
...----------------...
Kembali ke sisi Xio yang masih di rumahnya Meryl.
Xio melepaskan tangannya dari kepala meryl baru saja selesai membaca memorinya. Tidak banyak yang Xio temukan. Dia mengetahui silsilah nama-nama keluarga kerajaan Sylvaine yaitu yang dipimpin oleh raja Amir Gage dan juga ratu Kia Gage. Pasangan raja dan ratu tersebut memiliki 5 orang anak yaitu, 3 laki-laki dan 2 perempuan.
Tapi belakangan ini ada yang aneh dengan keluarga kerajaan. Tiba-tiba saja raja Amir memerintahkan pasukan yang diketuai oleh Meryl untuk mengundang 2 kerajaan Elf lainnya untuk pertemuan 3 kerajaan di benua itu. 2 kerajaan lainnya itu yaitu, kerajaan Garren yang berisikan para dark elf, dan satu lagi kerajaan Aedion yang dihuni para elf salju.
Sebenarnya ketiga Varian elf yang berbeda-beda ini tidak pernah akur dan setiap tahunnya akan selalu ada pertempuran. Mau itu memperebutkan wilayah, ataupun sumberdaya.
Meryl tidak mengetahui apa tujuan Amir untuk mengumpulkan mereka, tapi dia tetap melaksanakan perintahnya. Dengan segala keberanian, Meryl mendatangi satu demi satu diantara 2 kerajaan tersebut sampai akhirnya mereka pun menyetujui pertemuan yang akan dilaksanakan 3 hari yang akan datang.
Xio sebenarnya tidak ingin ikut campur apalagi ambil pusing dengan masalah para elf ini. Tapi dengan adanya kejanggalan tersebut membuatnya curiga ada bangkai yang belum tercium baunya, atau bisa dibilang Xio curiga ada seseorang di balik kejanggalan tersebut.
Dan Soal pohon Travion, pohon tersebut terdapat di dalam istana dengan banyak penjaga.
Saat ini Meryl masih duduk bersimpuh di lantai belum sadarkan diri setelah Xio membaca memorinya.
"Apa yang barusan kamu lakukan?" Tanya Heldir yang dari tadi tetap terbang di pundak Xio memperhatikannya.
"Membaca ingatannya." Jawab Xio.
"Darimana kamu mendapatkan kemampuan seperti itu?" Tanya Heldir lagi.
"Apa itu penting untuk memberitahumu?"
"Cihh! Aku kan hanya ingin tahu." Gumam Heldir menggerutu.
"Anak-anak!" Xio memanggil Leon dan Lena yang dari tadi berdiri di bawah jendela memperhatikan ayahnya.
Mereka berdua segera menghampiri Xio. "Ya papah!?" Sahut keduanya.
"Papah mau bertanya, dari mana kalian mendapatkan borgol itu?" Tanya Xio, karena dia ingat tidak pernah memberi mereka borgol, apalagi borgol tersebut asli dari baja.
"Dapat dari Oma!" Seru Leon.
'Dari nenek rupanya, pantas saja.' Batin Xio.
"Memangnya kenapa papah?" Leon bertanya.
"Tidak apa-apa, papah cuma ingin tahu siapa yang memberikan borgol ini pada kalian." Xio menggerakkan jarinya menunjuk borgol yang masih terkunci di tangan Meryl, dan…
Cklekk!
Borgol tersebut langsung terlepas dan melayang perlahan hingga ke telapak tangan Xio. "Simpan lagi, jangan dipakai mainan." Ucapnya menyerahkan borgol tersebut pada Leon.
"Oke!" Seru Leon mengacungkan ibu jarinya dan mengambil borgol tersebut dari tangan Xio.
"Papah, apa tidak apa-apa borgolnya dilepas?" Tanya Lena menunjuk ke arah Meryl yang sudah mulai membuka kelopak matanya.
"Tidak apa-apa dia baik, hanya otaknya saja yang bermasalah." Jawab Xio mengelus kepala Lena. Kemudian kembali menatap Meryl yang terlihat sedang kebingungan dengan apa yang sudah terjadi, dan kepalanya terasa sedikit pusing.
Ketika melihat Xio di depannya yang sedang duduk di kursi, Meryl pun ingat apa yang sebelumnya terjadi. Sadar tangannya sudah tidak dikunci dengan logam aneh itu lagi, Meryl langsung bangkit berdiri dan mengarahkan sebuah anak panah yang terbuat dari angin pada wajah Xio. Saat Meryl berdiri secara tiba-tiba seperti barusan, buah dadanya yang besar berguncang kebawah keatas.
"Katakan dari kerajaan mana kamu berasal!!" Seru Meryl. Dia mengira Xio penyusup dari salah satu kerajaan tetangga, karena wujud Xio yang masih menjadi Elf. Hanya saja pakaian yang Xio kenakan terlihat asing dimata Meryl, sebab Xio mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana biru navy serta sepatu Oxford berwarna hitam dengan jam tangan di pergelangan tangan sebelah kirinya.
Begitu juga dengan Leon dan Lena yang masih mengenakan pakaian dari bumi dengan sneakers berwarna putih berpola centang berwarna hijau di sisi kiri kanannya.
Leon dan Lena menahan tawa mereka ketika Meryl mengarahkan anak panahnya pada Xio, dan mengira Xio dari kerajaan lain.
"Sebaiknya jangan mengarahkan senjatamu lagi padaku kalau masih sayang nyawa." Kata Xio menyentuh anak panah milik Meryl yang kemudian hancur seketika hanya dengan sedikit sentuhan.
"Apa! Bagaimana bisa?!" Meryl terkejut ketika Xio menghancurkan panah sihirnya.
"Duduk!" Kata Xio.
Brukk!
Meryl seketika kembali duduk bersimpuh dengan sendirinya dihadapan Xio seperti ada yang mengendalikan tubuhnya. Di tubuhnya terlihat terdapat aura-aura berwarna hitam yang tidak lain merupakan skill bayangan Xio.
"Aku tahu kamu sedang mencurigai rajamu, dan sebenarnya aku tidak mau mengurusi urusan kerajaanmu ini, tapi karena aku curiga ras busuk itu ada dibaliknya, jadi aku akan membantumu mencari tahunya." Kata Xio.
"Tunggu! Bagaimana kamu mengetahuinya?" Tanya Meryl.
"Percuma kamu tidak akan dijawab nya." Celetuk Heldir yang hanya bisa didengar Xio.
"Aku tidak menerima pertanyaan, jadi turuti saja perintahku." Jawab Xio.
Meryl termenung sejenak. Sekarang dengan tubuhnya yang sudah tidak dapat digerakkan sama sekali, dia tidak tahu lagi bagaimana cara membela diri, ditambah lagi dia sudah yakin kalau Xio pria dihadapannya saat ini sangatlah kuat dan kalau berusaha kabur darinya pun tidak akan berhasil. Dan karena dia yakin Xio sangat kuat, mungkin Meryl bisa mengandalkan Xio untuk membantunya mencari tahu soal rajanya yang bersikap aneh.
Dengan wajah yang tersipu, Meryl dengan polosnya berkata. "Apa maksudnya menuruti perintahmu? Apa kamu akan menyuruhku untuk melakukan hal-hal nakal seperti memasukkan it-"
"Tidak akan!" Tegas Xio sambil menghentakkan kakinya ke lantai membuat semua yang ada di situ terkejut. "Jangan pernah berpikir melakukan hal-hal seperti itu denganku, karena sampai kapanpun itu tidak akan terjadi. Ingat itu!" Tambahnya dengan tatapan mengintimidasi.
Sedangkan Leon dan Lena di samping Xio keheranan kenapa ayahnya terlihat marah barusan, dan apa yang dimaksud olehnya.
"Ba-baik…" Jawab Meryl menunduk dengan suara gemetar ketakutan. Meryl tidak tahu kalau Xio sangat sensitif jika disinggung dengan hal-hal seperti yang ditanyakannya tadi. Padahal Meryl berpikir kalau orang-orang kuat atau berkuasa seperti Xio akan gila nafsu.
"Bagus, dan lainkali kenakan atasan yang lebih tertutup." Kata Xio. "Aku hanya ingin kamu menjaga kedua anakku saja, sementara aku beroperasi. Karena aku tidak terbiasa bergerak dengan orang lain." Tambahnya.
"Lalu bagaimana aku bisa mempercaimu akan membantuku?" Tanya Meryl.
"Seorang ayah tidak akan mengajarkan apa itu berbohong di depan anak-anaknya." Jawab Xio menoleh ke arah Leon dan Lena disampingnya dan mengelus kepala mereka bergantian.
Leon dan Lena tersenyum memejamkan matanya meresapi kehangatan usapan lembut Xio.
"Baiklah, demi kerajaan ini aku menyetujuinya!" Seru Meryl dengan teguh.
