Cross The World With System

Cross The World With System
Senyuman anak



...----------------...


Rapat pada malam hari itu yang dilaksanakan oleh Xio dan para bawahannya berlangsung tidak cukup lama. Xio hanya memberitahukan pada mereka kalau dia dan Ellisa akan merayakan pesta pernikahan di bumi, dan Xio juga berkata kalau pestanya bukan sekedar pesta, tapi pesta yang seluruh dunia harus mengetahuinya.


Xio bertanya pada mereka, "Apa kalian mau ikut ke bumi?" Tanyanya yang lantas membuat semua bawahannya gembira dan bersemangat menyahuti Xio.


"Ekhem!!" Sebas berdehem memberi kode pada mereka agar tenang. Dan semuanya pun hening kembali.


Xio tersenyum.


"Yang Mulia, apa yang mulia kembali kemari seorang diri saja?" Tanya Azco. Ia dari tadi tidak melihat Ellisa ataupun anak-anaknya Xio.


"Aku kembali dengan Leon dan Lena saja tanpa Ellisa." Jawab Xio.


Wajah semua orang disana terlihat keheranan. Aneh sekali raja mereka yang selalu menempel dengan istrinya setiap saat, saat ini bicara sedang tidak bersamanya.


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan," Kata Xio menebak dari raut wajah mereka. "Sekarang aku dan istriku sedang menjalankan adat yang ada di bumi. Jadi selama satu Minggu aku tidak boleh bertemu atau melihatnya." Jelasnya.


"Oohhh." Jawab semuanya ber-oh ria.


"Maaf Yang Mulia, sekarang dimana Pangeran dan Putri?" Tanya Uriel.


"Mereka sedang di benua elf." Jawab Xio. "Aku juga tidak bisa lama-lama disini, dan harus segera kembali."


"Aku ingin beberapa dari kalian ikut denganku, kecuali Azco" Ujar Xio membuat Azco cemberut karena tidak bisa ikut dengan Xio. Padahal dia penasaran apa yang sedang Xio lakukan di benua Elf.


"Kamu dan beberapa dari kalian tetap disini untuk menjaga kerajaan." Kata Xio merujuk pada Azco.


"Baik Yang Mulia…" Jawab Azco pasrah.


Setelah memutuskan siapa saja yang akan ikut. Dan telah didapatkan antara mereka yaitu, Mikhael, Mammon, Lucifer, dan tentunya Sebas. 


Xio juga sudah memberitahu pada mereka kalau tujuannya di benua Elf yaitu karena dia curiga ada malaikat yang sedang menyusun rencana buruk.


Setelah rapat selesai, Xio bangkit dari kursinya. Begitu juga dengan Mikhael, Mammon, dan Lucifer. Seketika mereka pun menghilang dari ruang tersebut begitupun dengan sebas setelah aura hitam menyelimuti tubuh mereka.


***


Pukul 5 lebih dini hari. Di rumah Meryl Xio terlihat sedang duduk di ruang makan dengan menatap layar laptop dihadapannya dan sambil menyesap secangkir teh di tangannya yang kemudian ia taruh kembali cangkir teh tersebut di samping laptopnya.


Xio sudah memerintahkan pada Mikhael, Mammon dan Lucifer untuk menyusup ke masing-masing 3 kerajaan yang ada di benua Elf. Sebelumnya juga Xio sudah memberikan mereka ramuan Qelps agar mereka juga bisa menyamar sebagai elf.


Sementara 3 orang itu menyusup ke kerajaan orang, Sebas saat ini tengah memasak di rumah Meryl untuk sarapan tuannya dan juga anak-anak tuannya.


Semerbak aroma masakan menyeruap di dalam rumah. Harum masakan yang lezat yang mungkin dapat membuat seseorang ngiler dengan mencium aromanya saja.


Sementara Sebas memasak, Xio masih sibuk menatap layar laptop dengan jari-jarinya bergerak di papan keyboard dengan cepat. Meski sedang tidak di bumipun, Xio tetap saja menyempatkan dirinya untuk bekerja. 


"Emm... harumnya…" Lena dan Leon keluar dari kamar.


"Pagi anak-anak papah." Kata Xio.


