Cross The World With System

Cross The World With System
Wanita kuat



...----------------...


"Sepertinya saat berangkat tadi Dean sedang diikuti seseorang." Kata Xio barusaja melihat melalui shadow soldier nya.


"Hah? diikuti?" Bingung Ellisa karena Xio tiba-tiba bicara begitu.


Xio mengangguk, "Ada beberapa mobil yang menghadangnya." Ucapnya, kemudian memutarbalikkan mobilnya meju arah sebaliknya. Xio melajukkan mobilnya dengan sangat cepat.


"Sayang kenapa tidak langsung teleport saja? kan bisa lebih cepat sampai disana." Tanya Ellisa.


"Tidak kenapa-napa, aku cuma mau mengetes kecepatan penuh teman baru ini saja." Jawab Xio tersenyum sambil menepuk-nepuk setirnya dan menambah kecepatan mobilnya.


"Lalu bagaimana kalau mereka berdua kenapa-napa?!" Kata Ellisa.


"Tenang saja keduanya akan baik-baik saja. percaya padaku." Jawab Xio.


Ellisa pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


.


.


.


.



(DEAN HILLS)


Sementara itu disisi Dean dan Larisa. Saat ini mobil mereka sedang berhenti di tengah jalan, karena sudah dihadang dan dikepung oleh beberapa mobil berwarna hitam.


"Sayang diam didalam mobil, mau bagaimanapun situasinya jangan buka pintunya." Kata Dean.


"Kamu mau kemana?!" Larisa memegang tangan Dean dengan wajah penuh khwatir.


Dean mengecup kening Larisa sekilas, kemudian dia keluar melepaskan genggaman tangan Larisa dan keluar dari mobil, tidak lupa dia juga mengunci pintu mobilnya terlebih dahulu.


sementara didalam mobil Larisa terus-menerus meneriakkan namanya sambil menggedor-gedor kaca. Setelah Dean keluar dari mobil, orang-orang yang berada dalam mobil hitam itu juga pun ikut keluar.


Terlihat orang-orang tersebut memiliki badan yang kekar-kekar, dan juga besar-besar. Dan yang terakhir keluar dari mobil yaitu seorang pria lumayan berumur dengan badannya yang gemuk. Dean mengingat kalau sosok tersebut merupakan orang yang ada di acara tadi dan juga yang bersaing dengannya dalam pelelangan pertama tadi yaitu Silos.


"Hoho lihatlah siapa laki-laki pemberani kita disini." Ucap Silos tertawa angkuh.


(Dalam bahasa Prancis, Silos tahu kalau Dean bearasal dari Prancis.)


"Cehh bukankah tidak sopan berbicara tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, ditambah lagi tidak meminta maaf sudah menghalangi jalan orang." Sahut Dean tak kalah angkuh.


"Hahaha...." Silos dan semua anak buahnya tertawa. "Apa kalian mendengarnya? dia masih berpura-pura berani dalam situasinya sekarang. Hahaha.." Kata Silos.


"Cepat katakan apa tujuan kalian menghentikan ku?!" Tanya Dean tidak mau berbasa-basi lagi, karena dia sudah tahu kalau mereka pasti memiliki niat buruk.


"Cepat tangkap dia, dan jangan lupakan wanitanya." Ucap Silos memerintahkan anak buahnya tanpa menjawab Dean terlebih dahulu.


"Baik Bos!" Jawab semua bawahan Silos. 4 dari mereka pun segera berjalan mendekat kearah Dean.


Walaupun badan keempat orang tersebut besar dan juga kekar-kekar, tapi Dean terlihat tidak takut sama sekali, dia malah terlihat seperti menerima keadaan dengan tenang.


"Bagus, sepertinya kamu pintar. karena jika melawan, maka itu akan membuatmu sakit." Kata Silos tidak tahu kalau Dean sebenarnya menyembunyikan belatinya di belakang pinggangnya.


Alhasil ketika ada salah seorang anak buah Silos yang sudah akan menyentuhnya, dengan sigap Dean mengeluarkan belati tersebut dan dengan cepat langsung menusukkannya di lengan orang tersebut, hingga membuatnya berteriak dan meringis kesakitan.


Melihat salah satu temannya di tusuk oleh Dean, 3 yang lainnya pun dengan kompak berniat untuk menghajar Dean, tapi sekali lagi Dean berhasil menyayat ketiga orang tersebut diarea vital mereka. Jika dilihat dengan seksama, Dean seperti seorang profesional, karena dia menggunakan belatinya sangatlah cepat dan juga lihai, serta semua arah belatinya selalu tepat sasaran di titik lumpuh musuh.


