Cross The World With System

Cross The World With System
Air Keras



...----------------...


"1 juta dollar!" Ucap sang manajer masih dalam pelelangan unit mobil yang pertama.


"1,2!"


"1,5!"


Harga terus meningkat seiring berjalannya waktu, karena orang-orang terus memberikan penawaran mereka masing-masing.


"Apakah saudara Xio tidak berniat ikut penawarannya?" Tanya Dean.


"Tidak perlu terburu-buru, santai saja." Jawab Xio tersenyum miring menyilangkan lengannya.


"Oh baiklah kalau begitu aku juga mau menunggu dulu saja." Kata Dean mengikuti Xio.


"1,8 terakhir!" Seru sang manajer pembawa acara yang kemudian mengihtung mundur. "5,4,3-"


"2 Juta!" Kata seorang pria gendut yang terlihat agak tua seperti seumuran dengan Jhonatan. Pria tersebut bernama Silos, dia duduk di kursi di temani dengan dua wanita muda serta seksi di samping kiri-kanannya, dan ada juga beberapa bodyguard berbadan besar yang berdiri di belakangnya.


"2,1!" Kata Dean.


Pria gemuk tadi atau Silos pun langsung melirik kearah Dean, penasaran siapa yang ingin bersaing dengannya. Tapi pandangannya langsung tertuju pada Ellisa dan juga Larisa yang menurutnya sangat cantik, Larisa tergolong dalam wanita yang sangat cantik juga, walaupun tidak secantik Ellisa.


'Kedua wanita itu cantik sekali, aku harus mendapatkannya' Batin Silos. karena tempat duduknya dengan tempat duduk Ellisa dan Larisa berjauhan, jadinya mereka berdua tidak menyadari jika sedang di tatap dengan tatapan mesum.


"Kalian berdua pergilah! aku tidak ingin melihat kalian berdua lagi." Kata Silos mengusir kedua wanita yang duduk disampingnya. wanita-wanita itu pun pergi dengan kesal dan terpaksa, mereka tahu kalau Silos mengusirnya karena dia sedang menatap Ellisa dan juga Larisa.


Tapi kemudian Silos pun sadar, kalau saat ini dia harus mendapatkan mobilnya terpebih dahulu.


"2,2!" Kata Silos.


"2,4!" Dean memberikan penawarannya lagi.


"2,5!" Silos Tidak mau kalah. Terlihat ada seorang bodyguard yang membisikan sesuatu padanya. "Bos, Tuan besar hanya memberikan kita modal 2,3 juta dollar saja." bisiknya.


"Cihh!" Silos berdecih, dia tidak berani menawar lagi karena tidak berani pada bos besarnya.


Akhirnya mobil itupun di menangkan oleh Dean dengan harga 2,6 juta dollar atau setara 36 miliar rupiah. Berlanjut pada mobil kedua, yang kemudian dimenangkan oleh seorang wanita bangsawan Inggris dengan harga 3,2 juta dollar. Setiap mobil memiliki harga awal yang berbeda, karena masing-masing dari mereka memiliki kelebihan yang berbeda juga.


"Selanjutnya, saya perkenalkan pada hadirin semua bintang utama kita hari ini yaitu sport car yang kami rancang khusus seelegan dan secantik mungkin, serta dengan kekuatan dan kecepatannya yang luar biasa yaitu mencapai 495 km/ jam." Ucap sang manajer. "Ini dia..! E-1804!!" Serunya bersamaan dengan ditampilkannya mobil elegan berwarna Hitam diatas panggung yang membuat semua orang terpana seperti sudah siap untuk menghabiskan harta mereka untuk mendapatkannya, tentu saja kecuali Xio yang tidak tertarik samasekali.


Xio malah tersenyum dan terkekeh kecil ketika melihat ekspresi Ellisa yang menurutnya lucu.


"Maaf semuanya, tapi sayangnya E-1804 ini sudah didapatkan oleh seseorang." Ucap manajer, terlihat orang-orang pun langsung memasang wajah kecewa mereka, jamua ada seorang saja yang tersenyum diantara mereka, benar orang tersebut yaitu Xio.


Xio mengelus-elus rambut Ellisa dengan santainya.


"ITU TIDAK ADIL!" Protes salah seorang pria.


"Benar!" "Benar!" "Benar itu tidak adil!" Beberapa orang pun mulai bersuara menyetujuinya.


"Memangnya siapa orang itu!? dan berapa banyak uang yang sudah di keluarkan nya?!" Seru seseorang.


Sang manajer melirik kearah Xio, dan dibalas dengan anggukan oleh Xio.


"Baiklah, saya akan mengatakan siapa yang sudah mendapatkan mobil ini." Kata manajer, membuat semua orang semakin penasaran siapa sebenarnya yang mendapatkan mobil tersebut lebih dulu, bahkan tanpa pelelangan.


"Mobil ini sudah didapatkan oleh Tuan CEO dari XIEL Company." Ucap sang manajer membuat semuanya hening seketika, "Apakah ada yang ingin berkomentar?" Lanjut manajer bertanya, tapi tidak ada memberikan respon satupun, karena mereka tidak berani jika sudah menyangkut perubahan XIEL. Jika salah berurusan dengan perusahaan tersebut, mungkin saja keesokan harinya mereka langsung bangkrut dihancurkan oleh perusahaan XIEL. Ditambah lagi kali ini CEO nya langsung, yang sudah dipastikan kehidupannya akan hancur jika menyinggung pemimpin dari perusahaan ternama itu.


Sementara itu Ellisa langsung menatap tajam Xio, sedangkan yang ditatapnya hanya terkekeh saja melihat wajah Ellisa.


"Pantas saja saat di rumah tadi kamu dan nenek hanya senyum-senyum doang." Kata Ellisa.


Xio merangkul Ellisa dan mencium pipinya sekilas. "Hehe aku kan sudah berjanji akan mengabulkan semua yang istriku inginkan." Ucapnya.


"Emm terimakasih." Ellisa juga mencium pipi Xio sekilas. Mereka berbicara pelan karena tidak mau sampai identitasnya terbongkar untuk saat ini.


Di lain sisi, semua orang saat ini sedang penasaran dimana CEO dari XIEL Company tersebut yang tidak pernah menampilkan wajahnya di depan publik itu.


"Itu berarti CEO XIEL itu saat ini sedang berada diantara kerumunan semua orang disini. Aku penasaran siapa sebenarnya CEO XIEL yang misterius itu?" Kata Dean tidak tahu kalau orang yang sedang dibicarakannya saat ini sedang duduk dihadapannya. Ellisa dan Xio pun yang mendengarnya hanya tersenyum kecil saja.


"Saudara Dean, kita pamit duluan." kata Xio dan Ellisa berdiri, berniat untuk pergi karena hari sudah siang, dan juga sekalian untuk mencari restoran karena mereka belum makan siang.


"Tunggu saudara Xio!" Dean menghentikan langkah Xio. "Biarkan kita berdua ikut juga!" Serunya.


"Oh baiklah, ayo!" Jawab Xio. Dean pun langsung berdiri dari tempat duduknya dengan Larisa.


Xio dan Dean pun berjalan menuju tempat parkir mobil mereka masing-masing sambil menggandeng tangan istrinya masing-masing. Tapi saat sedang berjalan, tiba-tiba saja ada dua orang perempuan yang tadi bersama Silos, membawa segelas minuman berjalan cepat berniat untuk menabrak Ellisa.


Ellisa yang sadar kalau kedua wanita itu akan menabraknya pun dengan sengaja membuat akar pohon yang melilit kaki kedua wanita tersebut sehingga membuat mereka berdua tersungkur tengkurap di lantai.


"Akhhhh!!!" Teriak kesakitan kedua wanita itu memegang wajah mereka masing-masing yang sepertinya mulai melepuh. Semua orangpun langsung mengalihkan pandangan mereka pada dua wanita tersebut, orang-orang tahu air apa yang membuat wajah kedua wanita tersebut.


"Oh apa kalian berdua tidak apa-apa?" Tanya Ellisa berjongkok dihadapan keduanya. Dia pura-pura kaget saat melihat wajah kedua wanita tersebut, walaupun sudah tahu penyebabnya adalah air keras yang mereka bawa sendiri di dalam gelas tadi.


"Ini semua gara-gara kamu!" Perempuan tersebut membentak Ellisa, yang tentu saja membuat Xio kesal dan sudah akan turun tangan, tapi di hentikan nya oleh Ellisa dengan mengangkat satu tangannya memberi tanda untuk diam.


Xio mengehela nafas pasrah melihat apa yang ingin dilakukan istrinya pada kedua wanita itu.


"Bukankah kalian sendiri yang ingin menyirami dengan air keras ini?" Ellisa mengambil kedua gelas yang dibawa oleh kedua wanita itu barusan. Dia menggoyang-goyangkan gelasnya yang masih terdapat air keras didalamnya, kemudian di kucurkannyalah air keras tersebut diatas kepala mereka berdua sambil berkata, "Sayang sekali kalau kalian tidak menghabiskan minumannya." Kata Ellisa dengan wajah lugunya, sedangkan kedua wanita itu semakin keras berteriak kesakitan.


Belum cukup sampai disitu, Ellisa menjambak rambut dan mengangkat kepala mereka keatas, kemudian dia menaruh kedua gelas tadi tepat dibawah kepala mereka masing-masing.


Prangg!!


Ellisa mendorong kedua kepala wanita itu, hingga wajah mereka masing-masing menabrak gelas kaca yang sudah Ellisa simpan tadi sampai pecah.


Xio mengepalkan tangannya sudah tidak tahan lagi ingin menghancurkan kepala kedua wanita itu yang ingin mencelakai istrinya, tapi dia menahannya karena Ellisa menyuruhnya untuk diam.


Bukan Xio namanya jika tidak membalas berkali-kali lipat pada orang yang ingin mengusik orang tercintanya, diam-diam dia menyembunyikan dua shadow soldier pada dua wanita tersebut dan kemudian mempatah-patahkan tulang mereka, hingga terlihat dua wanita tersebut kejang-kejang seperti tanpa sebab.


Ellisa berdiri sambil menatap sinis sebentar pada kedua wanita dibawahnya itu, "Seseorang tolong bawa kedua nona ini kerumah sakit!" Ucapnya. Kemudian ada beberapa staff acara yang datang dan membawa kedua wanita tersebut.


Sedari tadi semua orang menahan nafas mereka menyaksikan kesadisan Ellisa pada dua wanita tersebut, seperti sedang menyaksikan seorang malaikat cantik tapi berdarah. Mereka tidak ada yang berani menghalangi atau menegur sama sekali, mengingat Ellisa yang datang keacara tersebut bersama dengan pria yang membawa mobil seharga ratusan miliar tersebut, yang berarti mereka berdua bukan orang sembarangan.


"Nona Ellisa, apa anda tidak kenapa-napa?" Tanya Larisa dan Dean, seperti sedang khawatir.


"Haha aku tidak apa-apa kok." Jawab Ellisa.


Tanpa sepatah katapun, Xio langsung menggandeng lengan Ellisa, dan beranjak dari sana diikuti oleh Dean dan Larisa di belakang mereka.


Setibanya di tempat parkir.


"Aku penasaran siapa pemilik mobil itu!" Kata Dean menunjuk mobilnya Xio. karena dia datang ketempat itu setelah Xio, jadinya dia tidak melihat saat Xio datang sambil mengendarai mobil tersebut. "Apa mungkin mobil ini milik CEO XIEL itu?" Tambahnya.


"Iya." Jawab Xio singkat, dengan bodohnya Dean pun hanya ber oh ria saja, belum sadar kalau Xio dan Ellis sudah duduk didalam mobil tersebut.


Tiba-tiba saja dia membelalakkan matanya, sepertinya sudah sadar kalau itu berarti Xio lah yang merupakan CEO yang tadi dirinya bicarakan itu. Dan juga itu berarti dari tadi dirinya sudah memanggil seorang CEO perusahaan ternama dengan panggilan saudara, pantas saja saat di dekat Xio, dia merasa kalau Xio sangat berwibawa.


"Tu-tuan, maafkan saya karena sudah sok akrab dengan anda." Ucap Dean tiba-tiba menjadi formal kembali.


"Sudahlah, kalian jadi ikut makan siang bareng atau tidak?" Kata Xio.


"Eh? apakah boleh?" Tanya Dean.


"Haishh..cepatlah bawa mobil kalian ke restoran XYZ." Xio pun langsung menancapkan gasnya duluan meninggalkan Dean dan Larisa, menyuruh mereka untuk menyusul saja.


