kamu Fellis itu seperti apa?" Tanya Ellisa.
"Aku tidak tahu, soalnya aku tidak terlalu memperhatikannya, tidak penting juga untukku." Jawab Xio.
"Bukan seperti itu. Maksudku... apa menurutmu Fellis itu cantik, baik, atau pintar jawab saja?"
"Kan aku sudah bilang aku tidak memperhatikannya. Kalau kamu bertanya dia cantik atau tidak, tentu saja biasa saja. Karena aku sudah menemukan definisi cantik yang sebenarnya."
"Dimana?" Tanya Ellisa.
"Tadi aku menemukannya di dalam kolam air mancur." Jawab Xio.
"Hah didalam kolam? Memangnya ada apa didalam kolam air mancur? Bukannya disana hanya ada air saja?" Penasaran dan bingung Ellisa.
Xio tersenyum.
"Apa kamu mau melihatnya bersamaku?" Tanya Xio.
Ellisa langsung bangkit dari paha Xio.
"Ayo!!" Dia menarik tangan Xio dan berjalan ke arah kolam air mancur lumayan besar di tengah taman bunga itu sambil menenteng tangan Xio.
Xio mengikutinya sambil terkekeh melihat reaksi Ellisa yang penasaran.
Setibanya mereka di depan kolam air mancur bundar berwarna putih nan indah itu.
"Dimana itu?" Tanya Ellisa melihat-lihat ke dalam kolam air mancur.
"Kamu tidak bisa melihatnya kalau airnya belum tenang." Kata Xio mengetuk pinggiran kolam yang kemudian membuat air mancurnya berhenti mengalir dan membuat kolamnya tenang.
"Sekarang coba kamu lihat lagi." Suruh nya.
Ellisa kembali memperhatikan kolamnya tapi dia masih belum melihat apapun di dalam kolam itu, hanya ada lantai keramik bercorak emas saja di dalam sana.
Beberapa lama kemudian Ellisa tiba-tiba tersenyum dan berbalik ke belakang menghadap Xio setelah melihat bayangannya sendiri di dalam kolam air yang jernih.
"Apa kamu sudah melihatnya?" Tanya Xio sama-sama tersenyum.
Ellisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Xio kemudian menggenggam Tangan Ellisa dan menempelkannya di didadanya yang sedang berdetak lalu menatap mata merah tersebut yang Semerah darah dan secantik berlian.
"Begitulah aku selama ini melihatmu yang sebenarnya. Jernih seperti cantikmu, dan tenang seperti hatimu. Aku memang menyukai paras cantikmu, tapi hatimu yang baik hati dan penyayang lah yang berhak aku cintai."
"Kamu membawa ketenangan ketika guncangan menerpaku, kamu membawa cahaya ketika kegelapan membayangiku, dan kamu memberikan kehidupan ketika aku tidak tahu apa itu hidup."
"Aku ingin membalas semua yang kamu berikan padaku. Aku ingin membalasnya dengan seluruh hatiku." Xio berlutut satu kaki di hadapan Ellisa.
"Tanpamu aku hancur, Aku membutuhkanmu Ellisa." Ucapnya membuka kotak kecil di tangannya dengan tatapan tajam mata biru Jade berkilauan terkena sinar matahari.
Ellisa dapat melihat di dalam kotak tersebut ada sepasang cincin yang satu berwarna hitam dengan corak ombak api di sekelilingnya, dan yang satu lagi berwarna putih dengan corak akar serta bunga di sekelilingnya. Yang membuat sepasang cincin itu lebih indah yaitu permata kecil berwarna hitam dan putih di masing-masing cincin tersebut.
Entahlah tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca dan hatinya berdebar-debar dengan kencang.
Xio tersenyum, berdiri, lalu menggapai tangan kanan Ellisa dan memasangkan cincin yang berwarna putih dengan permata hitam di tangan kanan, tepat di jari manisnya Ellisanya. Sehingga sekarang ada dua cincin indah melingkar di jari manisnya. Cincin yang Xio pasangkan barusan sangat serasi dengan cincin pernikahan ibunya yang sama-sama cantik menggambarkan feminisme, cinta dan kesucian.
