
...----------------...
“Sniff...Pembohong!!” Sahut Ellisa masih diiringi isakan yang sepertinya juga menyakitkan.
‘Pembohong? apa aku pernah berbohong?’ batin Xio kebingungan. Dengan wajah Khawatir menunggu Ellisa lanjut bicara sambil mengelus rambutnya, karena Ellisa sudah tidak lagi menepis tangannya.
“...Apa sudah puas kamu berbicara omong kosong selama ini.” Kata Ellisa membenamkan wajahnya di bantal.
Melihat Tassa yang sudah tertidur, Xio Langsung saja mengangkat tubuh Ellisa dan mendudukan dia diatas pangkuannya dengan mata yang ingin menatap langsung mata Ellisa, tapi Ellisa malah memalingkan wajahnya dan menunduk.
“Sayang lihat aku.” Seru Xio menangkup kedua pipi Ellisa agar menatapnya langsung.
Deg!
Seketika dadanya terasa sangat sakit seperti ditusuk dengan seribu pedang, saat melihat deraian air mata yang sudah membasahi wajah cantik istrinya itu. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari melihat orang yang kamu sayangi terluka hatinya. Secara alami Xio pun segera memeluknya dengan erat membiarkan Ellisa menangis terlebih dahulu dalam pelukannya.
“Sayang bisakah kamu mengatakan apa yang sudah kulakukan, yang membuatmu seperti ini? Aku akan menghukum diriku sendiri jika tahu apa kesalahanku.” Sekali lagi Xio bertanya mengharapkan jawaban dari Ellisa. Kembali menatap wajahnya dan mengusap air mata yang berada di pipinya.
“...Tidak ada yang salah darimu, mungkin sudah wajar seorang pria tidak puas dengan satu wanita saja..” Jawab Ellisa yang masih sulit untuk Xio mengerti.
Seketika Xio menyadari sesuatu ketika melihat Ellisa melirik ke arah tangannya yang barusan mengusap pipi Ellisa.
Tuk!
Terdengar suara benda jatuh di belakang Ellisa yang sontak membuatnya menoleh ke arah suara tersebut. Di Lantai terlihat sepotong lengan yang bercucuran darah yang tentunya membuat dia terkejut.
Kembali menatap Xio. Dia melihat Xio tersenyum tulus, tapi ketika melirik ke samping kanannya, Ia langsung menyadari kalau tangan yang tergeletak di lantai barusan adalah lengannya Xio.
“Xio! Apa yang kamu lakukan bodoh?!” Dengan wajah panik dan penuh kekhawatiran Ellisa mengguncang wajah Xio.
“Aku hanya melakukan hukumanku.” Jawab Xio dengan santai dan masih tersenyum walaupun darah mengalir dari lengannya. “Rasa sakit ini tidak sesakit melihatmu menangis karenaku. Setidaknya dengan begini aku bisa melihat kalau istriku masih menyayangiku.” Tambahnya mengusap halus bibir Ellisa menggunakan tangan kirinya.
“Maafkan aku sudah mengingkari janjiku.”
Xio sadar kenapa Ellisa tadi menangis seperti sakit hati seperti itu. Karena penciuman Ellisa yang tajam, jadi dia pasti mengira Xio sudah bermain dengan wanita lain saat mencium bau wanita lain ditangan kanannya. Ellisa tidak tahu kalau sebenarnya bau wanita tersebut merupakan bau dari Zara yang saat itu hanya Xio pegang kepalanya.
Walaupun dengan memotong tangannya sendiri terasa sedikit berlebihan hanya karena kesalahpahaman, tapi Xio ingin membuktikan bahwa dirinya sungguh akan menepati janjinya.
Dengan segera Ellisa membaringkan Xio diatas ranjang dan mengambil potongan tangan di lantai yang kemudian ia tempatkan di samping Xio sambil merapalkan mantra.
“Sanitatem!”
Seketika setelah mantra dirapalkan, Lengan yang tadinya terputus dengan cepat kembali menyatu seperti sedia kala. Melihat Xio sudah pulih kembali, Ellisa langsung membenamkan wajahnya di dada Xio.
“Kenapa kamu melukai dirimu sendiri bodoh!?”
“Aku mau kamu percaya kalau aku tidak akan pernah mengingkari janjiku. dan untuk bau wanita yang tadi kamu cium biar aku menjelaskannya…..” Xio memberikan penjelasan pada Ellisa mengenai bau wanita di tangannya.
