Cross The World With System

Cross The World With System
Falma



...----------------...


Saat keluar dari kamar mandi Azco melihat Chintya sedang menyuapi makanan untuk anak tersebut, Ia melihat Chintya juga menyuapinya sambil tersenyum sehingga anak tersebut ikut tersenyum yang membuat terlihat imut walau diwajahnya masih kotor.


Bahkan mereka berdua tidak ada yang sadar kalau Azco sudah keluar dari kamar mandi dari tadi dan saat ini sedang berjalan mendekati mereka.


"Halo nak apakah kamu sudah baikan?" Ucap Azco mengelus kepala anak tersebut secara tiba-tiba.


"Waaa!!!" anak perempuan itu bereaksi terkejut dan ketakutan saat melihat Azco seperti saat di penginapan tapi kali ini ia langsung memeluk Chintya


"Azco kamu jangan menakutinya." Kata Chintya sambil mengelus-elus kepala anak itu. "Tidak apa-apa, tidak perlu takut paman ini tidak jahat kok." Ucapnya.


'Dari mananya aku kelihatan menakutinya?' Batin Azco bingung kenapa anak tersebut selalu saja ketakutan ketika melihat dirinya.


"Ehm benar, paman baik kok." Kata Azco memasang senyuman tulus. "Sini..!" Azco langsung mengangkat Chintya serta anak tersebut sekaligus kemudian ia duduk di tepi ranjang, lalu mendudukan mereka berdua di pangkuannya.


"Sayang lanjutkan saja menyuapinya." Ujar Azco pada Chintya. "Dan kamu anak manis makanlah yang banyak tidak perlu sungkan." Tambahnya mengelus-elus rambut anak perempuan tersebut yang nampaknya sudah tenang dan tidak takut lagi terhadapnya.


Selesai menyuapi anak tersebut Chintya mengajaknya untuk mandi bersama dan di jawab dengan anggukan, entah kenapa anak itu tidak ada mengatakan sepatah katapun.


Saat Chintya dan anak itu mandi, Azco mencarikan pakaian anak perempuan yang seukuran dengannya hingga Azco ingat kalau Leon dan Lena pernah menginap di rumahnya dan meninggalkan beberapa pakaian tidur mereka.


"Tuan putri punya banyak pakaian di istana, jadi kupikir tidak akan apa-apa jika memintanya satu saja." gumam Azco.


Sementara itu di dalam kamar mandi saat ini Chintya sedang menggosok tubuh anak perempuan tersebut dengan hati-hati karena tidak mau membuat anak itu kesakitan jika ia tidak sengaja menggosok lukanya.


"Apakah kamu punya keluarga seperti ayah, ibu, atau saudara kandung?" Tanya Chintya dan dijawab gelengan kepala.


Chintya bisa memahaminya dari cerita Azco yang menemukan anak tersebut sedang dipukuli karena mencuri roti. Sebab jika masih mempunyai keluarga pasti ia tidak akan mencuri seperti itu dan mungkin tubuhnya akan lebih ter urus.


"Oh iya aku belum tahu nama kamu, apakah kamu punya nama?" Tanya Chintya lagi.


"Waa waa." Anak tersebut menggelengkan kepalanya.


'Apakah anak malang ini berkebutuhan khusus?' Batin Chintya sebab anak itu hanya bisa mengeluarkan kata 'waaa' saja dari tadi.


Muncul sebuah keputusan di benak Chintya.


"Kalau begitu sekarang nama kamu yaitu Falma." Ucap Chintya. Tapi ia melihat anak tersebut malah mengeluarkan air mata.


"Apakah kamu tidak suka dengan namanya?"


Anak tersebut langsung memeluk Chintya erat sambil menangis tapi terlihat jelas wajahnya sedang tersenyum.


Chintya membalas pelukannya senang anak tersebut mau menerima nama yang di berikan-nya.


Setelah tidak ada lagi yang kotor di seluruh tubuh Falma, barulah ia terlihat sangat cantik dan imut. Chintya berpikir mungkin Falma juga bisa menjadi temannya Lena.


Selesai mandi dan berendam bersama, merekapun keluar dari kamar mandi. Azco yang sedang duduk di kursi menunggu keduanya keluar dari kamar mandi terkejut melihat penampilan anak perempuan itu yang ternya cantik dan juga imut.


Azco langsung menyerahkan pakaian yang tadi sudah disiapkannya pada Chintya dengan wajah memerah sebab saat keluar dari kamar mandi keduanya tidak mengenakan sehelai pakaian pun.


Chintya mengambil pakaian tersebut kemudian membantu Falma menggunakannya. Awalnya ia ingin mengantarkan Falma untuk tidur dikamar sebelah, tapi Falma menggelengkan kepalanya sambil memeluk lengan Chintya.


Akhirnya Falma pun jadi ikut tidur bersama dengan Azco dan Chintya di kamar mereka, karena Azco juga tidak mempermasalahkan.


Setelah Falma tidur.


"Sayang bolehkah aku mengadopsinya menjadi anak kita?" Tanya Chintya membuat Azco terkejut.


"Tunggu dulu, apa kamu serius?" Azco bertanya balik.


"Emm entah kenapa aku merasa seperti sudah punya ikatan dengan Falma." Jawab Chintya tersenyum sambil mengelus rambut Falma di sampingnya. "Apakah kamu tidak setuju karena Falma berkebutuhan khusus?" Lanjutnya sendu.


Azco memijat dahinya sendiri. Ia bukan tidak setuju karena Falma berkebutuhan Khusus, tapi ia masih bingung bagaimana dengan tugas yang di berikan Xio.


"Kalau kamu tidak mau mengadopsinya bersama tidak apa-apa, aku akan merawatnya sendiri saja." Ucap Chintya karena tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari Azco.


"Bukan, bukan itu maksudku! Baiklah kita akan mengadopsinya bersama!" Seru Azco memegang tangan Chintya. "Tapi tolong kamu sembunyikan dulu Falma, jangan sampai ada orang istana yang mengetahuinya." Tambah Azco.


"Emm baiklah terima kasih." Kata Chintya tersenyum.


Azco berpikir mungkin di benua Vir Dihomu masih ada ras Boldur lainnya selain Falma. Jika sudah menyelesaikan tugas dari Xio, maka ia tidak perlu menyembunyikan Falma.


...----------------...


Keesokan harinya, Saat ini Azco sudah berada di istana atau lebih tepatnya sedang berdiri dengan gugup di depan pintu ruangan kerjanya Xio.


Tokk! tok!


Azco mengetuk pintunya.


"Masuk!" Sahut Xio di dalam ruangan.


Dengan oerlahan Azco membuka pintu tersebut lalu masuk kedalam dengan berusaha bersikap normal dan tidak berbicara dalam hati atau berpikir agar tidak di curigai, mengingat Xio bisa membaca hati dan pikiran orang lain.


Saat masuk, Azco melihat Xio sedang duduk di kursinya sambil menggendong salah satu bayinya yaitu Tassa, di temani oleh Sebas yang setia berdiri di belakang kursi Xio.


"Salam Yang Mulia!" Azco memberikan salam dengan membungkukkan sedikit dadanya.


"Hmm." Dijawab deheman oleh Xio. "Apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku minta?" Tanya Xio, tanpa memandang Azco secara langsung karena sepertinya sedang asik bermain dengan jari telunjuknya di genggam oleh Tassa.


"Saya memohon maaf Yang Mulia, saya belum mendapatkan apa yang anda minta." Jawab Azco.


"Oh tumben sekali kamu tidak secepat seperti biasanya." Kata Xio melirik Azco.


"Itu karena saya tidak dapat menemukan satupun Boldur di kerajaan yang ada di sana Yang Mulia."Ucap Azco.


"Apakah kamu perlu bantuan? nanti aku akan menyuruh siapa saja untuk menemanimu." Ujar Xio.


"Tidak usah Yang Mulia, biar saya sendiri saja yang mencarinya." Jawab Azco. "Maaf apabila saya lancang, bolehkah saya bertanya untuk di jadikan apa hati Boldur tersebut?" Lanjutnya bertanya.


Sebas langsung membelalakkan matanya seakan memberi tanda pada Azco untuk tidak bertanya hal tersebut, karena tidak ada satu orangpun yang Xio beritahu mengenai apa yang ingin dibuatnya. Sebas juga tahu hal tersebut karena tidak sengaja menemukan secarik kertas yang isinya dapat membuat seseorang berpikir kalau Xio sudah gila.


"Hmm..tapi sayangnya aku tidak bisa memberitahukan hal itu pada siapapun." Ucap Xio.


"Baik Yang Mulia! maafkan saya!" seru Azco. "Kalau begitu saya akan kembali melanjutkan pencariannya sekarang." Tambahnya.


"Ya silahkan." Jawab Xio.


Azco membungkukkan sedikit dadanya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Sebas.." panggil Xio.


"Saya Yang Mulia." Jawab Sebas dengan segera berdiri tegap di samping menghadap Xio.


"Mooho maafkan sayang yang sudah tidak lancang melihat kertas tersebut Yang Mulia." Sebab memohon maaf sambil membungkukkan dadanya, tapi nada bicaranya datar seperti biasanya sebab memang sudah seperti itulah bagaimana Sebas bicara sehari-hari mau dalam situasi apa pun itu.


"Saya siap menerima hukuman apapun dari Yang Mulia." Lanjutnya.


"Aku tidak akan menghukummu, tapi jika sampai ada yang mengetahuinya lagi maka bersiap-siaplah." Ucap Xio. "Dan jangan sampai istriku juga mengetahuinya." Tambah Xio.


"Baik Yang Mulia, Saya mengerti." Jawab Sebas dibalas anggukan oleh Xio.


Sementara itu disisi Azco. Saat ia sedang berjalan di lorong istana, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Ellisa yang sedang menggendong Nathan di temani dengan dua pelayan wanita berjalan di belakangnya.


"Salam Yang Mulia Ratu." Azco memberi salam pada Ellisa.


"Oh Azco, apa kamu baru bertemu Xio?"


"Benar Yang Mulia." Jawab Azco.


"Tadi Leon dan Lena bilang akan kerumahmu untuk bertemu denganmu." Ucap Ellisa.


'Aku lupa hari ini ada janji dengan mereka!' Batin Azco panik. Ia lupa kalau hari ini sudah janji pada mereka berdua untuk pergi ke benua Elf mencari sesuatu.


"Azco apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Ellisa karena barusan melihat ekpresi Azco.


"Ah haha tidak apa-apa Yang Mulia. kalau begitu saya permisi akan pulang sekarang, siapa tahu Pangeran dan Tuan Putri sudah menunggu saya." Kata Azco walaupun sebenarnya ia takut Leon dan Lena bertemu dengan Falma.


"Hmm baiklah." Jawab Ellisa heran kenapa Azco sangat terburu-buru.


...----------------...


Di sisi Leon dan Lena. Mereka berdua pergi ke rumah Azco dengan cara berteleportasi menggunakan skill Leon.


Di rumah Azco ada Chintya, Falma dan beberapa pembantu serta penjaga kebun saja, sebab teman-teman Chintya kembali ke keluarga mereka.


Leon dan Lena sudah tiba di halaman depan rumahnya, karena mereka berdua sudah biasa berkunjung kesana sehingga para oembantu pun tidak aneh lagi ada pangeran dan putri yang berkunjung.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu pun mereka langsung masuk kedalam sambil memanggil-manggil nama Azco.


"Sepertinya tidak ada disini." Ucap Lena.


"Emm coba kita ke kamarnya saja." Ujar Leon.


Mereka berdua pun menaiki tangga karena kamar Azco memang berada tepat di lantai 2 tempat kamar-kamar lainnya juga.


Saat berjalan menuju kamar Azco, Leon dan Lena tidak sengaja melihat di salah satu kamar yang sepertinya ada seseorang yang seperti anak kecil sedang menyisir rambut.


Karena penasaran siapa anak tersebut, Leon dan Lena pun langsung masuk kedalamnya. dan mereka melihat anak perempuan yang seumuran dengannya, anak tersebut memiliki tanduk seperti domba dan rbut hitam pendek bergelombang sedang berdiri di depan cermin. Anak tersebut adalah Falma.


"Hai! nama kamu siapa?" Seru Lena langsung menghampirinya bahkan membuat Falma kaget.


"Lena kamu mengagetkannya." Kata Leon geleng-geleng kepala.


"Hehe maafkan aku." Jawab Lena.


"Waa waa..." Jawab Falma sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti memberi isyarat.


"Sepertinya dia tidak bisa bicara." Bisik Leon pada Lena.


"Emm...Apakah kamu tidak bisa berbicara?" Tanya Lena sambil memegang tangan Falma, takut menyakiti perasaannya.


Falma menjawab dengan Anggukan.


"Kalau begitu kamu tuliskan saja namamu di sini." Ujar Leon menyerahkan secarik kertas serta penanya, Tapi di Jawab dengan gelengan kepala. Leon dan Lena pun paham kalau Falma tidak bisa menulis juga.


"Kakak bagaimana ini?" Tanya Lena pada Leon. Leon menggaruk kepalanya seperti sedang berfikir.


"Apakah kamu tahu dimana Tante Chintya atau zio Azco?" Kali ini Leon bertanya pada Falma.


(Zio \= Paman dalam bahasa Itali)


Falma pun menarik tangan Leon dan Lena seperti mengajak mereka untuk mengikutinya. Dan ternyata Falma mengantarkan mereka ke dapur yang disana sudah ada Chintya sedang memasak.


Chintya terkejut serta panik ketika Falma menghampirinya membawa Leon dan juga Lena di belakangnya. mengingat Azco mengatakan kalau jangan ada yang mengetahui keberadaan Falma terlebih dahulu.


"Tante, apakah Tante kenal dengan dia?" Tanya Lena menunjuk Falma.


Chintya mengangguk, "Ya perkenalkan namanya Falma, Falma adalah anak angkat Tante dan Paman Azco." Ucap Chintya mengelus kepala Falma.


"Ohhh Falma, halo Falma perkenalkan namaku Lena, dan ini kakak ku namanya Leon." Kata Lena tersenyum ramah sambil menjabat tangan Falma. "Sekarang kita berteman!" Tambahnya.


Chintya tersenyum karena rupanya Lena mau berteman dengan Falma walau sudah tahu Falma tidak bisa berbicara atau bisu.


"Kalian bertiga tunggulah di meja makan, Tante baru saja membuat kue kering." Ujar Chintya.


"Ok!" Lena mengacungkan ibu jarinya lalu menarik tangan Leon dan Falma untuk duduk di meja makan menunggu Chintya.


Sementara itu di luar Mansion Azco baru saja tiba dan dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah memastikan apakah Leon dan Lena sudah tiba atau belum, Karena ia barusan pulang kerumah dengan kecepatan tinggi mengira Leon dan Lena datang kerumahnya dengan keteta kuda atau berjalan kaki.


Namun sayangnya perkiraan Azco salah, saat memeriksa ke ruangan makan ia dapat melihat mereka berdua bersama dengan Falma sedang menikmati kue kering buatan Chintya ditemani segelas susu masing-masing di atas meja.


"Zio kemana saja? kita sudah dari tadi di sini." Ucap Lena.


"Ah itu... tadi zio harus bertemu dengan Yang Mulia dulu." Jawab Azco.


"Zio juga kenapa tidak memberitahu kami kalau zio dan Tante mengangkat Falma sebagai anak." Kata Leon.


"Sebenarnya Falma baru tiba kemarin, jadi zio belum sempat memberitahukannya." Jelas Azco.


"Ohh begitu, kalau begitu papah juga harus tahu." Ujar Lena.


"Eh tu-tunggu dulu Tuan Putri, zio mohon jangan beritahukan pada Yang Mulia dulu."


"Loh memangnya kenapa? papah juga pasti senang kalau tahu zio sudah punya anak."


Azco sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa, karena tidak mungkin baginya jika memberitahukan permintaan Xio yang sebenarnya pada anak-anaknya.


"Tidak perlu nanti biar zio sendiri saja yang memberitakannya langsung pada Yang Mulia." Kata Azco. "zio juga minta pangeran dan putri tidak memberitahu siapa-siapa soal Falma ok?" Lanjutnya.


"Ok! tapi ada syaratnya." Jawab Leon tersenyum licik.


'Perasaanku sudah tidak enak.' Batin Azco.


...----------------...


...BERSAMBUNG...