
...----------------...
"Lalu apakah kalian mendapatkan informasi mengenai kakekku?" tanya Xio.
"Kami tidak menemukan keberadaan kakek yang mulia, dan kami hanya menemukan identitas kakek anda yang dulu" Jawab Gabriel.
'identitas kakek?!' batin Xio, Xio juga sebenarnya belum tahu identitas asli kakek azril di dunia ini.
"Cepat katakan!" ucap Xio.
"Kakek anda dulunya merupakan putra mahkota kerajaan Blue feather, namun beliau tidak diakui serta di caci maki di kerajaannya karena tidak memiliki elemen. karena banyak yang tidak menyukainya dan ada yang memfitnahnya hingga raja kerajaan blue feather mengasingkannya selama 2 tahun ke hutan saat beliau berumur 15 tahun, setelah dua tahun beliau dijemput lagi oleh kerajaan tapi keberadaannya tidak ditemukan kembali sebelum itu juga pernah ada meteor yang jatuh tepat didalam hutan " jelas Gabriel.
Xio yang baru saja mendengar kebenaran masalalu kakeknya merasa kesal dan tak sengaja mengeluarkan aura yang mencekam di seisi ruangan dan membuat para bawahannya susah untuk berdiri padahal level mereka lebih tinggi dari Xio.
"Sayang kamu tenanglah" Ellisa mengelus pipi Xio.
"ah maafkan aku" Xio akhirnya menarik kembali auranya setelah melihat para bawahannya gemetaran.
"Kalian carilah informasi sebanyak mungkin dan segera laporkan jika ada informasi yang baru" ucap Xio.
"sayang kalau tidak salah ayahku pernah berbicara mengenai kakek Azril, mungkin ayahku mengelnalnya" ucao Ellisa.
"benarkah itu?" tanya Xio meamstikan.
"aku tidak yakin soalnya aku mendengarnya saat masih kecil" jawab Ellisa.
"hemm tidak apa-apa nanti kita tanyakan saja langsung pada ayahmu!" Ucap Xio.
"Sebelum kalian pergi aku akan memberikan sesuatu" Xio mengeluarkan handphone yang dibelinya saat dibumi dan membagikannya masing-masing satu, mereka yang baru pertama kali melihat benda pipih tersebut menjadi kebingungan.
"Ini namanya handphone dan cara menggunakannya seperti ini……" Xio menjelaskan serta mengajarkan mereka menggunakan handphone.
"Apakah kalian paham?" tanya Xio.
"Paham yang mulia!" jawab semuanya serentak.
"Baguslah!, lalu apakah ada yang melihat azco?" tanya Xio karena daritadi dirinya tidak melihat naga tersebut.
"Yang mulia, Azco sedang tidur di taman" jawab Sebas.
"Naga itu kerjaannya tidur terus, tidak papalah. Sebas tolong tunjukan kamarku!" perintah Xio karena dia tidak membawa rumahnya maka dia harus tidur di kamar istana.
Xio pun pergi besama Ellisa dan Sebas meninggalkan ruangan tersebut yang masih terdapat para bawahannya yang sedang mengotak Atik handphone mereka ada yang mendengarkan musik dan ada juga yang memoto apapun yang ada dihadapannya.
"Yang mulia, ini kamar anda" ucap Sebas.
"Sebas lalu dimana kamarku?" tanya Ellisa, Sebas langsung melirik kearah Xio untuk memastikan dan ternyata benar saja saat ini wajah Xio sangat panik seperti kehilangan sesuatu.
"Tunggu-tunggu kenapa kamu tidak ingin tidur bersamaku?" tanya Xio.
"Apa kata orang-orang kalau tahu seorang raja tidur besama dengan orang yang bukan istrinya" jawab Ellisa.
"aku tidak peduli perkataan orang lain" Xio langsung menggendong Ellisa masuk kekamarnya, sedangkan Sebas hanya tersenyum melihat rajanya yang tidak ingin kehilangan orang yang di cintai nya.
Xio langsung membaringkan Ellisa di kasur dan menciumi setiap inci wajah Ellisa.
"Apakah kamu tahu?, aku tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu" ucap Xio memberhentikan ciumannya dan menatap mata Ellisa, kemudian dia melanjutkan kembali menciumi Ellisa tapi saat ini Xio menciumi tubuh Ellisa karena baju Ellisa sudah dibuka oleh Xio dan melemparnya ke sembarang tempat, dan yah akhirnya terjadilah kembali pertempuran yang menguras tenaga serta keringat diantara Xio dan Ellisa hingga mereka tertidur dikarenakan hari sudah malam dan mereka juga sudah kelelahan.
malam berganti pagi sinar matahari mulai menyusuri setiap bagian istana kerajaan Regalia hingga memasuki jendela kamar yang didalamnya terdapat sepasang wanita dan pria tampan dan cantik yang sedang tertidur sambil berpelukan tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka. Xio perlahan membuka matanya karena sinar matahari menyinari wajahnya, Xio bangkit dari tidurnya dan duduk di samping kasur menatap Ellisa yang masih telanjang.
