
...----------------...
......2 Bulan kemudian......
Hari ini adalah acara pembukaan akademi yang sudah selsai dibangun serta di lengkapi fasilitas dan properti nya.
Akademi ini diberi nama Regalia Unite Academy, Sekolahan ini juga sangatlah luas karena untuk menampung 60 ribu anak sekaligus. Luasnya bahkan sudah hampir setara dengan luas Istana tapi masih tetap megah istana Xio.
Bangunan-bangunan unik yang tertata rapih, pepohonan hijau yang ditanam di setiap sisi jalan menambah kesejukan suasana disana. Dan yang paling eksentrik dari semuanya yaitu patung pahatan besar yang dipajang tepat didepan pintu gerbang masuk. Patung itu menyerupai Xio yang sedang berdiri tegap dengan memakai mahkota di kepalanya, dan juga memegang pedang yang menancap ketanah.
Penambahan patung itu sebenarnya bukanlah usulan dari Xio langsung, melainkan Ellisa lah yang mengusulkannya dan di setujui oleh semua bawahan Xio, sehingga ia pun tidak bisa menolaknya jika itu adalah permintaan langsung dari Ellisa.
Asrama-asrama nya pun tidak seperti gedung bertingkat biasa, melainkan mansion-mansion yang setiap mansionnya akan diisi oleh beberapa murid sekaligus. tapi dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
Saat ini semua anak sudah berkumpul semua dengan rapih di depan akademi menunggu kedatangan acara pembukaannya dimulai. dari wajah mereka saja terlihat sudah tidak sabar dan sangat bersemangat sekali karena akademi ini dari luarnya sudah terlihat luar biasa, belum lagi tidak ada pungutan biaya sama sekali dan tidak ada yang namanya perbedaan kasta karena semua murid baik itu seorang bangsawan atau rakyat biasa akan belajar di kelas yang sama.
Sammael naik keatas podium, dan semua orangpun menjadi hening seketika mengetahui kalau sammael merupakan kepala sekolahnya.
"Selamat pagi semuanya......" Sammael memberikan salam perkenalan dirinya.
"Baiklah selanjutnya Silahkan Yang Mulia." Ucap Saamael turun dari dari podium.
Xio pun berjalan ke podium sambil menggandeng tangan Ellisa diikuti oleh Leon dan Lena di sisi kanan kiri mereka. Xio selalu memasang wajah dingin tapi berwibawa setiap muncul di publik begitupun dengan Leon yang tidak berbeda jauh dengan ayahnya. Berbeda dengan Ellisa dan Lena yang selalu tersenyum ramah. Ellisa juga bingung apa alasan Xio selalu berwajah datar jika berada di tempat umum dan anehnya lagi sikapnya itu di ikuti oleh Leon berbeda jauh jika tidak di tempat umum.
Saat Melihat Raja dan Ratu mereka, dengan serentak semua orang membungkukkan dada mereka sedikit untuk memberikan salam sekaligus rasa hormat mereka untuk keluarga kerajaan.
Xio melambaikan tangannya yang berarti menerima salam mereka.
"Seperti yang kita ketahui hari ini adalah hari pembukaan tempat dimana kalian bisa mewujudkan cita-cita atau meraih mimpi kalian. Jadi aku harap kalian bisa belajar dan mengasah diri kalian dengan sungguh-sungguh demi memajukan serta membuat bangga kerajaan ini." Ucap Xio dengan suara penuh kewibawaan sehingga membuat semua orang yang mendengarnya merasakan jiwa kenasionalan nya terbangun. Tidak akan menyangka kalau umur Xio saat ini masih 17 tahun.
"Baiklah tanpa berlama-lama lagi, aku Xio Archon Alexander segabagai raja mengucapkan Regalia Unite Akademy resmi di buka!" Tegas Xio dan gerbang sekolahpun langsung di buka. Semua orangpun bersorak gembira atas pembukaannya sekolah mereka.
Semua murid pun di arahkan ke aula dengan berbaris agar tidak berdesak-desakan. Sementara Xio bersama dengan Ellisa dan anak-anaknya di ajak berkeliling oleh sammael dan sebas, karena Xio belum pernah sama sekali melihat-lihat isi didalam akademi yang ia rancang sendiri.
Xio di ajak berjalan-jalan ke setiap tempat Hingga akhirnya selesai dan kembali di depan patungnya Xio.