"Pagi papah!" Seru Leon dan Lena berlari ke arah Xio. Xio tersenyum dan mengacak lembut rambut mereka.


Leon dan Lena melihat masakan yang terlihat lezat sudah tertata rapi diatas meja, dan mereka pun segera menarik kursi dan duduk di kursi tersebut. Sepertinya mereka berdua belum sadar ada sebas juga disana.


"Halo Tuan putri, pangeran." Sapa sebas menaruh dua gelas susu di depan Leon dan Lena.


"Eh kakek sebas! Kapan kakek sebas datang kesini?" Tanya Lena.


"Semalam bersama Yang mulia."


"Oohh…" Leon dan Lena ber-oh ria.


Xio memasukkan laptopnya ke dalam inventory, dan menoleh kearah Leon dan Lena. "Cuci muka sama gosok gigi dulu sebelum makan." Ujar Xio pada mereka berdua yang matanya sudah berbinar tidak sabar memakan masakan yang kelihatannya sangat lezat tersebut.


"Baiklah…" Jawab Leon dan Lena pasrah turun dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi.


Xio menggeleng-gelengkan kepalanya gemas melihat mereka berdua berlari kecil ke kamar mandi. 


Setelah Leon dan Lena selesai di kamar mandi, mereka kembali ke kursi mereka di samping Xio. Mereka melihat piringnya masing-masing sudah disiapkan oleh Sebas begitupun dengan punya Xio.


"Apa kakek Sebas tidak makan bersama kita?" Tanya Lena karena melihat Sebas hanya berdiri di sana dengan posisi tegak seperti biasanya.


"Tidak sayang, vampir tidak makan makanan seperti yang biasa kita kita makan." Jawab Xio.


"Lalu makan apa dong? Apa kakek Sebas meminum darah manusia seperti di film-film?" Tanya Lena lagi penasaran.


"Haha...tidak Tuan Putri, saya tidak meminum darah. Saya hanya perlu menyerap batu mana saja setiap hari." Jawab Sebas tersenyum ramah.


"Berarti yang di film-film itu bohongan." 


"Vampir memang minum darah makhluk hidup untuk bertahan hidup. Tapi ada juga Vampir veteran yang bisa bertahan hidup hanya dengan menyerap mana saja, biasanya mereka itu yang sudah hidup ribuan tahun." Jelas Xio menepuk-nepuk puncak kepala Lena.


"Ohh begitu…" Kata Lena dibalas anggukan oleh Xio.


"Ayo makan. Lihat kakakmu sudah makan duluan." Kata Xio. 


Lena melirik kearah Leon yang ternyata sudah mulai makan duluan dari tadi. "Kakak curang makan duluan!" Seru Lena.


"Hehe lagian kamu lama." Leon terkekeh.


"Sudah-sudah...ayo makan saja." Ujar Xio.


Mereka bertiga pun mulai menyantap sarapannya dengan hening. Sampai tak lama kemudian Meryl keluar dari kamarnya dengan kondisi rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah sadar.


"Ehmm...wangi apa ini?" Ucapnya mengucek-ngucek matanya. Dan setelah sadar sepenuhnya, ia melihat di atas meja makan sudah tertata berbagai macam masakan yang terlihat enak-enak.


Dia segera berlari dan sudah berniat akan menarik kursi untuk duduk. Tapi tiba-tiba Sebas berdiri di depannya menghalangi dengan tangan menyilang. Meryl yang tidak sempat berhenti pun akhirnya menabrak tubuh Sebas yang seperti tembok itu hingga malah dirinya yang terjatuh.


Dukk!


"Hei! Apa yang kamu lakukan!?" Seru Meryl sambil bangkit berdiri kembali.


"Hem!" Jawab sebas singkat memajukan dagunya menunjuk makanan yang berada di meja di ruang tamu yang sepertinya sudah disiapkan terpisah untuk Meryl.


Sebagai pelayan kerajaan, sebas tidak membiarkan orang lain makan satu meja dengan Rajanya ataupun dengan keluarga kerajaan.


Meryl menoleh ke arah Xio kebingungan. "Siapa ini?" Tanyanya menunjuk sebas.


"Pelayan ku." Jawab Xio.