'Sial tubuhnya menggoda sekali, tapi mungkin Ellisa sudah kelahan' batin Xio, sebenarnya dua ingin melakukannya lagi tapi mengingat semalam dia bermain sampai berapa ronde akhirnya Xio mengurungkan niatnya.
Xio masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya karena mengingat hari ini dia akan pergi ke benua iblis.
Ellisa turun dari ranjang dan menggunakan pakaiannya, kemudian dia menyiapkan pakaian untuk dipakai Xio dan dirinya, Ellisa juga membuatkan secangkir teh untuk Xio dan disimpan di meja dekat jendela. Setelah menyiapkan semuanya, akhirnya Xio keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya dan menatap Ellisa yang sedang membuat teh.
"Sayang aku sudah menyiapkan pakaianmu, dan aku juga membuatkan secangkir teh untukmu" ucap Ellisa, Ellisa sudah tahu semenjak tinggal bersama kalau kesukaan Xio adalah teh.
"Yah terimakasih, sepertinya kamu sudah siap menjadi istriku!" ucap Xio tersenyum.
"Kamu juga mandilah, lihat badanmu lengket bekas keringat" lanjutnya.
"kamu kira kelakuan siapa sampai badanku penuh keringat?" sahut Ellisa.
"Tapi bukankah kamu menyukainya?" goda Xio membuat wajah Ellisa memerah karena mengingat waktu semalam, Ellisa langsung berlari masuk kedalam kamar mandi karena malu, Xio tersenyum melihat tingkah Ellisa dan kemudian memakai pakaian yang telah disiapkan Ellisa, setelah menggunakan pakaiannya Xio duduk dimeja dekat jendela sambil menyesap tehnya.
sambil duduk Xio memikirkan tentang mimpinya yang terjadi semalam, Tak lama kemudian Ellisa keluar dari kamar mandi dan langsung menggunakan pakaiannya dan menata rambutnya.
Tokk! tok! tok!
"Maaf mengganggu anda yang mulia, saya kemari untuk mengantar anda keruang makan" Ucap Sebas dibalik pintu kamar.
"Iya tunggu sebentar!" sahut Xio. tak lama kemudian Xio dan Ellisa pun keluar dari kamar.
(BAYANGIN AJA MATA ELLISA MERAH DAN MATA XIO NYA WARNA BIRU)
Xio dan Ellisapun diantar Sebas keruang makan, hingga akhirnya mereka sampai diruangan yang terdapat meja panjang berwarna emas dan juga terdapat banyak kursi di sampingnya, diatas meja tersebut juga sudah tertata rapih banyak sekali makanan berbagai jenis.
Xio berpikir kenapa harus sebanyak ini padahal hanya berdua dirinya dan Ellisa.
'Azco kamu cepat kemari dan suruh 7 dosa dan kebajikan kemari juga' telepati Xio pada Azco.
'Baik tuan!' Jawab Azco, sebenarnya barusan dia masih tertidur, tapi setelah mendengar suara Xio dia langsung bergegas bangun karena takut dimarahi lagi oleh Xio sebab tidur melulu.
Tak lama kemudian Azco datang bersama para dosa dan kebajikan mereka melihat Xio sedang duduk bersama Ellisa disampingnya, mereka sebenarnya tidak tahu kenapa tuannya memanggil mereka semua.
"Kalian duduklah dan ikut makan bersama" ucap Xio.
"Tidak yang mulia kami hanya bawahan dan tidak mungkin makan semeja dengan tuannya" jawab Ramiel.
"Apakah kalian berani membantahku!?" bentak Xio.
"B-baik yang mulia!" ucap semuanya gelagapan karena takut jika Xio marah, dan merekapun langsung duduk semua.
"Sebas kenapa kamu tidak duduk?" tanya Xio karena melihat Sebas masih berdiri dekat pintu.
"Maafkan saya yang mulia, saya masih memiliki tugas lain" jawab Sebas.
"hahh baiklah kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu" Xio menghela nafas.
"Kalau begitu saya permisi" ucap Sebas kemudian berjalan keluar ruangan.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG