Cross The World With System

Cross The World With System
Kesal



...----------------...


Karena hari sudah petang menuju malam, Xio pun mengumumkan kalau ujian ketiga atau pertarungan antar tim akan dimulai kembali besok. Semua orang pun langsung bubar kembali kerumah mereka tapi ada juga yang lebih memilih menyewa penginapan yang ebrada di kerajaan Regalia, karena ada yang rumahnya dari kerajaan lain juga. Sedangkan untuk para peserta yang lulus ujian kedua, mereka sudah di sediakan bangunan untuk menginap.


Ketika Xio akan prig meninggalkan arena bersama dengan Ellisa dan anak-anak, tiba-tiba saja azco muncul dihadapannya.


“Ada apa Azco?” Tanya Xio.


“Yang Mulia, aku ingin meminta izin tidak pulang ke istana untuk malam ini,” Jawab Azco sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Apakah kamu akan pergi kencan dengan kekasihmu?” Tanya Xio lagi.


‘Bagaimana Yang Mulia bisa Tahu?’ Batin Azco. “I-iya benar Yang Mulia,” Jawab Azco dengan terbata-bata dan sambil menunduk memejamkan matanya, seakaan takut kalau Xio melarangnya dan memarahinya.


“Keanapa kamu menunduk?” Tanya Xio. “Teanag saja aku tidak akan melarang atau memarahimu. Sekarang pergilah dan jangan lupa memberitahunya dirimu yang sebenarnya.” Ujar Xio.


“Benarkah?” Tanaya Azco mencoba memastikannya kembali dan dijawab anggukan oleh Xio. 


“Terimakasih!, terimakih Yang Mulia!” Ucap Azco bertemikasih berkalia-kali pada Xio.


“Oh iya bawalah ini,” Xio menyerahkankotak kecil pada Azco.


“Itu adalah Pil yang waktu itu ceritakan.” Kata Xio merujuk pada Pil Thurbot.


“Yang Mulia memang yang terbaik!” Azco mengacungkan ibu jarinya.


“Iya iya cepat pergi sana!, jangan mengahalangi jalanku.” Ucap Xio, dan Azco pun langsung menyingkir memberikan jalan sambl memasang wajah yang seprtinya penuh dengan kebahagiaan.


Dalam sekejap Xio bersama dengan Ellisa serta leon dan Lena pun langsung menghilang dari hadapan Azco.


“Hadehhh...Untuk apa aku memberi jalan kalau perginya dengan menghilang." Kata Azco, langsung pergi dari sana juga.


**********


Sesampainya di istana, Xio mengajak Ellisa dan anak-anaknya untuk berendam bersama di kolam air panas yang ada di istananya. Kolam Air panas tersebut memang sudah ada di istana sejak istana tersebut dibuat, Tapi belum pernah ada yang mencobanya sama sekali karena kolam tersebut di khususkan hanya untuk keluarga kerajaan saja.


Karena kebetulan Xio berpapasan dengan Jhonatan, Arthur, dan Rose, Jadi Xio pun mengajak mereka sekaligus ikut juga. Tapi ternyata Leon dan Lena tidak jadi ikut karena mereka bilang sudah mengantuk gara-gara kelelahan.


Didalam sebuah ruangan yang Luas dan ber-uap, Terlihat Xio bersama dengan Yang lainya sedang berendam tanpa menggunakan busana apapun dan hanya handuk saja yang di simpan diatas kepala mereka.


"Sayang, apakah ini ulah Xio?" Tanya Rose menunjuk tanda-tanda merah di tubuh Ellisa.


"Oh ini, iya." Jawab Ellisa. "Xio bilang sih untuk menandai ku." ucapnya dengan polos, sehingga membuat Rose menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apakah kamu tidak mau menghilangkannya?, Nenek punya loh salep pemberian Azril yang bisa menghilangkan bekas seperti ini." Ujar Rose.


"jangan nenek, tidak usah dihilangkan. Biarkan itu menjadi tanda kalau Ellisa milikku." Sahut Xio.


"Hmm, Baiklah." Kata Rose. "Tapi kalau mau minta saja, aku masih punya banyak, karena belum pernah memakainya lagi semenjak berpisah dengan Azril." Lanjutnya diangguki oleh Xio dan Ellisa.


"Hahh..." Jhonatan dan Arthur menghela nafas lega.


"Berendam Air panas memang luar biasa." Kata Arthur.