"Bagaimana Yang Mulia, apakah masih ada yang menurut anda kurang?" Tanya Sebas.
"Untuk semuanya aku puas dengan hasilnya, tapi masih ada satu kekurangannya." Jawab Xio.
"Kalau boleh tahu apa itu Yang Mulia? biar saya memperbaiki dan mengatur ulangnya." Kata Sebas.
"Kekurangannya yaitu tidak ada Ellisa di samping patungku." Ucap Xio.
"Ayolah sayang, itukan cuma patung saja jadi tidak apa-apa jika tidak akunya juga kan?" Ucap Ellisa. Sebas dan Sammael menghela nafas lega karena kiranya Ellisa menyelamatkan mereka.
"Tidak...Aku sudah pernah bilang kalau ada aku disana maka harus ada jamunya juga. Dan juga jika ditambah dengan kamu maka............" Xio panjang lebar memberikan alasan seperti jika tidak ditambahkan Ellisa maka tidak ada unsur estetika, demokratis, kehormatan dan masih banyak lagi sehingga mereka yang mendengarnya pun bisa lupa untuk bernafas.
"mmhh.." Ellisa menutup mulut Xio dengan telapak tangannya .
"Baiklah kalian bisa tambahkan patungku juga di sisinya." Ucap Ellisa pada Sebas dan Sammael. Ia berpikir tidak akan menang jika beradu argumen dengan Xio, sehingga ia hanya bisa pasrah dan menerimanya saja.
"Baik Yang Mulia." Jawab Sebas dan Sammael.
Xio tersenyum lalu merangkul pinggang Ellisa. "Hehe Istriku baik sekali." Xio terkekeh kecil.
"Papah, apakah kita berdua boleh ikut bersama dengan anak-anak yang lainnya juga?" Tanya Leon.
"Tentu saja boleh sayang." Jawab Xio mengelus rambut Leon dan Lena. "Tapi harus ingat dengan apa yang papah katakan." lanjutnya.
"Emm kita masih ingat!" Seru mereka berdua.
"Tidak boleh sombong, tidak boleh meremehkan orang lain, tidak boleh terlalu menunjukkan kemampuan asli, tidak boleh menyakiti, dan tidak boleh membunuh!" Leon dan Lena melafalkan apa yang pernah Xio katakan pada mereka.
"Bagus!" Xio mengacungkan jempolnya. "Sammael tolong antarkan anak-anakku ke tempat yang lainnya." Ujar Xio.
"Baik Yang Mulia." Jawab Sammael. "Ayo pangeran, Tuan Putri ikuti saya." Katanya, Leon dan Lena pun langsung mengikuti Sammael d Ngan menggenggam tangannya sudah seperti anak kecil pada umumnya. Xio tidak mempermasalahkannya karena Leon dan Lena memang sudah dekat dengan oara bawahannya.
"Apa yang kamu katakan pada anak-anak, kenapa ada kata dilarang membunuh?!" Tanya Ellisa menatap Xio tajam. "Apakah kamu pernah mengajarkan mereka untuk membunuh?" Tambahnya.
"Sayang...Tidak mungkin aku mengajarkan anak seumuran mereka untuk membunuh, tapi mereka kadang suka lupa menahan kekuatannya yang bisa membuat orang lenyap seketika." Jawab Xio penuh lemah lembut.
"Baiklah aku percaya padamu." Kata Ellisa.
Xio tersenyum. "Sekarang lebih baik kita kembali ke istana yah?" Ujar Xio sambil mengelus perut Ellisa yang terlihat sudah membesar lantaran sudah berumur 5 bulan lebih.
"Baik, tapi aku ingin naik kereta saja." Jawab Ellisa.
"Kalau begitu ayo!" Kata Xio, menuruti kemauan Ellisa walaupun ia berpikir kalau menggunakan teleportansinya akan lebih cepat. "Sebas cepat bawa kereta kudanya kemari." Lanjutnya, dan sebas pun dengan segera mengambil kereta kuda yang ia simpan di halaman Akademi.
Setelah sebas menhambil kereta kudanya, ia langsung membukakan pintu nya mempersilahkan Xio dan Ellisa untuk masuk. Selesai Xio dan Ellisa duduk, Sebas kembali ketempat kusir dan langsung melakukan keretanya dengan hati-hati.
...----------------...
......BERSAMBUNG......