Grebb
Ellisa memeluk Xio.
"Aku tahu kamu akan menerimanya." Kata Xio mencium kening Ellisa. "Apa kamu mau memasangkan satunya lagi di jariku?" Lanjutnya.
Ellisa mengangguk. Memasangkan cincin yang berwarna hitam dengan permata putih di jari manis Xio. Sama dengan Ellisa, sekarang terdapat dua cincin yang melingkar di jari manisnya.
Cup
Ellisa mencium punggung tangan Xio. Dia tersenyum dan mata mereka pun saling bertatapan.
Sekali lagi mereka saling berpelukan, tapi kali ini ditambah dengan ciuman hangat yang Xio sasarkan di bibir merona Ellisa.
Di Tengah kebun bunga yang bermacam-macam, di tepi kolam air mancur. Dua orang yang ditakdirkan menjadi Raja dan Ratu dunia, sekali lagi mengikat janji cinta yang lebih bermakna dengan cincin indah tapi terkutuk itu.
Dan tanpa mereka sadari bahwa dari tadi mereka sedang diperhatikan oleh permaisuri surga dan neraka yang tersenyum bangga sekaligus terharu melihatnya.
"Jalanmu masih panjang putraku." Gumamnya.
***
Selesai makan malam. Xio meminta Jhonatan untuk berbicara berdua di ruang kerjanya.
Grepp!
"Selamat nak! Ayah sudah yakin kamu pasti bisa." Jhonatan memeluk Xio dan mengusap-usap punggungnya.
"Haha terimakasih ayah." Jawab Xio.
"Bagaimana kalau acaranya diadakan Minggu depan?" Tanya Jhonatan melepaskan pelukannya.
"Baiklah aku percayakan pesta termegah yang pernah adanya pada ayah."
"Hahaha...apa yang tidak bisa dilakukan ayahmu ini? Kalau ada uang, semuanya akan instan." Jhonatan tertawa sambil membusungkan dadanya sombong.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk!" Seru Xio.
Krekkk..
Pintu terbuka dan masuklah Rose bersama dengan Ellisa.
"Sayang ada apa?" Tanya Xio.
"Entahlah, aku disuruh nenek ikut kemari." Jawab Ellisa.
"Kalian berdua duduk dulu!" Suruh rose pada Xio dan Ellisa.
Mereka berempat pun duduk di sofa berdampingan.
"Apa kalian yakin pernikahan kalian ingin disaksikan seluruh dunia?" Tanya Rose dan langsung dijawab anggukan oleh mereka. "Aku ingin memberitahu suatu adat yang katanya bisa membuat pasangan lebih saling mencintai." Lanjutnya.
"Tapi aku kan sudah lebih mencintai Ellisa." Kata Xio. Sementara Jhonatan cengengesan dari tadi seperti mengetahui sesuatu.
"Yah nenek juga sudah tahu. Tapi adat ini pernah dilakukan ayah dan ibumu dulu sebelum menikah. Jadi nenek pikir kalian juga harus melakukan adat ini." Ujar Rose.
"Nama adatnya Pingitan. Jadi sebelum acara pernikahan biasanya pengantin wanita dan pria tidak diperbolehkan untuk bertemu selama seminggu atau dua Minggu." Jelas Rose.
Xio melirik ke arah Ellisa, dan ternyata Ellisa juga melirik ke arahnya.
Grebb!
Rose menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku sudah mengira ini akan terjadi." Ucapnya.
"Dengarkan ayah. pingitan ini memiliki tujuan untuk menanam rasa rindu bagi kedua calon pengantin, membangun rasa percaya satu sama lain, menjauhkan diri dari berbagai macam bahaya, serta untuk melatih kesabaran." Jelas Jhonatan.
Ellisa dan Xio terdiam sambil saling bertatapan. "Bagaimana sayang?" Ucap mereka berdua dalam waktu bersamaan.
Xio memeluk Ellisa lebih erat lalu mengecup pipi kiri kanan, kening dan juga bibirnya.
"Baiklah besok aku akan pergi ke dunia Flix. Walaupun ini akan sulit untukku juga untukmu, tapi aku akan berusaha untuk bersabar." Ucap teguh Xio menggenggam tangan Ellisa.
"Ehmm!" Ellisa menganggukan kepalanya, "Aku juga akan berusaha bersabar." Ucapnya.
"Baiklah mulai besok kalian berdua tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba." Kata Rose.
"Dan tidak boleh ada kecurangan." Tambah Jhonatan.
"Iya, iya...kalau begitu malam ini aku akan memua- hmpp!" Xio dibungkam oleh Ellisa menggunakan tangannya.
"Jangan mengatakan itu di depan orang tua!" Seru Ellisa.
"Ckckck...anak muda memang tidak tahu tempat." Ucap Rose menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bangkit dari duduknya.
"Lakukan yang terbaik!" Seru Jhonatan mengacungkan kedua ibu jarinya sambil pergi menyusul Rose yang sudah mau keluar pintu.
Xio terkekeh, sedangkan Ellisa wajahnya memerah.
Setelah Rose dan Jhonatan keluar ruangan, Xio langsung membaringkan Ellisa diatas sofa, dan kemudian ditindih olehnya.
Bibir Xio sudah mau nyosor, tapi dihalangi oleh tangan Ellisa.
"Apalagi sayang?" Tanya Xio.
"Kamu lupa? Nathan dan Tassa kan belum tidur." Jawab Ellisa.
"Oh iya hehe... aku terlalu bersemangat." Kata Xio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
.
.
.
Malam itu setelah anak-anaknya tidur. Xio menghabiskan waktu dari malam hingga pagi memuaskan diri sebelum dia berpisah dengan Ellisa selama satu Minggu.
Xio ingin puas memandang wajah cantik istrinya, memeluknya, menciumnya, dan memuaskan tubuhnya. *******, Geraman, dan puisi indah terus terdengar dari malam hingga pagi, bergema hanya dalam kamar pasangan itu.
Pukul 8 pagi, Xio keluar dari kamar mandi sambil menggendong Ellisa ala tuan putri hanya dengan berbalut handuk saja yang menutupi bagian intim mereka.
Wajah Ellisa terlihat sedikit kelelahan. Bagaimana tidak, Xio tidak membiarkannya istirahat atau jeda sedikitpun. Bahkan ketika barusan di dalam kamar mandi juga.
Walaupun Ellisa sudah meminum pil Thurbot yang Xio berikan, tapi tetap saja tidak berpengaruh dengan permainan Xio yang sangat kuat dan intens. Kasur mereka basah seperti baru saja terjadi kebocoran diatapnya, padahal semalam tidak hujan.
Xio duduk di pinggiran kasur masih mendekap tubuh Ellisa. Dia menciumi setiap inci wajah Ellisa, seperti tidak rela kalau harus berpisah.
"Apa kamu tidak sedih kita akan berpisah?" Tanya Xio.
"Tentu saja aku juga sedih. Tapi mau bagaimana lagi?" Jawab Ellisa.
"Bagaimana kalau kita bilang ke nenek untuk tidak melanjutkan adat pingitannya?" Ujar Xio.
"Tidak usah. Lagi pula cuma seminggu. Aku juga ingin melihat, apa kamu bisa bersabar selama seminggu hehe." Ellisa terkekeh.
"Emm!! Aku tidak mau melepaskanmu." Gemas Xio memeluk Ellisa lebih erat.
Tok! Tok!
"Papah! Mamah! Kata Oma turun kebawah buat sarapan!" Seru Leon di luar kamar.
"Iya nanti papah dan mamah menyusul! Leon tunggu saja di bawah!" Sahut Xio.
"Baiklah!" Jawab Leon dan terdengar melangkah pergi.
Xio dan Ellisa pun segera bersiap-siap menggunakan pakaian mereka sambil mengobrol mengenai anak-anaknya.
Xio memutuskan kalau Leon dan Lena harus ikut dengannya kedunia Flix agar tidak terlalu sepi. Sedangkan kalau Nathan dan Tassa masih harus terus bersama Ellisa karena mereka masih harus diberi ASI.
"Sudah selesai?" Tanya Xio.
"Sudah, ayo!" Jawab Ellisa menggandeng lengan Xio.
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan yang ada di lantai satu sambil bergandengan tangan.
Setibanya di ruang makan, Xio dan Ellisa bergantian mengecup kening Leon dan Lena, kemudian duduk di kursi mereka. Disana juga sudah ada Jhonatan dan juga Rose. Sedangkan Nathan dan Tassa di pegang oleh maid sementara Ellisa sarapan lebih dulu.
Selesai sarapan, Xio memberitahu pada Leon dan Lena kalau mereka akan ikut dengannya ke dunia Flix selama satu minggu. Nathan dan Tassa juga sekarang sudah berada di pangkuannya.
"Lalu bagaimana dengan mamah?" Tanya Leon.
"Mamah kalian akan tetap disini dengan kakek dan Omah. Juga adik-adik kalian. Kalian maukan ikut bersama papah?" Kata Xio.
"Emm…" mereka berdua terlihat sedang berpikir.
"Baiklah kalau begitu kita ikut dengan papah." Ucap Leon diangguk-angguki Oleh Lena.
"Anak pintar.." Ellisa mengelus kepala mereka sambil tersenyum begitupun dengan Xio.
"Ayo mamah bantu membereskan barang-barang." Tambahnya menuntun tangan Leon dan Lena kekamar mereka.
"Ayah, nenek tolong jaga Ellisa dan anak-anak selama satu Minggu." Ucap Xio.
"Tenang saja, Ellisa tidak akan kenapa-napa disini." Jawab Rose diangguki Jhonatan.
"Terimakasih." Ucap Xio tersenyum, dan kemudian bermain dengan Nathan dan Tassa, menciumi mereka sampai membuat keduanya tertawa mungil.
.
.
.
.
.
Sekarang mereka sudah berada di depan rumah untuk berpamitan. Ellisa berdiri sambil memangku Nathan dan Tassa ditemani Rose dan Jhonatan di sampingnya. Sedangkan Xio berdiri dihadapannya bersama dengan Leon dan Lena.
"Ingat jangan bawa anak-anak ke tempat berbahaya!" Kata Ellisa.
"Haha...tenang saja aku akan melindungi mereka." Jawab Xio. "Sampai jumpa bayi-bayinya papah yang imut." Tambahnya menempelkan hidungnya dengan Hidung Nathan dan Tassa bergantian.
"Sampai jumpa juga juga istriku sayang." Xio mencium bibir Ellisa sekilas.
"Emm jaga kesehatanmu, dan jangan lupa istirahat." Kata Ellisa.
Xio tersenyum. "Baiklah ayo anak-anak!" Ajaknya.
"Dadah mamah! Kakek! Omah!" Leon dan Lena melambai-lambaikan tangan mereka.
"Dadah…." Ellisa Jhonatan dan Rose balas melambaikan tangan.
Xio bersama dengan Leon dan Lena pun masuk kedalam mobil Rolls-Royce nya Xio yang sudah terparkir di belakang mereka.
Sekali lagi Xio melirik ke arah wajah Ellisa terlebih dahulu. Melihat Ellisa yang tersenyum ke arahnya, dia pun balas tersenyum dan melambaikan tangannya sebentar, sebelum tiba-tiba mobil beserta orang-orangnya menghilang seketika.
"Ayo kedalam." Ajak Rose merangkul pundak Ellisa.
Ellisa mengangguk dan ikut masuk kembali kedalam Rumah.
***
Sementara itu Xio bersama Leon dan Lena sudah sampai di dunia Flix masih dalam mobil. Namun sekitarnya terlihat sangat asing, seperti tempat latihan prajurit, tapi Xio ingat tidak pernah membuat tempat berlatih yang seperti itu. Tempat latihan itu luas dan banyak sekali target panahan disana.
...*************...
...BERSAMBUNG...