“Maaf karena aku sudah menyentuh wanita lain selain istriku..” Xio selesai menjelaskan.
“ TIdak, seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah sudah salah paham dengan suamiku.” Sanggah Ellisa.
Xio tersenyum dan langsung mengangkat Ellisa ke atas tubuhnya lalu mencium bibirnya. “Malam ini aku tidak akan melepaskanmu.” Ucapnya memeluk Ellisa semakin erat.
‘Cinta sudah seperti obat dan juga luka secara bersamaan.’
...----------------...
Malam berganti pagi, semalam setelah kesalahpahaman antara suami istri tersebut selesai, tidak ada sesuatu yang terjadi kembali. hanya Xio yang tidak mau melepaskan pelukannya bahkan saat tidur pun.
Ellisa Juga merasa sedikit aneh karena Xio tidak meminta jatah sama sekali saat malam tadi. tidak seperti biasanya. Tidak mau berpikir negatif, Ellisa pikir mungkin Xio sedang tidak ingin saja atau kelelahan.
Pagi ini dirumah hanya ada Ellisa bersama dengan kedua bayinya, dan Rose saja. Karena pagi tadi lagi-lagi Jhonatan dan anak-anak mengajak Xio berolahraga, tapi kali ini mereka mengajak Xio Jogging.
.
.
.
‘Padahal hari ini aku berencana untuk memeluk Ellisa sepanjang hari.’ Batinnya Xio mengeluh, tapi masih mengikuti kemana Jhonatan serta Leon dan Lena berlari.
Setelah beberapa jang berlari, mereka berhenti di depan sebuah kafe, karena Jhonatan mengajaknya untuk istirahat disana. Masuk ke dalam kafe memesan 2 cangkir kopi hitam untuk Jonatan dan Xio, sedangkan Leon dan Lena di pesankan Susu coklat saja.
untuk memulihkan kembali tenaga, mereka duduk di dalam kafe duduk beristirahat sambil menikmati minuman mereka masing-masing disertai obrolan ringan antara ayah dan anaknya. Xio dan Jhonatan tidak menghiraukan orang-orang yang membicarakan mereka di belakang, karena dapat terdengar juga mereka hanya memuji ketampanan ayah dan anak itu saja.
Ada yang berbicara Jonathan om-om keren, dan Xio yang sangat tampan seperti seorang aktor.
“Ayah kenapa selalu mengajakku sih? hari libur seperti ini kan ingin aku habiskan untuk menempel pada Ellisa seharian.” kata Xio.
“Menempelah terus pada istrimu sampai berlumut, memangnya ayah tidak boleh apa menghabiskan waktu dengan anaknya? sudah lama kita tidak melakukan aktivitas bersama kan?”
“Hahh baiklah, lain kalai aku akan meluangkan waktu sesekali.” Xio menghela nafas. memang tidak ada salahnya juga sesekali melakukan aktivitas dengan ayahnya.
“Kakek! apa ini foto nenek dengan papah?” Tanya Lena menunjuk sebuah foto yang terletak di dompet Jhonatan. Foto tersebut menunjukkan gambar Xio ketika masih kecil yang sedang duduk di pangkuan Nadia yaitu ibunya.
“Benar ini foto nenek dan papah kalian. bagaimana cantik tidak nenek kalian?”
“Cantik sekali, secantik mamah. papah juga disini terlihat sangat imut.” Kata Lena.
“Haha.. kakek tahu, nenek kalian memang yang paling cantik dan baik hati.” Jonathan tertawa seraya menyombongkan dirinya. walaupun dalam hatinya dia berpikir dan menyesal kenapa tidak menyadari hal tersebut dari awal.
sadar dengan Ekspresinya yang akan menjadi murung, dengan segera dia pun kembali berpura-pura gembira agar anak dan cucunya tidak menyadarinya. Tapi sayangnya Xio sudah menyadari hal tersebut dari awal.
Xio berpikir Jhonatan pasti kesepian setelah bertahun-tahun tidak ada yang menemaninya. sedangkan Xio sendiri selalu bersama Ellisa, Jadi dia pasti ingin meminta Xio menemaninya untuk menghilangkan rasa kesepiannya.
“Ayah, ayo kita pulang!”
“Iya kenapa buru-buru papah?” Tambah Leon.
“Ayo kita mengunjungi ibu. aku ingin mengenalkan istri dan anak-anakku pada ibu.” Kata Xio.