Dengan segera Dean dan Larisa pun langsung ke mobil mereka dan melakukan mobilnya menyusul Xio. Tidak sadar kalau ada yang sedang berniat buruk padanya yaitu Silos.


"Cepat ikuti mobil itu!" perintah Silos pada anak buahnya.


Beberapa mobil pun langsung keluar dari parkiran membuntuti mobilnya Dean.


.


.


.


Sementara itu disisi Xio dan Ellisa. Mereka saat ini masih berada didalam mobil perjalanan menuju restoran yang sepertinya dekat pantai karena sepanjang perjalanan dengan jelas mereka bisa melihat lautan biru. Di sepanjang perjalanan itu juga tidak ada yang berbicara sama sekali, sampai akhirnya Ellisa pun membuka pembicaraan duluan.


"Sayang kenapa kamu diam saja? apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Tanya Ellisa.


Ckitt!!


Xio memberhentikan mobilnya di sisi jalan, dan langsung saja dia mencium serta ******* bibir Ellisa sedikit agresif.


Beberapa menit kemudian, Xio pun melepaskan Ciumannya dan mata mereka saling bertatapan. Ellisa memegang kedua sisi pipi Xio. "Sebenarnya kamu ini kenapa?" Tanyanya.


Tiba-tiba saja Xio memeluk Ellisa dengan erat. "Lagi-lagi aku telat untuk melindungi mu." Ucapnya membuat Ellisa bingung.


Sebenarnya Xio masih berpikir soal kejadian di acara tadi, dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak sadar kalau ada orang yang ingin mencelakai Ellisa, sehingga dia teringat kembali pada kejadian Bella yang ingin memberikan obat pada Ellisa. Saat itu juga dirinya tidak sadar kalau ada yang ingin mencelakai Ellisa.


Dengan Chemistry diantara keduanya yang sudah dalam, Ellisa pun akhirnya sadar apa yang sedang dimaksud Xio. Dia mengelus-elus punggung Xio kemudian mencium bibirnya sekilas.


"Itu bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Lagi pula, walaupun kamu ingin terus melindungiku, tapi aku juga ingin bisa melindungi diriku sendiri. jadi tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa melindungiku sewaktu-waktu, karena aku bisa melindungi diri sendiri." Ucap Ellisa tersenyum manis.


Melihat Ellisa tersenyum manis seperti itu tidak dapat mencegah Xio yang langsung mencium bibir merah meronanya yang sepertinya sangat enak jika di gigit.


"Walaupun kamu bicara seperti itu, aku tetap akan melindungi mu setiap detiknya." Kata Xio.


"Hahh.." Ellisa menghela nafas pasrah. "Terserah kamu saja, memang susah punya suami keras kepala." Ucapnya memalingkan wajah sambil menggembungkan pipi membuatnya terlihat imut.


Xio mencubit gemas pipi Ellisa sambil terkekeh, membuat pipinya terlihat sedikit merah.


"Oh iya, kita sudah lama disini, tapi kenapa Dean dan Larisa belum terlihat juga?" Heran Ellisa sembari mengusap-usap pipinya sendiri.


"Hmm mungkin tidak lama lagi." Kata Xio lanjut mencumbu bibir Ellisa.


Beberapa lama kemudian, Dean dan Larisa masih belum terlihat juga.


Ellisa melepaskan ciumannya Xio. "Sayang cepat periksa mereka, aku khawatir terjadi sesuatu pada mereka di jalan." Ujar Ellisa.


"Iya baiklah." Xio pun langsung mengirimkan shadow soldiernya untuk menyusuri jalan mencari keberadaan Dean dan Larisa.


"Kenapa kamu sangat khawatir pada mereka? kita kan baru bertemu dengannya." Tanya Xio.


"Haishh..kamu ini, mereka juga kan teman kita." kata Ellisa.


"Hah? sejak kapan?" Tanya Xio lagi.


"Kamu lihat sendiri kan, kalau tadi Dean ingin berteman denganmu dengan tulus, kamu juga merasa baik-baik saja kan mengobrol dengannya. itu berarti kamu sudah menerimanya menjadi teman." Jelas Ellisa.


"Ohhh seperti itu cara menjadi teman." Kata Xio ber oh ria.


Ellisa menepuk keningnya sendiri, penasaran sebenarnya berapa banyak teman yang Xio miliki hingga saat ini.


...----------------...


...BERSAMBUNG...