Meryl Kembali melirik Sebas. Dia semakin keheranan sebenarnya siapa Xio ini sampai punya pelayan yang kuat sepertinya. Tapi dia semakin yakin kalau Xio bukan orang sembarangan dan pasti memiliki latar belakang yang luar biasa.


Tidak mau menyinggung orang yang salah dan ditambah dengan perutnya sudah mulai keroncongan, Meryl pun berjalan ke arah meja ruang tamu dan duduk di kursi tersebut lalu mulai menyantap makanannya. Sambil sesekali dia juga melirik kearah Xio, tapi malah dibalas tatapan mengerikan dari Sebas.


"Papah setelah ini kita mau kemana?" Tanya Leon sambil memakan pisang di tangannya sebagai pencuci mulut.


"Bukankah kemarin kalian bilang mau jalan-jalan disini?"


"Apa papah ikut dengan kita?" Tanya Leon lagi menatap Xio tajam, ia sudah curiga sejak melihat Sebas. Leon sudah tahu jika ada Sebas biasanya Xio punya keperluan dan menyuruh Sebas untuk menjaga dia dan juga adiknya.


Xio termenung bingung. Karena memang benar dia berencana untuk pergi dengan Heldir ke suatu tempat yang masih ada di benua Elf. Sementara anak-anak akan Xio titipkan pada Meryl dan Sebas untuk diajak jalan-jalan di kerajaan itu.


"Tentu saja papah ikut dengan kita!" Seru Lena bersemangat. Xio menoleh ke arahnya lalu kembali melirik Leon yang masih memberikan tatapan tajam seolah mengatakan jangan mencoba untuk mengecewakan Lena.


"Haha tentu saja papah ikut." Ucap Xio tersenyum sambil menepuk-nepuk puncak kepala Lena. Dia tidak tega jika harus berbohong dan mengingkari janjinya.


Leon pun mengalihkan tatapan ancamannya dan meminum habis segelas susunya.


Sebas juga ikut tersenyum melihat sikap Leon yang mirip seperti ayahnya.


***


Sehabis sarapan tersebut, Xio pun ikut bersama dengan Leon dan Lena berjalan-jalan di kota dengan Meryl yang jadi pemandunya. Sedangkan Sebas Xio tinggalkan di rumah Meryl.


Xio berjalan sambil memegang tangan Leon dan Lena, sedangkan Meryl berjalan di belakangnya tidak berani berjalan berdampingan dengannya mengingat bagaimana kemarahan Xio semalam.


Udara yang sejuk dan segar, serta pepohonan hijau nan besar yang tertanam di seluruh penjuru kota sangat menggambarkan tempat alami seperti dalam dongeng-dongeng yang ada di bumi.


Seperti biasa disepanjang perjalanan Xio bersama Leon dan Lena menjadi pusat perhatian. Tentu saja karena paras mereka yang rupawan dan berbeda dari yang lainnya.


Tapi bukan Xio namanya kalau bersikap tidak peduli dengan tatapan orang-orang dan mencemoohnya. Hari ini dia hanya ingin membuat dan melihat anak-anaknya tertawa bahagia dengan pengalaman baru mereka.


Mereka berkunjung ke pasar lalu ke tempat hiburan dan juga ke restoran untuk mencoba makanan para elf. Hingga tidak terasa Xio sudah menghabiskan waktu dari pagi pukul 9 hingga pukul 3 sore hari karena saking asiknya melihat tingkah lucu dan menggemaskan Leon dan Lena.


***


Sementara itu di sisi Heldir. Saat ini dia sudah menunggu Xio di dalam hutan bertengger di dahan pohon dari pagi hingga sore hari, tapi Xio belum juga muncul.


Rencananya mereka hari ini akan mendatangi pohon Travion yang merupakan pohon peninggalan moyangnya para Elf. Dan saat ini Heldir sudah menemukannya. Jauh di tengah hutan pohon Travion tersebut berdiri Kokoh dengan ukuran 5 kali lipat dari pohon biasanya, dan dedaunan yang rindang tidak memberi celah cahaya untuk masuk.


Kenapa Heldir tidak mengambil langsung harta tersebut oleh dirinya sendiri saja? 


Itu karena dirinya sekarang hanya seekor peri yang terbuat dari jiwanya dulu. Jadi secara tidak langsung tubuh tersebut bukan tubuhnya sendiri. Saat pertama bertemu dengan Xio saat itu, Sebenarnya secara tidak langsung Heldir telah menanamkan darah garis keturunannya pada Xio, sehingga sekarang Xio sudah mempunyai darah murni dari moyang para Elf.


Nama pohon tersebut juga sebenarnya diambil dari nama belakang Heldir yaitu Travion. Heldir sudah mengetahui kalau sekarang tidak lagi tersisa keturunannya di dunia, sebab insiden yang membuatnya trauma saat itu.


"Kenapa dia belum datang juga?" Heldir menggerutu sendiri. "Apa dia lupa yah? Hmm...Kalau begitu aku tunggu sebentar lagi." Setelah dipikirkan kembali Heldir pun memutuskan untuk menunggunya sebentar lagi


***


Pukul 5 petang.


Heldir baru saja kembali dari hutan dengan wajah kesal dan juga terus menggerutu sepanjang jalan.


Saat masuk ke rumah Meryl, ingin sekali dia berkata kasar ketika melihat yang dari tadi ditunggunya ternyata saat ini sedang bersantai menengadah ke arah langit-langit dengan memejamkan mata dan bersandar di kursi serta ditemani secangkir teh yang masih mengepul di atas meja. 


Tidak jauh dari tempat Xio, terlihat Leon dan Lena sedang memakan buah-buahan unik dari negeri elf yang baru dibelinya tadi. Mereka berdua ditemani oleh Sebas yang membantunya mengupas buah-buahan tersebut.


Heldir terbang berputar-putar di atas wajah Xio dengan sayap kecilnya yang bising seperti nyamuk, serta serbuk-serbuk berkilauan yang ia jatuhkan di wajah Xio guna mengganggu santainya.


Niat ingin mengganggu Xio, dia malah terkena sentilan dari yang mengira Heldir adalah serangga. Dan Heldir pun terpental hingga menabrak dinding.


Xio membuka matanya dan menggosok-gosok hidungnya yang gatal karena serbuk peri Heldir tadi.


"Serangga sial*n, mengganggu waktu santaiku saja. Apa Meryl tidak pernah membersihkan rumahnya?" Gumam Xio tidak sadar kalau yang barusan ia sentil adalah Heldir.


"Euhh…" Heldir terbang kembali ke arah Xio perlahan dengan tergopoh-gopoh dan sambil memegang pinggangnya yang kesakitan karena menabrak dinding barusan.


"Oh kapan kamu kembali?" Tanya Xio melihat Heldir terbang ke arahnya. "Kenapa kamu terbang seperti itu? Apa kamu terkena serangan orang?" Tambahya.


"Iya aku baru saja diserang...dan lagi kenapa kamu tidak menyusulku hah?!" 


"Ah-haha...aku tadi menemani anak-anakku berjalan-jalan terlebih dahulu. Lalu bagaimana ceritanya leluhur para elf bisa terkena serangan?"


Heldir tersenyum kecut. Jika bukan Xio yang menyentilnya, mungkin dia tidak akan bergeming sama sekali. Tapi berbeda dengan Xio yang melakukannya, dengan sentilannya saja seperti beban berpuluh-puluh ton yang menghantamnya.


"Sudahlah…" Heldir berdiri diatas meja disamping Xio. "Aku sudah menemukan pohonnya. Ada beberapa jebakan dan juga penjaga yang bersembunyi di jalan menuju pohon itu." Ucapnya.


"Baiklah, karena siang tadi aku ada tidak datang, Jadi kita akan bergerak pada malam hari saja." Kata Xio disetujui oleh Heldir.


"Oh ya ngomong-ngomong, bukankah pertemuan yang Meryl bicarakan itu diadakan besok?" 


"Iya, Meryl juga sekarang sudah kembali dipanggil oleh rajanya." Jawab Xio. "Heh aku tidak sabar menunggu acara besok." Lanjutnya mendengus dan tersenyum miring seperti orang licik.


...****************...


...BERSAMBUNG...