“Yeayy berkunjung ke nenek!!” Seru Leon dan Lena.
“Tapi…” Jhonatan terlihat ragu.
“Ayo kakek!!” Lena menarik tangan Jhonatan.
Jhonatan pun akhirnya pasrah dan mengikuti Xio serta Leon dan Lena. Jhonatan sebenarnya gugup untuk berkunjung ke makam Nadia, dia merasa tidak pantas pergi kesana setelah semua penyesalan yang dilakukannya. Tapi dalam hatinya dia juga sangat ingin pergi kesana, mengingat dia terakhir kali kesana saat pemakamannya saja.
‘Mungkin memang seharusnya aku mengunjungi istriku. walaupun aku tidak bisa melihatnya lagi, setidaknya dia bisa melihatku.’
.
.
.
.
.
Xio pulang dulu ke rumahnya untuk berganti pakaian dan mengajak Ellisa serta Rose untuk berkunjung ke makam ibunya. Makam Nadia terletak di pemakaman tempat keluarga besarnya bersama dengan ayah ibunya dimakamkan.
Hanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam saja menggunakan mobil, dan mereka pun sampai di sana. Turun dari mobil Xio dan Ellisa menggendong bayi mereka, sedangkan Leon dan Lena dituntun oleh rose. dan di belakangnya diikuti oleh Jhonatan membawa keranjang bunga di tangannya yang berkeringat dingin.
“Den Xio!” ada seorang pria yang memanggil Xio tidak jauh dari sana. pria tersebut berjalan menghampirinya.
“Oh paman, paman masih mengingatku?” Tanya Xio ingat kalau pria tersebut adalah seorang penjaga makam.
“Tentu saja, seorang pemuda tampan berambut putih yang dulu tiap minggu sering kemari untuk mengunjungi ibunya. bagaimana aku bisa lupa... yah walaupun den Xio menjadi lebih tampan lagi. sepertinya anak muda jaman sekarang cepat sekali yah pertumbuhannya…”
“Haha paman bisa saja.” Kata Xio.
‘Anakku sering datang kemari setelah ibunya meninggal. Sedangkan aku, suaminya sendiri tidak pernah mengunjunginya kembali. apa aku harus malu atau menyesal tidak ikut dengan anakku saat itu?’ Batin Jhonatan lagi dan lagi merenungi masa lalunya.
Setelah ibunya meninggal saat itu, Xio memang hampir setiap minggunya datang ketempat ini saat hari libur, tapi tanpa sepengetahuan Jhonatan. Karena saat itu Xio memang tidak berani berbicara pada Jhonatan.
“Baiklah paman, kalau begitu saya permisi dulu.” Kata Xio.
“Ah iya silahkan.” Jawabnya.
Xio pun berjalan diikuti oleh yang lainnya. Saat Jhonatan ikut berjalan dan melewati pria penjaga makam tadi, dia tampak seperti menundukan kepalanya ketika melihat Jhonatan. Mungkin sudah tahu bagaimana masa lalunya dengan Xio.
Setelah sampai di makamnya, Xio melihat makam tersebut sangat terawat serta masih ada taburan bunga di atasnya yang sepertinya baru berapa hari di taburkan. mungkin setelah ini Xio akan menanyakannya siapa yang terakhir kali datang ke makam ibunya pada penjaga makam tadi.
Xio berjongkok di samping makam tersebut diikuti oleh Ellisa yang berjongkok di sampingnya juga.
“Maaf ibu, aku baru bisa mengunjungimu lagi setelah sekian lama. Ibu tenang saja, kali ini aku kesini tidak sendirian dalam keadaan bahagia dan tidak menyedihkan seperti saat itu lagi.” Ucap Xio yang seketika membuat tangan Jhonatan gemetar bukan main. Berarti saat itu Xio datang kemari selalu dengan kondisi menyedikan? dan salah siapa itu? tentu saja salah dirinya yang sudah pernah menjatuhkan mental anaknya.
Jhonatan tidak bisa membayangkan lagi bagaimana jika dirinya di posisi Xio saat itu yang masih seorang remaja. Memang benar saat itu jika Xio datang ketempat ini untuk mengadu menceritakan semua keadaannya di rumah pada ibunya, walau hanya bicara pada tanah saja. Tapi Xio yakin kalau ibunya ada isana mendengarkan ceritanya dan melihat dirinya.