***
Di sebuah kamar yang cukup terang berkat cahaya yang masuk dari lubang ventilasi di dinding, serta dari jendela kaca. Kamar tersebut bernuansa mewah dengan furniture berlapiskan emas serta ranjang besar yang terlihat empuk.
"Apa mereka sudah kembali?" Tanya seorang wanita berambut merah jingga yang sedang berbaring diatas ranjang dengan posisi bak putri duyung berjemur di darat. Pakaiannya yang terbuka memperlihatkan kaki jenjang dan paha mulus, serta perut langsing, pusarnya, serta belahan dadanya.
"Sudah permaisuri ku...mereka sudah berhasil meyakinkan kerajaan Garren dan kerajaan Aedion untuk pertemuannya." Jawab datar tanpa ekspresi Pria telinga runcing yang berdiri di samping ranjang menghadap wanita tersebut.
"Bagus…" Kata wanita tersebut dengan senyuman licik. "Sekarang aku tinggal menunggu sampai mereka ditanganku." Gumamnya.
***
Kembali ke sisi Xio.
Hari sudah petang. Leon dan Lena pergi mandi di kamar mandinya Meryl. Sedangkan ayahnya sedang berbicara dengan Meryl di ruang makan yang menyatu dengan dapur. Tak lupa dengan Heldir yang selalu terbang di dekat pundak Xio.
"Emas, perak, dan perunggu." Jawab Meryl.
Crakk!
Di Atas meja tersebut muncul sebuah kantong yang terbuka sehingga memperlihatkan isinya yang penuh koin emas.
Mata Meryl seketika berbinar melihat kantong penuh emas tersebut, seperti baru pertama kali melihat koin emas sebanyak itu.
Xio mewajari ekspresi Meryl melihat koin emas tersebut. Karena dia tahu nilai mata uang di benua elf masih rendah, dan gaji Meryl selama satu minggunya pun hanya dibayar 1 koin emas dan 20 koin perak.
"Belikan aku dan anak-anak pakaian. Dan beli juga bahan makanan, aku dan anakku tidak mau memakan makanan basi yang kamu punya." Kata Xio sedikit sarkastik.
"Tapi segini terlalu banyak." Kata Meryl menoleh ke Xio. Dia berpikir kalau koin emas sebanyak itu mungkin bisa untuk bertahan hidup selama beberapa tahun.
"Sisanya ambil saja. Anggap saja uang muka sebagai pengasuh anakku."
"Apa ti-"
"Sudah kukatakan aku tidak menerima pertanyaan. Cepat pergi sana!" Seru Xio dengan wajah kesal. Dia tidak terlalu suka banyak bicara dengan orang lain kecuali keluarganya.
"Ba-baik! Terimakasih! Terimakasih!" Sahut Meryl membungkukkan dadanya sedikit lalu pergi keluar dari rumah.
"Xio!" Seru Heldir.
"Hm?" Dibalas deheman oleh Xio, tapi tidak menoleh ke arahnya.
Heldir pun terbang ke hadapan wajah Xio karena merasa tidak di gubrisnya.
"Aku penasaran, apa kamu masih normal?" Tanya Heldir.
"Apa maksudmu masih normal?" Xio bertanya balik.
"Gadis elf barusan sudah jelas menyukaimu, dan dia sepertinya rela menyerahkan tubuhnya untukmu. Aku juga merasakan kalau dia masih suci belum tersentuh pria. Apa kamu sungguh tidak tertarik? Padahal tubuhnya seksi begitu. Kalau aku jadi kamu mungkin sudah kumakan habis sepasang buah surga yang besar itu seharian." Kata Heldir dengan wajah memerah membayangkan hal yang tidak senonoh sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Itulah alasanku tidak suka bekerjasama dengan wanita. Setiap wanita yang pernah bertemu denganku pasti akan langsung menyukaiku, mereka hanya melihat penampilanku." Kata Xio.
"Apa itu berarti kamu lebih menyukai Pria?" Cletuk Heldir.
Xio mengambil sebuah sendok kayu di atas meja dan membuatnya melayang menggunakan bayangan di depannya Heldir.
"Bayangkan ini adalah tubuhmu." Kata Xio.
Krakk!
Sendok kayu tersebut patah menjadi berkeping-keping.
"Beginilah jadinya ketika seorang elf tua bodoh yang asal bicara." Tegas Xio.
Gulp!
Heldir menelan salivanya dengan susah karena Xio sepertinya serius mengatakan hal tersebut.
Xio menaikkan kedua kakinya keatas meja. Sambil menatap ke langit langit ruangan dia berkata. "Aku membenci seorang penghianat dan perusak rumah tangga. Karena aku sudah pernah melihat dan merasakan secara langsung rasanya hancur ketika dikhianati orang yang paling aku percayai, dan dibelah dua oleh orang tak dikenal hanya untuk menyenangkan hatinya... Aku tidak mau mengkhianati keluargaku yang sudah kubangun sendiri dengan kasih sayang. Dan aku tidak ingin istri dan anakku merasakan rasanya terpecah belah seperti yang pernah kurasakan. Aku tidak akan membiarkan seorangpun mengganggu kedamaian yang sudah kuciptakan untuk orang-orang yang ku cintai."
Heldir terharu mendengar ucapan Xio yang melankolis. Dia tidak tahu kalau di kehidupan keduanya Xio akan mengalami pengalaman yang menyakitkan lagi.
"Maafkan aku kawan." Ucap Heldir terbang ke sisi Xio dan menepuk-nepuk pundaknya dengan tangannya yang kecil.
"Sudahlah...masa lalu memang tidak bisa diperbaiki, tapi masa depan bisa ku ciptakan." Kata Xio.
"Papah kita sudah selesai!" Seru Leon dan Lena berlari keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono. Mereka berdua berlari ke arah Xio dengan keadaan rambut yang masih sedikit basah.
"Jangan lari-larian nanti jatuh." Kata Xio.
"Hehe…" mereka berdua terkekeh setelah diperingati Xio.
"Sini biar papah keringkan rambut kalian." Ujar Xio menepuk-nepuk pahanya memberi tanda agar mereka duduk di sana.
Leon dan Lena pun berjalan ke dekat ya dan duduk di atas paha Xio. Dia mengeluarkan sebuah handuk dari inventory-nya dan mulai mengeringkan rambut Leon dan Lena dengan cara mengusap-usap rambut mereka dengan handuk sambil mengobrol dengan mereka berdua.
"Papah! Pinjam handphone papah!" Seru Lena.
Xio berhenti sejenak mengusap rambut mereka menggunakan handuk, dan mengeluarkan handphonenya. Karena baru mengeluarkan handphone, Xio baru menyadari kalau dia mendapatkan pesan dari Ellisa.
Dia tersenyum ketika membuka isi pesan tersebut yang isinya gambar-gambar kelucuan Nathan dan Tassa, tapi tidak ada gambar Ellisanya.
"Mau liat adik kalian tidak?" Tanya Xio.
"Mau! Mau!" Sahut Leon dan Lena bersemangat.
Xio pun memperlihatkan layar handphonenya pada mereka berdua.
"Gemas sekali. Aku ingin menggigit pipinya yang chubby itu." Kata Leon diangguk-angguki Lena.
"Papah juga sama. Tapi nanti dimarahi mamah." Kata Xio.
"Pinjam." Kata Lena dan Xio pun menyerahkannya.
Lena membuka kamera pada handphone tersebut dan mengajak kakaknya untuk berswafoto.
"Papah tidak diajak nih?"
"Tidak! Kita akan mengirimkan fotonya ke mamah jadi papah jangan ikutan dulu." Jawab Lena.
Mereka berdua asyik berselfie ria duduk di pangkuan Xio, sehingga hanya kelihatan dada hingga pinggang Xio saja di gambar-gambar tersebut.
"Sini biar papah yang mengurusnya ke mamah kalian." Kata Xio. Dia melihat lihat terlebih dahulu satu-persatu gambar yang diambil Leon dan Lena, dan dia paling suka gambar ketika mereka berdua memeluknya, tapi sayangnya tidak terlihat wajah dirinya.
'hehe kalau kamu mau menerima foto lucu anak-anak, aku juga bisa.' Batinnya menekan tombol send.
"Heldir tolong kamu ambilkan gambar kita bertiga!" Ucap Xio menyerahkan handphonenya pada Heldir yang tubuhnya bahkan lebih kecil dari handphone Xio. Sehingga Heldir harus menggunakan sihir untuk mengangkatnya.
"Benda apa ini?" Tanya Heldir baru pertama kali melihat handphone.
"Jangan banyak tanya cepat lakukan saja. Ambil angle yang bagus, kalau sudah tekan tombol ini." Instruksi Xio.
Dengan pasrah Heldir pun melakukan apa yang Xio perintahkan.
Dengan latar dapur rumah elf, serta Leon dan Lena yang masih mengenakan handuk, sebuah momen ketika seorang raja dunia memangku putri dan pangerannya yang baru selesai mandi sudah terabadikan.
...*******...
...BERSAMBUNG...