Prokk! prok! prok!


Silos bertepuk tangan. "Hebat! hebat sekali! sepertinya kita bertemu seorang mantan tentara disini." Ucapnya.


"Tapi sayang sekali kamu tidak akan mungkin bisa melawan semua anak buahku ini." Tambahnya tersenyum licik.


Semua anak buah sisanya yang berjumlah dua belas orang itu juga ikut tersenyum licik sambil meregangkan otot-otot mereka.


Glek!


Dean menelan Saliva nya sendiri, karena dia tidak yakin bisa mengalahkan dua belas orang sekaligus hanya dengan sebuah belati saja. Mungkin jika ada pistol atau seorang saja yang membantunya, dia bisa membereskan semuanya.


'Aku akan mengeluarkan semua kemampuan ku.' Batin Dean. Saat dia seperti sedang bertaruh dengan kemampuannya, jika tidak berhasilpun setidaknya dia bisa mengulur waktu menunggu mungkin ada yang membantu Larisa kabur.


Saat Dean menatap kedepan, dari kejauhan dia melihat ada mobil yang melaju dengan sangat cepat kearahnya.


"Bukankah itu mobil Tuan Xio?!" Gumamnya keheranan. Tanpa sadar kalau mobil tersebut sudah sangat dekat.


Dengan kecepatan penuh mobil Xio melaju kearah Dean. Walaupun ada beberapa mobil Silos yang menghalangi, tapi itu tidak membuat ya menurunkan kecepatan hingga akhirnya mobil miliknya berhasil naik keatas mobil Silos, dan meloncat keatas sampai mobilnya pun mendarat rapat ditengah-tengah Dean, Silos dan anak buahnya.


"WOHOO!! Barusan itu menyenangkan sekali!!" Seru Ellisa dengan wajah gembira sambil mengangkat tangannya keatas.


"Hahaha aku tidak tahu kalau kamu menyukainya sayang." Kata Xio tertawa kecil melihat ekspresi Ellisa.


Ellisa mengangguk. "Emm lain kali biarkan aku yang menyetir." Ucapnya. sepertinya mereka berdua lupa apa tujuannya ke situ, dan mereka juga belum sadar kalau saat ini orang-orang di sekitarnya sedang ternganga.


"Emm nanti aku biarkan kamu yang menyetir." kata Xio mendekatkan wajahnya ke wajah Ellisa dan kemuadian mencium pipinya sekilas. Ellisa sudah memejamkan matanya, karena tahu setelahnya Xio pasti akan mencium bibirnya tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang berbicara hingga Xio pun memberhentikan gerakannya untuk mencium bibir Ellisa.


"HEI!! KENAPA KALIAN BERDUA ADA DISINI!!?" Teriak Silos.


Ellisa dan Xio pun langsung menatap dengan tatapan tajam Silos. Tatapan membunuh mereka berdua benar-benar langsung membuat tubuh Silos gemetar, seperti sedang ditatap kematian. Dia tidak tahu kalau baru saja dririnya telah membuat murka Xio dan terutama Ellisa karena tidak jadi dicium oleh Xio.


"A-apa? kenapa kalian menatapku seperti i-itu?" Ucap Silos terbata-bata sambil berjalan mundur secara perlahan. "Ce-cepat tangkap kedua orang itu juga!" lanjutnya memerintahkan anak buahnya.


Xio sudah akan keluar dari mobil, tapi dihentikan oleh Ellisa.


"Sayang biar aku yang mengurus mereka, jika hanya mereka sih gampang sekali." Kata Ellisa memegang tangan Xio. "Kamu lihat saja dari sana dengan Dean." Ujarnya.


"Ta-" Xio ingin menolaknya, tapi melihat wajah memohon Ellisa saja dirinya tidak kuat. "Hahhh baiklah," Xio menghela nafas pasrah.


Ellisa mencium pipi Xio terlebih dahulu, kemudian keluar dari mobil dan berdiri penuh percaya diri dihadapan semua anak buahnya Silos. Sementara Xio memarkirkan mobilnya di samping mobil Dean.


"Tu-tuan, kenapa anda kembali? disini berbahaya." Ucap Dean.


"Hahhh sebenarnya aku juga tidak mau kemari, tapi karena istriku yang memaksa untuk menyelematkanmu." Jawab Xio.


"Hah? bagaimana anda tahu saya saya sedang dalam baha-"


Belum juga Dean menyelesaikan perkataannya, Tiba-tiba saja ada salah satu anak buah Silos terbang kerahnya dengan keadaan tak sadarkan diri.


Brakk!


Orang tersebut menabrak mobil Dean. Saat melirik kedepan, ternyata sudah ada beberapa anak buah Silos yang tergeletak ditanah dan ada juga yang terlempar ke sembarang tempat hanya dengan satu tinjuan saja dari Ellisa.


Dean dan Larisa yang ada di dalam mobil melongo tidak percaya melihat pemandangan seorang perempuan menghajar 12 orang pria bertubuh besar hanya dengan satu pukulan dan tendangan saja.


Sementara itu, Silos tengah merangkak mundur menuju mobilnya karena lututnya sudah lemas melihat semua anak buahnya habis.


"Oh mau lari? kehkeh~" Ucap Ellisa sambil terkekeh. "Tapi tidak akan semudah itu, kamu harus bertanggung jawab terlebih dahulu karena sudah mengacaukan momen romantis ku dengan suamiku." Tambahnya tersenyum menyeramkan.


Silos terus merangkak mundur hingga dia sampai di mobilnya yang pintuya terbuka dari tadi. Tiba-tiba saja dia tersenyum licik dengan tangan yang merogoh masuk kedalam mobil.


Ternyata dia memiliki sebuah pistol yang ditaruh didalam mobil. Diarahkannya pistol tersebut kearah Ellisa dan~


Dorr!


Silos menarik pelatuknya, sehingga sebuah peluru berhasil melesat kearah kepala Ellisa. Tapi dengan cepat Ellisa berhasil menghindarinya sehingga peluru tersebut hanya mengenai rambut, dan membuat rambutnya putus sedikit. Jika manusia normal, mungkin tidak akan bisa menghindari peluru yang melesat sepersekian detik saja seerti barusan. Tapi berbeda dengan Ellisa yang bukan asli berasal dari bumi karena peluru biasa saja tidak akan bisa melukainya.


Tak!


Ellisa menendang pistol yang ada di genggaman Silos dan membuat Pistol tersebut terlempar selagi Silos sedang ternganga tidak percaya Engan apa yang dilihatnya barusan.


'Bagaimana bisa dia menghindari peluru?' Batin Silos tidak berbeda jauh dengan Dean dan Larisa yang berpikir seperti itu juga.


Kratakk!


Ellisa menginjak kaki Silos dengan high heelsnya, hingga terdengar suara retakan tulang.


"Arghhh!! Sial wanita j*lang, ini sakit sekali arghh!" Teriak Silos kesakitan.


Krakk!


Sekali lagi kaki Silos diinjak, dari suaranya barusan, sudah dipastika kalau tulangnya patah sudah bukan retak lagi. Itu karena Xio lah yang menginjak satu lagi kakinya membuatnya semakin berteriak kencang.


"Berani sekali seekor babi menjijikkan sepertimu menyebut wanitaku j*lang." Ucap Xio sinis, terlihat wajahnya sudah sangat murka, bukan hanya karena Silos yang memanggil Ellisa j*lang, tapi juga karena tembakan pistol tadi.


Xio kemudian menginjak dadanya Silos, yang semakin lama injakan nya semakin menguat hingga akhirnya tulang rusuknya juga ikut patah dan Silospun pingsan tak sadarkan diri. sementara itu Dean dan Larisa dari tadi merasa merinding melihat kengerian kedua pasangan tampan dan cantik tapi sadis itu.


"Uwahh sayang... bagaimana ini..?" Panik Xio memegang kedua bahu Ellisa sambil menggoyang-goyangkan nya.


"Bagaimana apanya?!" walaupun bingung, Ellisa juga jadi ikut panik.


"Rambutmu!!" Kata Xio dengan wajah sedih.


Ellisa melirik rambutnya sendiri, yang ternyata memang sedikit terpotong gara-gara peluru tadi.


"Oh ini, tidak apa-apa cuma sedikit saja kok, nanti juga tumbuh lagi." Jawab Ellisa terkekeh kecil karena melihat Xio yang merengek seperti anak kecil hanya karena rambutnya terpotong sedikit saja.


"Tidakk rambut indah kesayanganku sudah berubah..." Rengek Xio mendramatisir sambil mengelus-elus helaian rambut Ellisa lainnya.


"Cup cup jangan sedih, mudah kok cara menumbuhkannya lagi." Kata Ellisa menepuk-nepuk kepala Xio.


Sementara itu Dean hanya bisa terbengong saja melihat keduanya. karena bukannya mengurus orang-orang yang tergeletak untuk diamankan, mereka berdua malah lebih mementingkan masalah rambut.


Dean dan Larisa pun berjalan menghampiri Xio dan Ellisa.


"Ekhemm.." Dean berpura-pura berdehem.


"Hmm ya, ada apa?" Tanya Xio seketika kembali ke kepribadian semulanya.


"Terimakasih Tuan dan Nona!" Ucap Dean Dan Larisa membungkukkan dada mereka sedikit. "Terimakasih telah menyelamatkan kami, jika tidak ada Tuan Xio dan Nona Ellisa, saya pasti sudah habis." Tambah Dean.


"Se-" Belum juga Xio menyelesaikan apa yang ingin diucapkannya, sudah langsung di potong oleh Ellisa.


"Haha tidak apa-apa, kita kan teman." Kata Ellisa. "Iyakan sayang?!" Tambahnya menyikut Xio.


"Hahhh benar." Xio menghela nafas pasrah. "Karena sekarang kamu sudah menjadi temanku." Ucapnya kaku.


'TEMAN!? CEO dari perusahaan ternama barusaja menyebutku temannya?!' Batin Dean senang sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Karena Xio sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di dunia, sementara dirinya berada jauh dibawah Xio.


"Sekarang kamu kumpulkan mereka semua." Ucap Xio menunjuk Silos dan para anak buahnya.


"BAIK TUAN!!" Sahut Dean langsung menggusur orang-orang yang berserakan ditanah kesatu tempat. sementara Xio sepertinya sedang menelepon seseorang.


"Nona Ellisa, apa nona tidak kenapa-napa?" Tanya Larisa.


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa bertarung dengan laki-laki brengsek seperti mereka. Lihat ototku ini." Kata Ellisa menunjukkan otot tangannya dengan bangga. "Aku juga bisa menghajar suamiku jika dia berani melirik wanita lain." Lanjutnya dengan tatapan serius.


"Wahhh nona Ellisa sangat hebat ternyata!!" Kagum Larisa. Sementara Xio yang mendengar kata Ellisa langsung merasa merinding di sekujur punggungnya.


"Iya cepat kesini!" Ucap Xio langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.


"Sayang bagaimana kalau kita piknik saja di pantai!" Seru Ellisa.


"Hmm baiklah tunggu sebentar." Kata Xio kembali mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.


.


.


.


.


.


Tidak lama kemudian datang beberapa mobil ketempat Xio. Mereka adalah para bawahannya yang dipanggil untuk membawa Silos dan para anak buahnya.


Dean kaget ketika melihat banyak sekali orang berpakaian serba hitam turun dari mobil serentak. dia pikir orang-orang tersebut adalah anak buahnya Silos juga, tapi ternyata mereka adalah bawahan-nya Xio setelah melihat mereka memberikan salam hormat pada Xio.


"Kalian langsung bersihkan saja tempat ini, dan introgasi mereka jika sudah bangun!" Perintah Xio.


"BAIK YANG MULIA!" Jawab semua bawahannya serentak.


Xio mengangguk kemudian menggandeng Ellisa masuk kedalam mobil. begitupun dengan Dean dan Larisa yang masuk ke mobil mereka sendiri.


Sebelum melajukkan mobilnya, Xio menyempatkan untuk mencium dan mencumbu bibir Ellisa terlebih dahulu, mengingat tadi dia tidak jadi menciumnya karena terganggu Silos.


"Mmhh.." Xio melepaskan Ciumannya hingga terlihat juntai air liur diantara bibir mereka.


Ellisa menghalangi bibir Xio dengan tangannya, karena tahu jika tidak begitu Xio akan menciumnya lagi.


"Sudah dulu sayang, kapan kita berangkat pikniknya?" Ucap Ellisa.


"Oh iya benar juga." kata Xio tersenyum.


Cup!


"Ayo berangkat!" Ucapnya mengecup kening Ellisa terlebih dahulu.


Mobil merekapun kembali melanjutkan perjalanannya diikuti oleh mobil Dean dan Larisa di belakang.


...----------------...


...BERSAMBUNG...