“Tebak ibu siapa yang datang bersamaku? Benar! aku kesini bersama dengan istri dan anak-anakku. Ibu juga pasti senang aku memperkenalkan keluarga kecilku pada ibu...Perempuan cantik disampingku ini adalh istriku, namanya Ellisa, dan empat malaikat kecil ini adalah anak-anakku...ibu tenang saja, aku pasti akan menjadi pria yang bertanggung jawab dan membuat mereka bahagia.” Xio berbicara sambil tersenyum seperti ingin menyombongkan diri pada ibunya seperti memang ada disana dan mendengarkannya.
“Terimakasih ibu, sudah membesarkan suamiku menjadi pria yang baik seperti saat ini. ibu tenang saja, aku pasti akan memberinya kebahagiaan.” Tambah Ellisa. Xio tersenyum dan mengelus kepalanya.
Melirik ke arah Jhonatan, dia melihatnya ayahnya sedang menatap sendu ke arah nissan dengan mata berkaca-kaca. Xio tahu apa yang Jhonatan rasakan, tapi dia tidak tahu bagaimana benar-benar pasti pesaanya saat ini. yang pasti pasti sangat menyakitkan untuk dirinya dilihat dari tangannya yang bergetar.
“Oh iya ibu, ayah juga ada disini loh..Lihatlah ibu, padahal waktu itu ayah sendiri yang bilang laki-laki tidak boleh menangis, tapi sepertinya ayah sudah akan menangis saat ini.” Kata Xio.
“Ha-ha mana mungkin aku menangis di depan istri dan anak, cucuku.” Seru Jhonatan segera mengucek matanya dan berjongkok di samping makam. dia berusaha untuk terlihat kuat.
“Nadia...sebenarnya aku tidak berani berdiri di hadapanmu saat ini...Kamu pasti sudah mendengar bagaimana ketidak becusan ku menjadi seorang ayah dari Xio...Kamu memang tidak ada disini, tapi aku yakin kamu pasti mendengarkanku saat ini...Aku tahu semua perbuatanku memang tidak bisa dimaafkan... tapi sekali lagi aku ingin mengakui kalau aku salah. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau memaafkanku, setidaknya kamu sudah mau mendengarkan penyesalan terbesarku.”
"Lihatlah, anak kita berdua sudah tumbuh dewasa dan hidup bahagia dengan anak dan istrinya. Saat ini kamu pasti sedang tersenyum melihatnya bersama dengan menantu dan cucu-cucu kita."
“Kuharap kamu tidak merenung karena sudah meninggalkanku dan Xio. Oh dan iya, aku tidak berbohong saat aku bilang menyayangimu. Terimakasih... terimakasih sudah menemaniku dan mengingatku di nafas terakhirmu." Jhonatan menaruh bunga-bunga yang dibawanya tadi di depan nissan.
"Ini bunga kesukaanmu…"
...----------------...
Sementara itu di tempat yang sekitarnya terlihat sangat segar dengan lantai seperti awan dan disana juga ada sebuah kolam ikan beserta air terjun kecil yang menghiasinya.
Seorang wanita yang terlihat cantik duduk di gazebo bergaya kuno. dengan rambutnya berwarna putih panjang dan di gerai ke bawah beserta kulitnya yang putih dan halus ditutupi kain putih seperti Dewi di legenda Eropa, Sangat menawan. Namun sayangnya dia saat ini terlihat seperti sedang bersedih menatap cermin di depannya.
"Yang Mulia Permaisuri, kenapa anda bersedih?" Tanya seorang perempuan disampingnya yang sepertinya seorang dayangnya.
"Aku senang karena anakku sudah menemukan kebahagiaannya. Setelah meninggalkan bumi, aku hanya mendengarkan kesedihan saja darinya. Dan itu karena aku yang pergi meninggalkannya. Andaikan saja saat itu energi Anugerah ku tidak habis mung-"
"Permaisuri, jangan menyalahkan diri anda sendiri. Lagi pula saat ini pangeran sudah tumbuh jadi lebih dewasa, dan sudah bahagia bisa bersama dengan istri dan anaknya. Jadi saya pikir pangeran ingin anda bahagia juga melihat pencapaiannya."
"Kamu benar juga."
"Apa permaisuri masih mencintai manusia rendahan itu?" Tanya dayangnya sedikit memandang rendah.
"Huss..jaga bicaramu bagaimanapun juga dia yang sudah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang tampan. Tapi jika ditanya sih, mungkin aku memang masih mencintainya, tapi…..
...****************...
...BERSAMBUNG...