"Yah benar sekali, Tubuhku rasanya seperti terisi ulang kembali." Tambah Jhonatan. Mereka tidak tahu saja kalau kolam tersebut mempunyai efek tersendiri.


"Ngomong-ngomong Xio, bagaimana punyamu bisa sebesar itu?, Bahkan lebih besar dari punya ayah?" Tanya Jhonatan diangguki oleh Arthur.


Xio awalnya bingung apa yang dimaksud Jhonatan, tapi kemudian ia melihat kebawah miliknya dan kemudian kebawahnya Arthur dan Jhonatan.


"Bwahaha... Bagaimana bisa punya ayah lebih kecil dariku." Xio menertawakan Jhonatan, Walaupun milik mereka berdua tidak terlalu jauh perbandingannya. "Dan lagi lihatlah punya ayah Arthur, apakah itu bisa disebut p***s?, Bahkan aku tidak bisa melihatnya hahaha." Kali ini Xio meledek milik Arthur yang lebih kacil dari mereka berdua.


"Hsss dasar anak nakal, punya ayah seperti ini karena sudah lama tidak di asah lagi saja." Kesal Jhonatan.


"Yah benar!" Tambah Arthur.


*Dukk!


Dukk!


Dukk*!


Gayung yang terbuat dari kayu bergandian mendarat di kepala mereka bertiga.


"Aww.., Ma'am kenapa memukulku?" Kata Jhonatan sambil mengusap-usap kepalanya yang kesakitan begitupun dengan Xio dan Arthur.


"Apakah kalian bertiga tidak malu membicarakan hal seperti itu di depan perempuan?!" Kesal Rose. Jhonatan, Arthur dan Xio pun hanya bisa menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.


"Ayo Ellisa!" Ajak Rose keluar dari kolam diikuti oleh Ellisa.


"Tunggu dulu!" Seru Xio. "Kamu mau kemana sayang?" Tanyanya sudah akan keluar kolam.


"Jangan ikut, ini urusan perempuan." Jawab Ellisa mendorong Xio sehingga terjatuh kembali kekolam.


"Hehe." Ellisa tersenyum manis sambil melambaikan tangannya dan langsung pergi dari sana dengan Rose.


Xio tersenyum dengan wajah tersipu sambil menatap Ellisa pergi.


"Xio..Xio...apakah baik-baik saja?" Arthur melambai-lambaikan tangannya didepan muka Xio.


"Manisnya...." Gumam Xio membuat Arthur dan Jhonatan pun tahu apa yang sedang Xio lamunkan.


"Eh iya kenapa?" Kata Xio baru sadar.


"Tidak apa-apa, habisnya barusan kamu melamun sambil tersenyum-senyum sendiri." Jawa Arthur, dan Xio pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh iya, waktu ayah tidak ada, apakah benar ada orang yang berasal dari benua demi human kemari?" Tanya Arthur.


"Iya memangnya kenapa?" Kata Xio bertanya balik.


"Apakah demi human itu namanya Zeff dan setengah singa?" Tanya Arthur lagi.


"Benar." Jawab Xio.


"Dan kami membunuhnya?" Tanya Arthur lagi dan lagi.


"Iya, memangnya ada apa sih?" Ucap Xio.


"Hahhh...sebaiknya kamu siap-siap untuk perang yang akan terjayi." Jawab Arthur mengehela nafas.


"Orang yang kamu bunuh waktu itu adalah seorang putra mahkota satu-satunya dari kerajaan yang ada di benua demi human, dan ayah yakin sekali kalau mereka akan membalas dendam ataupun meminta pertanggungjawaban karena mereka sangatlah memandang tinggi harga diri rasnya." Jelasnya.


"Jadi seperti itu pantas saja dia sombong sekali, Apakah ayah tahu kapan kira-kira mereka tiba disini?" Tanya Xio.


"Karena kematiannya lima hari yang lalu, Hmm mungkin mereka bisa tiba besok atau 2 hari lagi." Jawab Arthur.


"Hmm besok yah, baiklah aku akan menyambut mereka dengan senang hati kapanpun." Ucap Xio.


"Apakah kamu tidak takut?" Tanya Jhonatan. "Kalau akan perang besok, maka malam ini ayah akan membawa Ellisa dan anak-anak kebumi." Lanjutnya dengan wajah khawatir.


"Tenanglah Ayah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena aku bisa mengatasinya." Jawab Xio. "Untuk Ellisa dan anak-anak juga pasti akan selalu aman selama aku masih ada." lanjutnya tersenyum.


"Hmm baiklah..." Respon Jhonatan.


Tak butuh waktu lama Semua bawahan Xio pun sudah berkumpul semuanya, kecuali Azco. Mereka belum masuk keruangan karena barusan menunggu semuanya terkumpul terlebih dahulu. karena sekarang semuanya sudah ada, mereka langsung masuk kedalam ruang rapat secara bersamaan dan merekapun dapat melihat Xio yang sedang duduk di kursinya dengan Ekpresi yang nampaknya sedang kesal sehingga terlihat menyeramkan sehingga hawa didalam ruangan tersebutpun terasa lebih mencekam.



"Salam Yang Mulia!" Sapa para bawahan Xio dengan sedikit rasa merinding.


"Hmm." Jawab Xio singkat sambil menggerakkan tangannya memberikan tanda agar mereka semua duduk. didalam hati Para bawahan Xio saat ini sebenarnya mereka sedang bertanya-tanya siapa yang yang membuat Yang Mulia mereka kesal.


"Besok atau lusa akan ada yang datang kemari untuk berperang. Jadi aku perintahkan diantara kalian untuk mengintai di perbatasan dengan benua demi human." Jelas Xio tanpa basa-basi dan langsung pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun lagi.


"Pantas saja Yang Mulia terlihat kesal, tenyata ada yang ingin berperang." Ucap Lucifer diangguki oleh yang lainnya.


Mereka Tahu kalau Xio tidak suka peperangan dan lebih menyukai kedamain. dan sekarang merekapun sudah tahu apa yang menyebabkan Xio kesal.


Kembali ke sisi Xio, Saat ini ia sedang berjalan menuju kamarnya dengan Ekpresi yang sudah kembali normal karena ia tidak ingin menunjukkan kekesalannya dihadapan keluarganya.


Ketika Xio membuka pintu kamarnya, tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan mata Ellisa yang terkejut, karena Kelihatannya Ellisa sedang mencoba mengenakan pakaian dalam yang super seksi.


Dengan wajah yang memerah, Elllisa dengan cepat membuka kembali pakaian dalam tersebut dan langsung menyelimuti seluruh tubuh sampai ke wajahnya di atas kasur. Xio berjalan mendekat kearah Ellisa sambil tersenyum, dan membuka setengah selimut tersebut sehingga menampakkan wajah Ellisa yang sangat memerah karena malu.


"Aku baru tahu kamu suka yang seperti itu sayang." Bisik Xio di telinga Ellisa yang semakin memerah.


"Jangan dibicarakan lagi, barusan itu memalukan." Kata Ellisa menutupi wajahnya dengan bantal.


"Tidak usah malu, Aku juga suka loh kalau kamu memakai yang seperti itu." Ucap Xio.


"Benarkah?" Tanya Ellisa melirik ke wajah Xio.


Xio mengangguk, "Coba deh kamu pakai lagi." Ujarnya.


"Emmm...." Ellisa agak ragu. "Baiklah aku akan mencobanya." Kata Ellisa langsung turun dari kasur.


"Tunggu dulu, kamu bergantilah di kamar mandi dan aku akan menunggu di sini biar jadi kejutan." Ujar Xio. Ellisa mengangguk dan membawa pakaiannya kedalam kamar mandi.


Setelah Ellisa masuk kedalam kamar mandi, Xio melihat sebuah lilin di atas meja, lilin tersebut terlihat sangat asing dan bahkan Xio belum pernah melihat lilin seperti itu sebelumnya.


Xio mengambil lilin tersebut yang ternyata ada selembar kertas di bawah lilin tersebut yang memberi penjelasan mengenai lilin itu. saat Xio membaca kegunaan lilin itu, seketika wajahnya langsung memerah karena ternyata lilin tersebut adalah lilin aromaterapi yang dapat meningkatkan gairah.


tanpa menunggu lebih lama lagi Xio pun langsung menyalakan lilin itu dan menaruhnya di atas meja, kemudian ia juga langsung mengganti pakaiannya dengan hanya mengenakan kimono saja Tanpa pakaian dalam dan duduk kembali di atas kasur.


"Sayang, kenapa lama sekali?" Kata Xio.


"Tunggu sebentar!" Sahut Ellisa didalam kamar mandi.


Cklek!!


Pintu kamar mandi tersebut terbuka betsamman dengan keluarnya Ellisa dari dalam sana berjalan dengan malu-malu dan berdiri dihadapan Xio.


Saat ini dada Xio berdegup sangat kencang dan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi karena melihat Ellisa yang berpakaian super seksi dengan rambut yang di tata rapi membuatnya semakin tambah seksi. dan saat ini tubuh Xio seperti sedang panas tak berbeda jauh dengan Ellisa yang merasakan tubuhnya panas juga.


"Ba-bagaimana?, apakah kamu suka?" Tanya Ellisa.


Grepp!


Xio langsung menarik Ellisa keatas kasur dan menindihnya.


"Kamu cantik sekali sayang." ucap Xio menyentuh halus bibir Ellisa dan kemudian menciumnya lembut yang lama kelamaan semakin ganas.


Xio melepaskan ciumannya sehingga terdengarlah suara nafas keduanya yang berderu, sekarang mulut Xio beralih memainkan kedua gunung Ellisa dengan jari-jari yang dengan lihainya bergerak didalam area sensitif Ellisa.


Terdengar desahan-desahan merdu yang keluar dari mulut Ellisa sehingga membuat Xio semakin gila.dan tanpa aba-aba Xio pun langsung memasukkan benda besarnya kedalam lubang sempit Ellisa dan mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan yang kelamaan mulai bertambah cepat tempo gerakannya.


'Tubuhku panas sekali.' batin Xio masih terus menggali lubang.


Mereka berdua pun Akhirnya melakukan kegiatan tersebut hingga pagi hari dengan posisi yang terus berubah-ubah kadang Xio diatas dan kadang juga Ellisa yang diatas.


Hari terlihat sudah siang, tapi didalam kamar Xio dan Ellisa terlihat mereka berdua yang masih tertidur lelap tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh keduanya.


Perlahan Xio terlihat membuka matanya, dan ia langsung melihat wajah Ellisa yang masih tertidur.


"Semalam rasanya sedikit berbeda, sepertinya aku harus membeli lebih banyak lilin aromaterapi seperti ini." Gumam Xio kemudian mencium kening Ellisa.


Ellisa pun juga perlahan membuka matanya dan yang pertama ia lihat adalah Xio yang sedang tersenyum padanya, Ellisa langsung saja mengecup bibir Xio tipis.


"Pagi sayang." Ucap Ellisa yang langsung dipeluk oleh Xio.


"Oh iya ngomong ngomong dari mana kamu mendapat pakaian itu?" Tanya Xio.


"Emm aku dikasih oleh nenek, benar juga semalam nenek memberikanku sebuah lilin." Jawab Ellisa.


'Terimakasih Nenek.' Ucap Xio dalam hati.


"Lilinnya semalam sudah aku pakai." Ucap Xio. "Apakah aku juga perlu membelikanmu lebih banyak pakaian seperti semalam?." Tanyanya.


"Hemm baiklah, kalau kamu memang suka tapi jangan yang terlalu terbuka." jawab Ellisa dengan wajah memerah karena ingat pakaiannya semalam sangatlah terbuka seperti seutas tali saja yang menutupinya.


Tokk! tok! tok!


"Papah!, Mamah!" terdengar suara Leon dan Lena di luar pintu kamar.


"Yah tunggu sebentar." Jawab Xio turun dari ranjangnya dan langsung memakai kimononya kemudian berjalan menuju pintu untuk membukakan kunci.


Saat pintu tersebut di bukakan, langsung saja Leon dan Lena berlari kedalam kamar kearah Ellisa.


"Pagi mamah!" Mereka berdua mencium pipi Ellisa kiri kanan dan ikut tiduran di sampingnya.


"Pagi juga anak-anak mamah yang tampan dan cantik." Kata Ellisa. Xio berjalan kedekat mereka dan ikut tiduran juga.


"Apakah papah tidak mendapatkan ucapan selamat pagi?" Tanya Xio tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari mereka berdua.


Ellisa melihat mata Leon dan Lena yang berkaca-kaca.


"Papah jahat!" Kata Lena.


"Apa yang sudah papah lakukan pada mamah?, kenapa papah melukai mamah?" Tambah Leon membuat Xio dan Ellisa bingung karena perasaan Xio tidak melukai Ellisa sama sekali.


"Kenapa kalian bicara seperti ke papah?" Tanya Ellisa. "Iya, papah tidak menyakiti mamah sedikitpun kok." Xio mengangguk.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG